Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Sekilas Memori (2)


__ADS_3

Melihat apa yang terjadi pada Aleea, Evanpun segera mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi untuk menuju ke rumah sakit terdekat.


Sesampainya di rumah sakit, dokter segera memeriksa keadaan Aleea. Nathan, Evan dan Rania duduk di depan UGD untuk menunggu hasil pemeriksaan dokter dengan cemas.


"Tidak mungkin ingatannya kembali, dokter sudah memberi tahuku jika dia kehilangan seluruh ingatannya selamanya," ucap Nathan dalam hati.


"Tenanglah kak, kak Aleea pasti baik-baik saja," ucap Rania memeluk Nathan.


Nathan hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun, ia yakin Aleea memang baik-baik saja, yang membuatnya cemas adalah jika tiba-tiba Aleea mengingat semua kehidupan masa lalunya.


Di sisi lain, Evan juga tampak cemas. Ia khawatir jika semua kebohongan yang sudah ia lakukan dengan Nathan akan terbongkar saat ingatan Aleea kembali.


Evan tidak bisa membayangkan bagaimana marah dan kecewanya Aleea padanya jika sampai hal itu terjadi.


"Tidak.... aku tidak siap jika hal itu harus terjadi sekarang," ucap Evan dalam hati.


Tak lama kemudian dokter keluar bersama para suster yang memindahkan Aleea ke ruangan lain.


Evan membawa pandangannya pada Aleea sekilas dan melihat Aleea yang tersenyum tipis padanya.


Dokter kemudian menjelaskan jika keadaan Aleea baik-baik saja, karena dokter mengetahui jika Aleea pernah mengalami kecelakaan dan hilang ingatan, dokter menyarankan Aleea untuk tidak memaksakan dirinya mengingat masa lalu yang ia lupakan.


Selain karena bisa menyebabkan kepalanya sakit, hal itu juga bisa membahayakan kinerja otak Aleea yang terlalu dipaksakan untuk mengingat hal yang sudah ia lupakan karena kecelakaan.


Bagaimanapun juga, Aleea pernah mengalami cidera di kepalanya, jadi membuat otaknya bekerja dengan paksa hanya akan membuat keadaan Aleea memburuk dan bisa jadi akan mempengaruhi memori Aleea saat itu.


Setelah mendengar semua penjelasan dokter, Nathanpun segera membawa dirinya ke ruangan Aleea, ruangan rawat yang luas dengan banyak ranjang yang ditempati pasien lain.


"Apa yang kau rasakan sekarang Aleea? apa kepalamu masih sakit?" tanya Nathan pada Aleea.


"Tidak sesakit beberapa saat yang lalu," jawab Aleea.


"Dokter sudah menjelaskan semuanya padaku, dokter bilang kau tidak boleh terlalu memaksakan dirimu untuk mengingat apa yang sudah kau lupakan, karena itu bisa membahayakan dirimu," ucap Nathan menjelaskan.


"Aku mengingatnya sedikit Nathan, aku mengingat saat aku berada di jalan raya dan ada mobil yang menabrakku, aku mendengar suara klakson yang sangat kencang dan riuh ramai orang-orang saat aku sudah terjatuh di jalan raya, tapi.... semuanya terdengar samar-samar dan buram," jelas Aleea.


"Lupakan saja Aleea, semuanya sudah berlalu, jadikan itu sebagai masa lalu buruk yang sudah seharusnya kau lupakan!" ucap Nathan.


"Tapi apa kau tau siapa yang menabrakku saat itu Nathan?" tanya Aleea.


"Aku tau," jawab Nathan tanpa ragu.

__ADS_1


"Benarkah? siapa dia? dimana dia sekarang?" tanya Aleea penasaran.


"Dia hanya orang asing yang mengendarai mobilnya dengan tidak hati-hati, dia sudah berada di penjara sejak kejadian itu sampai saat ini, kau tidak perlu memikirkan hal itu Aleea, orang itu sudah mendapatkan balasan atas apa yang dia lakukan padamu," jelas Nathan berbohong.


"Tapi masih ada yang mengganjal di kepalaku Nathan, kenapa aku berjongkok di jalan raya saat itu, aku seperti....."


"Cukup Aleea, dokter sudah memperingatkan untuk tidak memaksakan dirimu mengingat semua itu," ucap Nathan memotong ucapan Aleea.


"Kau tidak akan pernah mengerti bagaimana hidupku terasa kosong karena tidak ada apapun yang aku ingat tentang diriku sendiri Nathan," ucap Aleea.


"Hidup tetap berjalan dengan atau tanpa ingatan masa lalumu Aleea, jadi lupakan saja dan fokus dengan kehidupanmu yang sekarang!" balas Nathan.


Aleea menghela napasnya panjang lalu beranjak dari posisi tidurnya.


"Apa aku sudah boleh meninggalkan rumah sakit sekarang?" tanya Aleea.


"Asalkan kau tidak membahayakan dirimu untuk berusaha mengingat semuanya," balas Nathan.


"Baiklah," ucap Aleea.


Nathan kemudian menyelesaikan biaya administrasi. Aleeapun meninggalkan rumah sakit bersama Nathan, Evan dan Rania.


"Apa kau yakin bisa melanjutkan perjalanan kita Aleea?" tanya Evan khawatir.


"Baiklah, kita berangkat sekarang!" ucap Evan lalu mengendarai mobil Nathan meninggalkan rumah sakit.


Sama seperti sebelumnya, Aleea dan Nathan duduk di bangku belakang sedangkan Rania duduk di samping Evan.


Setelah apa yang terjadi, Aleea lebih banyak diam, membuat Evan khawatir jika Aleea masih memaksakan dirinya untuk terus berusaha mengingat masa lalunya.


"Aleea, apa kau baik-baik saja?" tanya Evan membuyarkan lamunan Aleea.


"Aku baik-baik saja," jawab Aleea.


"Berbicaralah kak, kak Aleea membuat kita semua khawatir jika kakak hanya diam," sahut Rania.


"Aku baik-baik saja Rania, aku hanya mengantuk," ucap Aleea.


Nathan kemudian menepuk bahunya, meminta Aleea untuk bersandar di bahunya, namun Aleea hanya menggeleng dan mengalihkan pandangannya.


Nathanpun sedikit memaksa dengan menarik kepala Aleea agar bersandar padanya.

__ADS_1


"Pejamkan matamu dan jangan memikirkan apapun," ucap Nathan pada Aleea.


Aleea hanya diam, ia memejamkan matanya seperti perintah Nathan. Tak dapat dipungkiri kilasan memori yang baru saja diingatnya, membuatnya penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi hari itu.


Banyak pertanyaan di kepalanya yang membuatnya semakin pusing jika terus memikirkannya.


Namun akhirnya Aleea benar-benar tertidur dengan bersandarkan bahu Nathan. Cukup lama Aleea tertidur, membuat Nathan hanya diam tanpa mengerakkan badannya sedikitpun.


"Apa kak Aleea benar-benar baik-baik saja kak?" tanya Rania dengan membawa pandangannya pada Nathan yang duduk di belakangnya.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" balas Nathan bertanya.


"Kak Aleea terlihat sangat kesakitan tadi, Rania hanya khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk pada kak Aleea," ucap Rania.


"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan Rania, Aleea baik-baik saja, bukankah dokter sudah menjelaskannya tadi!" ucap Evan.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Aleea mulai membuka matanya dan mengangkat kepalanya.


"Bagaimana keadaan kak Aleea? apa sudah lebih baik?" tanya Rania pada Aleea.


"Iya, aku merasa lebih baik setelah tidur," jawab Aleea.


"Baguslah kalau begitu, Rania sangat mengkhawatirkan kakak," ucap Rania.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, akhirnya mereka mulai memasuki kawasan tengah kota yang artinya perjalanan tidak akan lama lagi untuk sampai di tujuan.


Evan mengarahkan mobil Nathan ke apartemennya terlebih dahulu. Setelah sampai di apartemen Evan, Nathan bergantian mengemudi, sedangkan Rania pindah duduk di belakang untuk menemani Aleea.


Nathan kemudian mengendarai mobilnya ke arah rumah orang tuanya untuk mengantar Rania pulang.


"Ingat Rania, jangan mengatakan pada mama dan papa tenang apa yang terjadi pada Aleea!" ucap Nathan mengingatkan.


"Rania mengerti," balas Rania.


Sesampainya di rumah orang tuanya, Raniapun keluar dari mobil dan Aleea segera berpindah posisi untuk duduk di samping Nathan.


"Terima kasih sudah mewujudkan keinginan Rania kak!" ucap Rania pada Aleea.


Aleea hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya. Tanpa menunggu lama, Nathanpun segera mengendarai mobilnya pergi, pulang ke rumahnya.


Sesampainya di rumah, Aleea dan Nathan segera berjalan masuk dalam rumah.

__ADS_1


"Ingat Aleea, jangan terlalu memaksakan dirimu untuk mengingat semuanya!" ucap Nathan saat Aleea akan masuk ke dalam kamar.


Aleea hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun lalu masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan badannya di atas ranjang.


__ADS_2