Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Rencana Vina


__ADS_3

Tak berapa lama setelah Evan masuk ke kamar Aleea, Aleea mulai mengerjap dan perlahan membuka matanya.


"Kau sudah sadar Aleea?" tanya Evan yang segera mendekati Aleea.


"Evan, kenapa kau ada disini?" tanya Aleea sambil beranjak dari posisinya yang berbaring, dengan sigap Evanpun membantu Aleea untuk bangun.


"Aku khawatir, aku tiba-tiba tidak mendengar suaramu setelah aku mendengar barang yang jatuh," jawab Evan.


"Aaahhh begitu, maaf sudah membuatmu khawatir Evan," ucap Aleea.


"Tunggu sebentar, aku akan segera kembali!" ucap Evan lalu keluar dari kamar Aleea.


Evan menghampiri bibi, meminta bibi untuk menyiapkan makanan Aleea.


"Jangan lupa untuk membawakan buah untuk Aleea bi," ucap Evan pada bibi.


"Apa sebaiknya bibi juga menghubungi dokter?" tanya bibi.


"Tidak perlu, Aleea pasti lemas karena belum makan sejak kemarin, jika keadaannya tidak membaik setelah makan, bibi baru bisa menghubungi dokter," jawab Evan.


"Baik tuan," balas bibi lalu menyiapkan makanan dan buah-buahan untuk Aleea sesuai perintah Evan, sedangkan Evan segera kembali ke kamar Aleea.


"Bibi memberi tahuku jika kau belum makan sejak semalam, kenapa Aleea?" ucap Evan sekaligus bertanya pada Aleea.


"Aku tidak lapar Evan, aku terbiasa makan malam bersama Nathan, tidak ada Nathan di rumah membuatku malas makan," jawab Aleea.


"Tapi kau harus tetap menjaga kesehatanmu Aleea!" ucap Evan.


"Aku tau, tapi rasanya sepi sekali jika tidak ada Nathan di rumah, walaupun aku hanya bersama dengannya saat pagi dan malam dengan waktu yang sangat singkat, tapi kepergiannya membuatku semakin merasa kesepian," balas Aleea.


"Bersabarlah, Nathan akan segera kembali setelah dia menyelesaikan pekerjaannya," ucap Evan.


"Kau juga bisa menghubungiku jika kau merasa kesepian Aleea, Nathan memintaku untuk menjagamu selama dia pergi, jadi tidak perlu sungkan untuk menghubungiku kapanpun kau membutuhkanku!" lanjut Evan.


Tak lama kemudian bibi datang dengan membawa nampan yang berisi makanan, minuman dan buah-buahan untuk Aleea.


"Terima kasih Bi," ucap Evan pada bibi yang segera keluar dari kamar Aleea.


"Kau harus makan Aleea," ucap Evan sambil memberikan makanan di nampan pada Aleea.


"Bagaimana keadaan Nathan, Evan? apa kau sudah berhasil menghubunginya? dia baik-baik saja bukan?" tanya Aleea sambil menerima makanan dari tangan Evan.


"Dia baik-baik saja, aku sudah menghubungi seseorang untuk menanyakan keadaannya, mungkin ponselnya sedang lowbatt jadi kita tidak bisa menghubunginya," jawab Evan berbohong, karena sebenarnya ia belum mengetahui bagaimana keadaan Nathan.


Evan sengaja berbohong agar Aleea berhenti mengkhawatirkan Nathan.


"Lowbatt sejak pagi? rasanya tidak mungkin!" ucap Aleea sambil melihat jam dinding di kamarnya yang menunjukkan pukul 11 siang.


"Sudahlah, jangan terlalu memikirkannya, makan saja dulu, aku yakin sebentar lagi dia akan menghubungimu!" ucap Evan.


"Tapi aku tidak lapar Evan, aku...."


"Apa perlu aku yang menyuapimu?" tanya Evan memotong ucapan Aleea dengan tersenyum yang segera dibalas gelengan kepala oleh Aleea.


"Makanlah meskipun hanya sedikit Aleea, tapi habiskan buahnya agar tubuhmu tidak lemas!" ucap Evan.


Aleea hanya menganggukkan kepalanya lalu mulai menyendok makanan di hadapannya.


"Kau sangat baik Evan, Nathan pasti sangat beruntung karena bisa bersahabat denganmu," ucap Aleea.


"Aku juga beruntung bisa bersahabat dengannya Aleea," balas Evan.


"Aaahhh iya, sebaiknya kau kembali ke kantor sekarang, bukankah ini masih jam kerja?"


"Sebelum aku pergi, berjanjilah untuk menjaga kesehatanmu Aleea, jangan terlalu memikirkan Nathan, dia pasti bisa menjaga dirinya dengan baik disana!" ucap Evan.


"Iya aku mengerti," balas Aleea dengan menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


Evan kemudian meninggalkan rumah Aleea dan kembali ke kantor. Sesampainya di kantor, Evan bertemu dengan papa Nathan, Aryan Kalandra.


"Evan, om kesini untuk mencarimu!" ucap Aryan pada Evan.


"Mari masuk ke ruangan Evan, om," balas Evan lalu berjalan ke arah ruangannya bersama Aryan.


"Ada apa om mencari Evan? sepertinya penting sekali sampai tidak bisa dibicarakan melalui telepon," tanya Evan.

__ADS_1


"Om kesini karena om baru tau jika Nathan tidak pergi denganmu, apa ada masalah yang terjadi?"


"Tidak ada om, Evan pikir Nathan sudah memberi tahu om Aryan jika dia pergi sendiri," balas Evan.


"Tidak, dia tidak mengatakan apapun pada om, sejak pagi om tidak bisa menghubunginya, om bertanya pada pimpinan yang ada disana dan mereka bilang Nathan tidak datang kesana sejak pagi," jelas Aryan.


"Apa Nathan belum memberikan laporannya pada om Aryan?" tanya Evan.


"Sudah, tapi om hanya ingin memastikan sesuatu, tetapi sejak pagi sampai sekarang dia tidak bisa dihubungi," jawab Aryan.


"Tidak biasanya Nathan seperti ini, kau tau bukan bagaimana dia sangat fokus dengan pekerjaannya, pasti terjadi sesuatu yang membuatnya tidak profesional seperti ini!" lanjut Aryan.


"Evan akan mencoba mencari tahunya om," ucap Evan.


"Tapi apa yang membuatmu tidak pergi bersama Nathan? apa Nathan yang memintamu untuk tetap disini?" tanya Aryan.


"Iya om, Nathan yang meminta Evan tetap disini karena ada beberapa pekerjaan yang harus Evan selesaikan disini dan ada beberapa pertemuan penting yang tidak bisa ditunda, jadi Evan harus datang untuk menggantikan Nathan," jawab Evan beralasan.


"Aaahh begitu, jika kau mengetahui sesuatu yang menyimpang dari Nathan, tolong beri tahu om, Evan!" ucap Aryan.


"Om tau kau sangat dekat dengan Nathan, bahkan lebih dekat daripada om dan tante sebagai orang tuanya," lanjut Aryan.


"Iya om," balas Evan dengan menganggukkan kepalanya pelan.


Setelah beberapa lama mengobrol, Aryan kemudian keluar dari ruangan Evan. Sedangkan Evan segera menghubungi Nathan, namun tidak tersambung.


"Kemana kau sebenarnya Nathan? apa yang sebenarnya sedang kau rencanakan?" batin Evan bertanya dalam hati.


Saat Evan memberikan sebuah berkas pada bawahannya, Evan melihat sekilas ke arah meja kerja Vina.


"Apa kau tau kenapa Vina tiba-tiba mengambil cuti hari ini?" tanya Evan pada teman Vina.


"Sepertinya dia ingin berlibur pak," jawab teman Vina.


"Berlibur kemana?" tanya Evan.


"Sepertinya dia berlibur ke luar pulau, karena sejak kemarin saya melihatnya mencari-cari tempat berlibur di luar pulau," jawab teman Vina.


"Berlibur ke luar pulau? tiba-tiba? bukankah sangat kebetulan jika dia tiba-tiba mengambil cuti di hari yang sama dengan hari dimana Nathan berada di luar pulau?" batin Evan bertanya dalam hati.


"Tidak, terima kasih," jawab Evan lalu kembali ke ruangannya.


Evan menjatuhkan dirinya di kursinya, memikirkan tentang kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.


"Nathan pergi satu hari lebih dulu dibanding hari cuti Vina, mungkin agar tidak ada yang mencurigainya dan hari ini tiba-tiba saja Nathan tidak bisa dihubungi sejak pagi, dia bahkan tidak berada di lapangan, apa mungkin mereka berdua sedang berlibur berdua disana?"


**


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 5 sore saat Evan keluar dari ruangannya sambil memeriksa ponselnya dan menyadari jika pesannya pada Nathan sudah terkirim.


Tanpa menunggu lama, Evanpun segera menghubungi Nathan.


"Kau dari mana saja Nathan? kenapa tidak ada yang bisa menghubungimu sejak pagi?" tanya Evan setelah Nathan menerima panggilannya.


"Aku sibuk," jawab Nathan singkat.


"Sibuk apa? memangnya apa yang kau lakukan disana? kau bahkan tidak pergi ke lapangan bukan?"


Nathan terdiam, tidak ada apapun yang ia katakan karena ia belum menyiapkan alasan yang tepat atas kepergiannya dengan Vina sejak pagi.


"Aleea sangat mengkhawatirkanmu Nathan, dia bahkan tidak makan sejak kemarin malam, apa lagi sejak pagi kau tidak bisa dihubungi, dia hanya memikirkanmu dan mengabaikan dirinya sendiri!" ucap Evan.


"Dia memang selalu berlebihan, sangat menyebalkan!" balas Nathan tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Dia mengabaikan dirinya sendiri sampai dia pingsan karena mengkhawatirkanmu Nathan, apa kau sama sekali tidak merasa bersalah padanya?"


"Aku sudah memberi tahunya jika aku akan sibuk disini, dia saja yang terlalu berlebihan memikirkanku!" balas Nathan.


"Sibuk dengan Vina maksudmu?" tanya Evan yang membuat Nathan begitu terkejut mendengarnya.


"Kenapa tiba-tiba membahas Vina? ini tidak ada hubungan dengan Vina!" balas Nathan.


"Kita sudah lama bersahabat Nathan, aku bahkan lebih banyak mengetahui semua hal tentangmu daripada orang tuamu, jadi percuma jika kau berbohong padaku karena aku pasti mengetahuinya!" ucap Evan.


Nathan hanya diam, ia tidak menyangka jika Evan akan mengetahui apa yang sengaja ia sembunyikan dari Evan.

__ADS_1


Berusaha mengelakpun percuma karena ia yakin jika Evan akan semakin mencurigainya karena ia tau Evan memang selalu peka dengan hal-hal di sekitarnya, terutama pada orang-orang terdekatnya.


"Jadi itu alasanmu melarangku untuk ikut bersamamu? bukan karena untuk menjaga Aleea tapi untuk membiarkanmu bersama Vina disana!"


"Ada sesuatu yang tidak kau tau Evan, aku terpaksa melakukan hal ini!" balas Nathan.


"Kau harus ingat Nathan, jika kau tidak bisa membuka hatimu untuk Aleea, jangan pernah mencoba melakukannya hanya untuk Vina, dia sama sekali tidak layak mendapatkanmu jika dibanding dengan Aleea yang sudah kau rebut seluruh hidupnya!" ucap Evan.


"Aku sama sekali tidak berniat membuka hatiku untuk siapapun Evan, perempuan hanya akan membuat hidupku rumit, kau tau itu!" balas Nathan.


"Apapun itu, cepat hubungi Aleea sekarang agar dia berhenti mengkhawatirkanmu!" ucap Evan lalu mengakhiri panggilannya.


Di tempat lain, setelah Evan mengakhiri panggilannya, Nathanpun kembali duduk di kursinya.


Nathan menghela napasnya panjang lalu menyeruput minuman di hadapannya.


"Apa ada masalah?" tanya Vina yang saat itu sedang berada di kafe bersama Nathan.


"Sebaiknya kita kembali ke hotel," ucap Nathan tanpa menjawab pertanyaan Vina.


"Baiklah," balas Vina yang dengan mudah menuruti ucapan Nathan karena ia tidak ingin membuat Nathan semakin marah padanya.


Apa yang Vina lakukan di pulau beberapa saat yang lalu membuat Nathan begitu marah padanya, Vinapun harus berusaha keras untuk membuat suasana kembali membaik karena ia tidak ingin rencananya untuk menikmati liburan berdua dengan Nathan kacau karena kebodohannya.


Sesampainya di hotel, Nathan dan Vina masuk ke kamar mereka masing-masing. Nathan duduk di tepi ranjangnya sambil memeriksa ponselnya yang mendapat banyak pesan dan panggilan tak terjawab, tidak hanya dari Evan dan Aleea, tapi juga dari sang papa dan beberapa orang lainnya.


Nathan kemudian menghubungi Aleea dan tanpa menunggu lama, Aleeapun menerima panggilan Nathan.


"Nathan.... kau baik-baik saja bukan? aku tidak bisa menghubungimu sejak pagi, tidak ada sesuatu yang buruk bukan?" tanya Aleea setelah ia menerima panggilan Nathan.


"Semuanya baik-baik saja Aleea, hari ini aku sangat sibuk jadi tidak sempat memeriksa ponselku, aku tidak sadar jika ternyata ponselku lowbatt sejak pagi," jawab Nathan dengan beralasan.


"Syukurlah jika semuanya baik-baik saja, aku sangat mengkhawatirkanmu sejak pagi," ucap Aleea.


"Aku bisa menjaga diriku dengan baik Aleea, jadi tidak perlu terlalu mengkhawatirkanku," balas Nathan.


Nathan kemudian mengakhiri panggilannya karena beralasan jika dia sedang sibuk saat itu.


Nathan kemudian menjatuhkan dirinya di atas ranjang dengan menatap langit-langit kamarnya.


"Ternyata memiliki istri semakin membuat hidupku rumit," ucap Nathan dengan menghela nafasnya panjang.


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam saat Vina mengetuk pintu kamar Nathan.


Dengan pakaiannya yang lebih terbuka dari biasanya, Vina berdiri di depan pintu kamar Nathan, bersiap untuk melancarkan aksinya.


Nathan yang baru saja selesai bersiappun segera membuka pintu kamarnya dan cukup terkejut saat melihat Vina dengan pakaian terbukanya saat itu.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? apa aku terlihat lebih cantik malam ini?" tanya Vina dengan senyumnya yang menggoda.


Nathan hanya tersenyum tipis lalu membawa langkahnya pergi diikuti Vina. Nathan kemudian mengendarai mobilnya ke arah sebuah bar sesuai dengan petunjuk Vina.


"Jangan terlalu mabuk Vina, karena kau harus pulang besok pagi, aku juga tidak akan mabuk karena ada pekerjaan yang belum aku selesaikan!" ucap Nathan pada Vina saat mereka sudah sampai di bar.


"Baiklah," balas Vina.


Di dalam bar, Vina sengaja mencari kesempatan untuk menukar minuman Nathan dengan minuman yang mengandung kadar alkohol tinggi.


"Sepertinya ini bukan minumanku!" ucap Nathan setelah ia merasakan minumannya berbeda dengan apa yang ia pesan.


"Mungkin minuman kita tertukar," balas Vina yang menukar minuman miliknya dengan gelas kosong Nathan.


Nathanpun meminumnya tanpa ragu dan menghabiskannya sampai habis tak bersisa. Meskipun ia bisa merasakan perbedaan rasa minuman itu, namun otaknya seakan meminta lebih dan dengan senang hati Vina memberikan minuman beralkohol tinggi itu pada Nathan.


Alhasil, Nathan benar-benar mabuk malam itu. Sedangkan Vina tetap menjaga dirinya untuk tidak mabuk agar ia bisa menjalankan rencananya tanpa halangan.


Setelah memastikan jika Nathan benar-benar mabuk dan tidak bisa mengendalikan dirinya, Vina kemudian meminta tolong seseorang untuk mengantarnya kembali ke hotel bersama Nathan.


Di hotel, Vina membantu Nathan untuk berjalan masuk ke dalam kamar Nathan.


"Kenapa kau tidak bisa berjalan lurus cantik?" tanya Nathan pada Vina saat mereka sedang berjalan di lorong yang menuju kamar Nathan.


"Aku tidak akan mau melakukan hal yang sangat merepotkan ini jika bukan karenamu Nathan," balas Vina dengan bersusah payah membantu Nathan berjalan.


"Setelah ini kita hanya perlu berbaring di dalam satu selimut dengan pakaian yang terbuka lalu mengambil foto dan dengan foto itu aku akan bisa mengendalikanmu Nathan, aku akan memilikimu meskipun harus dengan menggunakan sedikit ancaman," batin Vina dalam hati dengan penuh senyum.

__ADS_1


__ADS_2