
Hari-hari telah berganti. Aleea sudah lebih bisa menerima bagaimana perlakuan Nathan padanya. Meskipun tak jarang Aleea masih merasa kesal jika Nathan lebih mementingkan pekerjaan dibanding Aleea.
Namun Aleea tidak terlalu ambil pusing, ia yakin dan percaya jika Nathan tidak akan melakukan hal yang di luar batas bersama Vina, meskipun mereka memang terlihat sangat dekat.
Aleea mempercayai hal itu tidak hanya karena Nathan adalah suaminya, tetapi karena Nathan yang sudah menunjukkan bagaimana Nathan menegur Vina yang dengan sengaja mengambil ponsel Nathan dan menerima panggilan Aleea tanpa sepengetahuan Nathan.
Sampai sejauh ini Aleea percaya jika hubungan dekat Nathan dan Vina memang didasari oleh profesionalisme kerja, meskipun Aleea tahu jika Vina berharap lebih pada hubungannya dengan Nathan.
Sebagai istri, Aleea tidak bisa memaksa Nathan untuk menjauh Vina, mengingat Vina adalah seseorang yang sangat bertanggung jawab dengan pekerjaannya di kantor.
Aleea hanya bisa membatasi dirinya untuk tidak terlalu memikirkan apa yang Vina lakukan pada Nathan.
Seperti yang pernah Evan katakan padanya, kemarahan dan kecemburuan yang ia rasakan hanya akan membuat Vina menang dan ia tidak ingin itu terjadi.
Aleea berusaha menunjukkan bagaimana ia bahagia menjadi istri Nathan. Perlahan Aleea mulai merubah cara pandang dan caranya bersikap. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan siapapun bahkan di depan Nathan.
Ia akan menunjukkan jika ia adalah seorang perempuan yang paling bahagia dengan senyum dan tawanya, karena dia berpikir hanya itu yang bisa ia lakukan untuk membuat orang-orang yang tidak menyukainya merasa kalah.
Sebagai istri, Aleea berusaha melakukan yang terbaik untuk Nathan, meskipun Nathan masih sering mengabaikannya, Aleea tidak peduli.
Seperti pagi itu, Aleea sedang menikmati sarapannya bersama Nathan di meja makan.
"Aku sudah bisa membuat menu baru yang aku pelajari dari kelas memasak, aku ingin membuatnya dan memberikannya padamu untuk makan siang di kantor, aku....."
"Tidak perlu Aleea, masak saja untuk dirimu sendiri, aku sudah mengizinkanmu mengikuti kelas memasak jadi tidak perlu banyak berkegiatan lagi di luar rumah," ucap Nathan memotong ucapan Aleea.
"Tapi aku hanya akan pergi ke kantor Nathan, setelah itu aku akan pulang!"
"Aku tidak suka kau membantahku Aleea, aku hanya ingin menjagamu dengan lebih baik, kau tidak tau bagaimana hancurnya aku saat melihatmu terbaring di rumah sakit," ucap Nathan.
"Tapi kau berlebihan Nathan!" balas Aleea.
"Hanya ini yang bisa aku lakukan, aku pergi dulu!" ucap Nathan sambil beranjak dari duduknya.
"Jangan lupa untuk segera pulang setelah kau menyelesaikan kelas memasakmu hari ini!" lanjut Nathan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Aleea.
__ADS_1
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi saat Aleea sudah meninggalkan rumah bersama pak supir untuk mengikuti kelas memasak.
Setelah sampai di tujuan, Aleea dan teman-teman barunya berbasa-basi sebentar sambil menyiapkan alat tulis dan alat memasak mereka.
Hari itu, Aleea akan belajar membuat kue untuk kedua kalinya. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya kue buatan Aleea selesai dibuat.
Aleea mendapat nilai yang cukup bagus sebagai seseorang yang masih asing dengan dunia bakery.
Aleea kemudian menghias kue itu dengan hiasan sederhana karena ia belum begitu berbakat dalam hal menghias kue.
"Pak, kita ke kantor Nathan ya!" ucap Aleea pada pak supir.
Setelah beberapa lama perjalanan, Aleeapun sampai di tempat kerja Nathan. Aleea segera berjalan masuk dengan membawa kue buatannya.
Namun saat sampai di depan ruangan Nathan, Aleea tidak melihat keberadaan Nathan di dalam ruangannya.
"Kemana dia? apa sedang makan siang?" tanya Aleea sambil memperhatikan sekitarnya.
"Aleea!"
"Hai Evan," sapa Aleea.
"Apa yang kau lakukan disini? apa kau mencari Nathan?" tanya Evan.
"Iya, apa dia sedang makan siang?" balas Aleea.
"Dia pergi meeting di luar kantor sebelum jam makan siang dan sepertinya dia baru akan kembali setelah jam makan siang," jelas Evan.
"Apa dia pergi bersama Vina?" tanya Aleea.
"Mmmm..... kau ingin jawaban jujur atau bohong?" balas Evan bertanya dengan tersenyum.
Aleea hanya membalas senyuman Evan sambil menggelengkan kepalanya. Aleea sudah bisa menerka jika Nathan pergi bersama Vina.
"Jika kau tidak keberatan, bisakah kau memberikan ini pada Nathan saat dia kembali nanti?" ucap Aleea sekaligus bertanya sambil memberikan sebuah paper bag yang berisi kue buatan Aleea dari kelas memasak.
__ADS_1
"Tentu saja, aku akan memberikannya pada Nathan," jawab Evan.
"Terima kasih Evan, kalau begitu aku pergi dulu!" ucap Aleea yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Evan.
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 2 siang saat Nathan baru saja sampai di kantor. Melihat Nathan yang sudah kembali, Evanpun segera masuk ke ruangan Nathan dengan membawa paper bag yang Aleea titipkan padanya.
"Aleea membawa ini untukmu," ucap Evan sambil memberikannya pada Nathan.
"Apa dia kesini?" tanya Nathan.
"Iya, saat jam makan siang tadi, tapi dia segera pergi setelah aku memberi tahunya jika kau sedang meeting di luar kantor," jawab Evan.
Nathan menganggukkan kepalanya pelan sambil membuka paper bag di mejanya lalu menggesernya menjauh.
"Kenapa?" tanya Evan yang melihat raut wajah Nathan yang tampak tidak menyukai apa yang ada di dalam paper bag itu.
"Buang saja, aku tidak suka," jawab Nathan yang membuat Evan segera mengambilnya dan membukanya.
"Hmmm.... dari baunya saja sudah sangat enak, apa kau tidak mau mencobanya?" ucap Evan sekaligus bertanya.
"Aku masih kenyang, lagi pula aku tidak suka makanan manis," jawab Nathan yang mulai fokus dengan komputer di hadapannya.
"Tapi Aleea membawanya kesini untukmu Nathan, bahkan mungkin ini adalah hasil dari kelas memasaknya!" ucap Evan.
"Aku tidak peduli Evan, makan saja jika kau mau atau buang saja!" balas Nathan.
"Baiklah, tapi lebih baik kau memberi tahunya jika kau tidak menyukai makanan manis agar dia tidak perlu membawanya lagi kesini untukmu," ucap Evan lalu keluar dari ruangan Nathan.
Evan kemudian masuk ke ruangannya dengan membawa kembali paper bag yang berisi kue. Di dalam ruangannya Evan mengeluarkan kue itu dari dalam paper bag dan menatapnya untuk beberapa saat.
"Dia pasti baru membuatnya," ucap Evan dengan tersenyum tipis saat melihat hiasan kue yang terlihat kurang rapi.
Setelah membersihkan tangannya dengan hand sanitizer, Evan kemudian mencoba kue di hadapannya.
"Hmmm.... enak, walaupun tampilannya tidak begitu meyakinkan, tapi rasanya cukup enak," ucap Evan yang kembali mengambil lebih banyak kue di hadapannya dan memakannya sampai hampir habis.
__ADS_1
"Aaahhh aku terlalu banyak memakan kue ini, lebih baik aku membawanya pulang saja," ucap Evan lalu menutup kembali kotak kuenya dan memasukkannya ke dalam paper bag.