Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Kemarahan Nathan


__ADS_3

Persahabatan Nathan dan Evan memang sangat dekat, bahkan mungkin lebih dekat dibanding hubungan kekeluargaan Nathan dengan kedua orang tua dan adiknya.


Banyak hal terjadi yang hanya Nathan dan Evan ketahui, mereka seperti sudah ditakdirkan untuk bersahabat seperti bulan dan matahari yang silih berganti menerangi bumi.


Meskipun sangat berbeda, tetapi bulan dan matahari sama-sama menepati janji untuk selalu datang bergantian menyinari bumi. Mereka memiliki waktu yang berbeda tetapi selalu ada, bahkan jika tidak terlihatpun sebenarnya keberadaan mereka tetap ada.


Entah bagaimana hidup Nathan jika tidak ada Evan, begitu juga Evan yang entah bagaimana akan menjalani hidupnya jika tidak ada Nathan.


Malam itu, Nathan meninggalkan rumah sakit untuk pergi ke kantor polisi. Nathan menanyakan pada polisi tentang kecelakaan yang terjadi pada Aleea dan Evan.


Polisi kemudian menjelaskan jika kecelakaan itu terjadi karena seorang pria yang mengendarai motor dalam keadaan mabuk tidak bisa mengendalikan laju motornya hingga hampir saja menabrak Aleea.


Namun polisi belum berhasil menangkap pria itu dan masih berusaha untuk mencari keberadaannya.


Setelah meninggalkan kantor polisi, Nathan kemudian pergi ke restoran tempat kecelakaan itu terjadi. Nathan pergi kesana untuk memeriksa CCTV saat kecelakaan terjadi.


Setelah mendapat apa yang dia butuhkan, iapun segera menghubungi seseorang.


"Ada pekerjaan untukmu, cari orang ini sampai dapat sebelum polisi menemukannya!" Ucap Nathan pada seseorang yang ia hubungi lalu mengirim sebuah foto dan video pada seseorang itu.


Nathan kemudian mengendarai mobilnya pergi, pulang ke rumahnya.


"Mendekam di penjara saja tidak cukup untuk pria brengsek sepertimu!" Ucap Nathan dengan kedua tangannya yang mencengkeram erat kemudi mobilnya.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Nathanpun sampai di rumahnya. Ia segera berjalan masuk dan menaiki tangga ke arah kamarnya.


Namun langkahnya terhenti saat ia melihat Aleea yang duduk di depan pintu kamarnya.


"Aku menunggumu pulang, bagaimana keadaan Evan? Apa dia sudah sadar?" Ucap Aleea sekaligus bertanya.


"Dia baik-baik saja, tidak perlu terlalu peduli padanya, dia bukan siapa-siapa di hidupmu," jawab Nathan dengan raut wajahnya yang datar.


"Apa kau masih marah padaku Nathan? Padahal kau tau bukan aku yang membuat Evan seperti ini, tetapi kenapa kau sangat marah padaku? Apa kau akan lebih senang jika aku yang seharusnya terbaring di rumah sakit?" Tanya Aleea dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Evan tidak akan membahayakan dirinya jika kau bisa menjaga dirimu dengan baik Aleea, dia emang terlalu baik sekaligus bodoh karena mengorbankan dirinya untuk menyelamatkanmu," balas Nathan dengan tatapan penuh kebencian pada Aleea.


"Aku juga sedih dengan apa yang terjadi pada Evan, aku juga tidak tau jika dia akan menyelamatkanku saat itu, tapi kenapa sikapmu sangat berlebihan Nathan? Bukankah kau tau jika Evan baik-baik saja? Ada apa sebenarnya? Apa yang kau sembunyikan dariku?" Tanya Aleea yang semakin emosi.


"Terus saja bertanya karena tidak akan pernah ada jawaban dari pertanyaanmu!" Balas Nathan lalu membuka pintu kamarnya.


"Apa karena kau menyukainya sebagai seorang kekasih?" Tanya Aleea yang membuat Nathan menghentikan langkahnya.


"Sikapmu yang sangat berlebihan ini sama sekali tidak masuk akal bagiku Nathan, aku istrimu dan kau sangat marah padaku hanya karena hal ini, apa sebenarnya kau menikahiku hanya untuk menyembunyikan hubungan menjijikkan antara kau dan Evan?" Ucap Aleea sekaligus bertanya.


Nathan yang sejak tadi sudah dipenuhi oleh amarah seketika membalikkan badannya dan dengan cepat melayangkan tamparannya pada Aleea.


PLAAAAAKKKK


Suara tamparan yang begitu keras terdengar nyaring memekikkan telinga. Aleea terdiam dengan memegang pipinya yang terasa perih bersama air mata yang luruh dari kedua sudut matanya.


Dengan kasar Nathan menarik tangan Aleea dan menyudutkan Aleea ke dinding lalu memegang kedua pipi Aleea dengan satu tangannya.


"Jaga ucapanmu Aleea, kau tidak pantas mengatakan hal seperti itu pada seseorang yang sudah mengorbankan hidupnya untukmu!" Ucap Nathan dengan cengkeramannya yang semakin kuat.


"Kau tidak tau apapun tentang persahabatanku dengan Evan, kau bahkan tidak tahu apa saja yang sudah aku lewati bersama Evan selama ini, jadi jaga ucapanmu sebelum aku membuatmu tidak bisa mengucapkan sepatah katapun!" Lanjut Nathan lalu melepaskan cengkeramannya sambil mendorong Aleea dengan kasar.


Nathan kemudian masuk ke kamarnya dengan membanting pintunya, meninggalkan bunyi nyaring yang memenuhi setiap sudut rumah mewah itu.


Sedangkan Aleea masih tersungkur di lantai dengan air mata yang membasahi kedua pipinya, membuat memar di pipinya semakin terasa perih.


Aleea benar-benar tidak menyangka jika hal buruk itu terjadi padanya, pada pernikahannya yang bahkan baru berusia beberapa bulan.


Dengan tubuhnya yang bergetar, Aleea beranjak dari lantai lalu berjalan masuk ke kamarnya.


Aleea terduduk di lantai kamarnya sambil menangis terisak, meratapi apa yang sudah terjadi padanya.


Kehilangan ingatan benar-benar membuat hidupnya hampa, hanya Nathan yang ada bersamanya saat tidak ada siapapun dan apapun yang ia ingat.

__ADS_1


Namun kepercayaannya pada Nathan yang akan menikahinya justru membuatnya seperti masuk dalam sangkar tanpa pintu.


Keputusannya untuk memberikan hidupnya pada pernikahan dengan kesepakatan konyol itu membuatnya merasa jatuh dalam jurang yang bahkan tidak bisa ia lihat ujungnya, atau bahkan tidak ada ujung dari kegelapan dan kesedihan yang ia rasakan saat itu.


Aleea hanya bisa menangis, meratap pilu penuh kesedihan. Ia hanya tidak mengerti kenapa Nathan begitu marah padanya.


Emosi Nathan yang meluap-luap tanpa alasan yang jelas pada akhirnya membuat Aleea kehabisan kesabarannya dalam menghadapi kemarahan Nathan, membuat Aleea tanpa sadar mengatakan hal yang begitu buruk pada Nathan.


Dalam hatinya, ia menyesali apa yang sudah ia katakan, ia merasa bersalah terutama pada Evan, laki-laki yang selama ini selalu memperlakukannya dengan sangat baik, bahkan lebih baik dibanding Nathan, suaminya.


Aleea kemudian membawa langkahnya masuk ke kamar mandi, menyalakan shower kamar mandinya lalu duduk bersandarkan dinding di bawah shower yang mengalirkan air dingin ke seluruh tubuhnya.


Aleea hanya terdiam, menyamarkan tangisnya dengan suara gemericik air yang jatuh ke lantai, menyembunyikan air mata yang membasahi pipinya bersama air dingin yang semakin membasahi tubuhnya.


Waktu berlalu bersama malam yang semakin larut. Entah sudah berapa lama Aleea masih duduk di tempatnya dengan gemericik air dari shower yang tidak berhenti membasahi tubuhnya.


Perlahan Aleea mulai terpejam bersama rasa dingin yang memeluk tubuhnya. Hari itu, Aleea melewati malamnya dengan penuh rasa sakit, sedih dan rasa bersalah yang menyusup ke setiap sudut hatinya.


Malam yang panjang seolah enggan berlalu dengan cepat, seperti sedang menghukum Aleea atas hal buruk yang sudah ia katakan pada Nathan, terlebih tentang Evan yang sudah begitu baik padanya.


**


Malam panjang telah berlalu, Aleea mengerjapkan matanya dan tersadarkan jika dirinya masih terduduk di bawah shower yang membasahi dirinya semalaman.


Aleea kemudian beranjak dari duduknya, karena merasa tubuhnya lemas dan pusing, Aleea terpeleset hingga terjatuh dengan keningnya yang membentur pemutar shower.


Seketika air shower yang mengalir bercampur dengan darah yang menetes dari kening Aleea.


Aleea kemudian membersihkan darah yang menetes di lantai lalu mematikan showernya kemudian membasuh lukanya di wastafel.


Aleea merintih, menahan sakit yang tidak hanya pada keningnya, tapi juga pada pipinya yang masih terlihat memar bahkan lebam keunguan.


"Sejak kapan Nathan menjadi sangat kasar padaku? apa dia memang seperti itu dari dulu? apa dia mempedulikanku hanya setelah aku mengalami kecelakaan di Paris?" tanya Aleea sambil menatap pantulan dirinya di cermin.


"Dia benar-benar menamparku tanpa ragu, tamparannya sangat keras bahkan seperti masih terasa sampai sekarang," ucap Aleea dengan kedua matanya yang kembali berkaca-kaca.


Aleea menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan pelan sampai beberapa kali, kemudian mandi dan berganti pakaian.


Saat Aleea akan keluar dari kamar, ia ragu dan kembali duduk di tepi ranjangnya.


"Nathan sangat marah padaku, apa yang akan terjadi pagi ini setelah dia menamparku semalam? aku terlalu takut untuk menghadapinya."


Aleea terdiam untuk beberapa saat di dalam kamarnya. Tiba-tiba ia teringat ponsel Evan yang ada di dalam tasnya.


"Aku harus mengembalikan ponsel Evan, pasti dia sangat membutuhkan ponselnya, tapi.... apa Nathan akan mengizinkanku pergi? bagaimana jika dia akan semakin marah padaku?"


Aleea bimbang dengan apa yang harus ia lakukan saat itu. Namun pada akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya.


"Aku memang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Nathan dan Evan, tapi menuduhnya memiliki hubungan yang menjijikan seperti itu adalah kesalahan yang sudah aku lakukan, aku harus meminta maaf padanya dan berhenti mendebatkan apapun padanya agar dia tidak semakin marah padaku," ucap Aleea.


Setelah memantapkan dirinya, Aleeapun membuka pintu kamarnya lalu berjalan keluar dan menuruni tangga dengan degup jantung yang berdetak kencang.


Untuk pertama kali dalam hidupnya, sejauh yang ia ingat, itu adalah kali pertamanya merasa begitu takut untuk menemui Nathan.


"Semuanya akan baik-baik saja Aleea, cukup ikuti apa yang Nathan katakan dan jangan membantahnya maka semuanya akan baik-baik saja," ucap Aleea dalam hati saat ia melihat Nathan yang sedang menikmati sarapannya di meja makan.


Aleea membawa langkahnya mendekat pada Nathan, namun saat Nathan menyadari keberadaan Aleea, seketika Nathan beranjak dari duduknya sebelum ia menghabiskan makanannya.


"Nathan, aku minta maaf, aku....."


Aleea menghentikan ucapannya saat tiba-tiba Nathan menatapnya dengan tajam, seketika Aleea menundukkan kepalanya, ia benar-benar takut jika Nathan akan melakukan sesuatu yang menyakitinya lagi.


"Mulai saat ini aku tidak akan peduli dengan apapun yang kau lakukan Aleea, tidak perlu meminta izin padaku, tidak perlu menghubungiku atau mengirim pesan padaku, abaikan aku seperti aku mengabaikanmu!" ucap Nathan dengan menatap Aleea yang tertunduk.


Mendengar apa yang Nathan katakan, seketika Aleea mengangkat kepalanya dan menatap Nathan yang berdiri di hadapannya.


"Apa maksudmu Nathan? kenapa kau..."

__ADS_1


"Tidak ada pertanyaan lagi Aleea, jalani hidupmu tanpa mempedulikanku seperti aku yang sama sekali tidak peduli padamu," ucap Nathan memotong ucapan Aleea.


"Apa sebenarnya kesalahan besar yang sudah aku lakukan Nathan? kenapa kau....."


SRAAAAKKK PYAAAARRRRRR


Seketika Aleea menutup kedua matanya dan begitu terkejut dengan apa yang baru saja Nathan lakukan.


Semua yang ada di atas meja makan kini berserakan di lantai setelah Nathan menjatuhkan semuanya dengan satu gerakan tangannya yang menyapu seisi meja.


Aleeapun hanya terdiam dan baru membuka matanya saat Nathan sudah berjalan pergi meninggalkannya.


Bibi yang terkejut dengan apa yang terjadipun segera memunguti semua yang berserakan di lantai. Melihat hal itu, Aleeapun ikut membantu bibi dengan air mata yang membasahi pipinya.


Ia masih tidak mengerti dengan kemarahan Nathan yang begitu besar padanya. Tanpa Aleea tahu, kemarahan Nathan bukan hanya berkaitan dengan Evan, tapi juga karena Nathan yang sudah lelah untuk berpura-pura menjadi baik di depan Aleea, terlebih setelah sang papa yang tidak menepati janji padanya.


"Biarkan bibi saja non yang membereskannya, non Aleea masuk ke kamar saja," ucap bibi yang merasa kasian pada Aleea.


"Maafkan Aleea bi," ucap Aleea dengan menahan isak tangisnya.


Aleea kemudian beranjak dan kembali masuk ke kamarnya.


"Apa maksudnya? kenapa Nathan mengatakan hal seperti itu padaku? apa dia benar-benar sudah tidak mencintaiku lagi?" tanya Aleea dengan air mata yang membasahi kedua pipinya.


Namun saat Aleea melihat tas selempangnya, ia teringat ponsel Evan yang harus segera ia kembalikan pada Evan.


Aleea kemudian masuk ke kamar mandi, membasuh wajahnya di wastafel sambil menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan.


"Tenanglah Aleea, semuanya pasti akan baik-baik saja, mungkin Nathan hanya marah untuk sesaat," ucap Aleea yang berusaha menguatkan dirinya sendiri.


"Aku harus tetap menemui Evan, bagaimanapun juga aku harus berterima kasih sekaligus meminta maaf secara langsung padanya," ucap Aleea.


Aleea kemudian mengeringkan wajahnya dengan handuk, sesekali ia merintih saat lukanya terkena handuk.


Aleea kemudian memakai make up dengan sedikit tebal untuk menutup memar di pipinya.


Sebelum meninggalkan kamar, Aleea mengambil ponselnya, berniat untuk mengirim pesan pada Nathan.


"Aku harus tetap meminta izin padanya," ucap Aleea.


Namun saat ia melihat chat roomnya dengan Nathan, ternyata Nathan sudah memblokir nomornya.


Aleea kemudian menghubungi Nathan, namun tidak tersambung.


"Sepertinya dia bersungguh-sungguh dengan apa yang dia katakan," ucap Aleea dengan kedua matanya yang kembali berkaca-kaca.


Namun Aleea segera menatap langit-langit kamarnya, berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh.


Setelah berusaha untuk mengendalikan kesedihannya, Aleeapun keluar dari kamarnya.


Aleea kemudian meminta supir untuk mengantarnya ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Aleea segera membawa langkahnya ke arah ruangan Evan.


Untuk beberapa saat Aleea ragu, namun ia segera masuk setelah ia memantapkan hatinya untuk bertemu Evan.


Evan yang saat itu sedang duduk di ranjangnya sambil membaca buku seketika terkejut saat melihat Aleea masuk ke ruangannya.


"Nyonya Nathan..... selamat pagi," sapa Evan dengan tersenyum.


"Dia masih tersenyum seperti biasa setelah apa yang terjadi," batin Aleea dalam hati.


"Selamat pagi Evan," balas Aleea dengan tersenyum.


"Bagaimana keadaanmu Evan, apa....."


"Apa yang terjadi padamu Aleea? apa kau terluka karena kecelakaan kemarin?" tanya Evan memotong ucapan Aleea saat Evan menyadari luka di kening Aleea.


"Aaahh ini.... aku....."

__ADS_1


Aleea menghentikan ucapannya saat tiba-tiba Evan menyentuh wajahnya.


"Sepertinya aku tidak melihat luka ini kemarin," ucap Evan sambil menyentuh wajah Aleea untuk memeriksa luka di kening Aleea.


__ADS_2