
Jam menunjukkan pukul 10 siang saat Nathan baru saja meninggalkan ruangan meeting bersama Vina di perusahaan lain.
Nathan kemudian mengendarai mobilnya untuk kembali ke perusahaannya bersama Vina yang duduk di sampingnya.
"Apa kau masih belum merubah keputusanmu Vina?" tanya Nathan pada Vina.
Vina hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.
"Kau bisa mendapatkan apapun yang kau mau Vina, kenaikan gaji, cuti setiap bulan dan....."
"Yang aku mau hanya kau, Nathan!" ucap Vina memotong ucapan Nathan.
"Berhentilah mengatakan hal itu Vina, tidak ada yang bisa aku lakukan jika kau selalu mengatakan hal itu, aku sudah memiliki istri dan aku tidak mungkin menduakannya!" ucap Nathan.
"Mari bicarakan hal ini dengan profesional, oke?" lanjut Nathan.
"Kalau begitu tanda tangani saja surat pengunduran diriku, bukankah kau bisa mendapatkan pegawai baru dengan mudah!" balas Vina.
"Mendapatkan pegawai baru memang mudah, tapi aku tidak yakin jika dia bisa bekerja sebaik dirimu," ucap Nathan
__ADS_1
Vina hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun. Ia tidak akan merubah keputusannya dengan mudah meskipun sebenarnya ia tetap ingin bertahan di perusahaan itu agar bisa tetap berada dekat dengan Nathan.
"Aku sudah menjatuhkan harga diriku di depanmu Nathan jadi aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu," ucap Vina dalam hati.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai di kantor.
"Waktuku disini hanya tinggal satu Minggu Nathan, dengan atau tanpa tanda tanganmu aku akan tetap keluar dari perusahaan ini," ucap Vina lalu keluar dari mobil Nathan.
Nathan hanya menghela nafasnya kesal, ia tidak tau apa yang harus dia lakukan untuk membuat Vina tetap bertahan di perusahaan karena sangat sulit baginya untuk menuruti permintaan Vina.
Di ruangannya, Nathan sedang mengerjakan pekerjaannya dan tak lama kemudian Evan masuk ke ruangannya.
Nathan hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun lalu membaca berkas yang Evan berikan padanya.
"Selama ini hanya Vina dan Evan yang aku percaya untuk menghandle semua ini, apa yang akan terjadi jika Vina benar-benar meninggalkan perusahaan ini?" batin Nathan bertanya dalam hati sambil memijit keningnya.
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 12 siang saat Nathan masih fokus dengan pekerjaannya. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruangannya, membuat Nathan membawa pandangannya ke arah pintu dan mendapati Aleea yang masuk ke ruangannya.
"Apa aku mengganggu?" tanya Aleea penuh senyum.
__ADS_1
"Tidak, tapi aku sedang mengerjakan pekerjaan yang harus aku selesaikan," jawab Nathan yang kembali fokus dengan komputer di hadapannya.
"Aku kesini untuk memberikan ini untukmu, ini adalah kue yang....."
"Bukankah aku sudah memberi tahumu jika aku tidak menyukai makanan manis?" tanya Nathan memotong ucapan Aleea dengan menatap kue yang baru saja diletakkan di atas meja oleh Aleea.
"Aku tau, aku....."
"Pergilah!" ucap Nathan yang tidak membiarkan Aleea melanjutkan ucapannya.
Nathan kemudian beranjak dari duduknya dan membuka pintu ruangannya agar Aleea keluar.
Aleeapun beranjak dari duduknya, namun ia tetap memberikan kue itu pada Nathan sebelum ia keluar dari ruangan Nathan.
"Aku sengaja membuat kue ini dengan sedikit...."
Aleea menghentikan ucapannya saat tiba-tiba Nathan mengambil kue di tangan Aleea dan melemparkannya ke lantai dengan raut wajah yang penuh emosi.
Seketika Aleea terdiam dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1