Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Kata "Perceraian"


__ADS_3

Aleea dan Evan masih sibuk dengan kegiatan memasak mereka di dapur. Mereka mengobrol, bercanda dan tertawa berdua.


Di sisi lain, Nathan memastikan sudah tidak ada lagi kecoa di dalam kamar mandi Aleea sebelum ia keluar.


Setelah mencuci tangan, Nathan keluar dari kamar Aleea dan membawa langkahnya ke kamarnya untuk menemui Aleea yang ia pikir masih ada di kamarnya.


Namun saat baru saja membuka pintu kamarnya, Nathan terkejut karena tidak mendapati Aleea disana.


Nathan kemudian menuruni tangga dan mendengar suara tawa yang berasal dari dapur.


Seketika Nathan menghentikan langkahnya, entah kenapa ia ingin mendengar apa saja yang Aleea dan Evan bicarakan di dapur.


"Tidak ada yang kurang darimu Evan, pasti mudah buatmu untuk mencari pasangan hidup," ucap Aleea.


"Aku tidak sebaik itu Aleea, lagi pula mencari pasangan hidup bukan hal yang mudah buatku," balas Evan.


"Apa kau memiliki kriteria tertentu?" tanya Aleea.


"Mmmm.... sebenarnya aku belum terlalu memikirkannya, tetapi yang pasti aku hanya ingin mencintai satu perempuan untuk selamanya, jadi aku harus pastikan jika aku benar-benar mencintainya, begitupun dengannya," jawab Evan.


"Waktu yang akan menunjukkan bagaimana cinta itu tumbuh Evan, jadi kau harus memilki keberanian untuk memulai agar kau tau saat cinta itu mulai tumbuh," ucap Aleea.


"Apa kau juga merasakannya Aleea? apa kau tau saat cinta perlahan tumbuh dari hatimu untuk Nathan?" tanya Evan.


Aleea menghela napasnya panjang sebelum menjawab pertanyaan Evan.


"Sejauh yang aku ingat, aku tidak pernah merasakannya, bahkan sejak awal aku meragukan hubunganku dengannya, aku hanya mempercayainya karena hanya ada dia saat aku tidak mengenal siapapun," jawab Aleea.


"Bukankah kebersamaan kalian pada akhirnya akan menumbuhkan cinta?" tanya Evan.


"Bagaimana cinta bisa tumbuh jika dia saja sudah melupakan cintanya," balas Aleea.


"Tapi Aleea....."


"Sudahlah Evan, aku tidak ingin membicarakannya lagi, hubunganku dan Nathan seperti bom waktu yang setiap saat bisa saja meledak karena aku hanya tinggal menunggu kapan Nathan akan menceraikanku," ucap Aleea memotong ucapan Evan.


"Aku yakin semuanya akan baik-baik saja Aleea, yang terpenting sekarang jalani hidupmu dengan bahagia dan lakukan apapun yang membuatmu bahagia," ucap Evan sambil menepuk pelan kepala Aleea.


"Aku bisa berjalan di atas jalan kebahagiaanku karenamu Evan, aku tidak tahu bagaimana aku akan menjalani hidupku tanpamu, aku benar-benar sangat berterima kasih," ucap Aleea.


"Kau hanya harus bahagia Aleea, itu saja," balas Evan.


Aleea hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.


Di sisi lain, Nathan yang sejak beberapa saat lalu mendengar obrolan Aleea dan Evan pada akhirnya memilih untuk pergi.


Nathan kembali menaiki tangga lalu masuk ke ruang kerjanya.


"Sedekat apa sebenarnya hubungan mereka berdua? apa saja yang sudah Evan lakukan untuk Aleea?" tanya Nathan pada dirinya sendiri.


Nathan terdiam, dalam diamnya kembali terngiang percakapan Aleea dan Evan yang baru saja ia dengar.


Entah kenapa hal itu membuat Nathan kesal tanpa alasan. Ada sesuatu dalam dadanya yang bergejolak, seolah membakar emosi dalam dirinya yang tidak bisa ia kendalikan.


"Aaarrgghhhhh!!!!"


Nathan berteriak sambil menyapu tumpukan buku yang ada di meja dengan kedua tangannya.


Kekesalan tanpa alasan membuatnya semakin tidak terkendali.


"Aku pasti sudah mulai gila!" ucap Nathan sambil mengacak-acak rambutnya dengan kesal.


Nathan menghela napasnya panjang, berusaha mengendalikan kekesalan yang tidak ia mengerti dari mana datangnya.


Di dapur, Aleea dan Evan baru saja menyelesaikan kegiatan memasak mereka. Mereka kemudian membawa hasil masakan mereka ke meja makan.


"Akhirnya selesai juga," ucap Aleea dengan penuh senyum, menatap berbagai macam makanan di hadapannya.


"Sepertinya Nathan masih ada di kamarmu, apa kau tidak ingin memanggilnya?"


"Tidak, kau saja," jawab Aleea lalu membawa dirinya duduk.


"Baiklah," ucap Evan lalu meninggalkan Aleea, menaiki tangga dan berjalan ke arah kamar Aleea.


Namun saat Evan membuka pintu kamar Aleea, Evan tidak melihat Nathan disana.


"Kemana dia?" tanya Evan sambil menutup kembali pintu kamar Aleea dan membawa langkahnya ke arah kamar Nathan, namun tidak mendapati Nathan disana.


"Dasar penggila kerja!" ucap Evan lalu membawa langkahnya ke arah ruang kerja Nathan.


Evan mengetuk pintu beberapa kali sebelum ia membukanya.


"Kenapa berantakan sekali?" tanya Evan yang melihat banyak buku berserakan di lantai.


"Ada tikus," jawab Nathan beralasan.


"Astaga, tadi kecoa sekarang tikus, apa sekotor itu rumahmu sekarang?"


Nathan hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun sambil merapikan kembali buku-bukunya yang berserakan di lantai.

__ADS_1


"Ayo makan, aku dan Aleea sudah selesai memasak!" ucap Evan.


Nathan menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun. Sebenarnya Nathan tidak ingin makan bertiga dengan Aleea dan Evan, karena ia tau suasana akan terasa canggung jika mereka duduk bertiga.


Namun Nathan tidak memiliki alasan untuk menolak dan ia tidak ingin Evan berpikir jika ia sengaja menolak karena suatu hal.


Nathan dan Evanpun menuruni tangga, membawa langkah mereka ke arah meja makan dimana sudah ada Aleea yang menata piring dan gelas disana.


"Kau yang memasak semua ini?" tanya Nathan pada Evan saat mereka baru saja duduk.


"Dengan bantuan Aleea tentunya," jawab Evan dengan membawa senyumnya pada Aleea.


"Sepertinya kita bisa membuka restoran jika kita bisa bekerja sama dengan baik," ucap Aleea sambil memberikan piring yang sudah ia isi dengan nasi dan beberapa lauk untuk Evan.


"Ide bagus!" balas Evan.


"Bagaimana menurutmu, Nathan?" lanjut Evan bertanya pada Nathan.


"Aku tidak setuju," jawab Nathan yang menunggu Aleea mengambilkan makanan untuknya.


"Kenapa?" tanya Aleea yang meletakkan piring dengan nasi dan beberapa lauk di hadapannya sendiri.


Nathan yang melihat hal itupun segera mengambil sendiri nasi dan beberapa lauk di hadapannya karena ternyata Aleea hanya mengambilkannya untuk Evan.


"Padahal aku suaminya, bukan Evan," gerutu Nathan dalam hati.


"Kenapa kau tidak setuju Nathan?" tanya Evan.


"Apa yang akan dikatakan orang lain saat mereka mengetahui istriku membangun bisnis dengan temanku? kalian bisa melakukan apapun yang kalian mau asalkan tidak membuat orang lain salah paham!" jelas Nathan.


"Tapi....."


"Dan kau Aleea, bertahanlah sebentar lagi, karena setelah aku menceraikanmu kau bisa melakukan apapun dengan siapapun karena aku sama sekali tidak peduli!" ucap Nathan memotong ucapan Evan.


Mendengar kata perceraian membuat Aleea kehilangan nafsu makannya seketika. Namun Aleea hanya diam dengan menghela napasnya lalu menyeruput minuman miliknya.


Tanpa ia sadari, raut wajahnya mulai berubah. Meskipun ia tau jika hubungannya dengan Nathan akan berakhir, namun mendengar kata perceraian benar-benar membuatnya mood nya berantakan.


Evan yang memperhatikan Aleea seketika menyadari jika Aleea sedang tidak baik-baik saja saat itu.


"Oke baiklah, mari kita nikmati saja makanan kita pagi ini, aku yakin semua ini tidak akan kalah dengan makanan yang ada di restoran!" ucap Evan yang berusaha untuk mencairkan suasana.


Aleea hanya tersenyum tipis pada Evan lalu mulai menikmati makanan di hadapannya, begitu juga Nathan.


Mereka menghabiskan makanan mereka tanpa banyak mengobrol dan terlihat canggung, terlebih setelah apa yang Nathan katakan pada Aleea.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Nathan segera kembali naik ke atas untuk masuk ke ruang kerjanya, meninggalkan Aleea dan Evan.


"Apa kau baik-baik saja, Aleea?" tanya Evan pada Aleea yang hanya diam sejak tadi.


Aleea hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun, senyum yang dengan jelas ia paksakan saat itu.


"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Evan yang berusaha untuk mengembalikan keceriaan Aleea.


"Aku harus pergi ke ruko, tapi sebelum itu, apa aku boleh minta tolong padamu?" balas Aleea.


"Tentu saja, apa yang bisa aku lakukan untukmu?"


"Tolong periksa kamar mandiku, aku takut masih ada kecoa disana," jawab Aleea.


"Baiklah, aku akan memeriksanya," ucap Evan.


Setelah selesai membereskan dapur, Evan kemudian masuk ke kamar Aleea untuk memeriksa setiap sudut kamar dan kamar mandi Aleea, memastikan jika sudah tidak ada kecoa lagi disana.


Setelah Evan memeriksa kamarnya, Aleeapun masuk dengan ragu dan hati-hati.


Setelah yakin jika semuanya sudah aman, Aleeapun membawa dirinya berdiri di bawah shower yang mengguyurnya dengan air dingin.


Aleea kemudian mempersiapkan dirinya untuk pergi ke ruko.


"Apa kau mau pergi sekarang?" tanya Evan.


"Iya, Tika pasti sudah menungguku," jawab Aleea.


"Aku akan mengantarmu!" ucap Evan.


"Tidak perlu, aku sudah memesan taksi," balas Aleea.


"Oke baiklah," ucap Evan.


Aleea kemudian membawa langkahnya keluar dari rumah, sedangkan Evan hanya diam menatap kepergian Aleea.


Setelah Aleea sudah menghilang dari pandangannya, Evanpun menghampiri Nathan di ruang kerja Nathan.


Sama seperti biasanya, Evan mengetuk pintu beberapa kali sebelum ia membukanya dan mendapati Nathan yang sedang membaca buku di dalam ruang kerjanya.


Evan kemudian membawa langkanya mendekat pada Nathan dan mengambil buku yang sedang Nathan baca.


"Jelaskan semuanya sekarang!" ucap Evan pada Nathan.

__ADS_1


"Aku sedang tidak ingin membahasnya," balas Nathan yang merebut bukunya dari tangan Evan.


"Tapi kau harus menjelaskannya sekarang, Nathan!" ucap Evan yang kembali merebut buku yang Nathan pegang.


"Kau...."


"Aleea sudah pergi, lagi pula ruang kerjamu kedap suara bukan? jadi sudah tidak ada alasan lagi, jelaskan semuanya padaku sekarang juga!" ucap Evan memotong ucapan Nathan.


Nathan menghela napasnya panjang lalu mengatakan pada Evan tentang apa yang terjadi pada Aleea saat mereka di Paris


"Aku tidak tau dia siapa, apakah dia benar-benar seseorang yang berniat jahat pada Aleea atau seseorang yang mengenal Aleea," ucap Nathan di akhir penjelasannya.


"Apa maksudmu seseorang yang mengenal Aleea itu adalah Bryan Aditya?" tanya Evan yang dibalas anggukan kepala oleh Nathan.


"Siapa dia sebenarnya dan apa hubungannya dengan Aleea?" tanya Evan.


"Dia.... tunangan Aleea," jawab Nathan yang membuat Evan begitu terkejut.


"Tunangan? Aleea sudah memiliki tunangan?" tanya Evan memastikan apa yang baru saja ia dengar.


Nathan kemudian menjelaskan pada Evan tentang apa yang pernah Rania katakan padanya tentang hubungan Aleea dan Bryan.


Nathan juga menjelaskan apa yang terjadi pada Aleea saat Aleea menemui Bryan di bar sampai akhirnya kecelakaan yang melibatkan Nathan terjadi.


Sepanjang Nathan bercerita, Evan hanya diam. Ia tidak menyangka jika hal buruk benar-benar terjadi pada hidup Aleea bahkan sebelum Aleea terlibat dengan kebohongan Nathan.


"Jadi Rania sudah mengetahui rahasia kita?" tanya Evan.


"Tidak semuanya, yang pasti dia tidak tahu jika aku yang menabrak Aleea saat itu," jawab Nathan.


"Aku benar-benar tidak menyangka jika Aleea menjalani hidupnya dengan berat sejak dulu dan kau bahkan masih memperlakukannya dengan buruk setelah kau mengetahui semua itu!" ucap Evan.


"Apa yang terjadi padanya di masa lalu tidak ada hubungannya denganku," balas Nathan.


Evan menghela napasnya panjang, menyandarkan dirinya pada sandaran kursi yang didudukinya.


**


Di tempat lain, Aleea baru saja sampai di ruko.


"Aku pikir kau akan berlibur selama satu minggu!" ucap Tika saat Aleea baru saja tiba di ruko.


"Ada sesuatu yang mengharuskan Nathan segera pulang, jadi kita pulang lebih cepat," balas Aleea.


"Aaahh begitu, apa semuanya baik-baik saja?" tanya Tika yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Aleea.


"Bagaimana dengan ruko? everything okay?" tanya Aleea.


"Iya, tidak ada masalah, hanya saja aku mengurangi beberapa pesanan yang masuk, aku takut tidak bisa menghandle sendiri jika terlalu banyak pesanan," jawab Tika.


"Kau sudah sangat bekerja keras Tika, kau juga harus mengambil waktu untuk libur," ucap Aleea.


"Kita sama-sama bekerja keras Aleea," balas Tika.


Aleea dan Tika kemudian sibuk menyiapkan pesanan kue yang sudah masuk sembari mengobrol, membicarakan langkah mereka selanjutnya.


"Aku sudah mempelajari beberapa pastry yang kemarin kita diskusikan saat kau masih ada di Paris, Aleea!" ucap Tika.


"Benarkah? apa kau sudah mencoba membuatnya?" tanya Aleea.


"Belum, aku masih berusaha memahami detailnya," jawab Tika.


"Bagaimana jika setelah ini kita mencoba membuatnya?" tanya Aleea.


"Setuju, sepertinya aku sudah memahami beberapa hal, tinggal mempraktekkannya saja!" balas Tika.


"Good job Tika!" ucap Aleea penuh senyum dengan mengacungkan ibu jarinya pada Tika.


Setelah beberapa jam berlalu, Aleea dan Tika sudah menyelesaikan pesanan pelanggan mereka.


Mereka kemudian melanjutkan membuat pastry yang sebelumnya sudah mereka bahas.


Aleea dan Tikapun mulai membuat beberapa pastry dengan isian yang berbeda.


Sembari melayani pelanggan yang datang, Aleea dan Tika berbagi tugas dengan Tika yang lebih banyak berada di bagian depan, sedangkan Aleea lebih sering di belakang.


Bagaimanapun juga, Aleea masih menyembunyikan dirinya dari banyak orang karena tidak ingin membuat masalah yang pada akhirnya akan membuat Nathan marah.


Waktu berlalu, hari sudah semakin siang dan mulai tercium wangi pastry dari toko kue Aleea dan Tika.


Setelah cukup lama menunggu, menu baru mereka akhirnya keluar dari oven.


"Waaahhh baunya pasti akan mengundang banyak pelanggan, Tika!" ucap Aleea senang.


"Tapi sepertinya ada beberapa yang gagal!" ucap Tika setelah ia melihat beberapa pastry buatannya yang tampak gagal.


Aleea dan Tika kemudian mencoba pastry mereka yang gagal, setelah mencobanya satu gigitan, mereka seketika saling pandang dan tersenyum, seolah mereka memikirkan hal yang sama mengenai pastry mereka.


"Ini tidak sepenuhnya gagal Tika, hanya bentuknya saja yang agak buruk, tapi rasanya...... juara!" ucap Aleea.

__ADS_1


"Setuju," balas Tika dengan mengangguk-anggukkan kepalanya diikuti tawa mereka berdua.


__ADS_2