
Di dalam ruangan kerja Nathan, Vina yang sedang duduk di hadapan Nathan tidak sengaja melihat keberadaan Aleea di depan ruangan Nathan.
Vina hanya berpura-pura tidak mengetahuinya lalu dengan sengaja menarik dasi Nathan dan merapikannya, membuat Nathan berdiri semakin dekat dengan posisi Vina duduk.
"Aku selalu menunggu waktu dimana kita bisa menghabiskan banyak waktu di luar kantor, Nathan," ucap Vina pada Nathan.
"Carilah laki-laki lain yang bisa selalu ada untukmu Vina, jangan mengharapkan apapun dariku," balas Nathan.
"Tapi aku....."
Vina menghentikan ucapannya saat mendengar pintu ruangan Nathan terbuka. Vina segera membawa pandangannya ke arah pintu dan mendapati Aleea yang berdiri disana.
Vina menghela nafasnya panjang lalu turun dari tempat ia duduk di atas meja.
"Aku akan pergi," ucap Vina lalu berjalan keluar begitu saja, melewati Aleea tanpa menoleh ataupun menyapa.
"Kenapa kau tiba-tiba kesini Aleea? duduklah!" tanya Nathan yang segera membawa Aleea duduk di sofa yang ada di ruangannya.
"Aku hanya ingin membawakan makan siang untukmu," jawab Aleea sambil memberikan bekal makanan yang sudah ia siapkan dari rumah.
"Lain kali kau tidak perlu repot seperti ini Aleea, aku bisa membeli makanan dari kantor," ucap Nathan.
"Semalam kau mabuk Nathan, apa kau mabuk bersama Vina?" tanya Aleea.
"Aku hanya sedikit minum semalam, aku...."
"Aku tidak tau sejauh apa kedekatanmu dengan Vina, tapi bisakah kau lebih menghargaiku sebagai istrimu, Nathan?" tanya Aleea memotong ucapan Nathan.
"Apa maksudmu Aleea? apa selama ini aku tidak menghargaimu?" balas Nathan dengan suara meninggi.
"Rendahkan suaramu Nathan, aku yang seharusnya marah sekarang, kau mabuk semalaman bersama Vina dan bermesraan dengannya saat di kantor, apa itu yang kau sebut menghargaiku sebagai istrimu?"
"Apa alasanmu marah padaku? apa karena kau merasa cemburu pada Vina? apa karena aku pulang larut malam? atau karena aku pulang dalam keadaan mabuk? jangan menjadikan semua hal menjadi masalah Aleea, bersikaplah dewasa tanpa membuat hal kecil menjadi masalah besar!" balas Nathan kesal.
"Saat seperti inilah yang membuatku ragu tentang hubungan kita Nathan, kau selalu membuatku ragu tentang perasaanmu padaku," ucap Aleea yang segera beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Terserah apa yang kau pikirkan tentangku, aku sudah tidak peduli lagi, tapi satu hal yang pasti, kau akan tetap menjadi milikku dan terus bersamaku sesuai dengan kontrak perjanjian yang sudah kita tanda tangani!" balas Nathan lalu segera beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangannya.
Aleea yang masih berdiri di tempatnya hanya diam menatap kepergian Nathan. Ia tidak menyangka jika Nathan akan bersikap seperti itu padanya.
"Seharusnya kau meminta maaf dan menjelaskan padaku tentang apa yang sebenarnya terjadi Nathan, bukan malah menyalahkanku seperti ini," ucap Aleea dalam hati dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
Tiba-tiba pintu ruangan Nathan terbuka, Aleea segera menghapus air matanya saat ia melihat Evan yang membuka pintu ruangan Nathan.
"Aleea, aku baru saja melihat Nathan pergi, apa kalian baru saja bertengkar?" ucap Evan sekaligus bertanya.
Aleea hanya menghela nafasnya panjang sambil menganggukkan kepalanya lalu kembali menjatuhkan dirinya di sofa.
"Ada apa Aleea? apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Evan yang duduk di samping Aleea.
"Aku dan Nathan akan menyelesaikan masalah kita sendiri, ini pasti hanya kesalahpahaman," balas Aleea.
"Memang sebaiknya begitu, tapi apa yang kau lakukan disini?" ucap Evan sekaligus bertanya.
"Aku sengaja datang dengan membawa makan siang untuknya, tapi dia bahkan belum menyentuhnya sama sekali," jawab Aleea sambil menatap tas bekal yang ada di sofa.
Evanpun segera mengambilnya dan membukanya.
"Aku memasaknya sendiri, walaupun aku tidak begitu pandai memasak, tapi rasanya tidak terlalu buruk, kau bisa mencobanya jika kau mau," jawab Aleea.
"Benarkah? apa aku boleh mencobanya?" tanya Evan bersemangat.
Aleea hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya, ada sedikit rasa senang dalam dirinya saat ia melihat Evan yang begitu antusias untuk mencoba makanan buatannya.
"Waahhh, kau benar-benar pandai memaksa Aleea, ini bahkan seperti yang sering aku makan di restoran," ucap Evan setelah ia mencoba makanan buatan Aleea.
"Kau berlebihan Evan," balas Aleea dengan tersenyum.
"Sungguh, aku bahkan ingin menghabiskannya sekarang," ucap Evan.
"Habiskan saja jika kau suka, lagi pula Nathan juga tidak akan memakannya," balas Aleea.
__ADS_1
"Nathan pasti akan menyesal karena sudah menyia-nyiakan makanan seenak ini," ucap Evan yang dengan lahap menikmati makanan buatan Aleea.
Aleea hanya tersenyum, ia senang saat melihat Evan benar-benar tampak menikmati makanan buatannya.
"Aku harus pergi Evan, aku tidak ingin membuat Nathan semakin marah jika dia masih melihatku disini," ucap Aleea sambil beranjak dari duduknya.
"Apa kau datang bersama supir? aku bisa mengantarmu pulang jika....."
"Aku bersama supir," ucap Aleea memotong ucapan Evan.
"Oke baiklah, hati-hati," balas Evan.
Aleea kemudian keluar dari ruangan Nathan dan berjalan ke arah lift yang membawanya turun ke lobby.
Saat sedang berjalan di lobby, Aleea berpapasan dengan Vina. Namun karena Vina terus mengacuhkannya, Aleea dengan cepat menahan tangan Vina.
"Berhenti," ucap Aleea sambil menahan tangan Vina.
"Ada apa?" tanya Vina tanpa menunjukkan sedikitpun kesopanannya pada Aleea yang merupakan istri dari atasan tempat ia bekerja.
"Tidak bisakah kau menjaga sopan santunmu di kantor, Vina?" tanya Aleea dengan masih memegang tangan Vina.
"Maafkan saya, saya akan berusaha untuk bersikap lebih sopan pada Anda," jawab Vina dengan tersenyum sambil menarik tangannya dengan kasar dari pegangan Aleea.
"Nathan adalah atasanmu disini, berhentilah bersikap seolah-olah kau adalah kekasihnya, apa kau lupa jika dia sudah memiliki istri?"
"Tentu saja saya mengingatnya, tetapi sayangnya Nathan sama sekali tidak mempersalahkan sikap saya selama ini," balas Vina.
"Nathan? sekali lagi aku ingatkan padamu, Nathan adalah atasanmu, sudah seharusnya kau memanggilnya dengan lebih sopan!"
"Sekali lagi saya ingatkan pada Anda, nyonya Aleea, sampai detik ini Nathan sama sekali tidak mempermasalahkan sikap dan cara memanggil saya padanya, sepertinya nyonya baru ini yang sangat gila hormat," ucap Vina dengan tersenyum mengejek lalu berjalan pergi begitu saja.
Aleea hanya diam di tempatnya berdiri, ia berusaha menenangkan dirinya agar tidak terbawa emosi saat itu.
Aleea benar-benar tidak habis pikir dengan sikap Vina padanya, Vina bahkan terang-terangan memperlihatkan ketidaksukaannya pada Aleea.
__ADS_1
"Semua orang disini benar-benar membuatku gila!" ucap Aleea dengan menggelengkan kepalanya lalu berjalan cepat meninggalkan lobby.
Aleea kemudian segera meminta si supir untuk mengantarnya pulang. Ia ingin beristirahat di rumah sebelum emosi menguasai dirinya karena sikap Nathan dan Vina.