
Di Paris, setelah Aleea dan Nathan meninggalkan rumah sakit.
Hari itu Vina terlambat bangun. Ia baru beranjak dari ranjangnya saat matahari sudah terasa hangat.
Vina segera pergi ke kamar mandi, membasuh wajah, menggosok gigi dan segera berganti pakaian.
Dengan sedikit berdandan Vina segera keluar dari kamar hotelnya lalu pergi ke rumah sakit untuk menemui Nathan menggunakan taksi.
Sesampainya di rumah sakit, ia segera membawa langkahnya ke arah ruangan Nathan dengan penuh senyum.
Namun seketika senyumnya memudar saat melihat ruangan Nathan yang sudah kosong.
"Kenapa kosong? apa Nathan dipindahkan ke ruangan lain?" tanya Vina pada dirinya sendiri.
Vina kemudian bertanya pada suster yang kebetulan lewat saat itu dan suster menjelaskan jika pasien yang berada di ruangan itu baru saja meninggalkan rumah sakit.
Vina kemudian menghubungi Nathan, namun panggilannya tidak terjawab. Vinapun akhirnya berlari keluar dari rumah sakit, berniat untuk pergi ke hotel yang sebelumnya pernah ia datangi.
Sesampainya di hotel, Vina segera menanyakan keberadaan Nathan pada resepsionis dan resepsionis itu mengatakan hal yang sudah pernah Vina dengar sebelumnya, yaitu tidak ada yang bernama Nathan di hotel itu.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? apa benar Nathan tidak berada disini? apa berita yang ada di artikel itu benar-benar tidak valid?" batin Vina bertanya dalam hati.
Entah untuk ke berapa kali, Vina kembali menghubungi Nathan, namun tetap saja, tidak ada satupun panggilannya yang terjawab.
"Aaarrgghhh sial, apa yang harus aku lakukan sekarang? kemana aku harus mencari keberadaan Nathan?" tanya Vina kesal pada dirinya sendiri.
Tanpa Vina tahu, saat Vina baru saja tiba di hotel, saat itulah Nathan baru saja meninggalkan hotel bersama Aleea untuk pergi ke bandara.
Alhasil, Vina tetap berada di Paris dengan tetap berpikir jika Nathan masih berada disana tanpa ia tahu keberadaannya.
Sama seperti Vina, Bryan juga memikirkan hal yang sama. Ia berpikir jika Aleea masih berada di Paris, di tempat yang tidak ia ketahui.
Bryan beranggapan jika Aleea berada di Paris untuk bertemu dengannya, namun karena apa yang sudah terjadi diantara mereka di masa lalu, Aleea hanya berani menemui Bryan diam-diam.
Karena tidak bisa menemukan Aleea di rumah sakit, Bryan berusaha untuk mencari Aleea melalui sosial media.
Namun Bryan tidak menemukan Aleea di semua platform sosial media yang pernah Aleea gunakan.
"Sejak kapan dia menghilang seperti ini? bahkan semua sosial medianya juga tidak ada, apa sebegitu terpuruknya Aleea saat itu?" tanya Bryan pada dirinya sendiri.
**
Di rumah Nathan, Evan memutuskan untuk tetap berada di rumah Nathan. Evan membawa langkahnya ke ruang tengah, membaringkan dirinya di sofa, menunggu Nathan ataupun Aleea bangun dari tidur mereka.
Karena Evan juga lelah dengan pekerjaannya yang sangat banyak, Evanpun akhirnya tertidur di sofa.
Malam yang panjangpun berlalu. Di dalam kamar, Nathan mengerjap dan membuka matanya pelan.
Saat kedua matanya baru terbuka, ia begitu terkejut dengan apa yang ada di hadapannya.
Nathan kemudian beranjak dan menyadari jika ia tertidur di ranjangnya bersama Aleea.
"Astaga, kenapa aku tidur disini?" tanya Nathan pada dirinya sendiri.
Namun entah kenapa Nathan seperti enggan untuk melepaskan Aleea dari kedua matanya.
Aleea yang terpejam dan masih tampak nyenyak membuat Nathan leluasa untuk bisa memperhatikan Aleea.
Tanpa sadar Nathan tersenyum, menyadari betapa cantiknya perempuan di hadapannya.
"Mungkin seharusnya kita memang tidak bertemu Aleea, dengan begitu kau tidak akan terlibat dengan semua rencana ini," ucap Nathan dalam hati.
Nathan menghela napasnya panjang lalu beranjak dari ranjangnya. Nathan membawa langkahnya keluar dari kamar untuk mengambil minuman di dapur.
Saat baru saja menuruni tangga, Nathan begitu terkejut melihat Evan yang sedang tidur di sofa ruang tengahnya.
Nathanpun segera berjalan menghampiri Evan dan membangunkan Evan.
"Evan, bangunlah, apa yang kau lakukan disini?"
Evan yang terbangun mengerjapkan matanya lalu meregangkan badannya sebelum ia beranjak dari tidurnya.
"Apa yang kau lakukan disini, Evan? sejak kapan kau ada disini?" tanya Nathan pada Evan yang kedua matanya masih tampak sayu karena mengantuk.
"Aku disini sejak semalam," jawab Evan.
"Semalam? kenapa aku tidak mengetahuinya?"
"Karena kau sudah tidur, bersama Aleea," jawab Evan dengan suaranya yang pelan di akhir kalimatnya.
"Kau melihatnya?" tanya Nathan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Evan.
Nathan kemudian menjelaskan tentang apa yang terjadi semalam, tentang kecoa yang membuat Aleea sangat ketakutan.
"Mungkin karena aku juga sangat lelah jadi aku tidak sengaja tertidur saat itu," ucap Nathan di akhir penjelasannya.
"Tapi..... kau tidak melakukan apapun padanya bukan?" tanya Evan memastikan.
"Memangnya apa yang kau pikirkan tentangku? apa kau pikir aku akan melakukan hal gila padanya?" balas Nathan bertanya.
__ADS_1
"Sudah cukup satu kesalahan yang membuatku menyesal Evan, aku tidak akan melakukan kesalahan lain yang membuatku jauh dari tujuanku sendiri," lanjut Nathan.
"Baguslah kalau kau sadar," balas Evan.
"Sekarang jelaskan padaku, apa yang sebenarnya terjadi!" lanjut Evan.
"Aku tidak bisa menjelaskannya disini," balas Nathan sambil membawa pandangannya ke arah tangga, khawatir jika tiba-tiba Aleea datang.
"Kenapa? apa karena Aleea....."
Evan menghentikan ucapannya saat tiba-tiba Nathan membungkam mulut Evan.
"Jangan mengatakan apapun, aku pasti akan menjelaskan semuanya padamu, tapi tidak sekarang dan tidak disini," ucap Nathan berbisik.
"Baiklah, tapi apa yang kau katakan padanya saat kau mengajaknya pulang?" tanya Evan.
"Seperti biasa, urusan pekerjaan," jawab Nathan.
"Bagaimana dengan Tante Hanna?" tanya Evan.
"Untuk itu..... kau harus membantuku," jawab Nathan dengan tersenyum pada Evan.
"Kau selalu saja membuat Tante Hanna salah paham padaku," ucap Evan dengan menghela napasnya.
"Tenang saja, aku akan selalu membelamu!" ucap Nathan sambil menepuk pelan bahu Evan.
"Terserah kau saja, dimana Aleea sekarang? apa dia masih tidur?" tanya Evan.
"Dia masih tidur di kamarku," jawab Nathan.
"Kau mau kemana?" lanjut Nathan bertanya saat Evan beranjak dari duduknya.
"Aku baru bangun dan belum membasuh wajahku Nathan, aku tidak ingin Aleea melihat muka bantalku!" jawab Evan lalu masuk ke kamar mandi yang ada di dekat dapur.
"Sejak kapan itu menjadi hal yang penting!" balas Nathan dengan suaranya yang sangat pelan.
Setelah Evan membasuh wajahnya, ia tidak segera kembali menghampiri Nathan, ia justru membawa langkahnya ke dapur untuk melihat bahan masakan yang ada disana.
"Waaahhh, semuanya sangat lengkap!" ucap Evan yang melihat banyak bahan masakan di kulkas dapur.
"Apa yang kau lakukan Evan?" tanya Nathan yang melihat Evan tampak mengeluarkan beberapa bahan masakan dari dalam kulkas.
"Memasak," jawab Evan singkat.
"Untuk apa?" tanya Nathan dengan mengernyitkan keningnya.
"Tentu saja untuk kita sarapan," jawab Evan.
"Kita bisa membicarakannya nanti, aku akan memasak sebelum Aleea bangun," balas Evan.
"Aaahh kau memasak untuk Aleea rupanya, baiklah, terserah kau saja!" ucap Nathan lalu berjalan menaiki tangga, meninggalkan Evan yang fokus dengan bahan masakan dan alat-alat memasak yang sudah ada di hadapannya.
Untuk beberapa lama Evan berkutat dengan kesibukannya di dapur. Beberapa kali bibi datang, berniat untuk membantu Evan, namun Evan menolak karena ia ingin memberikan hasil masakannya sendiri untuk Aleea.
Di sisi lain, Aleea baru saja mengerjapkan matanya di atas ranjang Nathan.
Untuk beberapa saat Aleea hanya diam di atas ranjang dengan kedua matanya yang masih terasa malas untuk terbuka.
"Sudah bangun?" tanya Nathan yang sejak beberapa saat yang lalu berdiri di dekat meja kamarnya dengan memperhatikan Aleea.
Mendengar suara Nathan, Aleea seketika menarik selimut untuk menutup seluruh tubuh sampai kepalanya.
"Kenapa kau ada disini? sejak kapan kau ada disini?" tanya Aleea dari dalam selimut.
"Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu?" balas Nathan bertanya.
Aleea kemudian membuka sedikit bagian atas selimutnya, memperlihatkan bagian matanya yang mulai menyapu setiap sudut kamar yang ia tempati.
Saat itulah Aleea baru sadar jika ia tidak sedang berada di kamarnya. Aleea baru mengingat kejadian semalam, saat ia ketakutan karena kecoa yang ada di dalam kamar mandi kamarnya.
Tetapi Aleea tidak sadar jika pada akhirnya ia tertidur di kamar Nathan saat Nathan memintanya untuk menunggu di dalam kamar.
"Sudah mengingatnya?" tanya Nathan.
Aleea hanya tersenyum sambil beranjak dari posisinya tidur lalu duduk di atas ranjang Nathan.
"Sepertinya aku sangat mengantuk semalam, jadi tidak sadar jika aku tertidur disini," ucap Aleea.
"Jadi.... kapan kau akan kembali ke kamarmu?" tanya Nathan.
"Apa kau sudah membuang kecoa di kamar mandiku?" balas Aleea bertanya.
"Sudah, sejak semalam," jawab Nathan.
"Apa kau sudah memeriksanya lagi? mungkin dia kembali lagi!" tanya Aleea khawatir.
"Dia tidak akan kembali Aleea, cepat turun dari ranjangku!" ucap Nathan sambil menarik selimutnya yang masih Aleea pakai.
"Tidak bisakah kau memeriksanya lagi Nathan? aku mohon!"
__ADS_1
Aleea memohon dengan menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Aku sudah membuangnya kemarin, Aleea!" ucap Nathan kesal.
"Oke oke baiklah, aku akan pergi dari sini!" ucap Aleea yang juga kesal lalu segera keluar dari kamar Nathan.
Aleea kemudian membawa langkahnya ke kamarnya, namun ia ragu untuk masuk ke dalam kamar.
"Nathan tidak mungkin berbohong bukan?" tanya Aleea pada dirinya sendiri lalu masuk ke dalam kamar dengan langkah yang sangat pelan dan kedua mata yang fokus mengawasi setiap sudut kamarnya.
Saat Aleea membuka pintu kamar mandinya, tiba-tiba seekor kecoa terbang ke arahnya dengan sangat cepat.
Alhasil, Aleeapun berteriak kencang dan segera naik ke atas ranjangnya.
Nathan yang mendengar hal itu hanya diam, karena ia tau jika Aleea berteriak hanya karena ada kecoa yang mungkin kembali lagi ke kamar mandi Aleea.
Sedangkan di sisi lain, Evan yang mendengar suara teriakan Aleea segera berlari menaiki tangga dan melihat Aleea yang keluar kamar dengan raut wajah yang ketakutan.
"Ada apa Aleea? apa yang terjadi?" tanya Evan pada Aleea yang tiba-tiba menghambur dalam pelukannya.
"Ada.... ada kecoa di dalam kamar mandi," jawab Aleea yang reflek memeluk Evan karena ketakutan.
Nathan yang saat itu keluar dari kamarnya segera mendekat pada Aleea saat melihat Aleea memeluk Evan.
"Kau sangat berlebihan, masuklah ke kamarku!" ucap Nathan sambil menarik paksa tangan Aleea agar melepaskan pelukan Evan.
"Kau berbohong padaku!" ucap Aleea pada Nathan dengan kesal.
Nathan hanya diam dan mendorong Aleea masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu kamarnya.
"Kau lihat bukan? dia sangat berlebihan hanya karena seekor kecoa kecil!" ucap Nathan pada Evan lalu masuk ke kamar Aleea untuk mencari kecoa.
Sedangkan Evan hanya diam di tempatnya, memikirkan apa yang baru saja terjadi.
Aleea yang berlari ke arahnya dengan ketakutan dan tiba-tiba memeluknya, Nathan yang baru keluar dari kamar dan segera menarik tangan Aleea lalu memaksa Aleea untuk masuk ke kamarnya.
"Dia pasti cemburu," ucap Evan dengan tersenyum tipis.
Evan kemudian membuka pintu kamar Nathan dan mendapati Aleea yang duduk di tepi ranjang Nathan dengan raut wajah yang panik
"Apa kau sangat ketakutan?" tanya Evan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Aleea.
"Tidak perlu takut, dia hanya hewan kecil yang tidak akan menang melawan manusia sekuat dirimu!" ucap Evan.
"Tapi dia bisa terbang dan menghinggapiku Evan, sangat menjijikkan!" balas Aleea.
"Kau benar, tapi lupakan saja, Nathan akan mengurusnya, sekarang ikutlah denganku!" ucap Evan sambil mengulurkan tangannya pada Aleea.
"Kemana?" tanya Aleea.
"Melakukan sesuatu yang kau suka pastinya," jawab Evan dengan tersenyum.
Aleeapun ikut tersenyum lalu meraih tangan Evan dan keluar dari kamar Nathan.
Mereka berjalan menuruni tangga, namun Aleea melepaskan tangan Evan yang sebelumnya menggenggamnya.
"Hmmm.... baunya enak sekali, sepertinya bibi memasak resep baru," ucap Aleea yang mencium bau masakan dari dapur.
"Bukan bibi yang memasaknya," ucap Evan yang membuat Aleea segera membawa pandangannya pada Evan.
"Apa kau yang memasaknya?" tanya Aleea menerka yang hanya dibalas dengan senyuman oleh Evan.
"Pantas saja," ucap Aleea dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Apa kau bisa membantuku?" tanya Evan saat mereka berdua sudah berada di dapur.
"Tentu saja, apa yang bisa aku lakukan?" balas Aleea.
"Tolong bersihkan bersihkan cumi-cumi ini lalu potong-potong, aku ingin membuat cumi goreng tepung untuk pendamping gulai ayam yang aku buat," jelas Evan.
"Oke baiklah," balas Aleea.
Aleea dan Evanpun sibuk di dapur sambil mengobrol dengan diiringi candaan Evan yang membuat Aleea tertawa.
"Kenapa kau ada disini pagi-pagi sekali, Evan?" tanya Aleea.
"Aku kesini sejak semalam dan tidur disini," jawab Evan.
"Benarkah? tapi aku tidak tahu kapan kau datang!"
"Itu karena kau sudah tidur dengan....."
Evan mengentikan ucapannya, ia tidak ingin mengatakan pada Aleea jika semalam Aleea tidur di satu ranjang yang sama dengan Nathan.
"Dengan nyenyak, aku melihatmu sangat nyenyak semalam, sepertinya kau kelelahan," lanjut Evan.
"Sebenarnya tidak hanya kelelahan, tapi juga kekenyangan, karena Nathan membawaku ke restoran dan membiarkan aku memesan apapun yang aku inginkan," ucap Aleea.
Evan hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Aleea.
__ADS_1
Meksipun ia tidak mengetahui apa saja yang sudah terjadi di Paris, tapi ia yakin ada sesuatu yang terjadi diantara Aleea dan Nathan yang membuat mereka berdua lebih dekat.