
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam saat Aleea sedang berada di kamarnya.
Di sisi lain, Rania baru saja sampai di rumah Nathan dan saat itu juga mobil Nathan baru saja memasuki rumah.
"Rania, apa yang kau lakukan disini? apa kau mencari Aleea?" tanya Nathan pada Rania yang berdiri menunggunya.
"Tidak, Rania memang ingin bertemu kakak," jawab Rania.
"Masuklah!" ucap Nathan sambil membawa langkahnya masuk diikuti oleh Rania.
"Apa kakak baru pulang sejak tadi siang?" tanya Rania.
"Iya, ada beberapa hal yang harus kakak lakukan," jawab Nathan.
"Bagaimana dengan kak Aleea? sepertinya kakak tidak bersama kak Aleea?" tanya Rania.
Nathan terdiam untuk beberapa saat, tidak mungkin ia mengatakan pada Rania jika ia sengaja meminta Aleea turun dari mobilnya sebelum ia pergi.
"Sebenarnya Rania kesini untuk memastikan sesuatu," ucap Rania.
"Memastikan apa maksudmu?" tanya Nathan tak mengerti.
"Memastikan jika hubungan kakak dan kak Aleea baik-baik saja," jawab Rania.
"Kenapa kau tiba-tiba memikirkan hal itu, semuanya baik-baik saja Rania, kau tidak perlu memikirkan hubungan kakak dan Aleea," ucap Nathan.
"Sebenarnya Rania pernah melihat kakak bersama seorang perempuan di depan kafe dan tadi siang Rania melihat kak Aleea bersama kak Evan," ucap Rania yang membuat Nathan segera membawa pandangannya pada Rania.
"Sepertinya kau salah paham Rania," ucap Nathan.
"Itu kenapa Rania mencari kakak karena Rania ingin meminta kejelasan, Rania tidak ingin berburuk sangka kak!" balas Rania.
"Perempuan yang kau lihat bersama kakak itu pasti asisten pribadi kakak, dia memang sering pergi bersama kakak dan tentang Aleea...."
"Tapi Rania melihatnya di kafe saat pagi-pagi sekali kak, tidak mungkin kalian berdua pergi ke kafe sepagi itu untuk urusan pekerjaan bukan?" tanya Rania memotong ucapan Nathan.
Nathan terdiam untuk beberapa saat, berusaha mengingat tentang apa yang Rania katakan padanya, hingga akhirnya memorinya menangkap kebersamaannya bersama Vina di pagi hari saat Vina meminta untuk menjemputnya.
"Aaaahhh itu.... kakak baru ingat, kakak tidak sengaja bertemu dengannya di jalan jadi kakak menawarkan diri untuk berangkat bersama, kakak juga tidak bermaksud mengajaknya ke kafe, kakak pergi ke kafe hanya untuk membeli kopi dan roti setelah itu kakak segera berangkat ke kantor," jelas Nathan dengan sedikit kebohongannya.
"Apa kak Aleea mengetahuinya?" tanya Rania.
"Aleea juga mengenalnya, karena dia datang saat acara pernikahan kita dan tentang Aleea yang bersama Evan, kakak memang meminta Evan untuk menjemput Aleea karena kakak harus pergi ke arah yang berbeda dengan arah pulang," jelas Nathan.
"Tapi kak....."
"Rania, sebaiknya kau tidak perlu terlalu memikirkan rumah tangga kakak, kau tau bagaimana kakak bukan? kakak selalu memikirkan semua hal dengan detail dan membuat semuanya berjalan dengan sempurna, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkannya, kakak pastikan semuanya akan baik-baik saja," ucap Nathan.
Nathan sengaja memotong ucapan Rania karena ia sedang lelah dan tidak ingin mencari-cari alasan untuk menjawab semua pertanyaan Rania.
"Kau tidak mengatakan hal ini pada mama dan papa bukan?" tanya Nathan memastikan.
"Tidak," jawab Rania dengan menggelengkan kepalanya.
"Jangan pernah mengatakan apapun pada mama dan papa tentang rumah tangga kakak Rania, kakak tidak ingin hal kecil yang terjadi bisa menimbulkan salah paham dan menjadi masalah besar nantinya," ucap Nathan.
"Rania mengerti kak," balas Rania dengan menganggukkan kepalanya.
"Adik yang baik," ucap Nathan sambil menepuk pelan kepala Rania, membuat Rania segera menggeser posisinya menjauh.
"Berhenti melakukan hal itu kak dan jangan menganggap Rania anak kecil lagi, kak Evan pasti menganggap Rania anak kecil karena sikap kakak yang seperti ini!" gerutu Rania dengan memanyunkan bibirnya.
"Hahaha.... memangnya apa masalahnya? kau memang adik kecil kakak!"
"Rania sudah dewasa kak!" balas Rania kesal yang membuat Nathan semakin tertawa.
"Aaahhh iya, sepertinya kak Aleea sangat dekat dengan kak Evan, menurut kakak bagaimana?" lanjut Rania bertanya.
"Itu tidak masalah, Evan adalah sahabat kakak dan Aleea adalah istri kakak, jadi kakak akan lebih senang jika mereka juga bersahabat!" balas Nathan.
"Apa kakak tidak cemburu?" tanya Rania.
"Hahaha.... cemburu? untuk apa kakak cemburu Rania? kakak....."
Nathan menghentikan ucapannya, hampir saja ia mengatakan hal yang tidak boleh ia katakan pada orang lain.
"Kak Aleea adalah istri kakak dan dia sangat dekat dengan sahabat kakak, rasanya aneh saja jika kakak tidak merasa cemburu!" ucap Rania.
__ADS_1
"Pemikiranmu itu adalah salah satu bukti jika kau masih anak-anak Rania, orang dewasa seperti kakak, Aleea dan Evan tidak akan mungkin berpikir seperti itu," ucap Nathan.
"Kenapa?" tanya Rania.
"Aleea dan Evan adalah dua orang yang sangat kakak percaya, kakak yakin mereka tidak akan melakukan hal yang salah di belakang kakak, sedekat apapun mereka itu hanya sebatas persahabatan, tidak akan lebih dari itu," jelas Nathan.
"Kenapa kakak begitu yakin?" tanya Rania.
"Karena Evan adalah sahabat kakak sejak lama dan Aleea adalah perempuan yang sangat kakak cintai," jawab Nathan.
"Bukankah seharusnya ada rasa cemburu jika kakak memang sangat mencintai kak Aleea?" tanya Rania tak mengerti dengan pola pikir sang kakak.
"Justru karena kakak sangat mencintainya jadi kakak sangat mempercayainya, dia tidak mungkin melakukan sesuatu yang akan mengecewakan kakak karena kakak percaya jika kita saling mencintai," jelas Nathan.
Rania hanya menghela napasnya panjang lalu menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa.
"Pulanglah, ini sudah malam!" ucap Nathan.
"Sebenarnya Rania ingin bertemu kak Evan, tetapi kak Evan menolak karena beralasan jika sekarang sudah malam dan sekarang kakak juga mengusir Rania," ucap Rania dengan kembali menghela napasnya.
"Untuk apa kau menemui Evan malam-malam seperti ini?" tanya Nathan.
"Hanya ingin bertemu, ternyata setelah Rania lama di luar negeri, kak Evan tetap tampan dan malah bertambah tampan," jawab Rania dengan penuh senyum.
"Dari dulu kau selalu mengatakan hal itu, padahal semua orang mengatakan jika kakak lebih tampan darinya," ucap Nathan.
"Mereka bohong, sejak dulu kak Evan yang lebih tampan daripada kakak," balas Rania.
"Baiklah, karena kau menganggap kakak tidak lebih tampan daripada Evan, sekarang kau harus pergi dari sini!" ucap Nathan sambil menarik tangan Rania.
"Oke oke.... Rania akan pergi dari sini," ucap Rania sambil menarik tangannya dari Nathan.
"Cepat pulang atau kakak akan meminta mama memaksamu pulang!" ucap Nathan mengancam.
"Sikap kakak ini yang membuat kakak kalah dibanding kak Evan!" ucap Rania dengan tersenyum tipis.
"Kau......."
"Hahaha......."
Sedangkan Nathan segera membawa langkahnya masuk ke dalam kamar setelah memastikan Rania meninggalkan rumahnya.
Entah kenapa, Nathan menghentikan langkahnya saat ia melewati kamar Aleea yang tertutup tanpa terdengar sedikitpun suara di dalamnya.
"Apa dia masih bersama Evan?" batin Nathan bertanya dalam hati.
Namun tiba-tiba pintu kamar Aleea terbuka, membuat Nathan begitu terkejut dan segera membawa langkahnya pergi untuk masuk ke kamarnya.
Sedangkan Aleea, melanjutkan langkahnya ke arah dapur tanpa menghiraukan Nathan yang sempat berdiri di depan kamarnya.
Aleea ke dapur untuk mengambil buah-buahan dan pisau lalu kembali masuk ke kamarnya tanpa sedikitpun memikirkan apa yang baru saja Nathan lakukan di depan kamarnya.
**
Hari-hari telah berlalu dan bulanpun berganti. Malam itu Aleea dan Tika bertemu dengan Evan di sebuah kafe. Mereka menandatangani kontrak yang sudah Evan siapkan setelah Aleea dan Tika bersepakat untuk menerima bantuan Evan.
"Apa kalian sudah menemukan tempat yang sesuai?" tanya Evan dengan membawa pandangannya pada Aleea dan Tika.
"Sudah ada beberapa tempat yang kita survei dan hasilnya ada dua tempat yang membuat kita bimbang karena dua-duanya sesuai dengan apa yang kita inginkan," jawab Aleea.
"Kalian harus mempertimbangkan semuanya dengan tepat sebelum kalian memutuskan, tidak hanya dari segi letak tapi juga jarak pesaing kalian," ucap Evan memberi saran.
"Kau benar, aku dan Aleea akan benar-benar mencari yang terbaik untuk usaha kita ini," balas Tika.
"Tapi..... berdasarkan kontrak ini bukankah keuntungan yang kau dapatkan sangat sedikit, Evan?" lanjut Tika bertanya.
"Aku rasa tidak, kalian baru memulai bisnis ini dan kita belum tau bagaimana perkembangannya nanti, jadi aku rasa ini angka yang tepat," balas Evan.
"Terima kasih banyak atas bantuanmu Evan, aku dan Aleea benar-benar berhutang banyak padamu," ucap Tika.
"Tidak Tika, hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membantu kalian," balas Evan.
"Aku permisi ke toilet sebentar," ucap Aleea sambil beranjak dari duduknya lalu pergi ke toilet.
Tika membawa pandangannya mengikuti Aleea sampai Aleea sudah tidak terlihat dari pandangannya.
"Ada yang ingin aku tanyakan padamu Evan," ucap Tika berbisik pada Evan.
__ADS_1
"Ada apa?"
"Apa kau sudah lama mengenal Aleea?" tanya Tika.
"Mmmm.....cukup lama, kenapa?" balas Evan.
"Aku tau kau laki-laki yang baik Evan, aku tidak tau bagaimana hubungan Aleea dan suaminya, tapi sepertinya hubungan mereka tidak berjalan dengan baik, sebagai temannya, tidak banyak yang bisa aku lakukan Evan, tapi aku berharap banyak padamu," ucap Tika.
"Apa maksudmu Tika? hubungannya dengan Nathan baik-baik saja, mereka....."
"Mungkin memang terlihat baik-baik saja, tapi aku yakin tidak begitu, aku hanya bisa menjalani bisnis ini untuk sementara bersama Aleea, karena tahun depan aku harus kembali ke rumah orang tuaku di luar pulau untuk melanjutkan bisnis mereka disana," ucap Tika memotong ucapan Evan.
"Jika bisnis ini berjalan lancar, aku akan mengambil kembali modal yang sudah aku keluarkan untuk bisnis ini sebelum aku pergi, ini sudah menjadi kesepakatanku bersama Aleea jika salah satu dari kita ada yang meninggalkan bisnis ini dan membiarkan yang lain mengelolanya sendiri seratus persen," lanjut Tika.
"Bagaimana dengan surat-surat yang terkait dengan bisnis kalian? bukankah semua itu atas namamu? apa kau mau mengkhianati Aleea? atau menipunya?" tanya Evan terkejut dengan semua ucapan Tika.
"Tidak Evan, tolong jangan salah paham, aku sudah membahas hal itu bersama Aleea, dia akan tetap memakai namaku meskipun dia sendiri yang mengelola keseluruhannya, tapi aku sama sekali tidak terlibat dan tidak mendapat keuntungan apapun jika aku sudah meninggalkan bisnis itu," jawab Tika.
"Aku memberi tahumu hal ini agar kau bisa lebih memperhatikan Aleea nantinya, dia memang pintar dan bisa belajar dengan cepat, tetapi dia membutuhkan teman Evan dan kau adalah teman terbaik untuknya," lanjut Tika menjelaskan.
Evan hanya terdiam, berusaha menyimak dengan baik semua yang Tika katakan padanya.
"Aku tidak tau bagaimana hubungan kalian berdua, tapi yang aku tau kau sangat baik padanya Evan, aku yakin kau pasti bisa menjaganya dengan lebih baik dibanding suaminya sendiri, itu kenapa aku memberi tahumu hal ini," ucap Tika.
"Apa Aleea mengetahui rencana kepergianmu?" tanya Evan.
"Tidak, dia belum mengetahuinya, kita memang sudah membahasnya pada kontrak kita, tapi aku belum memberi tahunya jika aku memang akan pergi, aku harap kau juga tidak memberi tahunya," jawab Tika.
"Kenapa?" tanya Evan.
"Aleea butuh teman Evan, teman yang benar-benar mengerti dirinya tanpa harus bertanya banyak hal padanya, jadi untuk sementara waktu aku akan menjadi teman yang selalu ada di dekatnya, jika dia sudah benar-benar bisa berdiri sendiri, aku akan memberi tahunya tentang rencanaku," jelas Tika.
Evan kembali terdiam sampai akhirnya Aleea kembali dari toilet.
"Apa kalian berdua hanya diam sejak aku pergi ke toilet?" tanya Aleea dengan tersenyum.
"Tentu saja tidak," balas Tika.
Mereka kemudian membicarakan beberapa hal lainnya lalu meninggalkan kafe setelah banyak hal yang sudah mereka bicarakan.
"Aku akan mengantarmu Aleea," ucap Evan pada Aleea.
"Terima kasih Evan, tapi aku akan pulang dengan Tika," balas Aleea.
"Baiklah, jaga Aleea baik-baik Tika," ucap Evan pada Tika.
"Tentu," balas Tika dengan menunjukkan ibu jarinya.
Aleea dan Tika kemudian memasuki mobil yang sama yang segera pergi meninggalkan kafe. Sedangkan Evan, masih berada di tempatnya berdiri sampai mobil Tika tidak terlihat dari matanya.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Aleeapun sampai di rumahnya. Tika menghentikan mobilnya di halaman rumah Aleea karena ada beberapa berkas yang harus Aleea berikan pada Tika.
Aleea kemudian masuk ke dalam rumah dan memberikan berkasnya pada Tika. Bersamaan dengan itu, terlihat mobil Nathan yang baru saja memasuki rumah.
Nathan yang melihat seseorang sedang bersama Aleea, segera berjalan menghampiri Aleea dan merangkul bahu Aleea.
"Apa kita kedatangan tamu sayang?" tanya Nathan pada Aleea dengan tersenyum.
"Dia temanku, Tika," jawab Aleea sambil sedikit meronta, namun Nathan semakin kuat mencengkram bahu Aleea.
"Hai Tika, Nathan," ucap Nathan memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya.
"Tika," balas Tika dengan menerima uluran tangan Nathan.
"Aku pergi dulu Aleea, sampai jumpa di kelas memasak besok!" ucap Tika sambil melambaikan tangannya pada Aleea lalu masuk ke dalam mobilnya.
Aleea hanya tersenyum sambil membalas lambaian tangan Tika, sedangkan Nathan masih merangkul bahu Aleea sampai Tika mengendarai mobilnya keluar dari gerbang rumah Nathan.
Aleea seketika meronta dan segera berjalan pergi setelah memastikan Tika sudah pergi. Nathanpun segera berlari kecil mengikuti Aleea.
"Siapa dia?" tanya Nathan pada Aleea.
"Temanku," jawab Aleea singkat.
"Aku tidak suka kau membawa temanmu kesini, karena aku harus melakukan hal memuakkan seperti tadi jika ada temanmu disini!" ucap Nathan.
"Tidak ada yang memintamu untuk melakukan hal itu Nathan!" balas Aleea dengan terus melanjutkan langkahnya, tidak peduli Nathan yang berjalan di belakangnya.
__ADS_1