
Aleea masih menemani Nathan di rumah sakit. Ia sempat kecewa pada Nathan saat ia melihat Vina yang berada di dalam ruangan Nathan saat itu.
Namun, saat Nathan menahannya untuk tidak pergi, saat itulah muncul keyakinan dalam dirinya jika memang Nathan tidak mengharapkan keberadaan Vina disana saat itu.
Hal itulah yang membuat Aleea pada akhirnya melaporkan Vina pada petugas keamanan disana yang membuat Vina terpaksa harus meninggalkan ruangan Nathan.
"Sepertinya ada sedikit kesalahpahaman diantara kita," ucap Aleea.
"Tentang Vina?" tanya Nathan sambil mengunyah makanannya.
Aleea menganggukkan kepalanya.
"Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya, sejak dulu sampai detik ini, aku tidak pernah tertarik padanya," ucap Nathan.
"Tapi sepertinya dia sangat menyukaimu, bahkan mungkin dia sudah lama menyukaimu dibanding denganku, maksudku..... dibanding dengan saat kita berhubungan dulu," ucap Aleea.
"Vina adalah salah satu pegawai yang sangat bisa aku andalkan di kantor Aleea, selain Evan, Vinalah yang aku percaya untuk bertanggung jawab pada projek besar perusahaan dan mereka berdua tidak pernah mengecewakanku," ucap Nathan.
"Karena aku ingin mempertahankan Vina tetap bersamaku sebagai partner kerja, terkadang aku bersikap berlebihan padanya tanpa aku sadar dan pada akhirnya membuatnya salah paham," lanjut Nathan.
"Dan itu yang membuat kalian berdua sangat dekat?" tanya Aleea.
"Benar, semua orang di kantor mengetahuinya, aku dan Vina memang sangat dekat di mata orang lain, tapi aku tidak memiliki niat apapun selain untuk mempertahankan Vina agar tetap berada di perusahaan," jawab Nathan.
"Sampai kapan kau akan terus seperti itu, Nathan?" tanya Aleea.
"Apa maksudmu?" balas Nathan bertanya.
"Kau tau Vina menganggapmu lebih dari sekedar atasannya di kantor dan kaupun memberikan perhatian yang lebih padanya dengan alasan yang kau katakan tadi, tapi sampai kapan hubungan kalian akan terus seperti itu?"
"Sampai dia bosan padaku dan fokus untuk bekerja denganku," jawab Nathan.
"Kau tidak bisa merubah perasaan seseorang dengan mudah Nathan, dia bahkan masih berusaha mendekatimu setelah kau menikah, untuk saat ini mungkin aku tidak terlalu peduli, tapi bagaimana dengan pasangan barumu nanti?" tanya Aleea.
"Pasangan baru?"
"Iya, suatu saat nanti hubungan kita akan berakhir dan kau pasti akan memiliki pasangan baru bukan? jika hubunganmu dengan Vina tetap seperti ini, pasangan barumu akan sangat terluka Nathan!" jelas Aleea.
__ADS_1
"Aku tidak pernah memikirkan hal itu," ucap Nathan sambil menaruh sisa makanannya di meja.
Aleea kemudian mengambil gelas dan mengisinya dengan air lalu memberikannya pada Nathan.
"Aku tidak tau sampai kapan kita akan tetap berada dalam hubungan yang seperti ini, aku bahkan sudah berada di titik tidak peduli kemanapun hubungan kita akan berakhir," ucap Aleea dengan tersenyum tipis.
"Tapi aku harap, hanya aku yang terluka karena ketidakjelasan hubunganmu dengan Vina, jangan sampai pasangan barumu nanti juga merasakan hal yang sama sepertiku," lanjut Aleea dengan menatap kedua mata Nathan.
"Aku membutuhkan Vina, kau tau itu!" ucap Nathan.
"Aku tau, suatu saat nanti, saat kau bertemu dengan seseorang yang benar-benar kau cintai, kau tidak akan memikirkan dirimu sendiri, saat itulah kau akan mengabaikan dirimu demi seseorang yang kau cintai itu," balas Aleea.
Nathan hanya diam tanpa mengatakan apapun. Ia bahkan tidak pernah berpikir bagaimana akhirnya nanti ia akan jatuh cinta karena baginya jatuh cinta adalah hal paling mustahil dalam hidupnya.
Waktu berlalu, matahari sudah semakin tinggi, memberikan sedikit kehangatan pada musim gugur yang akan berakhir.
"Setelah ini kau harus minum obat dan berisitirahat!" ucap Aleea lalu beranjak dari duduknya.
"Jangan pergi!" ucap Nathan sambil menahan tangan Aleea.
"Aku menunggu Evan menghubungiku, jadi aku membutuhkan ponselmu," ucap Nathan beralasan sambil melepaskan tangan Aleea.
"Kau bisa memakainya," balas Aleea sambil meletakkan ponselnya di atas meja yang ada di samping ranjang Nathan.
"Aku harus pergi untuk membeli makanan, apa kau tidak keberatan jika aku pergi sebentar?" lanjut Aleea bertanya.
"Pergilah, lagipula aku hanya membutuhkan ponselmu," jawab Nathan.
Aleea hanya memutar kedua bola matanya lalu berjalan keluar dari ruangan Nathan.
"Di saat sakit seperti inipun dia tetap egois," gerutu Aleea.
"Jangan terlalu lama," ucap Nathan dalam hati dengan pandangan menatap Aleea yang sudah keluar dari ruangannya.
Aleea meninggalkan rumah sakit, menyebrang jalan lalu berjalan sedikit jauh untuk pergi ke kafe yang pernah ia lihat sebelumnya.
Sejak kemarin Aleea sudah penasaran dengan kafe itu karena Aleea melihat berbagai macam cookies dan pastry yang ada disana.
__ADS_1
Sesampainya disana, Aleea kemudian memesan beberapa macam cookies dan pastry serta satu minuman lalu segera membawanya kembali ke rumah sakit karena ia tidak ingin terlalu lama meninggalkan Nathan sendirian.
Saat baru saja keluar dari kafe, tiba-tiba Aleea mendengar seseorang yang memanggil namanya.
Aleea mengentikan langkahnya dan menoleh ke arah belakangnya.
"Aleea, wait!" teriak seorang laki-laki yang tidak Aleea kenal.
"Astaga, dia pasti laki-laki yang semalam!" ucap Aleea panik lalu segera berlari pergi.
Aleea berlari dengan cepat sampai beberapa kali menabrak seseorang yang berjalan di trotoar yang cukup ramai dengan pejalan kaki.
Aleea bahkan tidak peduli pada minuman dan makanannya yang sudah jatuh saat ia menabrak beberapa orang di trotoar.
Aleea hanya ingin terus berlari, menjauh dari seseorang yang ia pikir berniat jahat padanya.
Saat akan menyebrang ke arah rumah sakit, tiba-tiba terjadi kecelakaan tepat di depan Aleea.
Seketika riuh suara klakson dan teriakan orang-orang terdengar dimana-mana.
Aleea terdiam, kepalanya terasa sakit, namun Aleea berusaha untuk bisa menahannya karena ia harus terus berlari dari kejaran laki-laki yang memanggil namanya.
Di tengah riuh ramai orang-orang di jalan tempat kecelakaan terjadi, Aleea berlari ke arah rumah sakit lalu segera membawa dirinya masuk ke ruangan Nathan.
Baru saja membuka pintu, Aleea tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri.
Nathan yang melihat hal itu segera beranjak dari ranjangnya. Ia melepaskan selang infus di tangannya lalu segera menghampiri Aleea.
"Aleea, sadarlah Aleea!" ucap Nathan sambil menepuk pelan pipi Aleea.
Nathan kemudian berteriak meminta tolong hingga akhirnya suster datang lalu membawa Aleea ke ruang rawat untuk diperiksa keadaannya.
Nathan yang ingin mengikuti Aleea seketika ditahan oleh suster yang lain karena Nathan melepas paksa infus di tangannya.
Suster kemudian memperbolehkan Nathan melihat keadaan Aleea di ruang rawat setelah suster memasang kembali infus di tangan Nathan.
Nathan kemudian pergi ke ruang rawat dan melihat Aleea yang terbaring di atas ranjang bersama dokter yang baru saja selesai memeriksa keadaan Aleea.
__ADS_1