
Rafa dan Elfa duduk berdua ditaman depan rumah Rafa.
"Raf...kamu kenapa pulang?" tanya Elfa memecah keheningan.
"Tadi nya cuma mau ngurusin perusahaan" jawab Rafa
"Tadi nya? terus maksudnya?"
"Iya...tadinya...soalnya disini aku menemukan sesuatu yang sangat menarik" ucap Rafa sambil senyum-senyum sendiri.
Melihat Rafa yang seperti orang sinting, Rlfa jadi merasa penasaran.
"Apa sih...yang bisa membuat seorang Rafa jadi kayak gini?"
"Kayak nya cinta Elf.." jawab Rafa yang masih senyum-senyum sendiri.
Mendengar ucapan Rafa, jantung Elfa serasa mau berhenti berdetak. Dia yang begitu lama mengenal Rafa tapi tidak pernah bisa membuatnya jatuh cinta.
Persahabatan yang ia bina sejak dulu menjadikan Elfa tidak berani mengungkapkan perasaanya. Elfa tau jika suatu saat nanti, Rafa pasti akan menemukan seseorang yang akan membuatnya jatuh hati. Namun tidak menyangka jika saat mendengarnya langsung dari mulut Rafa rasanya akan sesakit ini.
"Eh...siapa yang bisa mebuatmu jatuh cinta?"ucap Elfa berusaha menyembunyikan perasaannya.
"Namanya Cindi...gadis yang membuatku serasa hampir gila karna merindukannya dan ingin memilikinya" jawab Rafa sambil memandang kearah langit, seakan melihat wajah Cindi disana.
"Oh..ya...?kenalin dong..."kata Elfa berpura-pura ikut bahagia.
"Pk...bes-" belum sampai rafa menyelesaikan kalimatnya,dia dipanggil oleh nyonya Elina,mama Rafa.
"Rafa...Elfa...kalian nggak dingin ngobrol disana?ayo masuk...!"teriak sang ibu.
"Iya ma" jawab Tafa kemudian beranjak dari duduknya.
"Yuk masuk...sebelum mama ngomel"
ajak Rafa kepada Elfa yang terlihat masih diam disana.
Elfa mengangguk dan masuk mengikuti langkah Rafa dari belakang. Kemudian mempercepat langkahnya dan mensejaajari Rafa.
Pagi tiba...
__ADS_1
Cindi yang sudah bersiap menunggu jemputan dari Rafa tiba-tiba handphonenya berbunyi. Panggilan dari Rafa.
Cindipun menggeser tombol hijau dilayar ponselnya.
"Hallo...Cindi ya...??"
Suara wanita dari sebrang sana membuat Cindi kaget. Kemudian manjauhkan ponsel dari telingannya dan memastikan nama yang tertera disana. siapa yang pakai ponsel rafa? ucap Cindi dalam hati.
"Ini...siapa?"
"Aku Elfa...hari ini Rafa tidak bisa jemput kamu...kamu bisakan berangkat sendiri?"
"Iya" jawab Cindi sedikit bingung.
Cindi langsung mematikan panggilan tersebut,kemudian berpamitan dengan ayah dan ibu tirinya. Dan berangkat kesekolah sendiri.
Saat keluar dari pintu, Cindi melihat Kevin ada didepannya menunggu Ivy keluar,
"Ndi..." Kevin memanggil Cindi, tapi Cindi hanya berlalu mengacuhkan Kevin.
"Cindi..." Kevin mengulangi lagi dan menggenggam lengan Cindi bermaksud menghentikan langkah Cindi.
"Ivy sebentar lagi keluar..." kata Cindi melepaskan tangan Kevin.
"Tapi Ndi..." suara Kevin terhenti mendengar Ivy memanggilnya.
"Kevin..." panggil Ivy yang baru keluar dari pintu rumahnya.
Kaki Kevin terhenti mendengar Ivy memanggilnya.
flash back
Disebuah taman Cindi dan Kevin duduk berdua.
"Jadi ada apa sayang?" tanya Kevin sambil menggenggam tangan Cindi.
"Vin,sebaik nya kita akhiri hubungan ini"
ucap Cindi tanpa berani memandang wajah Kevin.
"Maksud kamu ?"tanya Kevin yang tidak percaya dengan ucapan Cindi.
__ADS_1
"Vin...Ivy suka sama kamu...dan kamu lebih baik sama Ivy" jelas Cindi
"Tap.." belum sempat Kevin menyelesaikan kata-kata nya, jari telunjuk Cindi ditempelkan pada bibir Kevin menghentikannya bicara.
"Vin...kamu yang paling mengerti perasaan ku...kamu tau aku sama sekali tidak menyukai mu...jika kamu bersama Ivy kamu akan lebih bahagia karna semua orang akan mendukung hubungan kalian,"
"Tapi ndi...kamu adalah satu-satunya yang ada dihatiku..."lirih Kevin.
"tolong Vin...mengerti lah...Ivy hampir kehilangan nyawanya hanya demi kamu..." Setetes air mata mengalir dipipi Cindi, membuat hati Kevin terasa sakit saat melihatnya.
"Tapi Ndi..." Kevin berusaha merubah keputusan Cindi.
"Vin...jika kamu ingin melihatku bahagia tolong lepaskan aku...biar kan aku mendapat kan kebahagiaan ku...biarkan aku mendapatkan cintaku sendiri" bujuk Cindi,
"Ndi...apa selama kita menjalin hubungan ini kamu sama sekali tidak ada perasaan apapun terhadap ku? bahkan sedetikpun tidak merasakan cintaku?" Kevin menggenggam jemari Cindi.
Cindi hanya menggeleng, Cindi hanya tidak ingin ada yang terluka. Jika dia terus melanjutkan hubungannya dengan Kevin,dia takut Ivy akan lebih nekat dan membuat ayahnya semakin membencinya.
"Aku hanya menggapmu sebagai saudara yang baik padaku, lagi pula hubungan kita hanyalah kesepakatan orang tua kita saja" ucap Cindi sambil berjalan meninggalkan Kevin.
"Ndi...oke aku akan mencoba bersama Ivy... tapi aku tidak janji bisa memperlakukan Ivy seperti aku memperlakukanmu!" seru Kevin dengan hati bergemuruh.
Cindi menghentikan langkahnya, dan memutar tubuhnya memandang Kevin sambil tersenyum dingin.
"Terimakasih...Kevin..." seulas senyum terukir dibibir Cindi.
Kata-kata itu selalu terngiang ditelinga Kevin,dia sama sekali tidak mengerti apa yang ada difikiran Cindi.
ya tuhan,apa keputusanku ini tepat?apa cindi akan benar-benar bahagia? dan bagaimana denganku nantinya?apa aku bisa menjalani ini semua?. Kevin mengusap wajahnya,dan menatap kepergian Cindi.
kufikir selama ini kamu juga merasakan apa yang aku rasakan,tapi ternyata kebahagiaanmu selama ini hanya topeng untuk mengelabuhiku cindi...
flash back off
happy reading semua...
mohon kritik dan sarannya ya
dan jangan lupa likenya....
terimakasih....♡♡♡
__ADS_1