Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Di Rumah Sakit Lagi


__ADS_3

Hari telah berganti. Aleea sudah bangun dari tidurnya dan tidak mendapati Evan di ruangannya. Sejak semalam Evan memang memaksa untuk menemani Aleea meskipun Aleea sudah menolaknya, hingga akhirnya Aleea membiarkan Evan menemaninya di ruangannya.


"Apa dia sudah pergi?" tanya Aleea pada dirinya sendiri sambil beranjak dari tidurnya.


Baru saja Aleea duduk di atas ranjangnya, pintu ruangan Aleea terbuka dan Evan masuk lalu berjalan ke arah Aleea.


"Aku pikir kau sudah pergi," ucap Aleea.


"Tidak mungkin aku pergi tanpa memberi tahumu," balas Evan dengan tersenyum lalu duduk di samping ranjang Aleea.


"Bagaimana keadaanmu sekarang? apa sudah lebih baik?" lanjut Evan bertanya.


"Iya, aku sudah baik-baik saja," jawab Aleea.


"Baguslah kalau begitu, setelah ini kau harus beristirahat dari semua kesibukanmu Aleea, setidaknya hanya untuk beberapa hari," ucap Evan.


"Tidak mungkin Evan, bagaimana dengan kelas memasak dan toko kueku? aku tidak mungkin membiarkan Tika sibuk sendiri di toko!" balas Aleea yang tidak menyetujui ucapan Evan.


"Aku sudah menghubunginya dan memberi tahunya jika kau harus beristirahat di rumah selama beberapa hari dan dia tidak keberatan," ucap Evan.


"Aku baik-baik saja Evan, toko kueku baru buka beberapa hari, aku tidak mungkin berisitirahat di rumah dan membiarkan Tika bekerja sendiri!" ucap Aleea.


"Keadaanmu belum benar-benar stabil Aleea, kau harus beristirahat untuk menenangkan pikiranmu," ucap Evan yang sedikit memaksa.


"Tapi....."


"Ini demi kebaikanmu Aleea, aku mohon," ucap Evan memohon dengan menatap kedua mata Aleea.


Aleea menghela napasnya panjang lalu menganggukkan kepalanya, membuat Evan tersenyum senang karena ia berhasil membujuk Aleea untuk mau beristirahat di rumah.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Evan berdering, sebuah panggilan masuk dari Nathan.


"Halo Nathan, aku masih di rumah sakit, mungkin aku akan sedikit terlambat nanti," ucap Evan setelah ia menerima panggilan Nathan.


"Apa kau menemaninya semalam?" tanya Nathan.


"Tentu saja, itu karena kau tidak datang dan menemaninya," jawab Evan.


"Kau sangat berlebihan Evan, sekarang cepat datang ke kantor, ada sesuatu yang belum kau jelaskan padaku!" ucap Nathan.


"Aku sudah mengerjakan semua pekerjaanku Nathan, bukankah aku sudah mengirim laporannya padamu?" balas Evan.


"Ini bukan tentang pekerjaan," ucap Nathan.


"Aaahh tentang dokter Rizal, aku sudah mencari tahu semuanya, aku akan menjelaskan semuanya nanti saat aku sampai di kantor," ucap Evan yang sudah mengerti maksud Nathan.


"Tidak ada nanti Evan, kau harus berangkat sekarang, siang nanti aku harus pergi dan mungkin akan kembali malam, jadi hanya pagi ini waktumu untuk menjelaskan semuanya padaku!" ucap Nathan.


"Aku hanya akan menunggu dokter memeriksa keadaan Aleea lalu mengantarnya pulang, setalah itu aku akan segera berangkat!" balas Evan yang tidak ingin meninggalkan Aleea.


"Tapi....."


Klik.


Evan sengaja mengakhiri panggilan Nathan begitu saja lalu menonaktifkan ponselnya dan menyimpannya di saku pakaiannya.


"Pergilah Evan, sebelum Nathan mengomel padamu!" ucap Aleea dengan tersenyum.


"Sebentar lagi dokter akan datang dan memeriksamu, aku akan berangkat ke kantor setelah mengantarmu pulang, Aleea," balas Evan.


"Aku sangat berterima kasih karena kau sudah menemaniku disini Evan, jadi sekarang kau harus berangkat ke kantor untuk melakukan tanggung jawabmu di kantor, bukankah kau tau aku baik-baik saja? lagi pula aku juga bisa pulang menggunakan taksi," ucap Aleea.


Evan terdiam untuk beberapa saat, menghela napasnya panjang dengan membawa pandangannya pada Aleea.


"Apa aku harus pergi sekarang?" tanya Evan yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Aleea.


"Apa kau yakin?" tanya Evan yang merasa berat untuk meninggalkan Aleea.


"Aku yakin Evan, lakukan tanggung jawabmu di kantor dengan baik, aku baik-baik saja disini dan aku akan pulang dengan menggunakan taksi," jawab Aleea dengan tersenyum.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan pergi, segera hubungi aku jika kau membutuhkan bantuanku!" ucap Evan yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Aleea.


Pada akhirnya, Evan benar-benar meninggalkan Aleea di rumah sakit karena ia harus segera berangkat ke kantor.


Di sisi lain, Aleea yang sudah cukup lama menunggu dokter, mulai merasa bosan. Aleea kemudian beranjak dari ranjangnya, berjalan keluar dari kamarnya dengan tiang infus yang selalu ada di sampingnya.


Saat tengah berjalan mencari udara segar pagi hari, Aleea melihat mama Nathan yang baru saja keluar dari sebuah ruangan bersama seorang dokter laki-laki.


"Kenapa mama ada disini pagi-pagi seperti ini? apa mama sedang sakit?" tanya Aleea pada dirinya sendiri.


Pada awalnya Aleea ingin pergi dan menghindar agar mama Nathan tidak menanyakan tentang alasan keberadaannya disana, namun di sisi lain, Aleea mengkhawatirkan keadaan mama Nathan, khawatir jika mama Nathan sedang sakit saat itu.


Alhasil, Aleeapun membawa langkahnya ke arah mama Nathan, masih dengan tiang infus yang ikut bersamanya.


"Mama, kenapa mama disini pagi-pagi seperti ini? apa mama sakit?" tanya Aleea yang tentu saja membuat Hanna begitu terkejut.


"Aleea, mama.... mama kesini untuk bertemu teman mama, kau sendiri kenapa ada disini? apa yang terjadi padamu Aleea?" balas Hanna yang berusaha untuk menutupi kegugupannya karena tiba-tiba bertemu Aleea disana.


"Aleea hanya kelelahan ma, pagi ini sepertinya sudah boleh pulang, tetapi Aleea masih menunggu dokter dan karena bosan, Aleea keluar untuk mencari udara segar," jelas Aleea beralasan.


"Kalau begitu mama akan mengantarmu pulang, kebetulan urusan mama sudah selesai disini," ucap Hanna.


"Ayo, mama akan mengantar ke ruanganmu," lanjut Hanna sambil memegang lengan tangan Aleea.


"Permisi dok," ucap Aleea pada dokter laki-laki yang ada di hadapannya.


"Dokter Rizal," ucap Aleea dalam hati saat ia membaca name tag milik dokter laki-laki itu.


"Apa dokter itu teman mama?" tanya Aleea pada Hanna saat mereka berjalan ke arah ruangan Aleea.


"Iya, dia teman kuliah mama yang baru kembali dari Amerika, jadi mama segera menemuinya saat mama tahu jika dia bekerja disini," jawab Hanna beralasan.


"Aaahhh begitu, apa mama kesini sendirian?" tanya Aleea.


"Iya, mama sendirian, bagaimana denganmu Aleea? apa kau sendirian?" balas Hanna bertanya.


"Mmmm.... Aleea... iya Aleea sendirian, karena Nathan baru saja berangkat ke kantor, dia sempat menemani Aleea disini semalam," ucap Aleea dengan tersenyum canggung.


"Keadaan Aleea baik-baik saja ma, jadi Aleea meminta Nathan untuk tetap pergi ke kantor, lagi pula dia juga sudah menemani Aleea semalam," ucap Aleea.


Setelah beberapa lama menunggu di ruangan Aleea, dokterpun datang dan memeriksa keadaan Aleea lalu memperbolehkan Aleea untuk pulang saat itu juga.


"Mama yang akan membayar administrasinya," ucap Hanna saat mereka akan meninggalkan rumah sakit.


"Terima kasih ma, tapi Aleea...."


"Sudah, tunggu saja disini," ucap Hanna memotong ucapan Aleea sambil meminta Aleea untuk duduk di kursi tunggu.


Saat Hanna akan membayar biaya administrasi atas nama Aleea, Hanna begitu terkejut karena wali dari pasien yang bernama Aleea adalah Evan William.


Seketika Hanna membawa pandangannya pada Aleea yang duduk di belakangnya. Ia menatap Aleea dengan penuh tanda tanya.


Tanpa Hanna tahu, Aleea sedang mengirim pesan pada Nathan saat itu.


"Aku bertemu mama di rumah sakit, aku beralasan jika aku kelelahan dan kau menemaniku disini sejak semalam tetapi aku membiarkanmu pergi ke kantor karena keadaanku sudah baik-baik saja."


Setelah mengirim pesan pada Nathan, Aleea segera menyimpan kembali ponselnya lalu beranjak dari duduknya saat mama Nathan berjalan ke arahnya.


Mereka kemudian meninggalkan rumah sakit bersama supir pribadi mama Nathan.


"Ada sesuatu yang ingin mama tanyakan padamu Aleea, tapi mama harap kau tidak akan salah paham dengan pertanyaan mama ini!" ucap Hanna pada Aleea saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Apa yang ingin mama tanyakan, ma?" tanya Aleea.


"Tentang rumah tanggamu dengan Nathan, apa semuanya baik-baik saja, Aleea?" tanya Hanna yang membuat Aleea sedikit terkejut karena tiba-tiba Hanna menanyakan hal itu pada Aleea.


"Semuanya baik-baik saja ma, tapi kenapa tiba-tiba mama menanyakan hal itu?" balas Aleea.


"Entahlah.... mama merasa sepertinya kau sangat dekat dengan Evan, bahkan hal-hal yang seharusnya Nathan lakukan bersamamu justru malah Evan yang melakukannya," ucap Hanna.


"Aleea dekat dengan Evan sebatas teman karena Evan juga berteman dengan Nathan ma, tentang apa yang Evan lakukan dengan Aleea itu karena Nathan yang selalu sibuk dengan pekerjaannya," balas Aleea.

__ADS_1


"Mama tau Aleea, Nathan memang sangat sibuk, tapi bukan berarti dia harus membiarkan istrinya bersama laki-laki lain bukan?"


"Laki-laki lain yang mama maksud itu adalah Evan ma, dia sahabat sekaligus orang yang paling Nathan percaya, pada awalnya Aleea juga mempertanyakan tentang sikap Nathan yang seperti itu tapi semakin lama Aleea semakin mengerti jika memang begitulah cara Nathan mencintai Aleea," ucap Aleea.


"Nathan mencintai Aleea dengan caranya sendiri yang mungkin tidak dimengerti orang lain dan bagi Aleea, semua itu sudah cukup ma," lanjut Aleea.


"Apa kau sangat mencintainya Aleea?" tanya Hanna.


"Pernikahan ini tidak akan mungkin terjadi jika Aleea dan Nathan tidak saling mencintai ma, kita menerima semua kekurangan dan kelebihan masing-masing untuk bisa berada dalam pernikahan ini," jawab Aleea.


"Kau perempuan yang baik Aleea, mama harap kau bisa menjaga hatimu untuk Nathan, mama yakin kesibukan yang dia lakukan hanyalah untuk masa depan kalian berdua," ucap Hanna.


Aleea hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan tersenyum. Dalam hatinya ia benar-benar muak harus bersandiwara seperti itu di depan mama Nathan.


Ia merasa seperti orang jahat yang dengan sengaja berbohong dan membodohi mama Nathan, meskipun sebenarnya ia tidak ingin melakukan hal itu.


"Kapan semua ini akan berakhir? sampai kapan Nathan akan menahanku dan memaksaku untuk terus berbohong seperti ini? semua ini benar-benar membuatku muak, membuatku semakin merasa bersalah pada semua orang yang terlibat dengan pernikahan ini!" batin Aleea dalam hati.


**


Di tempat lain, Nathan sedang berada di ruangannya bersama Evan yang baru saja masuk ke ruangannya.


"Kenapa kau tidak sabaran sekali, padahal aku hanya perlu menunggu sebentar lagi untuk bisa mengantar Aleea pulang!" ucap Evan kesal.


"Perhatianmu padanya terlalu berlebihan Evan, dia bahkan bukan siapa-siapa di hidupmu!" balas Nathan.


"Dia memang bukan siapa-siapa jika dari awal aku tidak mengenalnya, tapi dia menjadi seseorang yang harus aku jaga setelah aku terlibat dalam sandiwara yang membuatnya hidup dalam kebohongan!" ucap Evan.


"Oke oke baiklah, lupakan soal Aleea, sekarang katakan padaku apa yang kau tau tentang dokter Rizal!"


"Dokter Rizal memang pernah menjadi mahasiswa di kampus yang sama dengan Tante Hanna, tetapi mereka berbeda jurusan, dari semua data yang sudah aku kumpulkan, Tante Hanna dan dokter Rizal tidak berteman dekat saat mereka masih kuliah, mungkin hanya sebatas mengenal," jelas Evan.


"Bagaimana dengan kepergian dokter Rizal ke Amerika?" tanya Nathan.


"Dokter Rizal melanjutkan S2 nya di Amerika sampai lulus S3 dan bekerja disana, dokter Rizal baru kembali kesini sekitar 5 bulan yang lalu," jawab Evan.


"Lima bulan yang lalu? apa kau yakin, Evan?" tanya Nathan terkejut, karena berdasarkan apa yang mamanya katakan, dokter Rizal baru saja kembali dan menurut Nathan, 5 bulan adalah waktu yang cukup lama.


"Iya, aku sudah mengkonfirmasinya di kampus tempat dokter Rizal mengajar dan beberapa teman dokter Rizal lainnya," jawab Evan meyakinkan.


"Apa itu artinya mama berbohong padaku? apa mama sebenarnya menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Nathan.


"Jangan berpikir terlalu jauh Nathan, mungkin Tante Hanna memang baru mengetahui kembalinya dokter Rizal beberapa hari yang lalu," balas Evan.


"Karena dokter Rizal adalah dokter spesialis onkologi, jadi dokter Rizal memiliki beberapa pasien yang memang selalu diutamakan oleh dokter Rizal, itu juga yang membuatnya semakin sibuk disini," lanjut Evan.


"Dokter spesialis onkologi? apa maksudmu dokter spesialis kanker?" tanya Nathan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Evan.


"Sudahlah, jangan terlalu memikirkan hal itu, yang penting Tante Hanna baik-baik saja," ucap Evan sambil beranjak dari duduknya.


"Aaahh ya, sepertinya kau harus segera menyiapkan rencanamu untuk Aleea, aku khawatir ingatannya akan kembali lebih cepat dari dugaan kita," ucap Evan lalu keluar dari ruangan Nathan.


Nathan hanya diam, ia kemudian mengambil ponselnya, berniat untuk menghubungi seseorang, namun ia melihat pesan yang masuk dari Aleea.


"Mama berada di rumah sakit lagi? untuk apa?" batin Nathan bertanya dalam hati setelah ia membaca pesan dari Aleea.


Di sisi lain, Evan sedang berdiri di depan lift, menunggu lift terbuka. Namun saat lift terbuka, Evan melihat mama Nathan yang berdiri dengan memegang hidungnya yang tampak berdarah, bahkan tangan mama Nathan sudah terlihat penuh darah saat itu.


"Tante Hanna, apa yang terjadi Tante?" tanya Evan khawatir.


"Tolong antar Tante ke toilet Evan," ucap Hanna sambil berjalan keluar dari lift dengan sempoyongan.


Evanpun segera membantu Hanna pergi ke toilet. Evan menunggu di depan toilet beberapa lama hingga akhirnya Hanna keluar dengan riasannya yang tampak di touch up lagi.


"Apa tante baik-baik saja? Evan bisa mengantar Tante ke rumah sakit jika....."


"Tante baik-baik saja Evan, tolong lupakan kejadian ini dan jangan pernah mengatakannya pada Nathan," ucap Hanna memotong ucapan Evan.


"Tapi Tante....."


"Tante mohon Evan, ini permintaan Tante," ucap Hanna yang akhirnya dibalas anggukan kepala oleh Evan.

__ADS_1


"Baiklah Tante, Evan mengerti," ucap Evan.


__ADS_2