
Satu kata untuk Zaf 'Terpuruk' itulah kata yang paling cocok.
Disaat ia ingin menata kehidupannya dan juga hatinya, ia justru harus dihadapkan dengan fakta yang lebih menyedihkan.
Ibunya koma, perusahaan hancur dan kini ia harus bagai mana lagi?.
Kuatkan hatimu Zaf, hanya karna kau mengahadapi kesulitan seperti ini dunia tidak akan berhenti berputar,temukan jalan keluar pasti akan ada cara yang tepat. Batin Zaf menyemangati dirinya sendiri.
Pagi ini rasanya tubuh Zaf seperti retak dan mudah pecah jika ada yang menyentuhnya.
Bagai mana tidak, sudah berhari-hari ia tidak bisa tidur dan kini ditambah ia harus tidur di rumah sakit untuk menunggui momnynya yang masih belum sadar diruang ICU.
"Untuk pengobatan Mommy bagai mana Dad? apa ada biaya? "tanya Zaf memberanikan diri bertanya kepada ayahnya setelah melihat sepertinya keadaan papa Rafa sudah lebih stabil.
"Untuk pengobatan aman Zaf, ada asuransi" Jawab papa Rafa "Bagai mana rencana mu mengenai perusahaan? " papa Rafa beralih.
"Zaf tidak tahu Dad"Wanita itu menghela nafasnya "Zaf akan berusaha untuk mencari investor, tapi langkah pertama Zaf akan mencari tahu tentang kasus yang melibatkan Zayn, karna itu adalah kunci utamanya".
"Daddy tahu itu Zaf, tapi walau kasus Zayn sudah terselesaikan tetap akan sulit untuk bisa membuat perusahaan bangkit lagi"terang papa Rafa.
Rafa tahu betul mengenai apa yang bisa terjadi pada perusahaannya, karna dia sudah bisa memprediksi kemungkinan yang ada.
Karna itu Rafa ingin menjual perusahaan tersebut.
"Zaf,dengarkan Daddy"ucap Daddy terlihat serius menatap Zaf "Pergi lah ke pelelangan, dan ikuti acara tersebut" ucap Papa Rafa.
Zaf membolakan matanya karn keterkejutannya "Maksud Daddy? "
"Daddy tidak mungkin pergi kesana, kau tahu? " Rafa menatap wajah pucat istrinya yang masih terbaring didalam ruang ICU "Sekarang perusahaan ada ditangan mu, lakukan pelelangannya".
"Tapi Dad" Zaf ingin menghentikan niatan Daddynya yang akan melelangkan perusahaan, namun ia bisa apa, bahkan untuk melunasi masalah gaji pegawai saja dia tidak bisa.
Terasa sangat berat, bahkan hanya untuk bernafas saja Zaf merasa begitu sesak.
Dan pada akhirnya dia tidak bisa bersuara lagi, karna memang sudah tidak ada jalan keluar lagi bagi Zaf.
Ponsel Zaf bergetar, dan saat ia melihat siapa yang menelponnya dahi Zaf mengernyit karna hanya nomor tak dikenal yang tertera disana.
Zaf menggeser layar benda pipih itu,kemudian mendekatkan pada telinganya.
"Apa kau senang dengan kejutan yang ku beri? " Kalimat yang langsung masuk kedalam gendang telinga Zaf.
"Siapa kau? " tanya Zaf dingin, ia masih mengingat betul suara yang ia dengar dan hanya ingin memastikannya saja.
__ADS_1
"Hahaha.... Baru empat tahun dan kau bahkan sudah lupa dengan suaraku".ucap seseorang dari seberang sana.
"Jadi ini semua adalah ulah mu? " ucap Zaf dengan menggenggam tangannya kuat-kuat.
"Memangnya kau pikir siapa lagi Zaf? " Kembali ia bersuara.
"Kita perlu bertemu"ucap Zaf.
"Hahaha... setelah kau mencampakkan ku kini kau ingin bertemu kembali dengan ku? ".
"Bryan... jangan memancing amarah ku! " suara Zaf meninggi.
"Baiklah... kirimkan lokasinya aku juga meridukanmu"
Mendengar itu, Zaf mendecih kemudian mematikan ponselnya.
Dan setelah ia berpamitan kepada daddynya Zaf kemudian segera pergi menuju tempat dimana ia akan bertemu dengan Bryan.
Saat Zaf sampai disebuah kafe tempat yang ia janjikan, Ia dapat melihat Bryan yang sudah duduk disebuah kursi disana dengan angkuhnya.
Zaf mempercepat langkahnya berjalan mendekat.
Dan Bryan yang melihat kedatangan Zaf menyambutnya dengan senyum devil nya, Seolah ia tengah memenangkan sesuatu yang sulit untuk didapatkan.
Dan Zaf dapat menebak jika ini juga ulah Bryan.
"Kau ingin membalas dendam? " ucap Zaf tanpa basa basi.
"To the point sekali... memang adalah ciri khas dari seorang Zaf" ucap Bryan sinis.
Zaf menghela nafas "Katakan, apa yang kau inginkan".
"Tidak ada yang aku inginkan, aku hanya ingin melihatmu hancur sampai berkeping-keping" Bryan menyesap kopi hitamnya.
"Kau boleh menghancurkan ku, tapi jangan sentuh keluargaku".Ucap Zaf dengan tatapan nyalangnya.
"Kau juga melakukan hal yang sama Zaf, kau bahkan bermain-main dengan nyawa seorang gadis kecil yang sangat menyayangi mu, apa kau lupa itu? " balas Bryan.
"Tapi,bukankah aku sudah mengembalikan semua seperti semula, lalu bagai mana kau bisa membalasnya dengan membuat mommy ku terluka?! " Zaf meninggikan suaranya.
"Itu balasan yang sangat setimpal untuk mu Zaf" ucap Bryan dengan angkuh.
Bryan melihat kesekelilingnya, sepertinya tindakannya sudah tepat karna membooking tempat tersebut.
__ADS_1
"Tega sekali kau"Zaf melirih dan itu sama sekali tidak membuat hati Bryan bergetar "Tidak masalah jika kau menyakitiku, tapi jangan sentuh keluargaku!"
"Kau yang membuatku seperti ini Zaf, apapun yang kulakukan itu semua adalah timbal balik dengan apa yang kau lakukan terhadap ku". ucap Bryan bersidekap.
"Jadi kau tidak akan menghentikannya?".Zaf menatap wajah itu, tidak akan Zaf memperlihatkan wajah memelasnya.
Dia tidak akan memperlihatkan kelemahannya.
"Tentu saja aku tidak akan berhenti, aku tidak akan mengampuni siapapun yang berani bermain-main denganku, karna pada akhirnya kau akan berakhir seperti wanita itu"ucap Bryan.
Zaf mengerutkan dahinya, sepertinya dia tahu wanita yang Bryan maksud.
Wanita itu pasti adalah Mirela, apa yang terjadi pada Mirela? apakah kepura-puraanya dalam membohongi Bryan bahwa dia hamil saat itu ketahuan oleh Bryan?.
Tidak, Zaf tidak ingin ikut campur lagi.
Zaf beranjak, karna sepertinya memang percuma saja dia menemui pria tersebut.
"Sampai jumpa Zaf" ucap Bryan memperlihatkan senyum sinisnya.
Zaf menghentikan langkahnya "Sepertinya kita tidak akan bertemu lagi"Ucap Zaf hanya menoleh kan kepalanya dan seakan tidak sudi lagi menghadap kepada pria tersebut.
Terdengar tawa Bryan yang begitu nyaring, tawa yang terdengar mengejek bagi Zaf.
"Kita akan berjumpa lagi... jadi jangan merindukan ku"ucap Bryan kemudian.
Zaf berdecih kemudian melangkahkan kaki nya menjauh dari tempat tersebut.
Tangisnya tertahan, ia terisak tak tahu harus bagaimana lagi.
Ia berlari sejauh mungkin, bahkan high heelsnya pun seakan ikut mentertawainya.
Zaf tersungkur karna sol dari high heelnya patah.
Seakan alam sedang mempermainkannya, hujan pun ikut turun secara tiba-tiba.
Ya Tuhan... apa lagi ini?Zaf berusaha bangun dan dengan tertatih ia menyeret langkahnya.
Ia mengangkat sebelah kakinya dan membuang sepatunya kesembarang tempat, Kakinya terasa berdenyut karena terkilir ditambah rasa perih pada telapak kakinya karna berjalan tanpa alas kaki.
Sementara itu, Bryan yang masih duduk tenang ditempatnya.
Pandangannya menatap pada dinding kafe yang terbuat dari kaca, dapat ia lihat hujan yang begitu lebat diluar sana.
__ADS_1
Harusnya kau mempersiapkan mentalmu untuk apa yang aku lakukan ini Zaf, sudah terlambat bagimu untuk menyesalinya, karna aku tidak akan menghentikan apa yang sudah ku mulai. Batin Bryan.