Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Memohon pada Aleea


__ADS_3

Di perjalanan pulang, Rania memikirkan sesuatu yang membuatnya ingin segera menanyakannya pada Evan.


Tanpa Evan tahu, Rania sengaja menahan tangan Evan saat di rumah Nathan sebenarnya bukan karena ingin pulang bersama Evan, tetapi ada sesuatu yang ingin ia tanyakan pada Evan, namun ia ragu untuk menanyakannya.


"Bagaimana dengan kuliahmu Rania? bukankah seharusnya kau sudah kembali ke Paris?" tanya Evan membuka obrolan.


"Rania menundanya kak," jawab Rania.


"Kenapa?" tanya Evan.


"Rania hanya ingin beristirahat dari rutinitas yang membosankan," jawab Rania sekenanya.


"Berapa lama kau disini Rania? kau tau bukan jika kau tidak bisa berlama-lama meninggalkan kampus?"


"Iya, Rania mengerti," balas Rania.


Tanpa sadar Rania menggigit bibir bawahnya, tangannya memainkan jari-jarinya sembari memikirkan apa yang ada dalam kepalanya.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Evan yang memperhatikan gerak gerik Rania.


Evan tahu betul bagaimana gerak gerik Rania saat Rania tengah memikirkan sesuatu yang mengganggunya.


"Tidak ada," jawab Rania dengan menggelengkan kepalanya.


"Jangan berbohong padaku Rania," ucap Evan sambil memegang tangan Rania yang sedang memainkan jari-jarinya.


Seketika Rania membawa pandangannya pada Evan yang fokus mengemudi saat itu. Meksipun tangannya memegang tangan Rania, tetapi pandangan Evan tetap fokus dengan jalanan di hadapannya.


"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin Rania tanyakan, tapi Rania ragu apakah Rania boleh menanyakan hal ini atau tidak dan apakah kak Evan akan menjawabnya dengan jujur atau tidak," ucap Rania.


"Jangan memendamnya sendiri Rania, tanyakan saja jika ada yang ingin kau tanyakan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman!" ucap Evan sambil melepaskan tangannya yang memegang Rania.


"Mmmm..... apa benar kak Nathan yang meminta kak Evan untuk menjemput kak Aleea?" tanya Rania.


"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?" balas Evan bertanya.


"Tidak perlu menjawabnya jika kak Evan tidak ingin menjawabnya, Rania hanya merasa heran karena Rania sering melihat kak Evan berdua dengan kak Aleea," ucap Rania.


"Nathan sudah mengatakannya sendiri padamu Rania, jika kau tidak mempercayai Nathan, bisa jadi kau juga tidak akan mempercayaiku," ucap Evan.


"Rania hanya ingin mendengar jawaban kak Evan," balas Rania.


"Kau sudah mendengarnya sendiri Rania, Nathan memang memintaku untuk menjemput Aleea, ini memang bukan yang pertama karena Nathan memang sering memintaku untuk menjemput atau bahkan mengantar Aleea pergi," ucap Evan.


"Kenapa? bukankah seharusnya kak Nathan yang melakukannya? kenapa kak Nathan selalu meminta kak Evan yang melakukan semuanya?" tanya Rania.


"Aku tidak pernah bertanya kenapa Nathan memintaku melakukan semua itu, seperti yang kau tau Rania, sejak dulu banyak hal yang aku lakukan sesuai dengan permintaan Nathan, bahkan hal-hal yang tidak aku sukai sekalipun!" ucap Evan.


"Termasuk tentang jurusan kuliah kakak?" tanya Rania yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Evan.


"Meskipun aku tidak menyukainya, aku tetap menjalaninya dengan sepenuh hati, sama seperti hal-hal kecil yang selalu Nathan perintahkan padaku, aku akan selalu melakukannya tanpa banyak bertanya," ucap Evan.


"Kak Evan terlalu baik pada kak Nathan, membuat kak Nathan seperti orang jahat yang selalu memanfaatkan kak Evan," ucap Rania.


"Jangan pernah berpikir seperti itu Rania, aku tidak pernah merasa Nathan seperti itu, dia teman yang sangat baik, apapun yang aku dan Nathan lakukan adalah karena kita bersahabat," ucap Evan.


"Tapi ada satu hal yang harus kau ingat Rania," lanjut Evan.


"Apa itu?" tanya Rania.


"Sebaiknya jangan terlalu mencampuri urusan orang dewasa Rania, pertanyaanmu tadi sebenarnya membuat aku, Nathan dan Aleea tidak nyaman dan bisa jadi orang lain yang mendengarnya akan salah paham," jelas Evan.


"Maafkan Rania kak," ucap Rania dengan menundukkan kepalanya.


"Asalkan jangan mengulanginya lagi," balas Evan sambil menepuk pelan kepala Rania.


Rania hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.


"Kau tau seperti apa kakakmu Rania, dia sangat tergila-gila dengan pekerjaannya, hidupnya seperti dia habiskan hanya untuk bekerja, itu kenapa dia sering memintaku untuk menjemput atau mengantar Aleea atau mungkin melakukan hal-hal kecil yang tidak bisa Nathan lakukan untuk Aleea," ucap Evan.


"Kau juga harus tau, Nathan dan Aleea saling mencintai dengan cara mereka sendiri Rania, jadi aku harap kau tidak salah paham, karena kau hanya melihatnya dari luar tanpa kau tau bagaimana mereka sebenarnya menjalani pernikahan mereka," lanjut Evan.


"Rania mengerti kak, mungkin memang cara pikir Rania yang sangat berbeda dengan kak Nathan, kak Aleea dan kak Evan," balas Rania.


"Mulai sekarang pikirkan saja kuliahmu dan apa yang akan kau lakukan setelah lulus kuliah, tidak perlu memikirkan hal-hal yang tidak penting seperti itu, oke?"


Rania menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.


"Rania tidak menyangka jika kak Nathan akhirnya menikah, bagaimana dengan kak Evan, apa kak Evan sudah memiliki rencana untuk menikah?" tanya Rania.

__ADS_1


"Aku belum memikirkan hal itu Rania," jawab Evan.


"Kenapa?" tanya Rania.


"Kau terlalu banyak bertanya Rania," ucap Evan sambil menepuk pelan kepala Rania tanpa menjawab pertanyaan Rania.


"Katakan pada Rania, seperti apa perempuan yang kak Evan suka, mungkin Rania bisa mengenalkan perempuan yang cocok untuk kak Evan!" ucap Rania.


"Sebenarnya aku tidak pernah memikirkan hal itu, tapi yang pasti perempuan yang akan menjadi istriku adalah perempuan yang bisa membuatku nyaman, perempuan yang bisa membuatku menatapnya penuh cinta setiap waktu," balas Evan.


"Secara fisik?"


"Mmmm..... tidak ada kriteria secara fisik, aku hanya ingin menikahi perempuan yang benar-benar aku cintai dan mencintaiku," jawab Evan.


"Bagaimana jika dia lebih muda dari kak Evan?" tanya Rania.


"Tidak masalah," jawab Evan tanpa ragu.


"Bagaimana jika dia perempuan yang malas?" tanya Rania.


"Apa kau sedang membicarakan dirimu sendiri?" balas Evan bertanya dengan membawa pandangannya pada Rania sekilas.


Rania seketika mengalihkan pandangannya dengan menggelengkan kepalanya.


"Rania hanya bertanya kak," ucap Rania beralasan.


"Hanya kau gadis kecil pemalas yang aku kenal," ucap Evan terkekeh.


"Sampai kapan Rania tetap menjadi gadis kecil di mata kak Evan? bukankah Rania sudah di atas 17 tahun sekarang?" protes Rania.


"Sampai kapanpun kau akan tetap menjadi gadis kecil di mataku," jawab Evan terkekeh.


Rania menghela napasnya kesal sambil membawa pandangannya menatap ke arah luar kaca jendela mobil.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai. Rania keluar dari mobil Evan tanpa mengatakan apapun dan segera berlari masuk ke dalam rumah.


Sedangkan Evan keluar dari mobilnya untuk menyapa mama dan papa Nathan sebelum ia berpamitan pulang.


Evan kemudian meninggalkan rumah orang tua Nathan, mengendarai mobilnya pulang ke apartemennya.


Sepanjang perjalanan, Evan memikirkan semua pertanyaan Rania padanya.


**


Hari telah berganti. Pagi itu Aleea menghubungi Tika, memberi tahu Tika jika dirinya tidak bisa pergi ke ruko pagi itu.


"Halo Aleea, ada apa kau menghubungiku pagi-pagi seperti ini?" tanya Tika menerima panggilan Aleea.


"Sepertinya pagi ini aku tidak bisa pergi ke ruko, ada sedikit masalah di rumah," ucap Aleea.


"Apa kau juga tidak akan datang ke kelas memasak?" tanya Tika.


"Aku akan tetap datang ke kelas memasak, setelah itu aku baru bisa pergi ke ruko," jawab Aleea.


"Aaahhh begitu, baiklah," ucap Tika.


Setelah panggilan berakhir, Aleea keluar dari kamarnya lalu menuruni tangga untuk pergi ke dapur.


Di dapur, Aleea membantu bibi memasak. Setelah beberapa lama berkutat di dapur, Aleea membawa hasil masakan bibi ke meja makan.


Tak lama kemudian, Nathan menuruni tangga dan membawa langkahnya ke arah meja makan. Ia sedikit terkejut melihat Aleea yang tampak menyiapkan makanan di meja makan saat itu.


Namun setelah makanan siap, Aleea justru menaiki tangga untuk kembali ke kamar, membiarkan Nathan yang berada di meja makan seorang diri dengan banyak makanan di hadapannya.


Nathan hanya memperhatikan Aleea tanpa mengatakan apapun meskipun ia merasa aneh karena sejak beberapa hari yang lalu ia tidak pernah melihat Aleea di rumah saat pagi.


Setelah menghabiskan makanannya, Nathanpun beranjak dari duduknya lalu berjalan keluar dari rumah untuk berangkat ke kantor.


Nathan membuka pintu mobilnya, duduk di balik kemudi lalu mengemudikan mobilnya keluar dari rumah.


Namun saat baru saja keluar dari gerbang rumahnya, ia melihat mobil Rania datang dan masuk ke halaman rumahnya.


"Sepertinya dia sengaja menunggu Rania," ucap Nathan dalam hati.


Di sisi lain, Rania yang baru saja sampai segera keluar dari mobil dan berjalan masuk ke rumah Nathan.


"Tolong panggilkan kak Aleea bi!" ucap Rania pada bibi yang sedang membereskan makanan.


"Baik non," balas bibi lalu berjalan menaiki tangga untuk memanggil Aleea.

__ADS_1


Aleeapun keluar dari kamarnya dan menghampiri Rania yang berada di ruang tamu.


"Pagi kak," sapa Rania pada Aleea yang berjalan ke arahnya.


"Pagi Rania, sepertinya ada sesuatu yang sangat penting yang ingin kau bicarakan," ucap Aleea.


"Aaahhh tidak, sebenarnya semalam Rania kesini karena ingin mengajak kak Aleea berlibur bersama kak Nathan dan kak Evan," balas Rania.


"Berlibur? kapan?" tanya Aleea.


"Weekend nanti, kita menginap di villa mama dan papa yang ada di luar kota, disana juga ada kebun strawberry yang kebetulan sedang memasuki waktu panen, kita bisa memetik strawberry sepuasnya kak!" jelas Rania penuh semangat.


"Mmmm..... sepertinya aku tidak bisa ikut," ucap Aleea menolak.


"Kenapa kak?" tanya Rania.


"Maaf Rania, ada kegiatan lain yang harus aku lakukan saat weekend nanti, jadi lebih baik kau pergi bersama Evan dan Nathan saja," jawab Aleea beralasan.


Aleea sengaja menolaknya karena sama seperti yang Nathan katakan padanya, akan sangat tidak nyaman baginya jika ia harus terus bersandiwara di depan Rania untuk waktu yang cukup lama.


"Apa kak Aleea tidak bisa menundanya?" tanya Rania penuh harap.


"Aku rasa tidak bisa, aku....."


"Bagaimana jika Rania memohon? apa Rania harus bersimpuh di kaki kak Aleea?" tanya Rania memotong ucapan Aleea.


"Tidak Rania, jangan berlebihan seperti itu, bukankah kau masih bisa berlibur tanpaku?"


"Tidak kak, liburan ini akan gagal jika kak Aleea tidak ikut, jadi Rania mohon kak, tolong tunda kegiatan kakak, yaaaa....." ucap Rania memohon.


"Maafkan aku Rania," ucap Aleea yang tidak terpengaruh oleh permohonan Rania.


"Perlu kak Aleea tau, liburan weekend nanti adalah liburan yang sangat Rania inginkan sebelum Rania kembali ke Paris, Rania ingin menghabiskan waktu bersama kak Aleea dan kak Nathan, terutama dengan kak Evan, tapi sepertinya Rania harus kembali ke Paris dengan sedih," ucap Rania dengan menghela napasnya panjang.


"Jika memang begitu, kau bisa berlibur dengan Evan saja bukan?" tanya Aleea.


"Tidak bisa kak, mama dan papa pasti tidak akan mengizinkan, kak Evan memang sangat dekat dengan mama dan papa, tapi untuk berlibur berdua apa lagi menginap di villa, mama papa pasti tidak akan mengizinkan," jawab Rania beralasan.


"Jadi Rania mohon kak, tolong kabulkan permintaan Rania sebelum Rania kembali ke Paris," lanjut Rania memohon dengan membawa pandangannya menatap Aleea sambil menangkupkan kedua tangannya di dada sambil.


Aleea terdiam untuk beberapa saat, ia menghela napasnya panjang. Sulit baginya untuk menerima ajakan Rania, tetapi melihat Rania yang sangat memohon padanya membuat Aleea bimbang.


Terlebih itu adalah permintaan Rania sebelum Rania kembali ke Paris untuk melanjutkan kuliahnya.


"Baiklah, aku ikut," ucap Aleea yang pada akhirnya mengiyakan ajakan Rania.


"Benarkah? kak Aleea serius? kak Aleea setuju untuk ikut berlibur?" tanpa Rania dengan penuh semangat.


Aleea hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum yang membuat Rania seketika memeluk Aleea dengan sangat erat.


"Terima kasih kak, terima kasih banyak, kak Aleea memang kakak yang sangat baik," ucap Rania lalu mencium pipi Aleea kemudian segera beranjak dari duduknya.


"Sekarang Aleea harus pergi, sekali lagi terima kasih kak, bye!" ucap Rania lalu berlari kecil meninggalkan Aleea.


Aleea hanya tersenyum tipis melihat sikap Rania.


Di sisi lain, Rania segera masuk ke dalam mobil dan meminta supirnya untuk mengantarnya ke kantor.


Rania sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Nathan dan memberi tahu Nathan jika Aleea menyetujui liburan mereka.


Sesampainya di kantor, Rania membawa langkahnya ke ruangan Nathan. Karena terlalu bersemangat, Rania membuka pintu ruangan Nathan begitu saja dan melihat Vina yang sedang duduk di meja kerja Nathan, sedangkan Nathan berdiri di depan Vina.


Seketika Rania terdiam dan hanya berdiri di tempatnya, sedangkan Vina segera turun dari meja.


"Rania, ada apa kau kesini?" tanya Nathan yang terkejut dengan kedatangan Rania.


"Rania akan menunggu di depan, maaf mengganggu," ucap Rania tanpa menjawab pertanyaan Nathan lalu menutup pintu ruangan Nathan dan berlari pergi.


Di ruangannya, Nathan hanya menghela napasnya panjang lalu membawa pandangannya pada Vina.


"Dia Rania? adikmu?" tanya Vina yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Nathan.


"Aaahhh sial, dia pasti akan mengatakan hal ini pada Tante Hanna," ucap Vina kesal.


"Itu kenapa kau harus menjaga sikapmu saat di kantor Vina, agar hal seperti ini tidak terjadi!" balas Nathan yang tak kalah kesal.


"Kita sudah terbiasa seperti ini sejak dulu Nathan, rasanya sangat tidak nyaman jika harus....."


"Kembali ke tempatmu, aku harus menemui Rania!" ucap Nathan memotong ucapan Vina lalu keluar dari ruangannya.

__ADS_1


Vinapun hanya mendengus kesal dan dengan malas berjalan keluar dari ruangan Nathan.


__ADS_2