Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Tamparan untuk Nathan


__ADS_3

Aleea yang sejak tadi menunggu kedatangan Evan seketika beranjak dari duduknya saat ia mendengar suara dari depan pintu apartemen, ia segera berlari kecil ke arah pintu karena ia yakin jika yang sedang menekan password di pintu itu adalah Evan.


Aleeapun segera membuka pintu dengan penuh senyum setelah pintu dalam keadaan tidak terkunci.


Namun senyum Aleea seketika memudar saat ia melihat Nathan yang sedang bersama Evan saat itu.


Ia begitu terkejut dan hanya diam membeku untuk beberapa saat.


"Sejak kapan kau disini Aleea? apa kalian tinggal berdua disini?" tanya Nathan dengan membawa pandangannya pada Aleea dan Evan bergantian.


"Tolong jangan salah paham Nathan, masuklah aku akan menjelaskan semuanya padamu!" ucap Evan pada Nathan.


"Tidak perlu, aku sama sekali tidak peduli padanya!" balas Nathan lalu berjalan pergi.


Saat Evan akan mengejarnya, Aleea segera menahan tangan Evan.


"Biarkan dia pergi Evan!" ucap Aleea.


"Tapi Aleea...."


"Masuklah!" ucap Aleea memotong ucapan Evan.


Evan menghela napasnya sambil melihat Nathan yang semakin jauh darinya. Evan kemudian masuk dan duduk di ruang tamu bersama Aleea.


"Aku tau apa yang kau pikirkan sekarang Evan, kau pasti merasa tidak nyaman dengan hal ini bukan?" ucap Aleea sekaligus bertanya yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Evan.


"Kau tidak perlu merasa bersalah pada Nathan, aku akan menjelaskan padanya jika aku yang memaksa untuk tinggal disini," ucap Aleea.


"Tidak Aleea, aku harus menjelaskan yang sebenarnya pada Nathan," ucap Evan.


"Maafkan aku Evan, seharusnya aku tidak berada disini dan membuatmu berada di posisi yang seperti ini," ucap Aleea.


"Ini bukan kesalahanmu Aleea, keadaan yang memaksa semua ini terjadi," balas Evan.


"Mungkin memang ini saatnya aku pergi dari sini dan menghadapi masalahku sendiri, Evan," ucap Aleea.


"Nathan mungkin akan salah paham dengan semua ini, tapi kau jangan khawatir, aku akan...."


"Tidak Evan, bukankah kau dengar sendiri jika dia sama sekali tidak peduli padaku!" ucap Aleea memotong ucapan Evan.


"Bagaimanapun juga kau adalah istrinya Aleea dan dia adalah sahabatku," ucap Evan.


"Apa aku masih bisa disebut sebagai istri jika dia bahkan tidak mencintaiku dan sama sekali tidak mempedulikanku?" tanya Aleea.


"Aleea....."


"Evan, aku sangat berterima kasih dengan semua yang sudah kau lakukan padaku, selama aku disini aku sudah banyak berpikir dan sekarang aku tau apa yang harus aku lakukan, aku akan menghadapi Nathan tidak peduli bagaimana dia memperlakukanku dan aku pastikan persahabatan kalian akan tetap baik-baik saja," ucap Aleea penuh keyakinan.


Evan mengangguk-anggukkan kepalanya dengan memaksakan senyumnya. Aleea memang harus kembali pada Nathan dan sudah saatnya untuk memulai hari-hari tanpa Aleea seperti sebelumnya.


"Apa aku boleh meminta sesuatu padamu Evan?" tanya Aleea saat ia baru saja beranjak dari duduknya.


"Tentu saja, apa yang kau inginkan Aleea?" balas Evan.


"Persahabatan," jawab Aleea dengan tersenyum.


Evanpun tersenyum lalu beranjak dari duduknya dan menghampiri Aleea lalu memeluknya dengan erat.


"Pastikan aku selalu ada dalam bagian hidupmu Aleea, begitu juga kau yang akan selalu ada dalam bagian hidupku," ucap Evan.


Aleea menganggukkan kepalanya dalam dekapan Evan lalu masuk ke kamar untuk mengambil tas selempang miliknya.


"Aku tidak akan membawa barang-barang yang sudah kau beli untukku Evan, tapi aku benar-benar sangat berterima kasih atas semua hal yang sudah kau lakukan untukku selama ini," ucap Aleea saat ia sudah bersiap untuk pergi.


"Aku akan mengantarmu Aleea," ucap Evan.


"Tidak perlu Evan, aku akan pulang sendiri, aku akan menjelaskan semuanya pada Nathan dan aku pastikan persahabatan kalian akan baik-baik saja," ucap Aleea.


Evan menghela napasnya panjang lalu kembali memeluk Aleea sebelum ia benar-benar membiarkan Aleea pergi darinya.


Akhirnya Aleeapun meninggalkan apartemen Evan. Aleea memesan taksi yang mengantarnya pulang ke rumahnya.


Dalam hatinya, masih tersisa rasa takut jika Nathan akan melakukan hal yang menyakitinya lagi.


Namun Aleea sudah memantapkan hatinya dan membulatkan tekadnya jika dia akan menghadapi Nathan bagaimanapun sikap Nathan padanya.

__ADS_1


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Aleeapun sampai. Aleea keluar dari taksi dan masuk ke dalam rumah.


Aleea berjalan menaiki tangga tanpa ragu lalu mengetuk pintu kamar Nathan beberapa kali.


"Keluarlah Nathan, ada yang harus kita bicarakan!" ucap Aleea dari depan pintu kamar Nathan.


Tidak ada jawaban apapun dari dalam kamar Nathan, namun tak lama kemudian pintu ruang kerja Nathan terbuka dan Nathan keluar dari ruang kerjanya.


Aleeapun segera berjalan menghampiri Nathan.


"Ada yang harus kita bicarakan!" ucap Aleea pada Nathan.


"Aku tidak peduli apa alasanmu ada di apartemen Evan, aku bahkan tidak peduli jika kau sudah tidur dengannya, hanya perempuan murahan yang....."


PLAAAAAAKKKKK


Tamparan keras mendarat di pipi Nathan, membuat Nathan begitu terkejut dan menatap Aleea dengan tatapan tajam.


"Aku tidak serendah itu Nathan, aku juga tidak peduli apakah kau mencintaiku atau tidak, tapi jika keberadaanku dalam hidupmu sudah tidak berarti lagi, ceraikan saja aku!" ucap Aleea dengan membalas tatapan tajam Nathan.


"Menceraikanmu adalah hal yang paling mudah untukku Aleea, tapi aku tidak akan melakukan hal itu!" balas Nathan.


"Kalau begitu aku sendiri yang akan menggugat cerai, aku....."


"Kau tidak bisa melakukan hal itu Aleea, apa kau lupa kesepakatan yang sudah kau tanda tangani? hanya aku yang bisa melayangkan gugatan cerai atau kau harus membayar 100 miliar denda jika kau membatalkan kesepakatan itu!" ucap Nathan memotong ucapan Aleea.


Seketika Aleea terdiam, ia lupa tentang apa yang baru saja Nathan katakan padanya.


Nathanpun tersenyum tipis lalu membawa langkahnya semakin mendekat pada Aleea.


"Tamparanmu sama sekali tidak terasa sakit Aleea, tapi kau sudah merendahkanku dengan tamparanmu yang tidak seberapa itu, sekarang aku pastikan kau akan selalu ada dalam sangkar yang tidak akan pernah aku buka, seumur hidupmu kau hanya akan ada di dalam sangkar sampai aku bosan memeliharamu!" ucap Nathan.


Nathan tersenyum tipis lalu berjalan masuk ke kamarnya, meninggalkan Aleea yang masih berdiri di tempatnya dengan kedua tangannya yang mengepal, menahan emosi dalam dadanya.


"Seharusnya aku menamparnya dengan lebih keras!" ucap Aleea dengan kesal lalu masuk ke dalam kamar dan menjatuhkan dirinya di atas ranjangnya.


Pandangannya menatap langit-langit kamarnya, bulir bening menetes begitu saja dari kedua sudut matanya.


Meskipun ia berusaha keras untuk terlihat lebih kuat di depan Nathan, namun rasa sedih itu tetap ada dalam hatinya.


**


Hari telah berganti. Aleea masih berbaring di kamarnya meskipun ia sudah bangun sejak pagi.


Ia terlalu malas melihat Nathan, laki-laki yang dulu selalu meyakinkan dirinya jika mereka berdua adalah pasangan yang saling mencintai, namun sekarang Nathan hanya terlihat seperti laki-laki jahat di mata Aleea.


Aleea duduk di balkon sambil membaca buku sembari menunggu mobil Nathan meninggalkan rumah.


Setelah melihat mobil Nathan yang sudah keluar dari gerbang, Aleeapun keluar dari kamar.


Aleea hanya mengambil buah-buahan untuk ia makan pagi itu sebelum ia mulai menyibukkan diri di taman yang sudah beberapa hari tidak tersentuh olehnya.


Waktupun berlalu, Aleea sudah bersiap-siap untuk pergi mengikuti kelas memasak hari itu. Tak lupa Aleea memesan taksi sebelum ia keluar dari rumah.


"Selamat pagi non," sapa pak Budi yang bersiap untuk membuka pintu mobil.


"Aleea akan pergi sendiri pak, mulai hari ini pak Budi tidak perlu mengantar Aleea lagi," ucap Aleea pada pak Budi.


"Kenapa non? saya minta maaf jika....."


"Tidak pak, pak Budi sama sekali tidak bersalah, Aleea sangat berterima kasih karena pak Budi sudah mengantar Aleea selama ini, tapi sekarang Aleea akan pergi sendiri, permisi pak," ucap Aleea memotong ucapan pak Budi.


Aleea kemudian berjalan pergi dan segera masuk ke dalam taksi yang sudah menunggunya.


Saat sampai di tempat tujuan, Aleea segera masuk dan menyapa satu per satu temannya disana.


Salah satu dari mereka memberi tahu Aleea, jika hari itu tidak akan ada kelas memasak dan diganti dengan seminar yang akan membahas tentang bisnis kuliner.


Alhasil, dalam beberapa jam pertemuan itu, Aleea mendapat banyak pengetahuan baru tentang bisnis kuliner.


Pembicara dalam seminar itu meyakinkan semua audiens untuk tidak takut mencoba hal baru, terutama yang berhubungan dengan bisnis kuliner, karena banyak bisnis kuliner yang bisa dimulai dengan modal yang tidak begitu besar.


Di akhir acara, ketua kelas memasak memberikan kesempatan bagi siapapun yang ingin memulai bisnis kuliner untuk mendaftarkan diri.


Mereka yang mendaftar akan mengikuti interview dan harus mengajukan proposal untuk bisa mendapatkan bantuan pinjaman modal dari kelas memasak itu.

__ADS_1


Aleea yang sebenarnya tertarik, tidak cukup berani untuk mengambil keputusan secepat itu, terlebih dengan masalah yang sedang ia hadapi saat itu.


"Apa kau tidak ingin mencobanya Aleea?" tanya Tika, salah satu teman Aleea disana.


"Aku..... masih ragu," jawab Aleea.


"Ayolah Aleea, coba saja, mungkin kita bisa bekerja sama nanti," ucap Tika berusaha membujuk Aleea.


"Aku akan memikirkannya dulu," balas Aleea.


"Oke baiklah," ucap Tika lalu mendaftarkan dirinya.


Setelah acara selesai, Aleeapun kembali memesan taksi. Tak lama menunggu, taksi pesanan Aleea datang dan segera mengantar Aleea pulang ke rumahnya.


Sepanjang perjalanan, Aleea masih memikirkan tentang seminar yang baru saja diikutinya.


"Aku masih istri Nathan, dia pasti melarangku melakukan sesuatu yang bisa menarik perhatian publik, bisa jadi mama dan papa juga akan melarangku," ucap Aleea dalam hati.


"Tapi aku tidak mungkin berdiam diri di rumah untuk menunggu akhir dari pernikahan ini, aku harus melakukan sesuatu!" batin Aleea dengan menghela napasnya.


**


Di tempat lain, Evan sedang fokus mengerjakan pekerjaannya di ruangannya. Sejak pagi ia belum bertemu dengan Nathan karena Nathan harus menghadiri pertemuan di beberapa tempat bersama Vina.


Sejak kejadian di apartemennya, Evan belum mengatakan apapun pada Nathan karena ia ingin menjelaskan semuanya saat mereka bertemu.


Tiba-tiba pintu ruangan Evan terbuka dan Nathan masuk ke ruangannya lalu duduk di hadapannya.


"Jangan terlalu sibuk bekerja, ini sudah waktunya makan siang!" ucap Nathan pada Evan.


"Bagaimana pertemuan hari ini? apa berjalan lancar?" tanya Evan.


"Aku sudah menyelesaikan semuanya, sekarang tinggal menunggu keputusan mereka, aku harap semuanya akan berjalan sesuai rencana," jawab Nathan.


"Nathan, tentang apa yang terjadi kemarin, aku....."


"Tidak perlu menjelaskan apapun Evan, aku tidak peduli!" ucap Nathan memotong ucapan Evan.


"Apa Aleea sudah menjelaskan semuanya padamu?" tanya Evan.


"Tidak, dia hanya menamparku," jawab Nathan dengan raut wajah yang kesal.


"Menamparmu? memangnya apa yang kau lakukan padanya Nathan? apa yang kau katakan hingga Aleea menamparmu?" tanya Evan terkejut.


"Tidak ada, lupakan saja," jawab Nathan.


"Tapi aku harus tetap menjelaskan semuanya padamu Nathan, aku tidak ingin apa yang terjadi mempengaruhi persahabatan kita," ucap Evan.


"Apa yang terjadi tidak ada hubungannya dengan persahabatan kita Evan!" ucap Nathan.


"Aku akan tetap menjelaskannya Nathan, jadi aku harap kau mendengarnya dengan baik-baik," ucap Evan.


"Sebenarnya aku sudah bertemu dengan Aleea sejak dia meninggalkan rumah sakit, aku keluar dari rumah sakit karena aku mencarinya, aku sudah berniat untuk mengantarnya pulang saat aku bertemu dengannya, tetapi dia menolak karena tidak ingin bertemu denganmu," jelas Evan.


"Jadi dia meminta untuk tinggal bersamamu?" tanya Nathan.


"Tidak, dia ingin tinggal di hotel, tetapi aku memaksanya untuk tinggal di apartemen bersamaku, aku pikir itu adalah cara yang lebih baik daripada membiarkannya berada di hotel sendirian," jawab Evan.


"Aku pikir dia perempuan yang polos, ternyata dia tidak lebih buruk dari Vina, sama-sama perempuan murahan!" ucap Nathan dengan tersenyum tipis.


"Apa maksudmu Nathan? Aleea dan Vina jelas berbeda!" balas Evan emosi mendengar apa yang Nathan katakan.


"Kau tau sejak dulu Vina selalu berusaha mendekatiku Evan, dia bahkan melakukan hal yang merendahkan harga dirinya hanya untuk menggodaku, sama seperti Aleea yang melakukan hal rendahan dengan tinggal di apartemen laki-laki lain saat dia masih berstatus sebagai istri!" ucap Nathan.


"Aleea hanya menginap di tempatku Nathan, dia menginap disana karena aku yang memaksanya, dia juga tidak melakukan hal-hal yang salah selama dia tinggal bersamaku, dia bahkan bersedia tidur di sofa ruang tamu agar aku tidur di kamar!" ucap Evan.


"Kau tidak perlu memberi tahuku semua itu Evan, harus ku katakan berapa kali jika aku tidak peduli padanya, aku juga tidak peduli jika kau dekat dengannya, asalkan kau tidak melakukan hal bodoh lagi hanya untuk menyelamatkan!" ucap Nathan.


"Apa kau tau apa yang dia lakukan hari itu Nathan? saat kau mengatakan jika kau tidak mencintainya!"


"Aku tidak peduli!" balas Nathan sambil beranjak dari duduknya.


"Dia berniat untuk bunuh diri Nathan, dia hampir menyerah dengan hidupnya saat satu-satunya laki-laki yang dia percaya mengecewakannya, saat laki-laki yang merupakan harapan baginya sudah tidak mencintainya!" ucap Evan.


Nathan menghentikan langkahnya saat ia mendengar apa yang Evan katakan padanya. Ia tidak menyangka jika Aleea akan melakukan hal sejauh itu hanya karena mendengar ia yang sudah tidak mencintai Aleea.

__ADS_1


__ADS_2