
"Sudah puas dengan apa yang kau temukan? " suara itu membuat Zaf yang tengah terfokus dengan layar yang didepannya merasa terkejut.
Zaf menolehkan pandangannya kebelakang untuk memastikan suara tersebut.
Deg...
Dan benat itu adalah suara Bryan.
Tapi,bukankah Mirela mengatakan kalau pria itu tengah mabuk? lalu bagai mana bisa dia berdiri didepannya kali ini?. batin Zaf.
"Terkejut? " Langkah Bryan yang mendekat terdengar begitu nyaring karna suasana yang begitu sepi.
"Bukankah kau mabuk? " Ucap Zaf dengan sedikit menekan suaranya karna merasa gugup.
"Apa menurutmu, hanya minuman seperti itu bisa membuatku tertidur? "ucap Bryan setelah ia sudah tepat didepan Zaf. "Aku hanya ingin tahu rencana apa yang akan wanita itu lakukan".
Zaf mencoba mengatur nafasnya yang terasa sesak.
"Jadi, bagai mana menurutmu setelah mengetahui kebenarannya? " tanya Bryan melihat kearah laptopnya yang terbuka.
Merasa heran juga bagai mana Zaf bisa membuka file nya yang terkunci.
"Apa tuan Daniel memang sejahat itu? " tanya Zaf dengan tatapan tajamnya.
"Kau bisa membacanya dengan jelas, kau pasti juga tahu maksud dari laporan tersebut" Ucap Bryan.
Di file yang baru saja Zaf buka, ia mendapati laporan tentang kesehatan Lilyana Abram yang adalah kakak dari Bryan Abram, istri Daniel Movic.
Disana tertulis Lilyana meninggal karna racun heroin yang terdeteksi dalam tubuhnya.
"Dia pengguna heroin? "Zaf bertanya.
"Ya"jawab Bryan "dan suaminya lah yang membuatnya kecanduan".
Zaf menggeleng tak percaya, ia mendengar hal yang berbeda dari Daniel, jadi siapa yang berbohong dalam masalah ini?.
"Kau tidak percaya? " ucap Bryan melihat tanggapan Zaf.
"Siapa yang akan mempercayaimu? kau adalah pemilik bar terbesar disini, tentu saja begitu mudah untuk mu jika ingin mendapatkan barang seperti itu, lalu kau mengkambing hitamkan tuan Daniel untuk menjebloskan dia kepenjara"ucap Zaf lantang.
Mendengar itu Bryan tertawa dengan keras "Analisa mu memang masuk akal, namun sayang nya kau salah"ucapnya kemudian memutar kursi yang diduduki Zaf agar menghadap padanya.
Zaf mendongak melihat kearah wajah Bryan yang lebih tinggi darinya.
"Dan kau, apa yang dia inginkan untuk mengirimmu kesini? " tanya Zaf.
Siapa yang Bryan maksud dengan 'dia'? batin Zaf.
"Tidak berani menjawab? " Bryan menuduk hingga wajahnya begitu dekat dengan Zaf, bahkan wajahnya bisa merasakan hembusan nafas pria tersebut.
__ADS_1
Zaf dengan cepat kemudian mendorong dada Bryan untuk menjauh darinya, namun tubuh Bryan yang lebih besar dan kuat tentu saja tidak mudah bagi Zaf untuk melakukannya.
"Kau sudah tahu tujuanku kemari bukan untuk bekerja, jadi apa yang akan kau lakukan? " Ucap Zaf menunduk yang seolah pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh Bryan terhadap dirinya.
Tak ada jawaban dari pria tersebut, Zaf mendongak kembali namun...
Brugh...
Tiba-tiba tubuh Bryan tersungkur menimpa Zaf yang tengah duduk.
"Ataga! " pekik Zaf saat Bryan menimpanya.
"Hei... Bryan... hei... " Zaf menggoyangkan tubuhnya agar Bryan bisa sadar dan bangun darinya.
Namun yang terjadi Bryan malah tersungkur kelantai dengan memeluk bagian perutnya dengan wajah meringis kesakitan.
"Hei apa yang terjadi? " ucap Zaf panik "Hei... Aku belum memukul mu kenapa kau sudah merasa kesakitan? " ucap Zaf dengan celingukan karna bingung harus berbuat apa.
Tak ada jawaban dari pria tersebut, yang terdengar adalah rintihannya.
"Hei... kau kenapa" Zaf mendekatkan telinganya pada bibir Bryan.
"Magh" Lirih pria itu.
Zaf mengerti kemudian segera berusaha memapah Bryan menuju ranjangnya kembali dengan susah payah akhirnya ia berhasil.
Namun nihil karna Zaf tidak menemukan obat apapun disana.
Dengan Tergesa-gesa Zaf kemudian menuju ke lantai bawah untuk menuju kedapur.
Disepanjang perjalanan ia bahkan tak menjumpai siapa pun disana.
Ia menoleh pada jam dinding yang sudah menunjukan pukul setengah dua dini hari.
Pantas saja tidak ada tanda kehidupan disana.
Zaf bergegas kedapur dan mengambil satu siung bawang merah dan mengambil madu yang ada didalam kulkas.
Setelah berhasil memarut bawang merah tersebut Zaf kemudian bergegas kembali kedalam kamar Bryan.
Tunggu dulu, Zaf berhenti sejenak saat kaki nya hendak menginjak ke lantai tiga tersebut.
Kenapa aku harus repot-repot mengurusnya? bukankah akan lebih mudah bagiku jika dia sedang sakit?. sekelebat pikiran jahat Zaf membisiki.
Tapi, kalau sampai dia mati, lalu siapa yang akan bertanggung jawab untuk membebaskan paman Daniel?. Zaf berpikir dua kali.
Akhirnya dia melanjukkan Langkahnya menuju Bryan yang masih meringkuk kesakitan diatas ranjang nya.
Ia kemudian menuangkan madu kedalam sendok yang sudah berisikan parutan bawang merah yang tadi.
__ADS_1
"Buka mulut mu! " perintah Zaf setelah berhasil membantu Bryan untuk duduk bersandar pada sandaran ranjangnya.
Bryan menurut, ia membuka mulutnya dan
Hap, obat racikan Zaf meluncur dengan sempurna kedalam mulut pria tersebut.
Bryan meringis merasakan aneh pada mulutnya "Racun apa yang kau berikan pada ku? " ucapnya.
Zaf membelalak mendengar tuduhan dari Bryan.
Apa dia pikir aku sejahat itu untuk tega membunuhnya?.batin Zaf.
Zaf memicingkan matanya "Itu adalah racun tikus tuan" bisik Zaf.
Bryan yang mendengar itu seketika terperanjat "Apa kau bilang? "ucapnya tak percaya.
Zaf berdecih "Suara mu sudah sekeras itu, itu berarti perutmu sudah sembuh" ucap Zaf.
Bryan tersadar kemudian tangannya memegangi perutnya.
Benar juga, ia sudah tidak merasa perih lagi pada perutnya.
Tapi, apa yang Zaf berikan padanya tadi? kenapa rasanya begitu aneh? entah lah, Bryan tidak ingin memikirkannya lagi.
Dan ingin kembali ke topik yang tadi sempat tertunda karna penyakit lamanya kambuh.
Bryan memijit pangkal hidungnya, entah bagai mana ia bisa mengalihkan topik untuk pembicaraannya yang tadi.
"Jadi, setelah sakit perut, kini berganti sakit kepala? "ucap Zaf yang melihat Bryan memijit keningnya.
Bryan kemudian mengalihkan pandangannya kepada wanita dihadapannya itu.
"Ck... kau satu-satunya orang yang mengetahui kelemahanku"ucap Bryan Bryan kemudian beranjak dari tempat tidurnya "Kau bisa meminta satu permintaan karna sudah menolongku".
Lagi-lagi Zaf membelalakan matanya mendengar ucapan dari Bryan.
Gadis itu kemudian menelan salivanya sendiri "Kau sungguh ingin aku membuat permintaan? " tanya Zaf memastikan.
Bryan mengangguk "Kecuali membebaskan Daniel dari penjara"ucap Bryan tepat saat Zaf membuka mulutnya untuk mengatakan keinginannya.
"Ck... sepertinya kau memang tidak berniat untuk berterima kasih" Zaf berdecih.
"Kau bisa meminta uang atau barang mewah yang tak bisa kau dapatkan dari pekerjaanmu" ucap Bryan.
Zaf yang mendengarnya seakan merasa jengkel "Aku tidak butuh uang mu, dan tanpa dirimu aku juga bisa dengan mudah mendapatkan apa yang ku inginkan" ucap Zaf sombong.
Bagai mana tidak sombong? Seorang putri dari Rafa mahendra di tawari uang? kau bercanda? Hanya mengedipkan mata saja Zaf bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.
__ADS_1