
Satu hal yang membuat Vina merubah sikapnya adalah karena teguran Hanna, mama Nathan.
Hanna memang sudah lama mengenal Vina, karena Hanna tau jika Vina bekerja langsung di bawah Nathan dan merupakan salah satu pegawai kepercayaan Nathan.
Hanna juga mengetahui bagaimana kedekatan Nathan dan Vina di kantor, hal itulah yang membuat Hanna akhirnya mencari tahu banyak hal tentang Vina.
Mengetahui bagaimana masa lalu Vina dan seperti apa Vina yang sebenarnya, membuat Hanna berkali-kali mengingatkan Nathan agar tidak tergoda oleh Vina.
Hanna bahkan meminta Nathan untuk mengeluarkan Vina dari kantor saat Hanna menyadari bagaimana Vina berusaha mendekati Nathan, namun Nathan selalu berusaha meyakinkan sang mama jika hubungannya dengan Vina hanya sebatas partner kerja.
Nathan memberi tahu Hanna bagaimana kinerja Vina yang selalu memuaskan dan itu adalah alasan yang cukup untuk membuat Nathan mempertahankan Vina di kantor.
Sebagai seorang laki-laki normal, Nathan mengetahui jika Vina menyukainya. Jika saja sang mama menyukai Vina, sudah pasti Vina yang akan ia jadikan istri untuk menuruti permintaan sang mama.
Nathan tidak peduli jika dirinya sama sekali tidak mencintai Vina, ia hanya membutuhkan perempuan yang bisa ia dibodohi hanya untuk kepentingannya sendiri.
Namun ternyata sang mama sama sekali tidak menyukai Vina, membuat Nathan harus berpikir keras untuk mencari perempuan yang sesuai dengan keinginan sang mama dan berakhir dengan bertemunya Nathan dan Aleea.
Sedangkan Vina yang secara terang-terangan menunjukkan rasa sukanya pada Nathan tidak menyerah meskipun ia tau jika Nathan sudah beristri.
Vina juga tidak peduli pada mama Nathan yang memang terlihat jelas tidak menyukainya sejak dulu.
Bagi Vina, menjaga kinerjanya dengan baik adalah satu hal yang bisa membuatnya tetap berada dekat dengan Nathan karena ia tahu Nathan akan selalu membutuhkan dirinya dalam pekerjaannya.
Tapi entah kenapa hari itu tiba-tiba Vina mendapat teguran dari Hanna setelah Hanna melihat bagaimana Vina berbicara dengan Evan yang notabene adalah atasannya di kantor.
Karena tidak ingin terjadi keributan, Vinapun hanya diam, mengalah dan memperbaiki sikapnya sesuai dengan apa yang Hanna katakan padanya.
Dalam hatinya, ia masih berharap jika perempuan paruh baya dengan wajah ketus di hadapannya itu suatu saat akan melunak dan menyukainya.
Meskipun begitu, Vina tidak benar-benar merubah sikapnya, terlebih pada Nathan yang sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu karena setidaknya Vina bisa menempatkan dirinya dengan baik pada banyak situasi yang berbeda.
Hari itu, Vina sangat sibuk dengan pekerjaannya karena besok ia akan menikmati waktu liburnya selama satu hari penuh.
Pekerjaan yang Evan berikan padanya dengan cepat ia selesaikan agar tidak ada lagi pekerjaan yang mengganggunya saat ia berlibur bersama Nathan.
Dalam hatinya, Vina sudah bertekad untuk tidak menyia-nyiakan waktunya bersama Nathan. Ia akan berusaha untuk membuat Nathan takluk padanya.
Jam sudah menunjukkan pukul 6 petang saat Vina baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan mulai merapikan meja kerjanya.
Dengan penuh semangat, Vina membawa langkahnya ke arah lift, menunggu lift yang akan membawanya turun ke lobby.
Saat lift terbuka, Vina masuk diikuti Evan yang tiba-tiba ikut masuk bersamanya.
"Kenapa kau tiba-tiba cuti, Vina?" tanya Evan pada Vina.
"Itu adalah hak saya pak Evan, apa ada yang salah?" balas Vina.
"Tidak, hanya saja.... waktu cutimu bersamaan dengan perginya Nathan ke luar pulau, kalian tidak merencanakan sesuatu bukan?"
Vina hanya tersenyum tipis dengan menaikkan kedua bahunya di hadapan Evan lalu keluar saat pintu lift sudah terbuka dan pergi dengan mempercepat langkahnya karena ia sudah tidak sabar untuk segera pergi ke bandara.
**
Di tempat lain, Nathan baru saja meninggalkan tempat pertemuannya dengan pimpinan yang memegang proyek baru disana.
Nathan mengendarai mobilnya kembali ke hotel lalu mengerjakan pekerjaannya, menyusun laporan yang akan ia serahkan pada sang papa.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Nathan berdering, sebuah pesan masuk dari Aleea.
"Apa kau sedang sibuk?"
Dengan malas Nathan membalas pesan Aleea.
"Aku sedang mengerjakan laporan."
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Pesan balasan Aleea kembali masuk.
"Hubungi aku jika kau sudah tidak sibuk."
Nathan hanya membaca pesan masuk dari Aleea lalu kembali fokus dengan pekerjaannya hingga tiba-tiba sebuah panggilan masuk dari Vina.
Nathan yang pada awalnya mengabaikan panggilan itu akhirnya mulai mengambil ponselnya saat ia melihat pesan masuk dari Vina yang mengatakan jika Vina sudah berada di bandara.
Nathanpun mengirim pesan pada Vina.
"Tunggu disana, aku akan meminta seseorang untuk menjemputmu!"
Nathan kemudian menghubungi seseorang, memintanya untuk menjemput Vina dan mengantar Vina ke hotel.
__ADS_1
Beberapa lama kemudian ponsel Nathan kembali berdering, sebuah pesan masuk dari Vina.
"Aku sudah ada di hotel, kau dimana? aku menunggumu di lobby!"
Nathan hanya menghela nafasnya sambil melanjutkan kesibukannya untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. Ia bahkan sengaja menonaktifkan ponselnya karena Vina yang terus menghubunginya.
Setelah beberapa waktu berlalu, Nathan sudah menyelesaikan pekerjaannya lalu beranjak dari duduknya untuk menemui Vina di lobby.
Tanpa rasa bersalah, Nathan menghampiri Vina yang sudah lebih dari satu jam menunggu Nathan di lobby.
"Apa kau sangat sibuk sampai membiarkanku menunggu lama disini?" tanya Vina kesal.
Nathan hanya tersenyum sambil memberikan kartu akses kamar hotel pada Vina.
"Segera masuk dan berisitirahatlah, kau pasti lelah!" ucap Nathan lalu berjalan pergi diikuti dengan Vina yang berjalan di samping Nathan.
"Apa saja yang akan kita lakukan besok?" tanya Vina bersemangat.
"Entahlah, aku belum memikirkannya," jawab Nathan saat mereka berada di dalam lift.
"Kalau begitu aku yang akan merencanakan semuanya," ucap Vina.
"Terserah kau saja," balas Nathan.
TRIIIING
Pintu lift terbuka, Nathan dan Vina keluar dari lift lalu berjalan di lorong hotel sampai akhirnya Nathan menghentikan langkahnya di depan salah satu kamar.
"Kamar kita bersebelahan, tapi jangan menggangguku malam ini karena aku harus menyelesaikan pekerjaanku," ucap Nathan.
"Kenapa tidak memesan satu kamar saja?" protes Vina.
"Itu tidak mungkin Vina," balas Nathan lalu membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam kamarnya, membiarkan Vina yang masih berdiri di lorong seorang diri.
Vina hanya menghela napasnya kesal lalu masuk ke kamarnya dan segera menjatuhkan dirinya di atas ranjang.
"Meskipun dia memesan dua kamar, tapi aku akan membuatnya tidur di satu kamar yang sama denganku," ucap Vina dengan penuh senyum.
Di sisi lain, Nathan membaringkan badannya di ranjang sambil memeriksa ponselnya dan mendapat pesan masuk dari Aleea.
"Malam ini terasa sangat sepi, aku makan malam sendiri dan pergi ke kamar sendiri."
Nathan hanya tersenyum tipis lalu menaruh ponselnya di atas meja.
"Berlebihan sekali!" batin Nathan dalam hati lalu memejamkan matanya.
**
Dengan malas Nathan beranjak dari ranjangnya lalu membuka pintu kamarnya dan mendapati Vina yang sudah berdiri di depan kamarnya.
Tanpa aba-aba Vina segera mendorong Nathan dan masuk ke kamar Nathan begitu saja.
"Cepat mandi dan berganti pakaian, kita harus pergi sekarang juga!" ucap Vina yang sudah duduk di sofa yang ada di kamar Nathan.
"Ini masih sangat pagi Vina, kita memiliki waktu satu hari disini jadi kenapa pergi pagi-pagi sekali?"
"Justru karena kita hanya memiliki waktu satu hari jadi kita harus bergegas pergi, aku tidak ingin menyia-nyiakan waktuku disini bersamamu," balas Vina dengan penuh senyum.
Nathan menghela napasnya panjang lalu masuk ke kamar mandi. Setelah Nathan selesai bersiap, merekapun keluar dari kamar dan meninggalkan hotel.
"Kemana kita akan pergi?" tanya Nathan pada Vina saat mereka baru saja masuk ke dalam mobil.
"Ikuti saja arahanku," jawab Vina.
Nathanpun mengendarai mobilnya sesuai dengan arahan Vina, sampai akhirnya mereka sampai di sebuah tempat dengan beberapa kapal yang terlihat berada di dekat dermaga.
"Apa yang akan kita lakukan disini Vina?" tanya Nathan.
"Sudahlah, ikut saja!" ucap Vina tanpa menjawab pertanyaan Nathan lalu meraih tangan Nathan dan menggandengnya, namun dengan cepat Nathan menarik tangannya.
Vinapun segera membawa pandangannya pada Nathan, sedangkan Nathan hanya menggelengkan kepalanya pelan yang membuat Vina menghela napasnya kesal.
Vina kemudian berjalan lebih dulu ke arah dermaga lalu menaiki kapal bersama Nathan. Setelah beberapa lama berada di atas kapal, akhirnya kapal mulai mendekat ke sebuah pulau.
Vina dan Nathanpun turun dari kapal.
"Kapal akan datang pukul 1 siang, jadi nikmati waktu kalian disini sebelum kapal datang!" ucap salah seorang kru kapal pada Vina dan Nathan.
"Apa maksudnya mereka akan meninggalkan kita disini?" tanya Nathan pada Vina saat kapal di hadapan mereka sudah pergi.
"Iya, aku yakin tidak ada siapapun yang mengenal kita disini, jadi..... kita bebas melakukan apapun disini," jawab Vina dengan penuh senyum.
"Bebas? apa maksudmu Vina? kita hanya akan berlibur disini!"
__ADS_1
"Bebas, seperti ini!" ucap Vina dengan meraih tangan Nathan dan menggenggamnya erat-erat dan semakin erat saat Nathan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Vina.
"Tenanglah Nathan, kita hanya bergandengan tangan!" ucap Vina dengan raut wajah kesal.
Nathan menghela napasnya lalu menganggukkan kepalanya pelan.
"Baiklah," ucap Nathan pelan yang membuat Vina kegirangan.
Dengan penuh senyum Vina menggandeng tangan Nathan, mengajak Nathan pergi ke salah satu kedai makanan yang ada disana.
Mereka menikmati makanan mereka dengan pemandangan danau dan hutan di sekitar mereka.
Setelah menghabiskan makanannya, Vina mengajak Nathan untuk berjalan-jalan di sekitar danau.
Mereka menghabiskan banyak waktu mereka disana. Meski pada awalnya Nathan tidak begitu menikmati perjalanannya bersama Vina, namun pada akhirnya ia mulai bisa menikmatinya.
Mereka tertawa dan bersenang-senang dengan bebas tanpa khawatir ada siapapun yang akan mengenali mereka.
"Kita harus kembali ke dermaga!" ucap Nathan setelah ia puas berkeliling pulau kecil itu.
"Tapi aku masih ingin berada disini, tidak bisakah kita disini saja sampai besok dan menunggu kapal menjemput besok pagi?" tanya Vina sambil menyandarkan kepalanya di bahu Nathan.
"Tidak bisa Vina, kita harus segera kembali," jawab Nathan.
"Meskipun aku memohon?" tanya Vina berbisik di telinga Nathan yang membuat Nathan seketika menjauhkan dirinya dari Vina, namun tiba-tiba....
CUUUUPPPP
Sebuah kecupan mendarat di pipi Nathan, membuat Nathan begitu terkejut dan segera beranjak dari duduknya.
"Apa yang kau lakukan Vina?" tanya Nathan emosi dengan mengusap pipinya.
"Hanya melakukan apa yang aku inginkan," jawab Vina tanpa ragu lalu ikut beranjak dan berdiri tepat di depan Nathan.
"Kau tau aku menyukaimu Nathan, aku tidak peduli bagaimana statusmu saat ini, aku hanya menginginkanmu!" ucap Vina dengan memeluk Nathan begitu saja.
Nathanpun segera meronta dan berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Vina.
"Jangan gila Vina, jaga sikapmu!" ucap Nathan lalu berlari pergi setelah berhasil terlepas dari pelukan Vina.
"Aaargghhh..... kenapa tidak berhasil!" gerutu Vina kesal lalu berlari mengikuti Nathan.
**
Di tempat lain. Aleea berkali-kali menghubungi Nathan, namun tidak pernah tersambung.
Tanpa Aleea tahu, Nathan saat itu sedang berada di pulau kecil bersama Vina yang membuat ponsel Nathan tidak bisa menangkap sinyal sama sekali.
Bukan hal yang aneh jika Nathan tidak membalas pesan Aleea ataupun tidak menerima panggilan Aleea, tetapi Aleea tetap bisa mengirim pesan dan menghubungi Nathan, tidak seperti saat itu.
Aleea yang khawatirpun kemudian menghubungi Evan, memberi tahu Evan tentang apa yang terjadi.
"Tenanglah Aleea, mungkin dia sedang sibuk disana karena harus menyelesaikan pekerjaannya sendirian," ucap Evan pada Aleea.
"Tapi sejak pagi aku sama sekali tidak bisa menghubunginya Evan, jika dia memang sangat sibuk, dia pasti akan membalas pesanku atau menghubungiku saat dia sudah menyelesaikan kesibukannya, tapi sampai sekarang aku bahkan belum bisa menghubunginya!"
"Aku akan mencoba mencari tahu, sekarang tenangkan dirimu dan jangan berpikir terlalu jauh, aku akan menghubungimu setelah aku mendapat informasi!" ucap Evan.
"Tapi....."
PYAAAAARRRR
Terdengar suara benda jatuh yang sangat kencang, membuat Evan tiba-tiba mengkhawatirkan Aleea karena ia sama sekali tidak mendengar suara Aleea setelah ia mendengar suara benda yang terjatuh itu.
"Aleea.... ada apa Aleea? apa kau baik-baik saja? Aleea.... jawab aku Aleea......"
Karena tidak mendapat jawaban apapun dari Aleea, Evanpun segera beranjak dari duduknya lalu meninggalkan ruangannya begitu saja.
Evan segera meninggalkan kantor dan mengendarai mobilnya ke arah rumah Aleea dengan kecepatan penuh.
Sesampainya di rumah Aleea, bibi memberi tahu Evan jika Aleea baru saja pingsan.
"Mungkin karena non Aleea belum makan sejak semalam, bahkan tadi pagi non Aleea juga tidak mau makan apapun," ucap bibi pada Evan.
"Bolehkah Evan melihat keadaannya bi?" tanya Evan.
"Silakan tuan," jawab bibi sambil membukakan pintu kamar Aleea.
Evanpun masuk dan mendapati Aleea yang terpejam di atas ranjangnya.
"Kenapa kau menyiksa dirimu sendiri hanya untuk Nathan, Aleea? bukankah kau juga tidak mencintainya?" batin Evan bertanya dalam hati dengan pandangannya menatap Aleea.
Rasa bersalah yang Evan rasakan semakin terasa menyesakkannya setiap ia melihat bagaimana Aleea menjalani hidupnya dengan kesedihan.
__ADS_1
Evan hanya bisa berusaha untuk membalikkan keadaan, memberikan kebahagiaan pada Aleea yang hanya dimanfaatkan oleh Nathan.
Dalam hatinya ia selalu berharap agar suatu hari nanti Aleea akan bisa merubah cara pandang Nathan dan melunakkan hati Nathan yang membeku dingin, sedingin es.