
Di tempat lain, Evan yang mengetahui tentang bazar itu menyempatkan waktunya untuk datang kesana. Tidak ada tujuan khusus bagi Evan, ia hanya ingin melihat-lihat sebelum ia mengajak Aleea untuk datang kesana.
Namun Evan begitu terkejut saat melihat sebuah standing banner milik toko kue Aleea dan Tika.
Evanpun segera membawa langkahnya mendekat dan mendapati Aleea yang sedang melayani pembeli bersama Tika.
"Aleea, Tika, kalian juga mengikuti bazar disini?" tanya Evan terkejut.
"Iya, kelas memasak kita yang mengadakan acara ini," jawab Tika.
"Aaaahh, jadi acara ini yang kemarin membuatmu pusing, Aleea?" tanya Evan yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Aleea.
"Apa semuanya sudah beres? apa tidak ada masalah lagi?" tanya Evan.
"Semuanya sudah beres Evan, jangan khawatir!" jawab Aleea.
"Baguslah kalau begitu, sampai jam berapa kalian disini?" tanya Evan.
"Mmmm..... kita belum tahu, tetapi yang pasti sampai malam," jawab Aleea.
"Apa kalian hanya berdua sampai malam?" tanya Evan khawatir.
Aleea seketika membawa pandangannya pada Tika sebelum menjawab pertanyaan Evan, namun sebelum Aleea ataupun Tika sempat menjawab, tiba-tiba......
"Evan!" panggil Nathan yang tiba-tiba muncul, membuat Evan begitu terkejut.
"Nathan, kenapa kau ada disini?" tanya Evan pada Nathan yang berjalan menghampirinya dari dalam stand Aleea dan Tika.
"Tentu saja untuk membantu," jawab Nathan.
"Kau sendiri, apa yang kau lakukan disini?" lanjut Nathan bertanya.
"Aku.... hanya tidak sengaja lewat dan ingin melihat-lihat, aku bahkan tidak tau jika Aleea dan Tika terlibat di acara ini," jawab Evan.
__ADS_1
"Aaahh begitu, aku pikir kau selalu mengetahui kegiatan Aleea," ucap Nathan.
Evan hanya diam, ia membawa pandangannya pada Aleea, seolah meminta penjelasan atas keberadaan Nathan disana.
"Dia istrimu, kau yang lebih mengetahuinya," ucap Evan dengan raut wajah yang datar dan berjalan pergi begitu saja.
Aleea kemudian keluar dari stand dan berlari mengejar Evan. Aleea merasa jika dirinya harus menjelaskan pada Evan tentang keberadaan Nathan disana karena dari tatapannya, Aleea sudah bisa melihat jika Evan sedang marah saat itu.
"Evan tunggu!" ucap Aleea sambil menarik tangan Evan.
Setelah berhasil meraih tangan Evan, Aleea menggandengnya untuk mengajaknya pergi ke tempat yang tidak banyak dilalui orang.
"Aku tau kau pasti marah karena aku tidak memberi tahumu tentang hal ini, aku minta maaf Evan, sebagai seseorang yang sudah banyak membantu, seharusnya aku memberi tahumu tentang keterlibatan Nathan," ucap Aleea.
"Kau membuatku kecewa Aleea, ini bukan hanya tentang aku yang membantu usahamu dan Tika, tapi aku juga bagian dari bisnis kalian berdua, apa kalian melupakan hal itu?" balas Evan.
"Tentu saja aku dan Tika mengingatnya, aku terpaksa membiarkan Nathan terlibat dalam acara ini karena aku dan Tika membutuhkannya, Evan!" ucap Aleea.
"Kenapa kau tidak memberi tahuku terlebih dahulu jika memang kau membutuhkan bantuan, Aleea? kenapa harus Nathan? kau menyembunyikan hal ini dari Nathan, tapi kau justru membuatnya terlibat dengan hal ini!"
"Lalu bagaimana denganmu? apa sekarang dia mengetahui jika kau memulai bisnis ini?" tanya Evan.
"Tidak, dia hanya tau jika Tika adalah pemilik toko kue itu," jawab Aleea.
"Nathan bukan seseorang yang bodoh Aleea, jika dia sudah mulai terlibat, dia akan tahu apa yang ingin kau sembunyikan darinya Aleea, apa kau tidak memikirkan hal itu?"
"Aku....."
"Dia sudah jauh lebih dulu terjun dalam dunia bisnis, dia akan peka dengan hal-hal di sekitarnya dan bukan tidak mungkin jika cepat atau lambat dia akan mengetahui hal ini," ucap Evan memotong ucapan Aleea.
Aleea hanya terdiam, ia tidak memikirkan apa yang Evan katakan padanya. Ia tidak berpikir jika apa yang ia lakukan bisa memberi dampak yang begitu jauh.
"Aku akan selalu siap untuk membantumu Aleea, dalam hal apapun dan kapanpun, apa lagi jika itu menyangkut masalah toko kue, aku berhak untuk ikut andil, Aleea!" ucap Evan.
__ADS_1
"Maafkan aku Evan, aku sudah bertindak egois dan tidak memikirkan kemungkinan lain yang akan terjadi," ucap Aleea dengan menundukkan kepalanya.
"Maaf sudah membuatmu kecewa," lanjut Aleea yang tidak berani membawa pandangannya pada Evan yang sedang marah padanya.
Evan menghela napasnya panjang lalu memegang kedua bahu Aleea dan sedikit menundukkan kepalanya.
"Percayalah padaku Aleea, aku bisa membantumu, aku akan selalu ada untukmu dalam hal apapun, jadi tolong berpikirlah dengan jauh sebelum kau memutuskan sesuatu!" ucap Evan.
Aleea mendongakkan kepalanya, berusaha menatap Evan yang masih memegang kedua bahunya.
Tidak ada apapun yang Aleea katakan, ia hanya menganggukkan kepalanya sebagai balasan dari apa yang Evan katakan padanya.
"Aku akan pergi, orang lain akan salah paham jika melihat kita seperti ini!" ucap Evan lalu melepaskan tangannya dari kedua bahu Aleea.
"Kau bisa tetap disini jika kau mau, kau bisa ikut membantu!" ucap Aleea.
"Sudah ada Nathan yang membantumu Aleea, aku sudah tidak diperlukan lagi disini!" balas Evan lalu berjalan pergi begitu saja.
Aleeapun hanya diam di tempatnya, ia merasa bersalah pada Evan atas apa yang terjadi.
Niat awalnya hanya ingin berusaha untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, namun justru keterlibatan Nathan membuat Evan kecewa.
"Aku sudah mengecewakannya, dia yang selama ini selalu bersikap baik padaku, bahkan sangat peduli padaku dan semua hal yang aku lakukan," ucap Aleea dalam hati.
Di tempat lain, tanpa Aleea dan Evan tahu, Nathan melihat semua yang terjadi antara Aleea dan Evan karena saat Aleea mengejar Evan, Nathan sengaja mengikuti Aleea.
Nathan diam-diam melihat apa yang terjadi antara Aleea dan Evan saat Aleea menarik tangan Evan dari kerumunan.
Meskipun tidak mendengar apa yang Aleea dan Evan bicarakan, tetapi Nathan bisa melihat dengan jelas jika terjadi sesuatu antara Aleea dan Evan saat itu.
Setelah melihat Evan pergi, Nathanpun membawa langkahnya kembali ke tenda stand dengan memikirkan tentang apa yang baru saja ia lihat.
"Sebenarnya seperti apa hubungan mereka berdua? mereka sangat dekat, bahkan aku merasa Evan lebih mengetahui banyak hal tentang Aleea!" batin Nathan bertanya dalam hati.
__ADS_1
Nathan menghela napasnya panjang lalu membawa dirinya duduk di hadapan Tika.
"Apa keberadaanku disini membuat Evan marah? sejauh yang aku tau, dia bukan laki-laki yang mudah marah dan kecewa, tapi hari ini aku melihatnya dengan jelas, entah itu kemarahan atau kekecewaan!" ucap Nathan dalam hati sambil mengusap wajahnya dengan kasar.