
Aleea yang berniat menemui Evan karena bosan di kamarnya begitu terkejut saat ia baru saja membuka pintu ruangan Evan.
Dengan jelas Aleea mendengar apa yang Evan dan Nathan bicarakan saat itu.
"Kau benar-benar membuatku frustasi Nathan, kau menikahinya tapi kau sama sekali tidak peduli padanya, padahal kau tahu jika bukan dia penyebab kecelakaan itu!" ucap Evan kesal.
"Aku tidak mencintainya Evan, untuk apa aku mempedulikannya!" balas Nathan.
Seketika Aleea terdiam dengan kedua matanya yang berkaca-kaca dan dalam hitungan detik, air mata luruh membasahi kedua pipinya.
Aleea kemudian menutup pintu ruangan Evan lalu kembali ke ruangannya dengan mempercepat langkahnya.
Sesampainya di ruangannya, ia segera menarik selang infus yang ada di tangannya lalu berlari pergi meninggalkan rumah sakit.
"Non Aleea!" panggil supir yang sejak tadi menunggu Aleea.
Aleea yang tidak menghiraukan supirnya hanya berlari dan segera menghentikan taksi.
"Kemana....."
"Jalan saja pak," ucap Aleea memotong ucapan supir taksi.
Sepanjang perjalanan, Aleea hanya diam dengan berkali-kali menghapus air mata yang membasahi kedua pipinya.
Ia mengerti jika Nathan memang sangat marah padanya tanpa ia tahu alasannya yang sebenarnya, selain karena kecelakaan yang membuat Evan berada di rumah sakit.
Tetapi Aleea tidak menyangka jika Nathan akan dengan cepat melupakan cintanya pada Aleea.
"Aku tidak mencintainya Evan, untuk apa aku mempedulikannya!"
Ucapan Nathan yang kembali terngiang di telinganya, membuat Aleea semakin terpuruk dengan kesedihannya.
Terlebih saat Aleea mengingat bagaimana dulu Nathan berusaha meyakinkannya jika Nathan sangat mencintainya, jika mereka berdua adalah pasangan kekasih yang saling mencintai dan memutuskan untuk menikah dengan kesepakatan konyol yang mereka sepakati.
Semua ucapan Nathan yang meyakinkannya itu seolah berbanding terbalik dengan apa yang terjadi saat itu, saat Nathan memperlihatkan sisi buruknya pada Aleea, saat Nathan dengan terang-terangan menunjukkan kebenciannya Aleea.
Di tengah kesedihannya, beberapa kali supir taksi menanyakan tujuan Aleea, namun Aleea tidak menjawab dengan pasti dan hanya mengatakan jika ia akan membayar berapapun biaya taksinya.
Sampai akhirnya Aleea melihat hamparan laut saat taksi melaju di jembatan layang.
"Tolong antar saya ke pantai pak," ucap Aleea.
Supirpun mulai mengarahkan taksinya ke arah pantai. Sesampainya di pantai, Aleea segera mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu dan memberikannya pada supir taksi itu.
"Maaf sudah merepotkan bapak, ambil saja kembaliannya!" ucap Aleea dengan memaksakan senyumnya lalu berjalan meninggalkan taksi itu.
Dengan langkahnya yang lemah, Aleea berjalan ke arah pantai. Sekuat apapun Aleea berusaha menahan kesedihannya, air mata tetap menetes membasahi kedua pipinya.
Kini Aleea sudah menapakkan kakinya di atas pasir putih pantai. Ia berjalan dengan membawa rasa sakit dan sedih yang semakin memeluk dirinya yang lemah.
Kehilangan ingatan membuat hidupnya kosong dan keberadaan Nathan seperti harapan baru baginya.
Saat tidak ada apapun dan siapapun yang ia ingat, ia memiliki Nathan yang menjadi suaminya.
Namun sekarang berbeda, Nathan yang menjadi satu-satunya harapan baginya telah berubah menjadi sumber rasa sakit dan kecewanya.
Hidupnya yang kosong semakin terasa begitu menyakitkan. Tidak ada siapapun yang ada dalam ingatannya dan tidak ada siapapun yang menerima kehadirannya.
Tiba-tiba awan mendung yang sejak tadi menutupi cahaya matahari, mulai menjatuhkan titik-titik airnya yang semakin lama menjadi hujan yang semakin deras.
Menangis dalam hujan, itulah yang Aleea lakukan saat itu. Ia duduk di tengah pasir pantai, memeluk kedua lututnya dan menangis sepuasnya, meluapkan semua kesedihan yang begitu menyiksanya.
**
Di tempat lain, Nathan menolak saat Evan memintanya untuk mengejar Aleea. Nathan justru memilih untuk kembali ke kantor daripada mengejar Aleea.
Setelah kepergian Nathan, Evanpun keluar dari ruangannya dan segera berjalan ke arah ruangan Aleea, namun ia tidak melihat Aleea disana.
Saat ia tengah mencari Aleea, ia bertemu dengan dokter dan suster yang menangani Aleea.
"Aleea dimana dok? dia tidak ada di ruangannya tetapi infusnya masih ada disana," tanya Evan khawatir.
__ADS_1
"Itu yang ingin saya katakan, pasien meninggalkan rumah sakit tanpa menyelesaikan administrasinya dan setelah diperiksa ternyata walinya bernama Evan, apa benar begitu?"
"Iya dok, saya walinya, saya akan menyelesaikan administrasinya, tapi kemana dia pergi dok?" balas Evan.
"Dari CCTV pasien terlihat meninggalkan rumah sakit dengan menggunakan taksi," jawab dokter.
"Dok, apa saya boleh meninggalkan rumah sakit sekarang? bukankah saya sudah baik-baik saja sekarang?" tanya Evan.
"Bisa, tapi harus atas persetujuan wali Anda, Nathan Kalandra," jawab dokter.
Evan hanya menghela napasnya kesal lalu kembali ke ruangannya setelah berterima kasih pada dokter.
Evan kemudian mengambil ponselnya yang sudah terisi daya karena ia meminta tolong pada suster beberapa saat yang lalu.
Evan kemudian menghubungi pak Budi, supir pribadi Aleea yang selalu mengantar kemanapun Aleea pergi.
"Non Aleea pergi menggunakan taksi tuan, saya sudah memberi tahu tuan Nathan, tetapi tuan Nathan meminta saya untuk pulang dan menunggu non Aleea di rumah," jelas pak Budi.
"Apa pak Budi tahu kemana tujuan Aleea?" tanya Evan.
"Saya tidak tahu tuan, tetapi saya menghafal plat nomor taksi itu," jawab pak Budi.
"Tolong berikan plat nomornya pada Evan, pak!" ucap Evan.
Pak Budi kemudian mengirim pesan pada Evan tentang plat nomor taksi yang membawa Aleea pergi.
Setelah mendapatkan plat nomor itu, Evan segera mencari tahu nomor kontak dari supir taksi itu dan tak butuh waktu lama Evanpun mendapatkannya.
Evan segera menghubungi supir taksi itu untuk menanyakan kemana Aleea pergi. Supir taksi itupun menjelaskan kemana perempuan dengan ciri-ciri yang Evan sebutkan itu pergi.
Setelah mendapat informasi yang ia butuhkan, Evanpun melepas paksa infus di tangannya lalu melepas pakaian rumah sakit dan mengenakan pakaiannya sendiri.
Evan kemudian membayar administrasi untuk Aleea dan dirinya, namun staf rumah sakit harus mendapat persetujuan dari wali Evan jika Evan ingin meninggalkan rumah sakit.
"Dia adalah teman saya, dia sedang sibuk jadi tidak bisa datang kesini!" ucap Evan beralasan.
"Kalau begitu saya akan menghubunginya dulu," balas staf rumah sakit yang akan menghubungi Nathan.
"Aaargghhh tidak ada waktu untuk itu!" ucap Evan kesal lalu berlari pergi, yang membuat staf segera memanggil petugas keamanan untuk mengejar Evan.
Evan bernapas lega karena ia bisa lolos dari kejaran petugas keamanan rumah sakit. Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Evanpun sampai di pantai.
"Sial, disini hujan!" ucap Evan kesal sambil berlari kecil ke arah gazebo.
"Dimana Aleea? apa dia masih ada disini?" tanya Evan pada dirinya sendiri sambil memperhatikan satu per satu deretan gazebo yang ada di sekitarnya.
Evan kemudian menghampiri seorang wanita paruh baya pemilik warung disana untuk menanyakan tentang Aleea.
"Oohh tadi ada perempuan berjalan ke arah pantai, sepertinya dia belum kembali dari tadi," ucap pemilik warung.
Evan kemudian mengedarkan pandangannya ke arah pantai untuk mencari keberadaan Aleea. Ia tidak habis pikir kenapa Aleea berada di pantai saat sedang hujan deras seperti itu.
Evan kemudian melepas sepatunya lalu berlari ke arah pantai, tidak peduli hujan deras yang semakin membuatnya basah kuyup.
"Aleea? kau dimana Aleea?" tanya Evan berteriak.
Suara teriakannya yang menyatu dengan derasnya hujan dan deburan ombak yang menghantam karang terdengar begitu samar.
Evan melanjutkan langkahnya, mencari keberadaan Aleea dengan mengedarkan pandangannya ke sekitar pantai.
Evan kemudian berlari ke arah karang besar yang ada disana, berniat untuk menaikinya agar ia bisa melihat dengan lebih jelas.
Namun di balik karang besar itu ia melihat Aleea yang berjalan melewati garis pantai, mengabaikan ombak yang berkali-kali menerjang tubuhnya hingga oleng.
"Aleea!" panggil Evan dengan berteriak.
Entah karena tidak mendengar suara Evan atau memang sengaja mengabaikannya, Aleea terus berjalan semakin jauh dari bibir pantai.
Evanpun segera berlari dengan terus memanggil Aleea.
"Berhenti Aleea, kau membahayakan dirimu!" ucap Evan dengan berteriak diantara hujan deras.
__ADS_1
Meskipun beberapa kali terjatuh karena dorongan ombak, Evan tidak menyerah dan terus berusaha mendekati Aleea sampai akhirnya Evan berhasil menahan tangan Aleea.
"Apa yang kau lakukan Aleea?" tanya Evan dengan meninggikan suaranya.
"Lepaskan Evan, biarkan aku pergi, sudah tidak ada gunanya aku hidup, aku kehilangan semua ingatanku, aku kehilangan kehidupanku dan sekarang aku kehilangan satu-satunya harapanku, Nathan sudah tidak mencintaiku lagi Evan, jadi untuk apa aku tetap ada disini!" ucap Aleea dengan berteriak penuh emosi.
"Jangan menggantungkan hidupmu hanya pada Nathan, jangan membiarkan dirimu terlalu berharap padanya Aleea, kehilangan ingatan bukan berarti kehilangan kehidupanmu, masih banyak jalan lain dan harapan lain yang menunggumu!" ucap Evan.
Aleea hanya terdiam dengan menggelengkan kepalanya pelan lalu berusaha menarik tangannya dari Evan.
Namun bukannya melepaskan Aleea, Evan justru mengangkat tubuh Aleea dan membawanya ke daratan.
Entah mendapat kekuatan dari mana, Evan bisa menjaga keseimbangan tubuhnya dengan baik meskipun Aleea terus meronta dan ombak terus menghantamnya.
Evan kemudian menurunkan Aleea pada hamparan pasir pantai yang jauh dari bibir pantai. Kedua tangannya menggenggam tangan Aleea dengan erat, khawatir jika tiba-tiba Aleea berlari pergi.
"Dengarkan aku Aleea, hidupmu tidak akan berakhir hanya karena Nathan tidak mencintaimu, dia hanya sedang marah padamu, dia hanya tidak bisa mengendalikan emosinya saat ini, tapi aku yakin dia akan menyesal dan...."
"Tidak Evan, sejak pertama kali aku bertemu dengannya, sejak kita menikah dan sampai sekarang aku memang tidak pernah melihat ada cinta di matanya, aku hanya berusaha bertahan dengannya karena dia terus mengatakan padaku jika kita adalah pasangan kekasih yang saling mencintai," ucap Aleea memotong ucapan Evan.
"Tapi sekarang semuanya jelas, sejak awal dia memang tidak mencintaiku sama sekali dan sekarang dia pasti sudah lelah berpura-pura mencintaiku!" lanjut Aleea.
"Kau berpikir terlalu jauh Aleea, jika memang Nathan tidak mencintaimu, apakah adil bagimu jika kau harus mengakhiri hidupmu seperti ini?"
"Lalu apa yang harus aku lakukan Evan? aku tidak tahu bagaimana aku harus menjalani hidupku setelah aku kehilangan seluruh ingatanku, aku tidak tahu siapa lagi yang bisa aku percaya setelah Nathan mengecewakanku!" balas Aleea dengan air mata yang luruh bersama hujan.
"Aku, kau bisa percaya padaku Aleea," ucap Evan dengan menatap kedua mata Aleea.
Evan kemudian memegang kedua bahu Aleea dengan kedua matanya yang masih menatap Aleea.
"Aku akan selalu ada untukmu, tidak peduli bagaimana Nathan memperlakukanmu, aku mohon tetaplah bertahan Aleea, pupuskan harapanmu pada Nathan dan jalani hidupmu dengan lebih tegar, aku yakin akan ada pelangi setelah hujan, begitu juga kebahagiaan setelah semua kesakitan yang kau rasakan saat ini," ucap Evan.
Aleea hanya diam, keinginan yang kuat untuk mengakhiri hidupnya beberapa saat yang lalu perlahan mulai memudar setelah Evan menguatkannya.
Evan seperti membuka pikirannya tentang bagaimana ia harus menjalani hidupnya tanpa Nathan yang sudah membencinya.
"Semua ini.... sangat menyakitkan untukku.... Evan," ucap Aleea dengan terisak.
"Aku mengerti Aleea, aku mengerti," ucap Evan sambil merengkuh Aleea ke dalam dekapannya.
"Menangislah, biarkan hujan menyamarkan kesedihanmu untuk sesaat, setelah ini jalani hidupmu dengan lebih bahagia Aleea, ada aku yang akan selalu bersamamu," ucap Evan yang semakin erat memeluk Aleea.
Untuk beberapa saat Aleea menikmati setiap detik yang berlalu dengan meluapkan semua kesedihannya dalam dekapan Evan.
Hujan deras yang masih mengguyur pantai, menemani air mata Aleea yang terjatuh tanpa henti bersama kesedihan yang menyakitkan baginya.
"Aku pastikan kau akan mendapat kebahagiaan yang pantas untukmu Aleea, maafkan aku yang sudah terlibat dalam kebohongan ini," ucap Evan dalam hati.
Setelah merasa dirinya lebih tenang, Aleea melepaskan dirinya dari dekapan Evan. Menyadari apa yang baru saja terjadi, membuat Aleea merasa canggung, karena bagaimanapun juga Evan adalah teman Nathan dan dirinya masih berstatus sebagai istri Nathan.
Evan kemudian meraih tangan Aleea, menggandengnya ke arah salah satu gazebo yang ada disana.
"Aku akan menghubungi seseorang untuk menjemput kita," ucap Evan lalu mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya.
Beruntung, ponsel yang sudah basah itu ternyata masih bisa berfungsi dengan baik. Namun Aleea segera menahan tahan Evan saat Evan akan menghubungi seseorang.
"Aku tidak ingin pulang Evan, aku..... aku ingin menjauh dulu darinya," ucap Aleea dengan kedua matanya yang masih sembab.
"Aku mengerti," balas Evan dengan tersenyum.
Evan kemudian menghubungi seseorang yang ia perintahkan untuk mengambil mobilnya di tempat parkir restoran lalu mengantarkannya ke pantai.
"Aku pikir hidupku akan benar-benar berakhir hari ini," ucap Aleea dengan menundukkan kepalanya.
"Jangan pernah berpikir untuk melakukan hal bodoh itu lagi Aleea, aku akan benar-benar sangat kecewa padamu jika kau melakukannya lagi," balas Evan.
"Kenapa kau bisa ada disini Evan? bukankah seharusnya kau masih berada di rumah sakit sampai beberapa hari?" tanya Aleea.
"Dokter memberi tahuku jika kau pergi dari rumah sakit, karena aku adalah walimu jadi mereka meminta pertanggung jawaban padaku," jawab Evan dengan tersenyum.
"Astaga, maafkan aku, aku tidak memikirkan hal itu, aku pasti akan menggantinya nanti," ucap Aleea.
__ADS_1
"Tidak perlu dipikirkan, sekarang aku dan Nathan adalah buronan rumah sakit, karena aku pergi tanpa mendapat persetujuan dari Nathan yang merupakan waliku dan belum ada yang membayar biaya administrasiku karena Nathan tidak mengetahui kepergianku hehe...."
Aleea hanya tersenyum tipis mendengar cerita Evan, ia tidak menyangka jika Evan akan melakukan hal itu untuknya.