
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 5 sore saat Evan menyerahkan berkas laporannya ke ruangan Nathan.
"Apa kau akan pulang terlambat lagi hari ini?" tanya Evan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Nathan.
"Bukankah Aleea sedang sakit? apa tidak sebaiknya kau pulang lebih cepat untuk melihat keadaannya?" tanya Evan.
"Dia baik-baik saja, aku sudah menghubunginya," jawab Nathan.
"Baiklah kalau begitu, aku akan pulang jika sudah tidak ada yang harus aku kerjakan!" ucap Evan.
Nathan hanya menganggukkan kepalanya dengan kedua matanya yang masih fokus pada layar di hadapannya.
Saat Evan baru saja keluar dari ruangan Nathan, ia berpapasan dengan Vina yang dilihatnya masuk ke ruangan Nathan.
Namun Evan mengabaikannya dan memilih untuk melanjutkan langkahnya.
Di ruangan Nathan, Vina memberikan hasil kerjanya pada Nathan yang segera diperiksa oleh Nathan.
"Sepertinya aku belum memberi tahumu jika kemarin aku melihat Evan bersama Aleea, mereka keluar dari lift berdua," ucap Vina.
"Aku sudah tau," balas Nathan.
"Aaahh ya? apa Evan sendiri yang memberi tahumu?" tanya Vina yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Nathan.
"Lalu apa yang kau lakukan? apa kau tidak cemburu?" tanya Vina.
"Tidak," jawab Nathan singkat sambil memberikan tanda tangannya pada hasil kerja Vina.
"Apa karena sebenarnya kau tidak mencintainya?" tanya Vina yang membuat Nathan segera membawa pandangannya pada Vina.
"Kenapa kau bertanya seperti itu? sudah pasti aku mencintai istriku, aku tidak akan menikahinya jika aku tidak mencintainya!"
"Siapapun akan cemburu melihat istrinya bersama laki-laki lain Nathan, tapi kau sama sekali tidak cemburu saat kau tau istrimu berduaan dengan laki-laki lain!" ucap Vina.
"Yang kau maksud laki-laki lain itu adalah Evan, sahabatku, lagi pula aku percaya pada mereka berdua, jadi tidak mungkin mereka melakukan hal yang salah di belakangku," balas Nathan.
"Baiklah, tapi......"
"Apa kau sudah berubah pikiran?" tanya Nathan yang sengaja memotong ucapan Vina, karena ia tidak ingin membahas apa yang terjadi antara Evan dan Aleea.
"Aku tidak akan berubah pikiran sebelum kau menyetujui syarat yang pernah aku katakan padamu," jawab Vina.
"Aku tidak mungkin melakukan hal gila itu, kau tau itu!" ucap Nathan.
"Itu terserah padamu, lagi pula pasti tidak akan sulit untuk mencari penggantiku bukan?"
Nathan menghela nafasnya panjang lalu beranjak dari duduknya dan menghampiri Vina yang duduk di hadapannya.
Nathan mendekati Vina, membungkukkan badannya dengan kedua tangannya memegang sandaran tangan yang ada di kursi lalu memutar kursi itu ke arahnya, membuat jaraknya sangat dekat dengan Vina saat itu.
Vinapun hanya terdiam dengan apa yang tiba-tiba Nathan lakukan padanya, ia membeku dengan kedua matanya menatap laki-laki yang disukainya di hadapannya.
"Apa seperti ini saja tidak cukup untukmu? apa menurutmu aku juga akan melakukan hal ini pada pegawai perempuan yang lain?" tanya Nathan dengan menatap kedua mata Vina.
Vina hanya diam dengan menelan ludahnya. Berada sangat dekat dengan Nathan benar-benar membuat jantungnya tidak aman, ia bahkan tidak bisa berpikir apapun saat itu.
Belum sampai disitu, Nathan tiba-tiba menarik kursi itu dan membuat jarak mereka berdua semakin sangat dekat.
"Apa ini tidak ada artinya buatmu?" tanya Nathan dengan suaranya yang sangat pelan, namun cukup menusuk dan membekas dalam hati Vina.
"Jawab aku Vina," ucap Nathan yang menuntut jawaban pada Vina yang masih membeku karena sikap Nathan.
"Nathan..... aku......"
"Aku tidak seperti ini pada siapapun selain kau Vina, kau tau itu," ucap Nathan sambil memegang dagu Vina dengan tersenyum yang semakin membuat Vina menggila dalam hatinya.
"Jadi, kau akan merubah keputusanmu bukan?" tanya Nathan yang segera dibalas anggukan kepala oleh Vina.
"Bagus," ucap Nathan dengan penuh senyum lalu berdiri tegak di hadapan Vina sambil menepuk pelan kepala Vina.
"Tapi aku punya syarat lain," ucap Vina.
"Syarat apa?" tanya Nathan.
"Aku ingin pergi berlibur akhir bulan nanti," jawab Vina.
"Baiklah, berapa hari yang kau butuhkan?" balas Nathan.
"Satu hari, 24 jam, bersamamu," jawab Vina dengan tegas.
__ADS_1
"Bersamaku?" tanya Nathan terkejut.
"Iya, aku janji tidak akan menganggu privasimu, aku juga tidak akan memposting apapun tentangmu di sosial mediaku, aku hanya ingin berlibur berdua denganmu!" jelas Vina sambil beranjak dari duduknya.
"Aku akan memikirkannya," balas Nathan.
"Aku tunggu kabarmu," ucap Vina berbisik di telinga Nathan lalu berjalan keluar dari ruangan Nathan.
Nathan hanya menghela nafasnya panjang lalu menjatuhkan dirinya di kursi kerjanya.
"Ternyata mudah sekali menggoyahkan hati perempuan, Aleea dan Vina sama saja," ucap Nathan dengan tersenyum tipis.
Nathan kemudian melanjutkan mengerjakan pekerjaannya. Ia sudah lebih lega karena berhasil membuat Vina merubah keputusannya.
Apa yang baru saja dia lakukan pada Vina memang bukan hal yang biasa Nathan lakukan sebagai seorang laki-laki yang berhati dingin.
Namun ia sengaja melakukan hal itu untuk mempengaruhi Vina tanpa harus menerima syarat yang Vina ajukan padanya.
Meskipun ia tidak mencintai Aleea, ia tidak ingin publik mengetahui perilaku buruknya jika ia benar-benar menjalin hubungan dengan Vina di belakang Aleea.
Nathan juga berpikir jika memiliki hubungan yang serius dengan perempuan bukanlah hal yang mudah dan hanya akan menyita banyak waktunya.
Dengan hanya memberikan sedikit saja kesenangan pada perempuan, Nathan merasa jika ia sudah bisa mengendalikan perempuan, meskipun ia harus melakukan hal yang tidak disukainya.
Begitulah Nathan, laki-laki dengan keegoisan yang tinggi dalam dirinya. Tidak ada sedikitpun cinta dalam dirinya yang membuatnya berhati dingin dan hanya mementingkan kepuasan dirinya sendiri.
Apapun ia lakukan hanya untuk memenuhi keinginannya, tidak peduli pada orang lain yang mungkin saja terluka dan tersakiti dengan apa yang dia lakukan.
Di sisi lain, Vina yang baru saja kembali ke meja kerjanya segera membuka browser untuk mencari tempat berlibur yang dia inginkan.
Meskipun Nathan belum memberinya kepastian, tetapi ia yakin jika nathan pasti akan mengiyakan syarat yang ia ajukan untuk pergi berlibur berdua.
"Apa kau akan pergi berlibur?" tanya teman Vina yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Vina.
"Tumben sekali, apa pak Nathan memberimu cuti?"
"Tentu saja, aku hampir tidak pernah mengambil hak cutiku selama aku bekerja disini," jawab Vina.
"Itu karena kau selalu bersemangat bekerja," ucap teman Vina.
"Kau tau itu," balas Vina dengan tersenyum.
"Tentu saja aku akan sangat menikmati liburanku," ucap Vina dalam hati dengan penuh senyum yang tidak bisa ia sembunyikan.
**
Di tempat lain, Aleea keluar dari kamarnya saat bibi mengatakan jika ada tamu untuknya. Dengan langkah yang tak bersemangat, Aleea menuruni tangga dan begitu terkejut saat melihat Evan di ruang tamu.
"Evan, apa yang kau lakukan disini?" tanya Aleea dengan membawa langkahnya menghampiri Evan.
"Nathan memintaku memberikan ini untukmu, dia sedang sibuk dengan pekerjaannya jadi tidak bisa pulang cepat," jawab Evan sambil memberikan sebuah bingkisan pada Aleea.
"Terima kasih Evan, duduklah," ucap Aleea.
"Bagaimana keadaanmu Aleea? kau terlihat sangat pucat hari ini," tanya Evan yang melihat wajah Aleea tampak pucat saat itu.
"Aku baik-baik saja Evan, hanya sedikit pusing," jawab Aleea.
"Jika sampai besok pagi keadaanmu masih seperti ini, jangan menolak saat Nathan mengajakmu ke rumah sakit Aleea," ucap Evan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Aleea.
"Sekarang beristirahatlah, jangan lupa makan dan minum obat," ucap Evan sambil beranjak dari duduknya.
"Terima kasih sudah datang Evan," ucap Aleea yang hanya dibalas senyuman oleh Evan.
Dengan membawa bingkisan yang Evan berikan padanya, Aleea berjalan meninggalkan ruang tamu.
Namun baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba tubuhnya ambruk bersama bingkisan yang dibawanya.
Evan yang mendengar hal itu segera berbalik dan segera berlari menghampiri Aleea yang sudah terbaring di lantai.
"Aleea, sadarlah Aleea!" ucap Evan sambil menepuk pelan pipi Aleea.
"Astaga, demamnya sangat tinggi!" ucap Evan yang segera mengangkat tubuh Aleea dan membawanya keluar dari rumah.
Saat baru saja melangkah keluar dari pintu utama, sebuah mobil berhenti di halaman dan si pemilik mobil segera keluar dari mobilnya.
"Evan, apa yang terjadi? ada apa dengan Aleea?" tanya Hanna yang terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"Aleea tiba-tiba pingsan Tante, Evan harus membawanya ke rumah sakit," jawab Evan.
__ADS_1
"Cepat masuk kesini!" ucap Hanna sambil membuka pintu mobilnya.
Evanpun segera membawa Aleea masuk ke mobil Hanna.
"Tante yang akan membawanya ke rumah sakit," ucap Hanna yang sudah duduk bersama Aleea yang pingsan di sampingnya.
"Baik Tante," balas Evan yang hanya diam di tempatnya, membiarkan Aleea pergi bersama Hanna.
Evan kemudian menghubungi Nathan, memberi tahu Nathan jika Aleea dibawa oleh mamanya ke rumah sakit.
"Ke rumah sakit? ada apa lagi dengannya?" tanya Nathan.
"Aku menemuinya untuk memberikan buah dan obat-obatan untuknya, aku mengatakan padanya jika semua itu darimu, tapi saat aku akan pulang tiba-tiba dia pingsan, kebetulan Tante Hanna baru saja tiba dan segera membawa Aleea ke rumah sakit," jelas Evan.
"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan Evan!"
"Kau bukan anak kecil Nathan, kau pasti tau apa yang harus kau lakukan, ikuti saja egomu jika kau ingin Tante Hanna mencurigai pernikahanmu dengan Aleea," jawab Evan lalu mengakhiri panggilannya begitu saja.
Evan kemudian masuk ke dalam mobilnya dan mengendarainya pergi.
Sedangkan di sisi lain, Nathan hanya menghela nafasnya kasar setelah Evan mengakhiri panggilannya.
Tidak ada pilihan lain bagi Nathan, ia harus menemui Aleea di rumah sakit jika ia tidak ingin mamanya mencurigai pernikahannya dengan Aleea.
Nathan kemudian beranjak dari duduknya, saat ia baru saja membuka pintu ruangannya, sudah ada Vina yang berdiri di hadapannya.
"Aku baru saja ingin menemuimu, aku....."
"Aku harus pergi Vina, aku akan menghubungimu setelah aku menyelesaikan urusanku!" ucap Nathan lalu berjalan pergi begitu saja, mengabaikan Vina yang masih berdiri di tempatnya.
Nathan kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan kantor sambil menghubungi sang mama.
"Halo ma, apa mama di rumah sakit bersama Aleea?" tanya Nathan setelah sang mama menerima panggilannya.
"Iya, mama membawa Aleea ke rumah sakit X," jawab Hanna.
"Baiklah, Nathan akan segera kesana," ucap Nathan lalu mengakhiri panggilannya.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Nathanpun sampai di rumah sakit yang dituju. Ia segera menanyakan ruangan Aleea pada petugas rumah sakit dan segera membawa langkahnya ke arah ruangan Aleea.
Nathan menarik napasnya dalam-dalam sebelum ia masuk ke ruangan Aleea dimana sudah ada sang mama yang menemani Aleea disana.
"Bagaimana keadaan Aleea ma?" tanya Nathan pada sang mama.
"Demamnya sudah turun dan dokter bilang tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kemungkinan dia hanya kelelahan," jawab Hanna.
"Syukurlah kalau begitu, Nathan akan memintanya untuk keluar dari kelas memasaknya agar dia lebih banyak berisitirahat di rumah," ucap Nathan.
"Ada yang ingin mama katakan padamu Nathan, tapi lebih baik kita bicara di luar," ucap Hanna lalu beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan Aleea, diikuti oleh Nathan.
"Ada apa ma?" tanya Nathan yang sudah duduk di samping sang mama.
"Mama tadi ke rumahmu untuk menemui Aleea, tetapi mama melihat Evan disana, dia menggendong Aleea keluar dari rumah saat mama datang," jelas Hanna.
"Evan pasti panik saat melihat Aleea pingsan, itu kenapa dia menggendong Aleea keluar," ucap Nathan.
"Tapi kenapa Evan ada di rumahmu saat kau tidak ada di rumah Nathan? apa mungkin dia sengaja ingin menemui Aleea? atau mungkin mereka....."
"Ma.... tolong jangan berpikiran buruk tentang Evan dan Aleea, Evan sahabat Nathan dan Aleea adalah istri Nathan, mereka adalah dua orang yang Nathan percaya yang tidak mungkin melakukan hal yang salah di belakang Nathan," ucap Nathan memotong ucapan sang mama.
"Semua hal bisa terjadi Nathan, kau tidak akan tau apa yang orang lain pendam dalam dirinya!" ucap Hanna.
"Mama terlalu banyak berpikir, lagi pula Nathan memang meminta Evan untuk datang ke rumah karena Nathan harus menyelesaikan pekerjaan Nathan di kantor," ucap Nathan.
"Apa maksudmu kau yang meminta Evan untuk menemui Aleea?" tanya Hanna.
"Iya, sejak semalam Aleea memang merasa tidak enak badan, tetapi dia menolak saat Nathan mengajaknya ke rumah sakit, karena Nathan harus bekerja sampai malam, Nathan mengkhawatirkan Aleea dan meminta Evan untuk melihat keadaan Aleea di rumah," jelas Nathan beralasan.
"Bagaimana dengan kejadian di kantor? mama melihat dengan jelas mereka bergandengan tangan di kantor!"
"Mama pasti hanya salah paham, saat Aleea datang ke kantor, Nathan memang meminta Evan untuk menemani Aleea karena Nathan sangat sibuk saat itu," ucap Nathan.
"Menemani dengan berpegangan tangan?" tanya Hanna kesal.
"Berapa lama mama melihat mereka berpegangan tangan? satu menit? dua menit? atau lebih lama dari itu?" tanya Nathan.
"Tidak lama, hanya.... beberapa detik," jawab Hanna dengan suaranya yang pelan karena memang ia hanya melihat kejadian itu beberapa detik sebelum Aleea menarik tangannya dari genggaman Evan.
Nathan hanya tersenyum tipis lalu menyadarkan kepalanya di bahu sang mama.
__ADS_1
"Aleea perempuan yang baik ma, dia istri yang baik untuk Nathan dan Evan adalah satu-satunya sahabat terbaik Nathan sejak lama, jadi Nathan harap mama berhenti berpikir terlalu jauh tentang mereka berdua," ucap Nathan.