
Bryan bangun dari tidurnya. Seperti biasa ia pergi ke kampus bersama temannya, menghabiskan waktunya di kampus, tidak hanya untuk belajar tapi juga bersenang-senang bersama beberapa teman perempuannya.
Dengan wajah blasteran yang ia miliki, tidak sulit bagi Bryan untuk mendapatkan banyak teman perempuan, terlebih dengan sikapnya yang menyenangkan.
Kekayaan yang dimiliki orang tuanya ia gunakan untuk bersenang-senang selama ia berkuliah disana.
Meskipun begitu, ia tetap memiliki nilai yang cukup bagus untuk bisa meyakinkan orang tuanya jika dia bersungguh-sungguh dalam menjalani kuliahnya disana.
Setelah mengobrol dan bercanda tawa cukup lama bersama teman-temannya, Bryan kemudian pergi ke perpustakaan kampusnya untuk mengerjakan tugas yang diberikan dosennya.
Bryan mengambil beberapa buku lalu meletakkannya di meja bersama laptop miliknya.
Suasana tenang di perpustakaan tiba-tiba mengingatkan Bryan pada gadis masa lalunya.
Bibirnya tersenyum saat ia teringat bagaimana dulu ia sering menghabiskan waktu di perpustakaan bersama gadis yang disukainya semasa SMA.
Gadis cantik yang bahkan terlihat sangat cantik dengan kesederhanaannya itu berhasil membuat Bryan takluk padanya.
Dia adalah Aleea, teman sekelas Bryan saat mereka masih SMA dan sejak saat SMA itulah Bryan mulai menyukai Aleea dan berusaha keras untuk bisa mendapatkan Aleea.
Saat SMA, Aleea bukanlah gadis yang mudah didekati. Aleea adalah tipe murid SMA yang tidak banyak bergaul dan lebih senang menyendiri untuk belajar.
Meskipun begitu, banyak laki-laki dan perempuan yang suka berteman dengan Aleea karena kebaikan sifatnya. Hanya saja Aleea lebih sering memilih untuk menghabiskan waktunya sendiri daripada mengobrol bersama teman-temannya.
Hal itulah yang membuat Bryan tertarik dan berusaha melakukan segala cara untuk bisa mendekati Aleea.
Bryan yang sangat tidak menyukai perpustakaan pada akhirnya harus menghabiskan banyak waktunya di perpustakaan pada saat jam istirahat karena hanya saat itulah ia bisa berdua dengan Aleea dan berusaha mencuri perhatian Aleea.
Tapi Aleea tetaplah Aleea, dia bukan gadis yang mudah didekati hanya karena melihat teman laki-lakinya menghabiskan banyak waktu di perpustakaan bersamanya.
Selama berada di perpustakaan, Aleea dan Bryan tidak saling mengobrol meskipun berkali-kali Bryan berusaha untuk membuka obrolan dengan Aleea.
"Ssssttt!"
Itulah yang selalu Bryan dengar dari Aleea setiap Bryan berusaha untuk mengobrol dengan Aleea di perpustakaan.
Sampai akhirnya, Aleea yang sedang fokus mengerjakan tugasnya di perpustakaan, tiba-tiba saja pingsan dan dengan sigap Bryan segera membawa Aleea ke UKS.
Satu sekolahpun riuh dengan hal itu, para perempuan merasa iri pada Aleea yang mendapatkan perhatian dari Bryan yang merupakan idola sekolah saat itu.
Sedangkan para laki-laki iri pada Bryan yang melakukan hal itu pada Aleea yang merupakan gadis cantik yang sangat sulit untuk didekati para murid laki-laki.
Sejak saat itu, Aleea mulai melihat ke arah Bryan setelah Aleea tau jika Bryan yang membawanya ke UKS.
Pada awalnya mereka hanya sedikit mengobrol, namun karena Bryan yang terus berusaha mendekati Aleea, pada akhirnya Aleea bisa menjadi dirinya sendiri di depan Bryan.
Aleea yang merasa nyaman bersama Bryan akhirnya berani untuk berbicara panjang dan menceritakan banyak hal pada Bryan.
Waktupun membawa mereka semakin dekat, meskipun tanpa hubungan yang pasti. Tahun tahun berlalu, hingga tiba saatnya mereka lulus dari SMA.
Pada awalnya mereka berkuliah di kampus yang sama, namun Aleea terpaksa tidak melanjutkan kuliahnya karena kedua orang tuanya meninggal dan mengharuskannya untuk bekerja demi menyambung hidupnya yang sebatang kara.
Hubungan Aleea dan Bryan yang semakin dekat akhirnya membuat Bryan berani untuk mengambil keputusan besar, bertunangan dengan Aleea.
Aleea yang selama ini sudah merasa nyaman dan yakin pada Bryan akhirnya menerima cincin yang melingkar di jari manisnya.
Namun, dibalik sikap Bryan yang membuat Aleea nyaman, Bryan selalu memaksa Aleea untuk melanjutkan kuliahnya dan Aleeapun hanya bisa mengusahakannya karena ia juga harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan dirinya sendiri.
Pada awalnya Bryan tidak mempermasalahkan hal itu sampai akhirnya mereka sering bertengkar karena perbedaan pendapat yang sering kembali diungkit oleh Bryan.
Bryan yang memaksa Aleea untuk kembali kuliah, sedangkan Aleea yang sudah fokus dengan pekerjaannya karena gajinya yang tidak cukup banyak untuk bisa membayar uang kuliahnya.
Hingga di tahun kedua setelah mereka lulus SMA, Bryan dipindahkan oleh orang tuanya ke Paris dan berkuliah disana.
Bulan-bulan pertama Aleea dan Bryan lewati tanpa masalah. Mereka masih sering berkomunikasi meskipun terpisah jarak yang sangat jauh.
Hingga tiba-tiba Aleea merasa Bryan mulai mengabaikannya dan sering memarahinya hanya karena kesalahan kecil yang Aleea lakukan.
Namun Aleea masih berusaha untuk memahami kemarahan Bryan saat itu hingga akhirnya Bryan menghilang begitu saja tanpa kabar sama sekali, membuat Aleea pada akhirnya memutuskan untuk menyusul Bryan ke Paris dengan tabungan yang ia miliki.
Tanpa Aleea tahu, keputusannya untuk pergi ke Paris saat itu adalah satu jalan yang membuat hidupnya berubah drastis.
Bryan mulai membuka buku di hadapannya, ia menghembuskan napasnya panjang saat mengingat kecelakaan yang terjadi pada Aleea tepat di hadapannya.
Kini rasa bersalah itu mulai merasuki dirinya setelah sekian lama ia mengabaikan apa yang sudah terjadi.
"Apa dia benar-benar kesini untuk menemuiku lagi?" batin Bryan bertanya dalam hati.
Rasa bersalahnya semakin terasa mengganggunya saat tiba-tiba semua kenangan masa lalunya bersama Aleea terngiang di kepalanya.
__ADS_1
Di masa lalu, Aleea adalah gadis yang sangat dicintainya, namun tiba-tiba saja ia menghempaskan Aleea begitu saja.
"Aku sudah sangat keterlaluan padanya, aku harus meminta maaf padanya," ucap Bryan dalam hati lalu kembali menutup bukunya dan mengembalikannya di rak buku.
Bryan kemudian meninggalkan perpustakaan setelah ia memasukkan laptopnya ke dalam tas.
"Aku harus menemuinya, aku harus meminta maaf padanya," ucap Bryan dalam hati.
"Bryan, wait!" teriak seorang perempuan yang memanggil Bryan, namun Bryan mengabaikannya.
Bryan berlari meninggalkan kampusnya untuk mencari keberadaan Aleea. Bryan membawa dirinya kembali ke gang dimana ia bertemu Aleea lalu mencari CCTV yang ada disana untuk mempermudahnya mencari Aleea.
"Dengan CCTV yang ada disini aku bisa mengetahui kemana Aleea pergi, jika dia berjalan-jalan disini, itu artinya dia tinggal di sekitar sini!" ucap Bryan sambil memperhatikan deretan pertokoan yang ada di ujung gang.
Bryan kemudian memasuki satu per satu pertokoan itu untuk melihat kemana Aleea pergi melalui CCTV yang ada disana.
Tidak mudah dan membutuhkan waktu yang sangat lama, namun hanya itu yang bisa Bryan lakukan untuk bisa bertemu dengan Aleea.
"Aku harus bisa bertemu dengannya sebelum dia pergi!" ucap Bryan penuh tekad.
**
Di tempat lain, Nathan masih memikirkan sesuatu yang harus ia lakukan untuk memastikan dugaannya tentang seorang laki-laki yang memanggil Aleea semalam.
Setelah lama berpikir, Nathanpun tahu apa yang harus dia lakukan terlebih dahulu sebelum dia mengambil keputusan.
Tak lama kemudian, Aleea terlihat menggerakkan badannya lalu beranjak dari posisinya berbaring.
"Apa kau sudah bangun Aleea?" tanya Nathan.
"Mmmm....." balas Aleea yang hanya berdehem untuk mengumpulkan nyawanya.
"Apa aku bisa meminta tolong padamu?" tanya Aleea.
"Meminta tolong apa?" balas Aleea bertanya.
"Tolong belikan aku makanan, aku lapar dan bosan dengan makanan rumah sakit," jawab Nathan.
"Sekarang?" tanya Aleea yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Nathan.
"Tunggu sebentar, aku harus ke toilet!" ucap Aleea lalu beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah toilet untuk membasuh wajahnya lalu keluar dan menghampiri Nathan.
"Apapun, asalkan bukan makanan rumah sakit," jawab Nathan.
"Baiklah, tunggu disini dan jangan kemana-mana!" ucap Aleea lalu berjalan pergi.
"Aleea tunggu!" ucap Nathan setengah berteriak.
"Apa lagi?" tanya Aleea.
"Aku ingin menghubungi Evan untuk menanyakan masalah kantor, apa aku boleh meminjam ponselmu?"
Aleea kemudian mengambil ponselnya lalu memberikannya pada Nathan.
Sepeninggalan Aleea, Nathanpun segera menghubungi Evan dan tak butuh waktu lama, Evanpun menerima panggilan Nathan.
"Halo Aleea, aku....."
"Ini aku," ucap Nathan memotong ucapan Evan.
"Aaahh kau rupanya, ada apa?" tanya Evan.
"Aku ingin meminta tolong padamu untuk memeriksa keberadaan seseorang," jawab Nathan.
"Seseorang siapa?" tanya Evan.
"Namanya Bryan Aditya, dia kuliah di kampus yang sama dengan Rania, tapi dia adalah senior Rania, tolong cari tau apakah dia masih di Paris atau sudah pulang ke Indonesia!" jelas Nathan.
"Bryan Aditya? siapa dia? kekasih Rania?" tanya Evan.
"Sekarang bukan waktunya untuk bertanya Evan, cepat cari tahu dan hubungi aku disini!" ucap Nathan tanpa menjawab pertanyaan Evan.
"Baiklah, setelah aku mengerjakan pekerjaanku aku akan...."
"Tidak Evan, kau harus mencari tahunya sekarang juga, ini sangat penting untuk menentukan keputusanku selanjutnya," ucap Nathan memotong ucapan Evan.
"Tapi aku juga sedang mengerjakan pekerjaan kantor yang penting Nathan!" ucap Evan.
"Tapi ini lebih penting Nathan, ini berhubungan dengan Aleea!" ucap Nathan mendesak Evan.
__ADS_1
"Aleea? apa maksudmu laki-laki bernama Bryan itu ada hubungannya dengan Aleea?" tanya Evan.
"Aku tidak bisa menjelaskannya secara detail sekarang, yang pasti kau harus mencari tahu tentang laki-laki itu sekarang juga!" ucap Nathan.
"Baiklah, aku mengerti, aku akan segera mencari tahunya," balas Evan tanpa banyak bertanya lagi.
"Bagus, aku menunggumu!" ucap Nathan lalu mengakhiri panggilannya pada Evan.
Tak lama kemudian pintu ruangan Nathan terbuka, Nathan berpikir jika Aleea lah yang masuk, namun ternyata, itu adalah Vina yang datang dengan penuh senyum dan menghampirinya.
"Apa lagi yang kau lakukan disini Vina? Bukankah berada disini membuatmu bosan?" Tanya Nathan yang kesal dengan kedatangan Vina.
"Siapa yang bilang aku bosan? Aku sama sekali tidak bosan, aku hanya.... Sedikit lelah kemarin dan sekarang aku datang lagi untuk menemanimu!" Balas Vina.
"Kau tidak perlu datang kesini lagi Vina, bukankah seharusnya kau sudah pulang sekarang?"
"Bagaimana aku bisa pulang jika kau masih terbaring disini!" Balas Vina.
Nathan hanya menghela napasnya kesal karena keberadaan Vina yang membuatnya sangat tidak nyaman.
"Dimana Aleea? Apa dia masih belum kembali? Sebagai istri dia sangat keterlaluan, bisa-bisanya dia membiarkanmu disini sendirian dari kemarin!"
"Kau tidak tahu apapun Vina, jadi berhentilah mengatakan hal yang buruk tentang Aleea!" Balas Nathan.
Di sisi lain, Aleea yang sudah membeli makanan untuk Nathan segera kembali ke ruangan Nathan.
Tanpa ragu Aleea membuka pintu ruangan Nathan dan mendapati Vina yang sedang duduk di dekat ranjang Nathan.
Aleea hanya diam untuk beberapa saat, berusaha mengatur emosi yang ada dalam dirinya.
"Aleea.... Aku...."
"Jadi kau meminjam ponselku untuk menghubunginya dan kau memintaku keluar dari sini agar kau bisa berdua dengannya?" Tanya Aleea yang tidak membiarkan Nathan melanjutkan ucapannya.
"Tidak Aleea, tidak seperti itu, aku tidak tahu jika dia akan datang kesini!" Balas Nathan.
"Bukankah aku sudah memberi tahumu kemarin jika aku akan kembali datang? Bukankah kau juga lebih nyaman saat aku menemanimu disini?" Sahut Vina yang semakin memperkeruh suasana.
"Baiklah kalau begitu, ini makananmu, aku akan pergi!" Ucap Aleea lalu menaruh makanan Nathan di atas meja yang ada di samping ranjang Nathan.
Namun sebelum Aleea pergi, Nathan menahan tangan Aleea.
"Kau istriku, kau yang harus berada disini!" Ucap Nathan dengan menatap kedua mata Aleea.
"Tapi sudah ada wanitamu disini, jadi kenapa harus ada dua perempuan disini?" Balas Aleea.
"Aku tidak membutuhkan siapapun selain kau, Aleea, jadi aku mohon tetaplah disini!" Ucap Nathan memohon.
"Apa yang kau katakan Nathan? Biarkan dia pergi, dia memang tidak ingin menemanimu disini!" Sahut Vina yang melepaskan tangan Aleea dari Nathan.
Aleea kemudian berjalan pergi, keluar dari ruangan Nathan, membuat Vina merasa menang di atas awan untuk sementara sebelum ia tahu apa yang sebenarnya akan Aleea lakukan padanya.
Aleea yang keluar dari ruangan Nathan segera menemui pihak keamanan rumah sakit dan memberi tahu jika ada seseorang yang mengganggu suaminya di ruangannya.
Dua orang pihak keamanan itupun segera mengikuti langkah Aleea yang kembali ke ruangan Nathan.
Vina yang masih berada di ruangan Nathanpun begitu terkejut saat melihat Aleea yang datang dengan dua orang berbadan besar yang berjalan mendekati Vina.
Dengan menggunakan bahasa Perancis, dua orang itu meminta Vina untuk keluar dari ruangan Nathan.
Meskipun pada awalnya menolak, namun akhirnya Vina berhasil dipaksa keluar oleh dua pihak keamanan itu.
"Lihat saja Aleea, aku akan membalas perbuatanmu padaku!" teriak Vina dengan menunjuk Aleea penuh kebencian.
Sedangkan Aleea hanya melambaikan tangannya dengan tersenyum pada Vina yang sudah penuh emosi saat itu.
"Kau benar-benar di luar dugaan!" ucap Nathan sambil bertepuk tangan kecil setelah ia melihat apa yang Aleea lakukan untuk mengusir Vina.
"Apa kau tidak marah karena aku mengusir wanitamu?" tanya Aleea.
"Berhentilah menyebutnya seperti itu Aleea, kau membuatku sangat kesal!" ucap Nathan.
Aleeapun hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun lalu mengambil makanan yang ada di meja dan memberikannya pada Nathan.
"Kenapa kau belum makan? aku pikir wanitamu yang akan menyuapimu!" tanya Aleea yang sengaja menggoda Nathan.
"Aleea, kau....."
"Sssttt, jaga emosimu dan makan makananmu!" ucap Aleea memotong ucapan Nathan menaruh makanan yang dibelinya di atas pangkuan Nathan.
__ADS_1
Nathan hanya tersenyum tipis lalu menikmati makanan yang Aleea beli untuknya.