
Nathan yang sebelumnya berdiri di belakang Aleea hanya terdiam saat melihat Aleea terjatuh.
Terlebih saat ia melihat Evan yang dengan sigap menghampiri Aleea dan menggendong Aleea kembali vila, Nathan hanya bisa diam tanpa bisa memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan saat itu.
Sedangkan Rania, hanya terdiam kesal saat melihat Evan yang pergi begitu saja dengan menggendong Aleea.
"Kenapa kakak diam saja? kenapa bukan kakak yang menggendong kak Aleea?" tanya Rania pada Nathan dengan kesal.
"Sebaiknya kita kembali ke vila," ucap Nathan tanpa menjawab pertanyaan Rania.
Sesampainya Nathan dan Rania di vila, mereka melihat Aleea yang sedang duduk di sofa dengan meluruskan kakinya bersama bibi yang tampak sedang memijat kaki Aleea.
Karena merasa sangat kesakitan, Aleea merintih dengan memegang lengan tangan Evan yang saat itu berdiri di samping Aleea.
"Tahan non, ini akan sedikit sakit karena kakinya terkilir cukup serius," ucap bibi pada Aleea.
"Tolong pelan-pelan saja bi, dia sangat kesakitan," ucap Evan pada bibi.
"Apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit?" tanya Nathan sambil membawa langkahnya mendekat pada Aleea.
"Ini akan segera membaik tuan, bibi sudah biasa memijat orang-orang yang terkilir seperti ini," jawab bibi.
Menyadari kedatangan Nathan, Aleeapun melepaskan tangannya yang sejak tadi memegang lengan tangan Evan dan Evanpun segera membawa langkahnya sedikit menjauh.
"Sebaiknya kau berisitirahat di kamar Aleea, kita bisa pergi ke kebun belakang besok jika keadaanmu sudah membaik," ucap Nathan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Aleea.
Setelah bibi selesai memijat Aleea, Nathan membantu Aleea untuk beranjak dari sofa dan membantunya berjalan masuk ke dalam kamar yang ada di lantai satu.
Di dalam kamar, Nathan mendudukkan Aleea di tepi ranjang.
"Berisitirahatlah dan jangan banyak bergerak!" ucap Nathan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Aleea.
Nathan kemudian keluar dari kamar, sedangkan Aleea berusaha untuk mengangkat kakinya ke atas ranjang dengan sedikit merintih.
Di sisi lain, Evan sedang berada di ruang tengah bersama Rania.
"Kak Evan sangat perhatian pada kak Aleea!" ucap Rania pada Evan, namun kedua matanya menatap layar tv di hadapannya.
"Itu hanya reflek saja Rania, jika itu kau, aku juga pasti akan segera menolongmu," balas Evan.
"Bukankah sudah ada kak Nathan? kenapa harus kak Evan yang menggendongnya?"
"Aku tidak sempat berpikir Rania, aku hanya khawatir dan melakukannya secara reflek saja," jawab Evan.
"Tapi......"
"Kenapa kau kesal? apa kau cemburu?" sahut Nathan bertanya yang membuat Rania menghentikan ucapannya.
"Tidak," jawab Rania singkat dengan memanyunkan bibirnya.
"Kenapa kau kesini Nathan? apa kau tidak menemaninya di kamar?" tanya Evan pada Nathan.
"Tidak perlu, dia ingin beristirahat sendiri," jawab Nathan.
"Bagaimana jika dia membutuhkan sesuatu? bukankah dia masih kesulitan untuk berjalan?" tanya Evan.
"Kenapa bukan kak Evan saja yang menemani di dalam jika kak Evan sangat mengkhawatirkan kak Aleea?" sahut Rania bertanya.
Evan dan Nathan hanya saling pandang mendengar ucapan Rania, sedangkan Rania segera beranjak dari duduknya lalu berjalan keluar dari villa.
"Apa harus aku yang menemaninya?" tanya Evan pada Nathan.
Nathan hanya menghela napasnya kesal lalu beranjak dari duduknya kemudian berjalan ke arah kamar Aleea dengan malas.
Dengan ragu Nathan membuka pintu kamar lalu masuk dan tentu saja membuat Aleea begitu terkejut.
"Ada apa?" tanya Aleea pada Nathan.
"Tidak perlu menghiraukanku, aku hanya akan diam disini," ucap Nathan sambil membawa langkahnya duduk di sofa.
"Keluarlah, kau membuatku tidak nyaman," ucap Aleea.
"Evan yang memintaku untuk menemanimu," balas Nathan.
"Aku tidak perlu ditemani," ucap Aleea.
"Apa kau mau membuat Rania curiga?" tanya Nathan.
Aleea menghela napasnya kesal lalu berbaring membelakangi Nathan. Entah karena lelah setelah perjalanan jauh atau memang mengantuk dan bosan, Aleeapun tertidur.
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 4 sore saat Aleea terbangun dari tidurnya. Aleea membawa pandangannya ke arah sofa dan sudah tidak mendapati Nathan disana.
Dengan pelan Aleea beranjak dari tidurnya lalu membawa dirinya duduk di tepi ranjang. Aleea mencoba menggerakkan sedikit kakinya, namun ia merasa kesakitan saat kakinya mulai menapak di lantai.
"Aaahhh ini masih sakit sekali," ucap Aleea merintih.
Tak lama kemudian pintu terbuka, Evan masuk dan menghampiri Aleea.
__ADS_1
"Evan, aku pikir Nathan yang masuk!" ucap Aleea.
"Nathan baru saja pergi bersama Rania untuk mengantar bibi membeli kebutuhan barbeque nanti malam," balas Evan.
"Bagaimana keadaan kakimu? apa sudah lebih baik?" lanjut Evan bertanya.
"Entahlah, aku masih merasa sangat sakit, padahal aku harus mandi," jawab Aleea.
"Aku bisa membantumu masuk ke kamar mandi jika kau mau," ucap Evan.
Aleea menganggukkan kepalanya dan Evanpun segera membantu Aleea untuk berdiri. Dengan dibantu Evan, Aleea masuk ke kamar mandi.
"Aku akan menunggu di depan, kau bisa memanggilku jika sudah selesai," ucap Evan lalu keluar dari kamar mandi dan menunggu Aleea di tepi ranjang.
Setelah beberapa lama menunggu, pintu kamar mandi terbuka, Evanpun segera menghampiri Aleea dan membantu Aleea untuk kembali duduk di tepi ranjang.
Setelah menyisir rambutnya dan sedikit berdandan, Aleeapun keluar dari kamar dengan bantuan Evan.
Mereka kemudian duduk di ruang tengah sambil menyalakan tv.
"Apa nanti malam kalian akan mengadakan pesta barbeque?" tanya Aleea.
"Iya, itu rencana Rania, dia bahkan sangat bersemangat pergi ke kebun bibi untuk mencari jagung disana, jadi Nathan yang mengantar sekalian membeli bahan-bahan untuk barbeque," jawab Evan.
"Aaahhh begitu, sayang sekali keadaanku seperti ini, aku jadi menyusahkanmu," ucap Aleea dengan menghela napasnya.
"Aku sama sekali tidak merasa seperti itu, tapi apapun yang terjadi kau harus bisa menikmati waktumu disini!" balas Evan.
Aleea hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. Setelah matahari mulai kembali ke peraduannya, Nathan dan Raniapun sampai di vila.
"Hai kak, bagaimana keadaan kaki kak Aleea?" tanya Rania pada Aleea.
"Belum ada perubahan," jawab Aleea dengan menggelengkan kepalanya pelan.
"Bibi akan memijatnya lagi non, kali ini bibi akan menggunakan ramuan yang baru bibi ambil di rumah," ucap bibi.
Aleea kemudian mengangkat kedua kakinya dan tanpa ragu bibi mengoles ramuan cair dari botol kaca yang bibi bawa tepat di kaki Aleea yang terasa sakit.
Bibi memijatnya dengan lembut dan semakin lama semakin kuat hingga membuat Aleea merintih kesakitan.
"Tolong pelan-pelan bi," ucap Evan pada bibi setelah melihat Aleea merintih.
Dari jauh, Nathan hanya terdiam melihat Evan yang tampak begitu mengkhawatirkan Aleea saat itu.
Sangat jelas terlihat bagaimana Evan begitu mengkhawatirkan Aleea sejak Aleea terpeleset di belakang vila.
Aleeapun mulai mengerakkan pergelangan kakinya dengan pelan, seketika Aleea tersenyum dengan membawa pandangannya pada Evan.
"Bagaimana Aleea?" tanya Evan.
"Sepertinya aku sudah baik-baik saja," jawab Aleea penuh senyum.
Bibi kemudian membantu menurunkan kaki Aleea, dengan pelan Aleea mencoba untuk berdiri tepat di depan Evan.
"Sudah tidak sakit Evan," ucap Aleea senang.
Aleea kemudian melangkahkan kakinya dan ia hampir saja terjatuh, namun dengan sigap Evan menahannya.
"Ternyata masih sedikit sakit," ucap Aleea sambil memegang kuat-kuat kedua tangan Evan yang menahannya.
Evanpun tersenyum tipis lalu membantu Aleea untuk kembali duduk.
"Dibuat berjalan pelan-pelan saja non, pasti besok pagi sudah kembali normal," ucap bibi.
"Terima kasih banyak bi," ucap Aleea pada bibi.
"Ayo kita menyiapkan alat pembakarannya kak!" ucap Rania sambil menarik tangan Evan dengan paksa.
Evanpun mengikuti langkah Rania yang berjalan ke halaman vila untuk menyiapkan pesta barbeque mereka.
Sedangkan Aleea masih bersama Nathan di dalam vila.
"Evan memang sangat baik padamu, tapi aku harap kau tidak akan memanfaatkan kebaikannya!" ucap Nathan pada Aleea lalu berjalan pergi begitu saja.
"Sebenarnya apa yang dia pikirkan tentangku?" tanya Aleea pada dirinya sendiri.
Aleea kemudian mencoba berdiri dan berjalan pelan ke arah luar vila dimana Rania dan Evan sedang menyiapkan alat pembakaran, sedangkan Nathan tampak menyiapkan beberapa daging dan sosis.
Evan yang melihat Aleea berjalan seorang diri seketika membawa pandangannya pada Nathan, namun Nathan hanya fokus dengan apa yang dia lakukan dan sama sekali tidak menghiraukan Aleea.
Saat Evan akan menghampiri Aleea, Rania dengan cepat berlari ke arah Aleea dan membantu Aleea untuk berjalan ke halaman vila.
"Kak Aleea duduk saja disini," ucap Rania pada Aleea.
"Aku akan membantu menyiapkan bahan," ucap Aleea yang dibalas anggukan kepala oleh Rania.
"Nathan, bantu aku mengambil kayu bakar di belakang!" ucap Evan lalu berjalan ke arah belakang vila yang segera diikuti oleh Nathan.
__ADS_1
Sebenarnya, Evan sengaja mengajak Nathan untuk sedikit menjauh dari Aleea dan Rania karena ada sesuatu yang ingin ia bicarakan yang tidak boleh di dengar oleh Rania.
"Jika kau terus mengabaikan Aleea, kau akan membuat Rania curiga, Nathan!" ucap Evan pada Nathan.
"Aku tau," balas Nathan.
"Kalau kau tau kenapa kau tetap mengabaikannya?" tanya Evan yang tak mengerti dengan pola pikir Nathan.
"Karena kau sudah memperhatikannya, kau sangat peduli padanya, jadi kenapa harus ada dua laki-laki yang memperhatikannya?" balas Nathan.
"Aku peduli padanya karena kau mengabaikanya Nathan, jika kau peka dan benar-benar memperhatikannya, aku pasti tidak akan melakukan hal itu," ucap Evan.
"Tapi....."
"Kak, apa yang kalian lakukan disana? cepatlah, disini sudah sangat dingin, kita butuh api unggun!" teriak Rania pada Evan dan Nathan.
Evan dan Nathanpun segera kembali dengan membawa beberapa tumpuk kayu bakar lalu mulai membuat api unggun untuk menghalau suasana dingin disana.
Akhirnya, api unggunpun menyala cukup besar. Evan sibuk menjaga nyala api unggun, sedangkan Rania dan Nathan sibuk dengan sosis dan daging yang mereka panggang.
Nathan kemudian membawa daging dan sosis yang sudah dipanggangnya lalu memberikannya pada Aleea.
"Terima kasih," ucap Aleea menerima daging dan sosis yang Nathan berikan padanya.
"Apa kau kedinginan?" tanya Nathan pada Aleea.
"Tidak, pakaianku cukup hangat dan api unggun ini membuatku semakin hangat," jawab Aleea.
Nathan tersenyum lalu menggeser posisi duduknya dan merangkul bahu Aleea. Pada awalnya Aleea sedikit meronta, namun tangan Nathan semakin kuat merangkul bahu Aleea.
"Aku tidak akan membiarkanmu kedinginan," ucap Nathan.
"Tidak perlu berlebihan Nathan," balas Aleea dengan berbisik.
"Ini bukan sesuatu yang berlebihan Aleea, kita memang bukan pasangan yang romantis, tetapi memeluk saja bukanlah sesuatu yang berlebihan untuk suami istri," ucap Nathan dengan suara yang cukup lantang.
"Rania setuju," sahut Rania.
"Aku bahkan bisa menciummu disini jika aku mau!" ucap Nathan yang membuat Aleea begitu terkejut.
Sama halnya dengan Aleea, Evan yang mendengar ucapan Nathanpun begitu terkejut.
"Jangan membahas hal seperti itu di depan Rania, dia belum cukup dewasa!" ucap Evan sambil melempar kayu bakar sekenanya.
"Siapa bilang? Rania sudah dewasa kak, hal seperti itu saja sudah biasa bagi Rania, teman-teman Rania di kampus bahkan melakukannya di tempat umum," balas Rania.
"Itu memang budaya mereka, berbeda dengan budaya di negara kita Rania," ucap Evan.
"Tapi..... apa kak Evan sudah pernah melakukannya?" tanya Rania berbisik pada Evan yang berdiri di sampingnya.
"Kau harus banyak makan agar tidak banyak bertanya," ucap Evan sambil menyuapi Rania sepotong sosis yang belum di bakar.
"Kaaakk.... ini belum dibakar!" protes Rania kesal yang membuat Evan terkekeh.
Di sisi lain, Aleea melepaskan tangan Nathan dari bahunya lalu beranjak dari duduknya.
Aleea membawa langkahnya dengan pelan ke arah api unggun lalu berdiri di dekat api unggun.
Meskipun harus bersandiwara di depan Rania, tetapi apa yang baru saja Nathan katakan padanya benar-benar membuatnya tidak nyaman dan membuatnya memilih untuk menjauh dari Nathan.
Nathan kemudian menghampiri Aleea dan memeluk Aleea dari belakang, Aleea yang terkejutpun berusaha meronta namun Nathan justru semakin erat memeluk Aleea.
"Kita harus bersandiwara Aleea," ucap Nathan berbisik di telinga Aleea yang membuat Aleea semakin tidak nyaman.
Meskipun merasa risih dengan apa yang Nathan lakukan, Aleea tidak bisa menunjukkannya secara terang-terangan karena khawatir jika Rania akan mencurigainya.
Evan yang melihat hal itupun menyadari jika apa yang Nathan lakukan sudah membuat Aleea merasa tidak nyaman.
Namun Evan hanya diam karena ia tidak berhak untuk melarang Nathan melakukannya, karena memang itulah yang harus Nathan lakukan agar tidak membuat Rania curiga.
"Aku akan mengambil minuman di dalam!" ucap Evan lalu berjalan masuk ke dalam vila.
Evan membuka kulkas, mengambil beberapa botol minuman dan meminum salah satunya sampai habis tak bersisa.
Ada rasa kesal yang memenuhi dirinya saat itu. Entah darimana rasa kesal itu berasal, tapi yang pasti rasa kesal itu bahkan membuat Evan gerah dan berkeringat.
Evan kemudian kembali ke halaman dengan membawa beberapa botol minuman dan memberikan salah satunya pada Rania.
"Kenapa kakak sangat berkeringat? apa kakak sakit?" tanya Rania sambil mengusap peluh di kening Evan.
"Tidak," jawab Evan sambil menghindar.
"Semua orang disini kedinginan kak, tapi kak Evan malah berkeringat!" ucap Rania.
"Apa kau baik-baik saja Evan?" tanya Nathan sambil melepaskan Aleea dari pelukannya.
"Aku baik-baik saja," jawab Evan sambil melanjutkan membakar jagung.
__ADS_1
"Apa yang membuatmu marah Evan? kau pasti sedang menahan marah jika kau berkeringat di cuaca dingin seperti ini!" tanya Nathan yang membuat Aleea dan Rania membawa pandangan mereka ke arah Evan.