
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang saat Aleea menyelesaikan kelas memasaknya. Hari itu Aleea kembali mempelajari teknik lain dalam membuat kue.
Sepulang dari kelas memasaknya, Aleea meminta tolong supirnya untuk mengantarkannya membeli beberapa peralatan untuk membuat kue.
Setelah mendapatkan semua peralatan yang dia butuhkan, Aleea kemudian membeli cukup banyak bahan yang akan ia gunakan untuk membuat kue lalu pulang ke rumah setelah ia mendapatkan semua yang dia butuhkan.
Sesampainya di rumah, tanpa menunggu lama, Aleea mulai menyibukkan dirinya untuk menata peralatan barunya di dapur dan menyimpan banyak bahan-bahan kue yang baru saja dibelinya.
"Apa ada yang bisa bibi bantu non?" tanya bibi yang melihat Aleea cukup lama berkutat di dapur.
"Terima kasih Bi, tapi Aleea bisa melakukannya sendiri," jawab Aleea.
Setelah selesai merapikan semuanya, Aleea kemudian masuk ke kamarnya, mengulas kembali apa yang baru saja dipelajarinya di kelas memasak.
"Aku akan membuat kue yang Nathan suka, walaupun dia tidak menyukai makanan manis, bukan berarti dia tidak menyukai kue, aku akan membuatnya sesuai dengan apa yang Nathan suka," ucap Aleea penuh senyum.
__ADS_1
**
Di tempat lain, Nathan sedang berada di kantin bersama Evan saat jam makan siang.
"Tumben sekali aku tidak melihat Vina bersamamu!" ucap Evan.
"Aku sedang memberinya pelajaran agar tidak bersikap di luar batas padaku," balas Nathan.
"Memangnya seperti apa batas antara kau dan Vina? bukankah selama ini kalian memang sangat dekat?" tanya Evan.
"Walaupun kita dekat bukan berarti dia bisa masuk ranah pribadiku Evan, aku menyukai kerja keras dan hasil kerjanya yang selalu sempurna, itu kenapa aku dekat dengannya karena aku ingin menjaganya tetap bekerja denganku, tapi bukan berarti dia bisa melakukan apapun yang dia mau terhadapku," jelas Nathan.
"Dan aku tidak pernah menyukainya lebih dari sekedar partner kerja," balas Nathan dengan tersenyum tipis.
Tanpa sepengetahuan Nathan dan Evan, ternyata Vina mendengar semua percakapan Nathan dan Evan.
__ADS_1
"Kau memang licik Nathan, kau membuatku menyukaimu dengan semua perlakuanmu padaku, tapi kau bahkan sedikitpun tidak pernah menyukaiku selain karena pekerjaanku," ucap Vina dalam hati lalu membawa langkahnya pergi.
Vina menjatuhkan dirinya di kursi, terdiam beberapa saat dengan menopang dagunya di meja kerjanya.
Ia sedang memikirkan apa yang sebaiknya ia lakukan, pergi dan melupakan Nathan atau tetap berusaha mendekati Nathan dan berpura-pura tidak mengetahui apa yang baru saja dia dengar.
"Kenapa kau ada disini? biasanya kau selalu makan siang bersama pak Nathan!" tanya salah satu teman Vina.
"Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan," jawab Vina beralasan.
"Apa pak Nathan mulai mengabaikanmu karena dia sudah menikah?"
Vina hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu mulai membuka berkas yang ada di meja kerjanya.
Kedekatan Vina dan Nathan memang sudah menjadi rahasia umum di perusahaan, tetapi mereka semua memilih untuk diam dan fokus dengan pekerjaan mereka tanpa mempedulikan bagaimana hubungan Vina dan Nathan.
__ADS_1
Yaahh, terkadang manusia memang terlalu sibuk sampai kehilangan rasa kepeduliannya. Seperti itulah yang terjadi di lingkungan perusahaan tempat Nathan dan Vina bekerja.
Meskipun ada beberapa dari mereka yang terlihat peduli, namun kepedulian mereka selalu terabaikan oleh sikap egois yang mendominasi para manusia yang berada di lingkungan itu.