
Hari telah berganti. Seperti biasa, Aleea bangun pagi-pagi sekali. Ia mempersiapkan dirinya dengan baik sebelum ia meninggalkan rumah.
Namun saat baru saja menuruni tangga, Nathan tiba-tiba datang dan menghentikan langkahnya.
"Apa yang kau pikirkan tentangku dan Vina itu tidak benar, aku...."
"Aku tidak peduli," ucap Aleea memotong ucapan Nathan lalu melanjutkan langkahnya.
"Dengarkan aku!" ucap Nathan sambil menahan tangan Aleea.
"Apa lagi yang harus aku dengar darimu Nathan? entah seperti apa hubunganmu dengan Vina, aku sudah tidak peduli, lakukan apapun sesukamu dan jangan mempedulikanku!" ucap Aleea sambil menarik tangannya dengan kasar.
"Aku hanya tidak ingin kau berpikir jika aku memiliki hubungan khusus dengan Vina, karena aku sama sekali tidak memiliki hubungan yang seperti itu dengannya!" ucap Nathan yang masih berusaha menjelaskan.
"Tidak perlu menjelaskan apapun padaku Nathan, bukankah kita sudah tidak saling peduli sekarang? kita lakukan apapun yang kita mau tanpa membuat keributan, bukankah itu yang kau inginkan?" balas Aleea dengan menatap tajam kedua mata Nathan.
Untuk beberapa saat Nathan terdiam, dalam hatinya ia membenarkan apa yang baru saja Aleea katakan padanya.
Nathan bahkan tidak mengerti kenapa dirinya tiba-tiba berniat untuk menjelaskan hal itu pada Aleea.
"Kau sudah berhasil membuatku menjauh darimu Nathan, kau sudah berhasil membuatku belajar untuk bersikap egois, jadi tidak perlu menjelaskan hal-hal tidak penting seperti ini padaku!" ucap Aleea lalu melanjutkan langkahnya.
Namun sebelum Nathan sempat mengatakan apapun, Aleea kembali mengentikan langkahnya dan membawa pandangannya pada Nathan yang berdiri di belakangnya.
"Satu lagi, kau harus ingat, kita adalah orang asing yang tinggal dalam satu atap, jadi jangan berbicara padaku jika itu bukan masalah yang sangat penting, karena itu sangat menggangguku!" ucap Aleea lalu melanjutkan langkahnya.
"Aku juga tidak akan melakukan hal ini jika kau tidak salah paham atas apa yang semalam terjadi Aleea!" ucap Nathan yang segera membawa langkahnya kembali mengikuti Aleea.
Aleea hanya diam dan terus melanjutkan langkahnya tanpa mempedulikan Nathan yang masih mengikutinya sampai ia keluar dari pintu utama rumah itu.
"Aku bukan laki-laki tukang selingkuh Aleea, kau harus tau itu!" ucap Nathan setengah berteriak.
Aleea hanya diam, melanjutkan langkahnya sampai ia keluar dari gerbang rumah dan masuk ke dalam taksi yang sudah menunggunya.
"Tenanglah Aleea, abaikan saja," ucap Aleea dalam hati, berusaha untuk tidak menghiraukan ucapan Nathan agar ia tetap dalam suasana hati yang baik sebelum ia sampai di ruko yang kini menjadi tempat kerjanya.
Sedangkan Nathan hanya diam di tempatnya, melihat Aleea yang meninggalkan rumah tanpa menoleh sedikitpun padanya.
"Apa yang baru saja aku lakukan, tidak seharusnya aku menjelaskan hal itu padanya," ucap Nathan dengan menghela napasnya kasar, kesal karena Aleea mengabaikannya.
"Tapi aku melakukannya karena aku tidak ingin dia memandang rendah padaku hanya karena kesalahpahaman semalam," ucap Nathan lalu membawa dirinya masuk ke dalam rumah.
Nathan berjalan masuk ke kamarnya dengan rasa kesal yang memenuhi dadanya. Entah kenapa ia merasa begitu kesal saat Aleea mengabaikannya.
"Semakin lama dia semakin menyebalkan, jika bukan karena aku membutuhkannya, aku pasti sudah menceraikannya saat ini juga!" ucap Nathan kesal sambil menjatuhkan dirinya di atas ranjang.
Ekor mata Nathan kemudian melirik jam dinding di kamarnya, dengan malas Nathan beranjak dari ranjang lalu bersiap untuk pergi ke kantor.
Saat baru saja meninggalkan rumah dan dalam perjalanan ke kantor, ponsel Nathan berdering, sebuah panggilan masuk dari Vina.
"Halo Vina, ada apa?" tanya Nathan setelah ia menerima panggilan Vina.
"Nathan, hari ini aku tidak bisa pergi ke kantor, aku baru saja mengalami kecelakaan dan sekarang sedang berada di rumah sakit," jelas Vina.
"Kecelakaan? kenapa bisa?"
"Aku juga tidak tahu, tiba-tiba saja supir taksinya tidak bisa mengendalikan mobilnya dan menabrak pembatas jalan," jawab Vina.
"Tapi hari ini ada meeting penting Vina dan hanya kau yang menyiapkan materinya!" ucap Nathan.
"Aku tau, tapi keadaanku tidak memungkinkan untuk pergi ke kantor Nathan, apa lagi meeting!" balas Vina.
"Dimana kau sekarang? aku akan segera kesana!"
Vina kemudian memberikan alamat rumah sakitnya pada Nathan dan tanpa menunggu lama Nathanpun segera mengendarai mobilnya ke arah rumah sakit tempat Vina dirawat.
Sesampainya di rumah sakit, Nathan segera menghubungi Evan terlebih dahulu, meminta Evan untuk menghandle pekerjaannya sampai Nathan tiba di kantor.
Nathan kemudian mencari ruangan Vina dan akhirnya menemukan Vina di ruang rawat umum dengan beberapa pasien yang ada di dekat ranjang Vina.
"Akhirnya kau datang Nathan, terima kasih sudah mengkhawatirkanku," ucap Vina dengan penuh senyum saat melihat Nathan yang berjalan ke arahnya.
__ADS_1
"Bagaimana keadaanmu? apa kata dokter?" tanya Nathan tanpa basa-basi.
"Aku baik-baik saja, untungnya tidak ada luka dalam, hanya saja aku belum boleh banyak bergerak apa lagi berjalan," jelas Vina.
"Aku sangat tidak nyaman disini Nathan, apa kau bisa membawaku ke ruangan lain?" lanjut Vina merengek manja.
"Aku akan berbicara pada dokter agar mengizinkanmu pulang," ucap Nathan.
"Bukan itu maksudku Nathan, aku....."
"Tunggu sebentar, aku akan menemui dokter," ucap Nathan memotong ucapan Vina lalu berjalan pergi begitu saja.
Vinapun hanya menghela napasnya kesal melihat Nathan yang ingin membawanya pulang karena sebenarnya Vina ingin dipindahkan ke ruangan VIP, bukan pulang.
Tak lama kemudian Nathan kembali bersama seorang perawat yang membawa kursi roda.
"Dokter sudah mengizinkanmu pulang Vina, sekarang aku akan mengantarmu pulang," ucap Nathan pada Vina.
"Apa kau yakin dokter sudah mengizinkan? bukankah aku akan banyak bergerak jika aku tinggal di rumah nanti?" tanya Vina meragukan ucapan Nathan.
"Jangan khawatir, aku akan meminta suster untuk menjagamu selama 24 jam di rumah, jadi akan ada beberapa suster yang bergantian menjagamu selama beberapa hari sampai kau benar-benar sembuh," jelas Nathan.
Vina hanya menghela napasnya, ia sudah tidak mempunyai alasan lain untuk tetap berada di rumah sakit itu.
Suster itupun membantu Vina untuk turun dari ranjang lalu duduk di kursi roda.
"Terima kasih sus," ucap Nathan yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh suster.
"Kenapa aku harus pulang Nathan? bukankah lebih baik aku dirawat disini saja sampai beberapa hari?" tanya Vina menggerutu.
"Kau bertanggung jawab atas banyak hal di kantor Vina, selama kau masih bisa berbicara dengan lancar dan berpikir dengan baik, kau harus tetap bekerja meskipun harus melakukannya dari rumah," jawab Nathan yang membuat Vina begitu terkejut.
"Dan aku pikir bekerja dari rumah lebih baik daripada bekerja dari rumah sakit, benar begitu bukan?" lanjut Nathan sambil mendorong kursi roda Vina melewati lorong rumah sakit.
"Jadi kau melakukan semua ini agar aku tetap bekerja?" tanya Vina.
"Tentu saja," jawab Nathan tanpa ragu.
Vina hanya menggelengkan kepalanya pelan, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia sempat berpikir jika Nathan datang karena mengkhawatirkannya.
Saat tengah berjalan lorong rumah sakit, Nathan tiba-tiba menghentikan langkahnya saat ia melihat seseorang yang dikenalnya.
"Mama!" ucap Nathan yang melihat sang mama yang sedang berbincang dengan seseorang yang mengenakan jubah dokter.
"Astaga Tante Hanna, cepat bawa aku pergi dari sini Nathan!" ucap Vina panik.
Namun bukannya membawa Vina pergi, Nathan justru melepaskan pegangannya pada kursi roda Vina lalu membawa langkahnya ke arah sang mama.
"Astaga, apa yang Nathan lakukan? Tante Hanna pasti akan mengamuk pagi padaku!" gerutu Vina sambil berusaha memutar sendiri kursi rodanya, namun ia merasa kesulitan karena tangannya yang masih terasa lemah dan sakit akibat efek dari kecelakaan yang baru saja terjadi padanya.
Di sisi lain, Hanna yang sedang mengobrol bersama dokter Rizal begitu terkejut saat melihat Nathan yang berjalan ke arahnya.
"Nathan, apa yang kau lakukan disini?" tanya Hanna pada Nathan.
"Justru Nathan yang seharusnya bertanya, kenapa mama ada disini pagi-pagi seperti ini? apa mama sakit?" balas Nathan bertanya.
"Tidak, mama tidak sakit, tapi kenapa ada Vina disini? apa kau bersama Vina?" jawab Hanna sekaligus bertanya, berniat untuk mengalihkan pembicaraan.
"Nathan akan menjelaskannya nanti, tapi kenapa mama disini? apa mama bersama papa?" balas Nathan.
"Tidak, mama tidak bersama papa, bukankah kau tau jika papa sedang ada di luar kota sejak kemarin!" jawab Hanna.
"Aaahh ya, kenalkan, ini dokter Rizal, teman mama sejak mama kuliah," lanjut Hanna memperkenal dokter Rizal pada Nathan.
Dokter Rizal tersenyum yang hanya dibalas senyum tipis oleh Nathan.
"Mama belum menjawab pertanyaan Nathan, kenapa mama disini pagi-pagi seperti ini?" tanya Nathan mengulang pertanyaannya pada sang mama.
"Dokter Rizal baru saja kembali dari Amerika, mama kesini hanya untuk menyapa, karena jadwal dokter Rizal yang sangat sibuk, jadi mama datang saat dokter Rizal ada waktu seperti saat ini," jelas Hanna.
"Menyapa? di rumah sakit?" tanya Nathan meragukan ucapan sang mama.
__ADS_1
"Selain menjadi dokter disini, saya juga menjadi dosen dan sesekali mengunjungi lab yang ada di luar kota, jadi bisa dibilang saya cukup sibuk dan jarang ada waktu untuk sekedar mengobrol bersama teman lama, saya harap kau tidak salah paham Nathan," sahut dokter Rizal menjelaskan.
"Tidak, Nathan tidak salah paham, hanya saja... ini pertama kalinya Nathan melihat mama menemui teman lamanya di rumah sakit," balas Nathan.
"Itu karena saya baru kembali dari Amerika Nathan, jika ada waktu mungkin kita bisa makan malam bersama pak Aryan dan juga Rania," ucap dokter Rizal.
Nathan hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun, dalam hatinya ia masih meragukan semua yang ia dengar saat itu.
"Baiklah, saya permisi dulu karena ada pasien yang sudah menunggu, senang bertemu denganmu Nathan," ucap dokter Rizal lalu membawa langkahnya pergi.
"Mama juga harus pergi," ucap Hanna lalu berjalan pergi.
Saat melewati Vina, Hanna hanya berjalan lurus tanpa sedikitpun menoleh pada Vina, membuat Vina sedikit heran namun lega karena tidak mendapat omelan dari Hanna seperti sebelumnya.
"Nathan!" panggil Vina pada Nathan.
Nathanpun segera membawa langkahnya menghampiri Vina lalu kembali mendorong kursi roda Vina untuk keluar dari rumah sakit.
"Apa yang kalian bicarakan? apa Tante Hanna membicarakanku?" tanya Vina pada Nathan.
"Tidak," jawab Nathan singkat.
"Aku senang karena Tante Hanna mengabaikanku, tapi tidak biasanya Tante Hanna bersikap seperti itu," ucap Vina.
"Apa Tante Hanna sedang sakit?" lanjut Vina bertanya.
"Diamlah Vina, jangan banyak bertanya," ucap Nathan tanpa menjawab pertanyaan Vina.
"Baiklah," balas Vina dengan memanyunkan bibirnya.
Nathan kemudian membantu Vina masuk ke dalam mobil lalu segera mengendarai mobilnya meninggalkan rumah sakit.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Nathanpun sampai di depan rumah Vina. Nathan membuka pintu rumah Vina sebelum ia mengangkat tubuh Vina dan membaringkan Vina di ranjang.
Tak lupa Nathan juga membawa masuk kursi roda yang dibawanya dari rumah sakit dan menaruhnya di dekat ranjang Vina.
"Apa kau akan pergi sekarang?" tanya Vina yang berusaha untuk beranjak dari posisinya berbaring.
"Rapikan pakaianmu!" ucap Nathan tidak menghiraukan pertanyaan Vina.
"Untuk apa?" tanya Vina tak mengerti.
Nathan hanya diam, mengambil laptop dan beberapa berkas yang ada di tas kerja Vina lalu menaruhnya di atas ranjang.
Nathan membuka beberapa berkas itu serta menyalakan laptop Vina tanpa menjawab satupun pertanyaan Vina.
"Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan Nathan?" tanya Vina kesal.
Nathan melihat ke arah jam tangannya lalu mengambil sisir dan memberikannya pada Vina.
"Meeting akan dimulai satu jam dari sekarang, jadi bersiaplah!" ucap Nathan.
"Apa kau gila? aku baru saja mengalami kecelakaan Nathan, aku....."
"Bukankah sudah ku bilang, selama kau masih bisa berbicara dengan lancar dan otakmu masih bisa berpikir dengan baik, kau harus tetap menjalankan kewajibanmu Vina!" ucap Nathan memotong ucapan Vina.
"Tapi bukan hari ini juga Nathan, aku juga harus beristirahat!" ucap Vina menolak.
"Meeting tidak akan memakan waktu lebih dari 3 jam Vina, setelah itu kau bisa beristirahat selama yang kau mau dan kembali bekerja besok pagi tanpa beranjak dari ranjangmu!" balas Nathan.
"Tapi....."
"Suster yang menjagamu akan segera datang, jangan mengecewakanku Vina, aku sudah menghabiskan banyak uang untukmu, jika bukan kau, aku tidak akan melakukan hal sejauh ini!" ucap Nathan lalu keluar dari kamar Vina tanpa membiarkan Vina menyelesaikan ucapannya.
"Aaaarrghhhhh menyebalkan!" teriak Vina kesal.
Di sisi lain, Nathan segera mengendarai mobilnya ke arah kantor. Sesampainya di kantor, iapun segera masuk ke ruangannya.
Nathan menyalakan komputer di hadapannya, memeriksa beberapa data yang ada di hadapannya, namun ia tidak bisa benar-benar fokus dengan pekerjaannya.
Dalam kepalanya, masih terngiang pertemuannya dengan sang mama di rumah sakit.
__ADS_1
Tanpa sadar Nathan terdiam, menatap kosong layar komputer di hadapannya, memikirkan tentang apa yang sebenarnya sang mama lakukan di rumah sakit bersama dokter Rizal yang merupakan teman kuliah sang mama.
Di sisi lain, Evan mengetuk pintu beberapa kali sebelum ia masuk ke ruangan Nathan. Namun Evan hanya diam saat melihat Nathan yang tampak melamun dengan menatap kosong komputer di hadapannya.