Cinta Sedingin Es

Cinta Sedingin Es
bab#58


__ADS_3

masih tidak menyangka pada akhirnya dia makai pakaian yang rafa pilihkan.


"jadi mau undang berapa teman?" tanya rafa kembali,karna cindi hanya terlhat berpikir tapi tidak juga menjawab pertanyaan rafa.


"sekali lagi aku tanya ,jika kamu diem aja,aku cium habis kamu"cindi langsung tersentak setelah mendengar ancaman dari rafa.


cindi menggeleng "kamu aja deh yang nentuin siapa yang mau kamu undang... aku nggak ada"


rafa menatap cindi tajam "ini pernikahan kita berdua kan?"


cindi membalas tatapan rafa "tidak ada teman yang dekat denganku, wajah mereka saja aku tidak ada yang ingat apa lagi nama mereka" cindi menunduk.


rafa mengangakat dagu cindi agar kembali menatapnya,kemudian mengecup sekilas bibir cindi "tidak masalah kamu melupakan mereka semua,asal kau berjanji untuk tidak melupakanku"


rafa kembali mendaratkan bibirnya ke bibir cindi,namun kali ini bukan hanya kecupan melainkam lumatan,


yang awalnya hanya lumatan kecil hingga menjadi ciuman panas,keduanya sama-sama menikmati hingga nafas mereka terengah namun tidak menghentikan aksi mereka.


tanpa cindi sadari ternyata rafa sudah berhasil melepaskan piyama nya dan kini tubuh bagian atas cindi hanya tertutup oleh bra saja.


saat merasa cindi hampir kehabisan nafasnya,rafa menurunkan bibirnya pada ceruk leher cindi.


rafa mengedus wangi cindi yang sungguh membuat hasratnya memanas, ia mengecupnya hingga tercipta sebuah tanda merah disana.


kemudian turun kebawah lagi dan rafa membenamkan wajah nya antara dua gundukan sintal cindi.menghirup wangi cindi yang semakin membuatnya melayang,


cindi masih mengatur nafasnya, detak jantungnya seperti menggila,sungguh perlakuan rafa membuatnya kehilangan akal sehatnya,cindi ingin menolak tapi sungguh ia tak mampu.


rafa bersiap untuk melepaskan penghalang pada tubuh atas cindi yang terakhir,namun tiba-tiba tangan nya dicekal oleh sebuah tangan mungil yaitu tangan cindi "belum saatnya" ucap cindi yang masih berusaha menetralkan nafasnya.


rafa menghela nafas nya kemudian mengecup kening cindi lembut.


ia beranjak dari sofa dan menuju kamar mandi untuk terpaksa menuntaskan nya sendiri.


cindi memungut bajunya kemudian memakainya kembali.

__ADS_1


tak lama terdengar ketukan pintu,cindi pun keluar dari kamar dan membuka pintu luar,ternyata pengantar makanan yang datang.


cindi kembali kekamar rafa sambil membawa makanan itu


kenapa lama sekali


"rafa kamu tidak papa? kenapa lama sekali?" cindi mengetuk pintu kamar mandi dan membuat konsentrasi rafa menjadi buyar


"ahhh...sial" rafa ingin marah tapi dengan siapa, karna itu semua terjadi akibat salah nya sendiri, karna rafa tau cindi tidak akan mungkin mau diajak begituan sebelum mereka syah menjadi pasangan di mata agama dan negara.


rafa mendesah kesal karna sepertinya ini akan lama namun suara cindi berikutnya membuatnya senang


"mau aku bantu?"ucap cindi masih menunggu didepan pintu kamar mandi.


rafa langsung membuka pintu dan menarik lengan cindi,hingga membuat cindi terkejut karna ulah rafa yang tiba-tiba menariknya kedalam kamar mandi.


cindi langsung memejamkan mata nya erat saat tanpa sengaja ia melihat itu nya rafa


lagi


" jika kamu menutup matamu bagai mana bisa membantuku?"


"mmm...eh... sepertinya kamu tidak perlu bantuan...a...aku keluar saja" cindi masih belum membuka matanya, tangan nya meraba-raba pintu dibelakangnya mencari handle agar bisa kabur dari sana


namun tangan rafa dengan cepat menyambar tangan cindi dan segera mengarahkan tangan nya kepada juniornya


cindi yang merasa syok dan hampir menjerit pada akhirnya mulutnya dibungkam oleh tangan rafa satunya lagi


"cepat bantu aku...aku sudah lapar" ucap rafa mengarahkan tangan cindi untuk melakukan tugasnya


"memang yang lapar cuma kamu?"


dag dig dug jantung cindi,ia masih belum berani membuka matanya,pada hal ia bisa merasakan tangan nya sedang beraksi pada benda keras didepannya.


ya tuhan kapan ini berakhir...sudah satu jam lebih tanganku terasa kram... jerit cindi dalam hati.

__ADS_1


rafa hanya tersenyum melihat gadis nya yang sedang memejamkan mata dengan rona merah diwajahnya


"tanganku mati rasa" gerutu cindi sambil mengibaskan tangannya setelah ia keluar dari kamar mandi dan diikuti rafa dibelakangnya.


"yah...kan...makananya sudah dingin" cindi yang dari tadi sudah merasa lapar merasa semakin tersiksa karna harus menunggu makanannya dihangatkan


"jadi kamu yakin tidak ada yang mau kamu undang?" tanya rafa setelah mereka menghabiskan makanan masing-masing


"hmmm" cindi mengangguk "kamu aja yang undang para relasi dan rekan kerja kamu" cindi beranjak untuk membersihkan piring kedua nya.


"ya udah kalau gitu" rafa kemudian membuka kembali laptop nya dan melanjutkan pekerjaan yang tadi ia tinggalkan.


melihat rafa yang masih sibuk bekerja, cindi tidak berani mengganggu dan ia pun langsung naik keatas tempat tidur.


saat memejamkan matanya, pikiran cindi melayang memikirkan masa lalunya.


mereka sering sekali tidur satu ranjang tapi hanya sebatas tidur karna entah kenapa setelah cindi tidur dengan rafa fikiran dan tubuh cindi menjadi rilaks hingga ia bisa dengan sangat mudah mengantuk.


cindi sendiri juga merasa heran padahal dulu dia sangat sulit bersosialisasi terbukti saat dia tidak punya teman dekat, walau dengan kevin sekali pun ia bahkan sangat sulit untuk bicara,namun saat dengan rafa,bahkan ketika pertama bertemu saja ia bisa langsung mengatakan isi hati nya,mencurahkan segala uneg-uneg dalam hatinya. dan ia merasa sangat lega setelah itu.


cindi memandang rafa yang sedang serius kemudian menghampirinya dan memeluknya dari belakang


rafa terkejut karna begitu serius ia memandang laptopnya. kini ia beralih menatap sosok yang memeluknya dari belakang.


rafa tersenyum melihat cindi yang memeluknya dengan senyumannya


tanpa aba-aba cindi mengecup kening rafa membuat pria itu terkejut


"ada apa?" ucap rafa lembut merasa ada yang aneh dengan cindi


"sudah malam" cindi menunjuk arah jam yang memperlihat kan waktu sudah menunjukan pukul 23:30 "tidak tidur?"


rafa melihat jam yang ditunjuk cindi,kemudian ia menutup laptopnya "tidak bisa tidur?" goda nya "baik lah... mari kita tidur" rafa mengangkat tubuh cindi dan membaringkannya diatas tempat tidur.


__ADS_1



__ADS_2