
Aleea masih berusaha untuk membujuk Nathan agar merubah atau membatalkan kesepakatan yang sudah mereka berdua tanda tangani
Namun berbeda dengan Aleea, Nathan justru berusaha untuk membuat Aleea agar menerima kesepakatan yang sebenarnya adalah kesepakatan palsu yang sengaja Nathan persiapkan untuk membuat Aleea tetap bersamanya.
"Aku sangat mencintaimu Aleea, jika tidak mungkin aku akan meninggalkanmu di Paris saat kau kritis, tapi aku tetap menjagamu disana dan aku tetap menemanimu meskipun kau sama sekali tidak mengingatku," ucap Nathan.
Aleea hanya diam tanpa mengatakan apapun. Dalam hatinya ia memikirkan apa yang baru saja Nathan katakan padanya.
"Dia benar, bisa saja dia meninggalkanku di Paris saat itu, apa lagi saat dia tahu keadaanku yang hilang ingatan, tapi aku beruntung karena dia masih menemaniku dan menerima keadaanku yang sangat labil saat ini," ucap Aleea dalam hati.
"Jangan terlalu memikirkan apa yang sudah kita berdua sepakati Aleea, meskipun kau sudah melupakannya, kau hanya perlu mengingatnya kembali dengan membaca apa yang ada di dalam map itu, aku yakin lambat laun kau akan bisa menerima semua ini," ucap Nathan.
Aleea menghela nafasnya panjang lalu menganggukkan kepalanya pelan. Meskipun sebenernya ia merasa ragu untuk menerima semua hal yang tertulis di dalam map itu.
"Mari menjalani pernikahan kita dengan bahagia Aleea, seiring dengan berjalannya waktu kau pasti akan terbiasa dengan pernikahan kita yang mungkin saat ini tidak membuatmu tidak nyaman," ucap Nathan dengan menggenggam tangan Aleea.
Aleea hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun, karena memang tidak ada yang bisa ia lakukan untuk membujuk Nathan merubah ataupun menghilangkan kesepakatan yang sudah ada.
Nathan kemudian beranjak dari duduknya sambil menarik tangan Aleea.
"Ayo makan, sepertinya bibi sudah selesai memasak," ucap Nathan lalu keluar dari kamar Aleea dengan menggandeng tangan Aleea.
Mereka berduapun menikmati makanan mereka.
"Setelah ini aku akan sibuk di ruang kerja, kau bisa menemuiku di ruang kerja jika kau membutuhkanku," ucap Nathan setelah ia menghabiskan makanannya.
"Bukankah kau masih cuti sekarang?" tanya Aleea.
"Aku memang cuti dari kantor Aleea, tapi aku tidak bisa mengabaikan pekerjaan dan tanggung jawabku sebagai CEO," jawab Nathan.
"Lalu apa yang bisa aku lakukan di rumah sebesar ini jika kau sibuk dengan pekerjaanmu sendiri?" tanya Aleea.
"Lakukan apapun yang kau mau, aku tidak akan melarangnya selama kau tetap berada di dalam rumah," jawab Nathan.
"Apa itu artinya aku tidak boleh meninggalkan rumah ini, bahkan sedetikpun?" tanya Aleea.
"Tentu saja tidak seperti itu, kau bisa keluar rumah hanya bersamaku atau bersama supir yang akan mengantar kemanapun kau mau dan tentunya atas izinku," jawab Nathan.
"Baiklah," balas Aleea dengan menganggukkan kepalanya tak bersemangat.
__ADS_1
"Aku harap kau tidak marah karena kita belum bisa bulan madu," ucap Nathan.
"Tidak, aku sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu," balas Aleea.
"Baguslah kalau begitu, karena sangat banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan, jadi aku tidak bisa berlama-lama mengambil cuti," ucap Nathan
"Aku mengerti," balas Aleea.
Setelah mengobrol beberapa saat, Nathan kemudian menaiki tangga menuju ke ruang kerjanya. Sedangkan Aleea masih duduk di tempatnya, memikirkan apa yang bisa ia lakukan untuk membunuh waktunya yang membosankan.
Aleea kemudian beranjak dari duduknya untuk mengelilingi setiap sudut rumah mewah itu.
Tidak disangka, hanya dengan berjalan mengelilingi rumah saja sudah membuatnya cukup lelah.
Aleea kemudian duduk di teras rumah dan melihat halaman rumah yang hanya ditumbuhi rumput hias serta beberapa pohon kecil di sekitarnya.
"Aku tau apa yang harus aku lakukan," ucap Aleea penuh semangat.
Aleea kemudian beranjak dari duduknya lalu segera berlari kecil ke arah ruang kerja Nathan.
Aleea mengetuk pintu beberapa kali hingga akhirnya Nathan memintanya untuk masuk.
"Ada apa Aleea?" tanya Nathan dengan pandangannya yang masih menatap layar komputer di hadapannya.
Menyadari pertanyaan sarkas dari Aleea, Nathan kemudian menghentikan kesibukannya lalu beranjak dari duduknya.
Nathan memegang kedua bahu Aleea lalu menatap kedua mata Aleea.
"Apa yang ingin kau bicarakan Aleea?" tanya Nathan.
Aleea tersenyum lalu melepaskan tangan Nathan dari kedua bahunya.
"Bolehkan aku menanam bunga di taman depan?" tanya Aleea.
"Bunga? bunga apa yang ingin kau tanam?" balas Nathan bertanya.
"Mmmm.... aku belum tau pasti, tapi aku ingin menanam bermacam-macam bunga disana," jawab Aleea.
"Baiklah, jika itu membuatmu senang maka lakukanlah," ucap Nathan.
__ADS_1
"Jadi apa kau mau mengantarku untuk membeli bunga dan peralatan bertanam lainnya?" tanya Aleea.
"Sekarang?" balas Nathan bertanya yang sebenarnya enggan untuk mengantar Aleea pergi.
"Tentu saja, tapi jika kau sibuk, aku akan menunggumu, aku lebih suka pergi bersamamu, daripada bersama supir," Jawab Aleea.
"Oke baiklah, kita pergi sekarang, aku akan menyimpan pekerjaanku lebih dulu," ucap Nathan lalu menyimpan hasil pekerjaannya lalu keluar dari ruang kerjanya bersama Aleea.
Aleea dan Nathanpun meninggalkan rumah, mereka pergi untuk membeli berbagai jenis bunga dan banyak peralatan berkebun yang Aleea butuhkan.
"Bodoh sekali, kenapa aku melakukan hal konyol ini, membuang waktu saja," batin Nathan menggerutu saat ia menemani Aleea yang sedang memilih bunga.
Berbeda dengan Nathan yang merasa bosan, Aleea justru bersemangat dengan apa yang ia lakukan saat itu.
Ia memilih berbagai macam bunga yang ia suka, ia juga membeli banyak peralatan berkebun yang akan ia butuhkan untuk merawat bunga dan tanaman di rumah Nathan.
Setelah mendapatkan semua yang Aleea inginkan, Nathanpun mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya
"Apa ada yang lain yang ingin kau beli?" tanya Nathan pada Aleea.
"Aku sudah membeli semuanya," jawab Aleea penuh senyum.
"Sepertinya ini pertama kalinya aku melihatmu sangat ceria sejak kau meninggalkan rumah sakit, apa kau sangat bahagia karena sudah membeli banyak bunga?" ucap Nathan sekaligus bertanya.
"Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membuang kebosananku di rumah, jadi aku sangat bersemangat untuk memulainya," balas Aleea.
"Kau akan menemaniku menanam bunga-bunga itu bukan?" lanjut Aleea bertanya.
Nathan hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan tersenyum canggung tanpa mengatakan apapun, karena ia sama sekali tidak suka bersentuhan dengan hal-hal yang dianggapnya kotor dan berkebun adalah kegiatan yang sangat ia benci.
Sesampainya mereka di rumah, tak lama kemudian pick up yang mengantar bunga-bunga pesanan Aleeapun datang.
Setelah semua bunga dan peralatan berkebun yang Aleea beli sudah ada di hadapannya, Aleeapun segera mengajak Nathan untuk mulai mengeksekusi bunga-bunga itu.
"Nathan, ayo kita......"
"Halo.... iya......"
Aleea menghentikan ucapannya saat melihat Nathan yang tiba-tiba menerima panggilan di ponselnya.
__ADS_1
"Maaf Aleea, aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku, kau bisa mengajak tukang kebun kita untuk membantumu," ucap Nathan yang segera berlari masuk ke dalam rumah.
Aleea hanya diam di tempatnya berdiri dengan menatap Nathan yang sudah menghilang dari pandangannya.