Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Ambisi seorang Nathan


__ADS_3

Nathan Kalandra, laki-laki yang hanya fokus dengan dirinya sendiri. Sejak dulu ia hanya terobsesi untuk menjadi yang terbaik dari semua yang terbaik.


Ia bahkan tidak peduli pada orang lain atau apapun yang menghalangi langkahnya untuk meraih apa yang ia inginkan, baginya memenuhi puncak kepuasannya adalah hal terpenting dalam hidupnya.


Di dukung dengan kekayaan yang dimiliki orang tuanya, wajar jika Nathan bisa mendapatkan apapun yang ia inginkan bersama ambisi besar yang selalu menggebu dalam dirinya.


Sedangkan Evan William, dia adalah satu-satunya teman dekat Nathan sejak mereka masih menginjak bangku sekolah. Laki-laki yang menjadi saksi bagaimana ambisiusnya seorang Nathan Kalandra.


Sifat mereka yang berbanding terbalik nyatanya mampu membuat persahabatan mereka langgeng sampai mereka tumbuh dewasa.


Meskipun tak jarang mereka berbeda pendapat, tetapi pada akhirnya Evanlah yang selalu mengalah dan mengiyakan semua pendapat dan kemauan Nathan.


Sebagai sahabat, Evan hanya bisa berusaha menahan Nathan agar tidak melewati batas keambisiusannya, meskipun terkadang ia harus melakukan hal yang tidak dia inginkan hanya demi membantu Nathan untuk mendapatkan apa yang Nathan inginkan.


Seiring berjalannya waktu, bersama kedewasaan yang mulai tumbuh, Evan berharap Nathan akan mulai melunak dengan perlahan.


Meskipun tidak mudah, tetapi Evan memiliki harapan saat Nathan memutuskan untuk menikah dengan Aleea, meskipun pernikahan mereka di awali dengan kebohongan.


Evan memiliki keyakinan dalam dirinya jika cinta yang tulus pasti akan membuat Nathan berubah menjadi sosok laki-laki yang lebih baik.


"Kau sangat mengenalku Evan, tidak pernah ada cinta dalam kamus hidupku, jadi tidak akan pernah ada cemburu dalam pernikahanku dengan Aleea!" ucap Nathan pada Evan yang masih berada di ruangannya.


"Setidaknya jangan memperlakukannya dengan kasar Nathan, bagaimanapun juga dia yang sudah membantumu menyelesaikan masalah!" balas Evan.


"Aku hanya sangat kesal padanya, aku sudah memberi tahunya jika aku tidak menyukai makanan manis, tetapi dia datang dan memberikan kue!" ucap Nathan.


"Kau bukan anak kecil Nathan, kenapa kau sangat marah padanya hanya karena hal itu?"


Nathan menghela nafasnya panjang lalu menyandarkan kepalanya pada sandaran kursinya.


"Vina mengajukan surat pengunduran diri dan itu sangat mengganggu pikiranku sejak kemarin, mungkin itu yang membuatku tidak bisa mengendalikan diriku!" ucap Nathan.


"Kenapa dia tiba-tiba mengajukan surat pengunduran diri? apa mungkin karena masalah pribadi antara kalian berdua?" tanya Evan.


"Aku tidak tau, sekarang aku harus berusaha untuk menahannya tetap disini, acara bulan depan pasti akan kacau jika tim kita tidak lengkap, kau tau bukan seberapa besar pengaruh Vina di tim kita? aku tidak ingin mengambil resiko dengan mempekerjakan orang lain untuk menggantikan Vina!"


"Untuk saat ini yang harus kau lakukan adalah meminta maaf pada Aleea, dia tidak tau apapun tentang masalahmu dan dia tidak seharusnya mendapat perlakuan kasar darimu seperti tadi!" ucap Evan.


"Itu tidak penting Evan, aku....."


"Itu penting Nathan, selesaikan masalah kecilmu sebelum menjadi semakin besar, setelah masalah kecilmu selesai kau bisa fokus dengan masalah besarmu yang lain!" ucap Evan memotong ucapan Nathan.


Nathan menghela nafasnya dengan menganggukkan kepalanya pelan.


"Baiklah, aku akan meminta maaf padanya," ucap Nathan.


"Kau harus ingat Nathan, dia tidak tau apapun tentang semua kebohonganmu, jadi setidaknya jaga sikapmu!" ucap Evan lalu keluar dari ruangan Nathan.


"Kau sangat peduli padanya seperti kau adalah kekasihnya," ucap Nathan saat Evan sudah keluar dari ruangannya.


**


Di tempat lain, Aleea sedang berada di mobil bersama mama mertuanya. Hanna sengaja mengajak Aleea untuk masuk ke mobilnya dan mengantar Aleea pulang bersama supir pribadinya dan membiarkan supir pribadi Aleea mengendarai mobil sendiri tanpa Aleea.


"Apa yang kau lakukan di kantor, Aleea? apa kau memang sering menemui Nathan di kantor?" tanya Hanna pada Aleea.


"Hanya beberapa kali ma, Aleea hanya ingin memberikan kue yang Aleea buat untuk Nathan," jawab Aleea.


"Kue? apa kau tidak tau jika Nathan tidak menyukai makanan manis?" tanya Hanna.


"Aleea membuat kue itu dengan mengurangi rasa manisnya ma, jadi kue itu tidak terlalu manis," jawab Aleea.


"Tapi mama tidak melihat kotak kue di ruangan Nathan, justru mama melihat Evan yang membawanya," ucap Hanna yang membuat Aleea terdiam untuk beberapa saat.


"Mmmm.... Aleea... memberikannya pada Evan karena Nathan tidak menyukainya, Aleea pikir dengan mengurangi rasa manisnya Nathan akan menyukainya, tapi ternyata Nathan tetap tidak menyukainya, jadi Aleea memberikannya pada Evan," jelas Aleea beralasan.


"Aaahh begitu, sepertinya mama lihat kau cukup dekat dengan Evan, apa benar begitu?"


"Aleea mengenal Evan karena dia adalah teman dekat Nathan, hanya sebatas itu ma," jawab Aleea.


"Nathan dan Evan memang sudah lama bersahabat, Evan laki-laki yang baik, tapi mama harap kedekatanmu dan Evan tidak membuat Nathan salah paham," ucap Hanna.


Aleea hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun karena ia tidak ingin mama mertuanya salah paham jika ia terlalu banyak bicara.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai.


"Mama tidak akan mampir karena ada hal lain yang harus mama lakukan," ucap Hanna.


"Iya ma, terima kasih sudah mengantar Aleea pulang," ucap Aleea yang hanya dibalas senyum tipis oleh Hanna.

__ADS_1


Setelah Aleea keluar dari mobilnya, Hanna segera meminta supirnya untuk mengendarai mobilnya pergi.


Sepanjang perjalanan, Hanna masih memikirkan apa yang terjadi antara Aleea dan Evan karena dengan jelas ia melihat saat Evan menggandeng tangan Aleea di kantor.


Meskipun berusaha untuk berpikir positif, tetapi pikiran-pikiran negatif masih memenuhi kepalanya bahkan setelah ia mendengar penjelasan Aleea.


"Apa aku terlalu cepat menilai Aleea? aku bahkan tidak mengenalnya dengan baik dan baru bertemu dengannya saat Nathan ingin menikahinya, apa aku sudah salah menilainya?" batin Hanna bertanya dalam hati.


Hanna menghela nafasnya kasar lalu mengambil ponsel yang ada di tasnya.


"Aku harus mencari tau semua hal tentangnya, aku tidak ingin Nathan salah memilih istri, sebelum mereka memiliki anak yang akan membuat Nathan sulit melepaskannya!" ucap Hanna.


Hanna kemudian mengirimkan foto Aleea pada seseorang lalu menghubunginya.


"Namanya Aleea Zanitha, cepat cari tau semua hal tentangnya!" ucap Hanna saat panggilannya sudah terjawab.


"Baik bos!"


Panggilan berakhir, Hanna memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.


"Seharusnya aku melakukan hal ini sebelum menyetujui pernikahan mereka," ucap Hanna.


Memori Hanna seketika mengulas kembali pertemuan pertamanya dengan Aleea. Saat itu ia hanya melihat Aleea sebagai sosok perempuan cantik yang berhati baik.


Namun saat ia melihat Aleea bergandengan tangan dengan Evan, tiba-tiba saja semua pikiran negatif tentang Aleea memenuhi kepalanya dan tentu saja hal itu sangat mengganggunya.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Hannapun sampai di rumahnya. Baru saja ia keluar dari mobil, tiba-tiba kepalanya terasa pusing dan darah menetes dari hidungnya.


Menyadari hidungnya yang mengeluarkan darah, Hanna segera membersihkannya sebelum ada yang melihatnya.


"Mama baru pulang?" tanya Rania yang baru saja membuka pintu rumahnya saat mendengar suara mobil yang memasuki halaman rumahnya.


"Iya," jawab Hanna singkat sambil berjalan cepat melewati Rania dengan menundukkan kepalanya.


"Mama kenapa?" tanya Rania sambil mengikuti langkah sang mama.


"Mama ingin ke toilet, mama sudah menahannya sejak tadi," jawab Hanna berbohong sambil berlari kecil memasuki kamarnya dan segera menutup pintu kamarnya lalu masuk ke kamar mandi dan menguncinya.


Di dalam kamar mandi, Hanna segera melepas pakaiannya dan membersihkan darah yang ada pada pakaiannya.


**


Nathan kemudian masuk ke kamarnya, setelah mandi dan berganti pakaian, ia segera membawa langkahnya ke arah kamar Aleea, mengetuk pintu beberapa kali sebelum akhirnya pintu terbuka.


"Apa kau marah padaku?" tanya Nathan pada Aleea yang masih berdiri di celah pintunya yang sedikit terbuka.


"Aku sedang tidak enak badan Nathan, jadi tahan emosimu sebentar dan biarkan aku berisitirahat," ucap Aleea tanpa menjawab pertanyaan Nathan.


"Aku akan mengantarmu ke rumah sakit jika....."


"Tidak perlu, aku hanya ingin istirahat saja," ucap Aleea memotong ucapan Nathan.


"Baiklah, beristirahatlah," ucap Nathan lalu membawa langkahnya pergi begitu saja.


Aleea hanya menghela nafasnya panjang lalu menutup pintu kamarnya dan kembali membaringkan badannya di ranjang.


Sedangkan Nathan menikmati makan malamnya sendiri tanpa mempedulikan Aleea yang terbaring lemas di kamarnya.


Sebagai laki-laki yang tidak berpengalaman dalam berhubungan dengan perempuan, Nathan memang tidak memiliki kepekaan dalam dirinya, bahkan bisa dibilang dia laki-laki yang berhati dingin.


**


Hari telah berganti, Nathan keluar dari kamarnya dan menikmati sarapannya seorang diri.


Biasanya, tak lama setelah Nathan sarapan, Aleea datang dan menemaninya. Namun pagi itu, Nathan menghabiskan makanannya sendirian tanpa Aleea.


"Apa dia masih tidur? sepertinya aku harus menunda untuk membicarakan masalah kemarin!"


Nathan kemudian keluar dari rumahnya, mengendarai mobilnya untuk pergi ke kantor tanpa mempedulikan Aleea yang sedang demam di kamarnya.


Sesampainya di kantor, ia segera mengerjakan pekerjaannya seperti biasa. Tepat pukul 8 pagi, ia melakukan meeting bersama Evan, Vina dan beberapa pegawainya yang lain.


Meeting singkat itu berakhir tepat pukul 9, semua yang ada disanapun keluar dari ruangan meeting, kecuali Evan yang sengaja menghentikan Nathan dan Vina yang penasaran dengan apa yang akan Evan katakan pada Nathan.


"Meeting sudah selesai Vina, keluarlah!" ucap Evan pada Vina.


Vina hanya memutar kedua bola matanya lalu berjalan keluar dari ruangan meeting.


"Apa kau sudah meminta maaf pada Aleea?" tanya Evan pada Nathan.

__ADS_1


"Belum," jawab Nathan singkat.


"Bukankah aku sudah memberi tahumu agar menyelesaikan masalah kecilmu sebelum....."


"Aku tau Evan, tapi aku tidak sempat untuk meminta maaf padanya, dia berbaring di kamarnya sejak semalam dan belum keluar kamar sampai aku berangkat ke kantor," ucap Nathan memotong ucapan Evan.


"Apa dia baik-baik saja?" tanya Evan.


"Kenapa kau sangat mengkhawatirkannya? apa kau menyukainya?" balas Nathan bertanya.


"Aku peduli padanya karena aku ikut andil dalam kebohongan yang kau rencanakan padanya Nathan, aku akan merasa sangat bersalah jika aku membiarkannya menderita selama dia menikah denganmu!" jelas Evan.


"Tidak perlu berlebihan Evan, jika aku tidak menjadikannya istriku, apa yang akan terjadi padanya sekarang? apa dia akan menjalani kehidupannya dengan lebih baik saat dia tidak mengingat apapun tentang dirinya?"


"Itu bukan alasan untuk membuatmu memperlakukannya dengan buruk Nathan, bagaimanapun juga kau yang bersalah karena sudah menabraknya!"


"Aku tidak akan menabraknya jika dia tidak berlari ke tengah jalan raya saat lampu lalu lintas menyala hijau Evan!" balas Nathan dengan meninggikan suaranya.


Evan menghela nafasnya panjang, berusaha menahan emosinya agar tidak membuat Nathan semakin kehilangan kendali.


"Aku tidak akan menyalahkanmu atas kecelakaan itu, tapi setidaknya hargai dia sebagai istrimu meskipun kau tidak mencintainya Nathan," ucap Evan.


"Aku sudah berniat meminta maaf padanya Evan, tapi dia yang tidak ingin aku ganggu, dia merasa tidak enak badan dan memilih untuk berbaring di kamarnya, aku sudah menawarkan diri untuk menemaninya ke rumah sakit tapi dia menolak!" ucap Nathan.


"Apa dia sakit?" tanya Evan.


"Hanya butuh istirahat, bukan benar-benar sakit, jadi tidak perlu berlebihan!" jawab Nathan lalu berjalan meninggalkan Evan begitu saja.


Sepeninggalan Nathan, Evan kemudian menghubungi Aleea, namun tidak ada jawaban.


Evan kemudian menghubungi tempat Aleea mengikuti kelas memasak, untuk memastikan apakah Aleea berada disana atau tidak dan ternyata Aleea sudah izin untuk tidak mengikuti kelas memasak hari itu.


Tidak sampai disitu, Evan kemudian menghubungi nomor rumah Nathan.


"Halo Bi, ini Evan," ucap Evan setelah panggilannya di terima oleh bibi.


"Oh Tuan Evan, ada apa Tuan?"


"Nathan memberi tahu Evan jika Aleea sedang tidak enak badan, apa Aleea sudah keluar dari kamarnya bi?"


"Non Aleea belum keluar kamar sejak kemarin sore Tuan," jawab bibi.


"Apakah bibi bisa memeriksa keadaannya? Evan sudah berusaha menghubunginya tapi tidak bisa bi."


"Baik Tuan, bibi akan mencoba memeriksanya," jawab bibi.


Setelah panggilan berakhir, Evan kemudian keluar dari ruangan meeting, menunggu bibi menghubunginya untuk memberi tahunya keadaan Aleea.


Evan duduk di ruang kerjanya, menatap layar komputer di hadapannya dengan cemas karena mengkhawatirkan Aleea.


Tak lama kemudian,


biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Evan berdering, sebuah pesan masuk dari Aleea.


"Aku baik-baik saja Evan, maaf ponselku lowbat dan aku baru mengetahuinya."


Seketika Evan segera menghubungi Aleea.


"Halo Aleea, apa kau baik-baik saja?" tanya Evan tanpa basa-basi.


"Aku baik-baik saja Evan, kenapa kau seperti sangat mengkhawatirkanku?" balas Aleea.


"Nathan memberi tahuku jika kau sedang tidak baik-baik saja dan suaramu juga terdengar sangat lemah, apa tidak sebaiknya kau pergi ke rumah sakit Aleea?"


"Tidak perlu Evan, aku hanya perlu beristirahat saja," jawab Aleea.


"Apa kau sudah minum obat?" tanya Evan.


"Mmmm.... belum," jawab Aleea.


"Jika kau tidak mau pergi ke rumah sakit, kau harus makan dan minum obat Aleea, jangan membuat keadaanmu memburuk," ucap Evan.


"Kenapa kau sangat perhatian padaku Evan? Nathan bahkan tidak peduli padaku!"


"Kau salah Aleea, justru Nathan sangat mengkhawatirkanmu, tetapi dia tidak ingin mengganggumu dan membiarkanmu beristirahat di kamar," ucap Evan.


"Benarkah seperti itu?" tanya Aleea tak percaya.

__ADS_1


"Tentu saja, aku bisa melihat kekhawatirannya saat dia mengatakan padaku jika kau sedang tidak baik-baik saja," jawab Evan berbohong.


__ADS_2