Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Mulai Bersandiwara


__ADS_3

Aleea dan Nathan masih berada di kamar hotel. Setelah perdebatan kecil, mereka kembali diam, berusaha memikirkan apa yang harus mereka lakukan saat itu.


Saat Aleea tengah terdiam melamun, Nathan diam-diam memperhatikan Aleea dari tempat duduknya.


Bayangan mimpi gilanya semalam kembali terngiang di kepalanya, tanpa sadar kedua mata Nathan menatap bibir mungil Aleea.


"Dia tidak mungkin diam saja dan bersikap acuh seperti ini jika memang terjadi sesuatu semalam, aku pasti terlalu kesal padanya sampai terbawa mimpi," ucap Nathan dalam hati.


Entah kenapa Nathan merasa apa yang terjadi semalam seperti bukan mimpi, ia merasa hal gila itu benar-benar terjadi.


Meksipun ia tidak mempunyai alasan yang jelas, tetapi mengingatnya saja sudah membuat dadanya berdebar.


"Aaarrgghh..... aku pasti sudah gila!" ucap Nathan sambil beranjak dari duduknya yang membuat Aleea begitu terkejut.


"Bukan cuma kau Nathan, aku juga akan gila jika terus memikirkan hal ini!" ucap Aleea kesal.


"Bukan tentang itu, aku....."


Nathan mengentikan ucapannya lalu mengalihkan pandangannya dan masuk ke kamar untuk mengenakan hoodienya.


"Ada apa dengannya? apa dia benar-benar sudah gila?" tanya Aleea sambil membawa pandangannya melihat Nathan yang masuk ke kamar.

__ADS_1


"Ganti pakaianmu lebih tebal, di luar pasti sedang dingin!" ucap Nathan pada Aleea.


"Apa kita akan keluar sekarang?" tanya Aleea yang belum beranjak dari duduknya.


"Kita tidak mungkin berdiam diri disini bukan?" balas Nathan.


"Tapi jika kita keluar, kita....."


Aleea mengentikan ucapannya lalu menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada cara lain Aleea, kita harus bersandiwara, setidaknya saat kita berada di luar hotel," ucap Nathan.


"Aaahhhh menyebalkan sekali, kenapa aku harus melakukan hal itu....." gerutu Aleea dengan membaringkan dirinya di sofa.


Aleea menghela napasnya kesal lalu beranjak dan masuk ke kamar untuk mengenakan pakaian yang lebih tebal.


Pada akhirnya, Aleea dan Nathan meninggalkan hotel.


"Apa kau tidak bisa mencari alat pelacak di mobil ini lalu melepasnya Nathan?" tanya Aleea pada Nathan saat mereka baru saja menemukan mobil yang akan mereka gunakan.


"Melakukan hal itu hanya akan membuat mama semakin curiga Aleea!" balas Nathan.

__ADS_1


"Aaahhh.... kenapa semua hal yang kita lakukan membuat mama curiga!" gerutu Aleea dengan memanyunkan bibirnya.


Nathan hanya tersenyum tipis melihat Aleea yang menggerutu manja.


"Jangan banyak bertanya, bisa jadi di dalam mobil ini juga ada alat penyadap yang bisa membuat mama mendengar obrolan kita!" ucap Nathan sambil membuka pintu mobilnya.


"Astaga, semua ini benar-benar dipersiapkan dengan baik," ucap Aleea dengan menggelengkan kepalanya pelan.


Aleea kemudian masuk ke dalam mobil, duduk di samping Nathan yang siap mengemudikan mobilnya.


"Kemana kita akan pergi sekarang?" tanya Nathan.


"Entahlah, kemana kau ingin pergi?" balas Nathan.


Aleea hanya tersenyum tipis dengan mengalihkan pandangannya saat mendengar Nathan yang berbicara lembut padanya, sangat berbeda dengan Nathan yang biasanya.


"Jawablah sayang, kemana kau ingin pergi?" tanya Nathan yang membuat Aleea segera membawa pandangannya pada Nathan.


Aleea hanya menggelengkan kepalanya setelah ia mendengar Nathan memanggilnya dengan sebutan "sayang".


Nathan kemudian menepuk pelan bahu Aleea, memberi kode pada Aleea agar Aleea menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


"Aku ikut kemanapun kau membawaku Nathan," ucap Aleea dengan tersenyum lebar, senyum yang benar-benar terlihat seperti senyum yang ia paksakan.


Nathanpun hanya tersenyum tipis melihatnya, entah kenapa sikap Aleea terlihat sangat menggemaskan di matanya.


__ADS_2