Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Membantu di Bazar


__ADS_3

Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Dering ponsel Aleea membuat Aleea dan Nathan tersadar dari apa yang mereka rasakan saat itu.


Nathan segera beranjak dan berdiri di samping ranjangnya, begitupun Aleea yang juga segera beranjak dari ranjang Nathan.


"Aku.... menunggumu di bawah!" ucap Aleea yang terdengar gugup lalu segera membawa langkahnya keluar dari kamar Nathan.


Nathanpun terdiam untuk beberapa saat kemudian kembali menjatuhkan dirinya di atas ranjang.


"Apa yang baru saja terjadi?" tanya Nathan pada dirinya sendiri dengan memegang dadanya yang masih berdebar.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Nathan berdering, Nathanpun segera mengambil ponselnya dan mendapati pesan masuk dari Aleea.


"Kau tidak lupa jika harus pergi ke bazar bukan?"


Nathan seketika menepuk keningnya, ia benar-benar lupa jika hari itu ia sudah berjanji untuk membantu Aleea di bazar.


"Jadi dia membangunkanku karena ini!" ucap Nathan yang segera beranjak dan masuk ke kamar mandi.


Di sisi lain, Aleea duduk di ruang tamu untuk menunggu Nathan. Ia mengirim pesan pada Nathan untuk memastikan jika Nathan tidak melupakan janjinya.


Sama seperti Nathan, Aleeapun masih merasa jika dadanya terus berdebar bahkan setelah ia meninggalkan kamar Nathan.


"Apa dulu aku juga berdebar seperti ini?" batin Aleea bertanya dalam hati.


Aleea menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya pelan, berusaha menenangkan debaran dadanya yang menyisakan perasaan aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


"Aku bahkan belum pernah merasakan hal ini sejak aku kehilangan ingatanku, tetapi kenapa tiba-tiba aku merasa seperti ini? tidak mungkin aku jatuh cinta lagi padanya setelah dia mencampakkanku bukan?" batin Aleea dalam hati.


Aleea menggelengkan kepalanya pelan, berusaha menyadarkan dirinya sendiri jika hubungannya dan Nathan sudah berakhir.


"Hanya tinggal menunggu waktu saja sampai dia benar-benar melepaskanku" ucap Aleea dalam hati dengan menghela napasnya panjang.


Setelah beberapa lama menunggu, terlihat Nathan yang berjalan menuruni tangga.


Aleeapun beranjak dari duduknya lalu berjalan keluar tanpa menunggu Nathan, Sedangkan Nathan segera membawa langkahnya ke garasi lalu mengeluarkan mobilnya dari garasi.


Setelah Aleea masuk ke dalam mobil, Nathan segera mengendarai mobilnya meninggalkan rumah.


Tidak ada satu katapun yang Aleea dan Nathan katakan, mereka cukup canggung setelah apa yang terjadi di kamar Nathan beberapa saat yang lalu.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Nathan mengendarai mobilnya ke sebuah kafe.

__ADS_1


"Kenapa kita kesini?" tanya Aleea.


"Tunggu saja disini," jawab Nathan lalu segera keluar dari mobilnya.


Nathan berlari kecil untuk masuk ke kafe dan tak lama kemudian keluar dengan membawa dua cup kopi dan beberapa jenis roti.


Nathan kemudian masuk ke mobilnya dan memberikan salah satu kopinya untuk Aleea.


"Aku belum sempat makan apapun sebelum berangkat!" ucap Nathan lalu menyeruput kopinya dan memakan roti yang baru dibelinya.


"Astaga, kenapa harus membelinya disini? di bazar nanti kau bisa minum kopi dan makan roti sepuasnya!" balas Aleea yang hanya memegang kopi pemberian Nathan.


"Aaahhh iya, aku lupa jika temanmu menjual roti," ucap Nathan lalu mengendarai mobilnya meninggalkan kafe menuju ke tempat bazar akan dilakukan.


Beberapa lama dalam perjalanan, Aleea tidak meminum kopi pemberian Nathan sedikitpun dan Nathan menyadari hal itu.


"Apa kau tidak suka kopi?" tanya Nathan.


"Aku merasa mual jika minum kopi pagi hari, apa kau tidak mengetahuinya?" balas Aleea.


"Sepertinya aku lupa," ucap Nathan beralasan.


Aleea hanya tersenyum tipis, jawaban Nathan seperti menegaskan jika dirinya memang benar-benar sudah dibuang oleh Nathan.


"Dia bahkan melupakan hal-hal kecil tentangku, bisa-bisanya aku berpikir jika aku jatuh cinta pada laki-laki sepertinya," ucap Aleea dalam hati.


Area lapangan luas itu sudah dipenuhi dengan stand yang menjual berbagai macam makanan, minuman ataupun pernak pernik dan yang lainnya.


Aleea dan Nathan kemudian membawa langkahnya mencari stand yang akan menjadi tempat mereka menjual aneka kue dan pastry serta beberapa jenis minuman.


"Aleea!" panggil Tika sambil melambaikan tangannya.


Aleea membalas lambaian tangan Tika lalu segera membawa langkahnya ke arah Tika bersama Nathan.


"Maaf aku terlambat, ada sedikit masalah di rumah tadi," ucap Aleea pada Tika.


"Tidak masalah, masih banyak stand yang belum buka juga," balas Tika.


"Aaahh ya Tika, ini Nathan, dia yang akan membantu kita hari ini," ucap Aleea memperkenalkan Nathan pada Tika.


"Nathan, suami Aleea," ucap Nathan sambil mengulurkan tangannya pada Tika.


"Tika, aku sangat berterima kasih karena kau bisa menyempatkan waktu untuk terlibat di acara ini," ucap Tika sambil menerima uluran tangan Nathan.


"Semoga keberadaanku bisa banyak membantu," ucap Nathan yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Tika.

__ADS_1


Aleea hanya tersenyum tipis lalu memberikan kopi miliknya pada Tika


"Untukmu!" ucap Aleea pada Tika.


"Waaahhh terima kasih Aleea," balas Tika senang.


Nathan yang melihat hal itu hanya diam tidak mengatakan apapun meskipun ia sedikit kesal saat itu.


Mereka bertiga kemudian menyiapkan stand yang akan mereka tempati untuk berjualan. Tidak hanya menata barang-barang, mereka juga memasang sebuah papan yang cukup menarik yang bisa digunakan sebagai background untuk mengambil foto.


Aleea dan Tika kemudian menata kue dan pastry mereka ke dalam etalase, sedangkan Nathan mengangkat beberapa barang-barang berat yang Aleea dan Tika butuhkan.


Setelah beberapa lama berkutat dengan kesibukan mereka masing-masing akhirnya semua persiapan selesai.


Dengan peluh yang menetes di keningnya, Nathan akhirnya bisa duduk dengan tenang.


"Lihatlah suamimu Aleea, dia sangat bersemangat membantu kita," ucap Tika berbisik pada Aleea.


"Dia tidak akan seperti ini jika bukan karena alasan yang menguntungkan untuknya," balas Aleea lalu mengambil satu kotak tissue dan memberikannya pada Nathan.


"Kau sangat berlebihan jika hanya untuk meyakinkan mama," ucap Aleea.


"Aku selalu melakukan apapun dengan sepenuh hati Aleea, meskipun semua ini sangat melelahkan bagiku," balas Nathan sambil menyeka keringatnya dengan tissue yang Aleea berikan padanya.


"Seperti ini saja sudah lelah? lemah sekali!" ucap Aleea mencibir.


"Aku tidak lemah Aleea, aku hanya tidak terbiasa melakukan pekerjaan berat seperti ini!" balas Nathan membela diri.


"Yaaa..... aku mengerti, kau memang terbiasa duduk di atas singgasanamu dan memerintah orang sesukamu!" ucap Aleea.


Nathan hanya tersenyum tipis lalu bernajak dari duduknya dan memeluk Aleea dengan tiba-tiba.


"Nathan, kau....."


"Aku hanya memeluk istriku, tidak ada yang salah bukan?"


"Tapi kau berkeringat Nathan!" balas Aleea sambil mendorong Nathan dengan sekuat tenaga.


"Bukankah kita sudah sering bertukar keringat?" tanya Nathan dengan tersenyum yang membuat Aleea membulatkan matanya.


Sedangkan Tika, ia hanya bisa menyembunyikan senyumnya saat melihat dan mendengar apa yang pasangan suami istri itu katakan.


"Kau benar-benar gila!" ucap Aleea sambil menginjak kaki Nathan dengan kuat, membuat Nathan mengaduh kesakitan dan melepaskan Aleea dari pelukannya.


Aleea kemudian berjalan mendekati Tika dan duduk di samping Tika dengan raut wajahnya yang kesal.

__ADS_1


"Kalian berdua romantis sekali, membuatku iri saja!" ucap Tika dengan penuh senyum.


"Romantis? bagian mana yang terlihat romantis Tika? dia sangat menyebalkan!" balas Aleea yang membuat Tika terkekeh.


__ADS_2