
Nathan menggendong Aleea menaiki tangga ke arah kamar Aleea dengan diikuti bibi. Namun saat bibi akan membuka pintu kamar Aleea, ternyata pintu kamarnya terkunci.
"Pintunya terkunci tuan," ucap bibi pada Nathan.
Nathan kemudian memperhatikan Aleea yang ada dalam gendongannya dan menyadari jika Aleea tidak membawa tas saat itu.
"Tolong bukakan pintu kamar Nathan saja bi!" ucap Nathan pada bibi.
Bibipun membuka pintu kamar Nathan yang tidak terkunci dan Nathanpun segera membawa Aleea masuk lalu membaringkan Aleea di atas ranjangnya.
Setelah bibi pergi, Nathan duduk di tepi ranjangnya, menarik selimut dan memakaikannya pada Aleea.
"Dia tidur dengan sangat nyenyak, seperti pingsan saja!" ucap Nathan dengan tersenyum tipis.
Nathan kemudian masuk ke kamar mandi, sekedar membasuh wajahnya karena ia harus segera mengerjakan beberapa pekerjaannya.
Nathan mengambil tas kerjanya, mengambil laptop dan beberapa map dari dalam tasnya lalu membawa dirinya duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya,
Untuk pertama kalinya Nathan memilih untuk mengerjakan pekerjaannya di dalam kamar daripada di ruang kerjanya.
Sesekali Nathan membawa pandangannya menatap Aleea, entah kenapa memperhatikan Aleea menjadi hal yang menyenangkan baginya.
Bahkan tanpa sadar Nathan tersenyum saat melihat Aleea yang hanya terpejam pulas dalam tidurnya.
__ADS_1
"Fokus Nathan!" ucap Nathan dengan menghela napasnya panjang lalu kembali fokus dengan laptop dan berkas-berkas di dekatnya.
Hampir satu jam Nathan berkutat dengan pekerjaannya. Sesekali ia mulai menguap karena mengantuk, mengingat jam sudah menunjukkan lewat tengah malam.
Nathan kemudian membereskan berkas-berkasnya dan menaruh laptopnya di atas meja.
Sebelum ia tidur, ia membawa dirinya duduk di tepi ranjangnya, diam menatap menatap Aleea yang masih terpejam sejak tadi.
Tiba-tiba memorinya mengulas kembali mimpi gilanya saat ia berada di Paris bersama Aleea.
"Mimpi itu terasa sangat nyata meskipun aku tau itu hal yang sangat gila," ucap Nathan dalam hati.
Nathan menghela napasnya panjang lalu beranjak dan membawa dirinya berbaring di sofa.
Malam yang semakin larut akhirnya membawa Nathan menyelami mimpi indahnya.
Pagipun tiba, Aleea yang tidur dengan sangat nyenyak akhirnya bangun dari tidurnya.
Aleea mengerjapkan kedua matanya dan meregangkan kedua tangan dan kakinya.
Saat kedua matanya sudah benar-benar terbuka, Aleea seketika beranjak dari tidurnya saat ia menyadari jika ia berada di kamar Nathan.
"Kenapa aku ada disini?" batin Aleea bertanya dalam hati.
__ADS_1
Aleea terdiam untuk beberapa saat, berusaha menggali ingatannya tentang apa yang terjadi semalam.
"Sepertinya aku sudah tertidur saat masih di dalam mobil, kenapa dia tidak membangunkanku? apa dia menggendongku kesini? tapi kenapa kesini? kenapa tidak ke kamarku?" batin Aleea dengan penuh tanda tanya.
Aleea kemudian mencari tasnya dan tidak menemukannya dimanapun.
"Astaga, dimana tasku?" tanya Aleea pada dirinya sendiri.
Aleea kemudian membawa pandangannya pada Nathan yang masih tampak tertidur nyenyak, dengan pelan Aleea beranjak dari ranjang lalu keluar dari kamar Nathan.
Aleea membawa langkahnya ke arah kamarnya, berniat untuk membuka pintu kamarnya, namun tidak bisa terbuka
"Kamarku masih terkunci, apa mungkin tasku tertinggal di dalam mobil?" tanya Aleea pada dirinya sendiri.
Aleea kemudian kembali ke kamar Nathan untuk mencari kunci mobil Nathan, namun ia tidak menemukannya di atas meja.
Aleeapun membawa pandangannya ke arah saku celana Nathan dan Aleea ingat, pakaian yang Nathan kenakan saat itu adalah pakaian yang sama yang Nathan kenakan saat di bazar.
Tanpa berpikir panjang, Aleeapun mendekat dan dengan pelan Aleea mulai meraba kantong celana Nathan di bagian depan.
"Aaahh ini dia," ucap Aleea pelan lalu memasukkan tangannya ke dalam saku celana Nathan.
Namun tiba-tiba, sebuah tangan mencengkeram tangan Aleea dengan kuat, membuat Aleea begitu terkejut dan segera membawa pandangannya ke arah si pemilik tangan.
__ADS_1