
Aleea masih berlari sampai ia tiba di rumah sakit. Dengan napasnya yang masih tersengal-sengal, Aleea masuk ke ruangan Nathan dan sudah tidak mendapati Vina disana.
Di sisi lain, Nathan yang sejak tadi duduk di atas ranjang untuk menunggu Aleea seketika membawa pandangannya ke arah Aleea saat Aleea baru saja masuk ke ruangannya.
"Aleea, ada apa denganmu? apa yang terjadi?" tanya Nathan yang melihat Aleea tampak panik dan berkeringat dengan napasnya yang terdengar tak beraturan.
"Aku..... aku baru saja dikejar seseorang," jawab Aleea yang masih berusaha untuk menenangkan dirinya.
Nathan kemudian duduk di tepi ranjangnya, mengambil minuman yang ada di meja lalu memberikannya pada Aleea.
"Minum dulu dan duduklah," ucap Nathan sambil meminta Aleea untuk duduk.
Aleea minum sampai habis tak bersisa lalu duduk di kursi yang ada di dekat ranjang Nathan.
Tiba-tiba Aleea meraih tangan Nathan lalu membawanya ke dadanya.
"Apa kau merasakannya? aku benar-benar sangat takut tadi!" ucap Aleea yang masih memegang tangan Nathan di dadanya.
Nathan yang terkejut dengan apa yang Aleea lakukan hanya diam tanpa mengatakan apapun.
"Aaahhh maafkan aku, aku..... terlalu panik!" ucap Aleea yang sadar dengan apa yang dia lakukan dan segera melepaskan tangan Nathan.
"Siapa yang mengejarmu, Aleea?" tanya Nathan.
"Aku tidak tahu, aku bahkan tidak sempat melihat wajahnya," jawab Aleea.
Aleea kemudian menjelaskan tentang apa yang terjadi di gang dengan lampu temaram yang dia lewati tadi.
"Awalnya aku tidak tahu jika ada yang mengikutiku sampai akhirnya aku sadar jika seseorang di belakangku itu sedang mengikutiku, bahkan ikut berlari saat aku berlari!" jelas Aleea di akhir ceritanya.
"Dia memanggil namamu? kenapa dia mengetahui namamu? apa kau mengenalnya?" tanya Nathan.
"Tentu saja aku tidak mengenalnya, mungkin dia mengetahui namaku karena dia mengikutiku sejak aku berada di tempat peramal," jawab Aleea.
"Tempat peramal?" tanya Nathan dengan mengernyitkan keningnya.
"Iya, peramal pinggir jalan, dia menanyakan namaku, usia dan lain-lain, jadi pasti laki-laki itu mengetahui namaku dari sana, itu artinya dia sudah mengawasiku sejak aku disana," jelas Aleea.
"Apa benar seperti itu? apa benar dia mengikuti Aleea sejak saat itu? atau mungkin dia adalah seseorang yang mengenal Aleea?" batin Nathan dalam hati.
"Untung saja aku sigap menendang bagian perutnya dan segera berlari kabur," ucap Aleea.
"Apa kau bodoh Aleea? kau hampir memberikan setengah identitasmu pada peramal pinggir jalan yang bisa jadi bersekongkol dengan penjahat!" ucap Nathan.
"Aku hanya ingin mencobanya Nathan, aku tidak tahu jika ada yang berniat jahat padaku," balas Aleea membela diri.
"Percaya pada peramal adalah hal paling bodoh Aleea dan sepertinya semua hal bodoh ada pada dirimu!" ucap Nathan.
"Siapa yang bilang aku mempercayainya? aku hanya mencobanya saja, aku mendengar semua yang peramal itu katakan tapi aku tidak pernah mempercayainya!" balas Aleea.
"Jika kau tidak mempercayainya kenapa kau mendatanginya bahkan menjawab semua pertanyaannya dengan jujur, kenapa kau membuang waktumu hanya untuk hal bodoh itu?"
"Kenapa? karena aku tidak mempunyai tujuan lain, karena ada wanitamu yang menemanimu disini!" balas Aleea dengan menatap tajam Nathan yang duduk di hadapannya.
"Berhenti mengatakan Vina wanitaku, aku tidak ada hubungan apapun dengannya!" ucap Nathan.
"Tidak memiliki hubungan apapun? dia bahkan sudah menciummu di depan rumah dan kau membawanya kesini sampai menyiapkan hotel untuknya, itu yang kau sebut tidak ada hubungan?" balas Aleea sambil beranjak dari duduknya.
"Aku memang tidak ada hubungan apapun selain masalah pekerjaan, dia....."
"Berhentilah membela diri Nathan, aku tidak peduli bagaimana hubunganmu dengannya, aku hanya terlalu muak mendengarmu menyangkal apa yang sudah jelas di depan mataku!" ucap Aleea memotong ucapan Nathan.
"Tapi......"
"Diam dan beristirahatlah, ini sudah malam, aku akan menemui dokter untuk menanyakan keadaanmu pada dokter!" ucap Aleea yang tidak ingin mendengar apapun yang Nathan katakan.
Nathanpun diam dan membaringkan badannya di ranjang, sedangkan Aleea keluar dari ruangan Nathan untuk menemui dokter.
Setelah beberapa lama mendengar penjelasan dokter, Aleeapun kembali masuk ke ruangan Nathan.
"Kenapa kau kembali lagi?" tanya Nathan yang melihat Aleea masuk ke ruangannya.
"Apa kau lebih suka Vina yang menemanimu disini?" balas Aleea bertanya.
"Tentu saja tidak, tidak bisakah kau menjawab saja pertanyaanku?"
"Sudah pasti aku menemanimu disini Nathan, aku akan disini sampai kau diperbolehkan meninggalkan rumah sakit, apa itu mengganggumu?" balas Aleea.
"Kau bisa kembali ke hotel jika kau mau, bukankah kau sudah tidak peduli pada orang suruhan mama yang bisa jadi masih mengawasi kita?"
"Apa kau sangat ingin aku pergi dari sini?" tanya Aleea dengan membawa pandangannya menatap Nathan.
__ADS_1
"Lebih baik kau kembali ke hotel," jawab Nathan.
Aleea menghela napasnya panjang lalu beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan Nathan, bukan untuk kembali ke hotel tetapi untuk duduk di kursi yang ada di depan ruangan Nathan, tanpa Nathan ketahui.
Di sisi lain, Nathan hanya diam menatap Aleea yang ia pikir benar-benar meninggalkannya.
"Dia benar-benar pergi," ucap Nathan dalam hati dengan raut wajah yang seolah ingin menahan Aleea agar tetap berada di dalam ruangannya.
Nathan menghela napasnya panjang lalu menarik selimutnya.
"Biarkan saja, aku tidak peduli!" ucap Nathan lalu memejamkan matanya.
Di depan ruangan Nathan, Aleea duduk lalu mengirim pesan pada Evan.
"Sepertinya dia lebih suka jika Vina yang merawatnya disini, dia bahkan memintaku untuk pergi dari ruangannya!"
Biiiiippp biiiipp biiiiipp
Ponsel Aleea berdering, sebuah panggilan masuk dari Evan.
"Halo Aleea, dimana kau sekarang?" tanya Evan setelah Aleea menerima panggilannya.
"Di rumah sakit, di depan ruangan Nathan," jawab Aleea tak bersemangat.
"Apa ada Vina disana?" tanya Evan.
"Tidak ada, sepertinya dia sudah kembali ke hotel, tadi siang dia berada disini, menemani Nathan," jawab Aleea.
"Kenapa dia bisa tau jika Nathan ada di rumah sakit? apa Nathan yang memberi tahunya?" tanya Evan.
"Aku sendiri yang memberi tahunya," jawab Aleea.
"Kenapa kau memberi tahunya Aleea? seharusnya biarkan saja dia tidak mengetahui keberadaan Nathan, dia....."
"Kenapa aku tidak boleh memberi tahunya? dia datang kesini atas permintaan Nathan, bahkan Nathan menyiapkan hotel untuknya menginap selama dia disini!" ucap Aleea memotong ucapan Evan.
"Apa benar Nathan yang melakukannya? apa Vina yang mengatakan hal itu padamu?" tanya Evan meragukan ucapan Aleea.
"Nathan bahkan tidak menyangkal saat aku mengatakan hal itu padanya dan sekarang dia memintaku untuk pergi, apa sebaiknya aku menghubungi Vina dan memintanya untuk kesini?"
"Tidak Aleea, jangan melakukan hal itu, tetap disana karena hanya kau yang berhak untuk menjaga Nathan!" balas Evan.
"Tapi dia tidak menginginkan aku disini!" ucap Aleea.
Aleea hanya menghela napasnya panjang tanpa mengatakan apapun.
"Aleea....." panggil Evan karena tidak mendengar suara Aleea.
"Berisitirahatlah Evan, maaf sudah mengganggumu!"
Klik.
Aleea mengakhiri panggilannya begitu saja lalu menonaktifkan ponselnya.
Waktu berlalu, malampun semakin larut. Aleea tidur di kursi yang berjajar di depan ruangan Nathan tanpa Nathan tahu.
Saat matahari sudah terbit dan Nathan sudah terbangun dari tidurnya. Ia merasa begitu bosan di dalam ruangannya.
Nathan kemudian beranjak dari ranjangnya dan berjalan keluar dengan membawa tiang selang infusnya.
Saat baru saja membuka pintu, Nathan begitu terkejut karena melihat Aleea yang tidur di kursi yang ada di depan ruangannya dengan posisi duduk.
Nathanpun segera mendekat dan berusaha membangunkan Aleea dengan pelan.
"Aleea, bangunlah Aleea!" ucap Nathan sambil menyentuh pelan tangan Aleea.
Aleea yang terkejut segera membuka matanya dan beranjak dari duduknya.
"Nathan!" ucap Aleea terkejut karena alam bawah sadarnya khawatir jika terjadi sesuatu pada Nathan.
"Kembalilah duduk Aleea, kau baru bangun!" ucap Nathan sambil menarik tangan Aleea agar kembali duduk.
Aleeapun kembali duduk dan baru sadar jika yang membangunkannya adalah Nathan.
"Astaga Nathan, kau membuatku terkejut!" ucap Aleea sambil memijit kepalanya yang terasa pusing karena bangun dengan tiba-tiba.
"Apa yang kau lakukan disini? sejak kapan kau tidur disini?" tanya Nathan.
"Sejak kau mengusirku," jawab Aleea sambil menguap.
"Aku masih sangat mengantuk Nathan, punggungku terasa sakit semua," lanjut Aleea sambil melakukan sedikit peregangan.
__ADS_1
"Masuklah, tidurlah di dalam jika kau tidak mau kembali ke hotel," ucap Nathan.
Tanpa basa basi, Aleea segera beranjak dari duduknya lalu masuk ke ruangan Nathan dan merebahkan badannya di sofa.
"Aaahhh nyaman sekali," ucap Aleea sambil memejamkan matanya.
Nathan yang melihat hal itu hanya diam dengan menggelengkan kepalanya pelan. Ia yang semula ingin keluar untuk menghirup udara segar kini kembali duduk di tepi ranjangnya dengan menatap Aleea yang sudah tampak tertidur nyenyak.
"Kenapa dia tidak kembali ke hotel? Padahal aku sudah memintanya untuk kembali ke hotel tetapi dia malah tidur di kursi itu semalaman, benar-benar gadis bodoh!"
Tak lama kemudian dokter datang untuk memeriksa keadaan Nathan dan memberi tahu jika keadaan Nathan sudah semakin membaik dan kemungkinan besar besok pagi ia sudah diperbolehkan untuk meninggalkan rumah sakit.
Setelah dokter meninggalkan ruangannya, Nathan hanya diam menatap Aleea yang tidur dengan nyenyak, bahkan kedatangan dokter dan beberapa suster sama sekali tidak membuat Aleea terbangun.
"Dia pasti sangat kelelahan, setelah berlari karena seseorang yang mengejarnya, dia harus tidur dengan posisi duduk di kursi," ucap Nathan dalam hati.
Nathan kemudian teringat cerita Aleea semalam, tentang seorang laki-laki yang mengejar Aleea dan memanggil nama Aleea.
Untuk beberapa saat Nathan terdiam, ada hal baru yang terpikirkan olehnya saat itu, tentang laki-laki yang Aleea pikir laki-laki jahat.
Nathan tiba-tiba teringat cerita Rania padanya tentang Aleea yang datang ke Paris untuk menemui tunangannya yang berkuliah di Paris.
"Apa jangan-jangan laki-laki yang mengejar Aleea semalam adalah...... Tunangannya?" Batin Nathan bertanya dalam hati.
DEG DEG DEG!!
Jantung Nathan tiba-tiba berdetak sangat cepat, ada perasaan aneh yang ia rasakan saat itu. Meskipun belum pasti, tetapi masih ada kemungkinan jika benar laki-laki yang mengajar Aleea semalam adalah tunangan Aleea yang tidak sengaja melihat Aleea disana.
"Aku tidak boleh membiarkan Aleea bertemu dengan tunangannya, meskipun dulu tunangannya mengabaikannya, bukan tidak mungkin jika tunangannya akan mendekati Aleea lagi!" Ucap Nathan dalam hati.
**
*Flashback saat Aleea masuk ke gang sepi.*
Bryan berjalan kaki di trotoar setelah ia menghabiskan waktunya di bar bersama teman-temannya.
Saat akan berbelok ke arah gang yang sering ia lewati, Bryan melihat seseorang yang tidak asing dimatanya.
"Aleea!" ucapnya pelan saat ia melihat Aleea yang berjalan memasuki gang yang sama seperti yang sering ia lewati.
"Apa benar dia Aleea?" batin Bryan bertanya dalam hati sambil membawa langkahnya berada di belakang Aleea.
Untuk beberapa saat Bryan hanya berjalan pelan mengikuti langkah Aleea yang juga pelan saat itu.
Namun tiba-tiba Aleea mulai mempercepat langkahnya, membuat Bryan ikut mempercepat langkahnya dan akhirnya berlari mengejar Aleea yang tiba-tiba saja berlari.
Dengan cepat Bryan menahan tangan Aleea dan saat itulah Bryan yakin jika perempuan di hadapannya saat itu adalah Aleea.
"Aleea!"
Namun tiba-tiba Aleea menendang perut Bryan sebelum Bryan sempat mengatakan apapun.
Alhasil, Bryanpun mengaduh kesakitan sambil memegangi perutnya, membiarkan Aleea yang berlari pergi meninggalkannya.
"Aaarrgghh..... sialaaaann!!!!" umpat Bryan kesal.
Dengan tertatih, Bryan melanjutkan langkahnya sambil tetap memegangi perutnya yang terasa sakit saat itu.
Sampai akhirnya Bryan tiba di ujung gang dan mengedarkan pandangannya untuk mencari Aleea yang sudah pasti berlari jauh darinya.
"Kenapa Aleea ada disini? apa dia mencariku? tapi kenapa dia menendangku? apa karena dia ingin diam-diam mencari tahu tentangku?" tanya Bryan pada dirinya sendiri.
Bryan kemudian membawa dirinya pulang ke tempat tinggalnya. Sesampainya disana, Bryan segera mencari nama Aleea di penyimpanan kontaknya lalu menghubunginya namun tidak tersambung.
"Aku sudah lama tidak berhubungan lagi dengannya, dia pasti sudah merubah kontaknya!" ucap Bryan sambil membaringkan dirinya di ranjang.
Tiba-tiba memorinya mengulas kebersamaannya bersama Aleea di masa lalu, tanpa ia sadar sebuah senyum tersungging di bibirnya, namun hilang hanya dalam hitungan detik.
"Apa yang terjadi padanya saat itu?" tanya Bryan saat ia mengingat apa yang terjadi pada Aleea saat mereka terakhir kali bertemu.
"Apa aku sudah sangat keterlaluan saat itu?" tanya Bryan yang mulai merasa bersalah dengan apa yang pernah ia lakukan pada Aleea.
Bryan ingat bagaimana Aleea datang menemuinya di bar saat ia sedang bersama Rania, kekasihnya atau bisa dibilang selingkuhannya karena sebenarnya Bryan masih berstatus sebagai tunangan Aleea saat itu.
Pada awalnya Bryan hanya ingin bersenang-senang dengan Rania karena Aleea yang berada jauh darinya.
Namun semakin lama Bryan merasa nyaman bersama Rania dan perlahan mengabaikan Aleea.
Bryan tidak menyangka jika akhirnya Aleea akan datang menemuinya disana dan membuatnya malu di depan semua teman-temannya.
Karena kemarahannya yang sesaat itu Bryan tanpa sadar melakukan kesalahan besar yang membuat Aleea mengalami kecelakaan.
__ADS_1
Bryan yang melihat hal itu dari jauh hanya diam, sebagai seorang mahasiswa, dia tidak ingin berurusan dengan pihak kepolisian jika ia terlibat dengan kecelakaan itu.
*Flashback off*