
Hari telah berganti. Pagi itu Aleea terlambat bangun. Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi saat Aleea baru saja mengerjapkan matanya.
Dengan malas Aleea meraih ponselnya yang ada di meja dan seketika Aleea membelalakkan matanya saat ia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 8.
Aleea segera beranjak dari ranjangnya lalu mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke ruko. Tak lupa, Aleea memesan taksi sebelum ia keluar dari rumah.
Aleea juga mengirim pesan pada Tika, meminta maaf karena ia terlambat datang hari itu.
Tak lama kemudian, taksi yang dipesan Aleeapun datang. Aleea segera keluar dari rumah lalu menaiki taksi yang membawanya ke ruko.
Sesampainya di ruko, sudah ada Tika yang sedang merapikan beberapa barang yang baru datang.
"Waaahh kotak kuenya sudah datang!" ucap Aleea senang.
"Dimana kita menempatkan semua ini Aleea?" tanya Tika pada Aleea.
"Kita bisa menaruhnya disini, sisanya kita taruh di atas saja," jawab Aleea.
"Baiklah," ucap Tika lalu mengangkat beberapa barang-barang ke lantai dua.
"Bagaimana liburanmu Aleea? sepertinya sangat menyenangkan sampai kau terlambat bangun pagi ini!" tanya Tika saat ia sudah kembali turun.
"Sama sekali tidak berjalan dengan baik," jawab Aleea dengan menghela napasnya.
"Benarkah? kenapa?" tanya Tika.
"Di hari pertama kakiku terkilir dan rasanya sakit sekali, di hari kedua saat dalam perjalanan pulang mobil yang aku tumpangi hampir saja tertabrak mobil lain dari arah depan," jelas Aleea.
"Waaahh, itu artinya kau harus mengulang liburanmu lagi Aleea!" ucap Tika.
"Tidak Tika, justru liburan kemarin membuatku malas untuk pergi berlibur lagi dan lagipula aku juga harus fokus dengan toko kue kita saat kita sudah membukanya nanti," balas Aleea.
"Jangan terlalu menguras tenagamu untuk bekerja Aleea, kau juga harus menyenangkan dirimu sendiri dengan pergi berlibur!" ucap Tika.
"Untuk saat ini aku hanya ingin menghabiskan waktuku dengan bekerja Tika," balas Aleea.
Waktu berlalu, tiba saatnya bagi Aleea dan Tika untuk pergi ke kelas memasak mereka. Mereka berangkat bersama dengan menggunakan mobil Tika.
__ADS_1
Saat berada lama dalam perjalanan, terjadi kemacetan akibat rekayasa lalu lintas yang dilakukan pagi itu.
Tika mengumpat kesal karena hal itu, sedangkan Aleea hanya terdiam saat telinganya mendengar suara klakson yang bersahutan dan riuh amarah orang-orang yang terjebak kemacetan saat itu.
Memorinya kembali mengulas kecelakaan yang terjadi padanya yang membuatnya hilang ingatan. Namun lagi-lagi semua suara dan visual dalam ingatannya buram dan samar-samar.
Aleea yang berusaha menggali ingatannya lebih jauh, justru membuat kepalanya terasa pusing saat itu.
"Ada apa Aleea? apa kau sakit?" tanya Tika yang melihat Aleea memegangi kepalanya dengan raut wajah yang tampak kesakitan.
"Aku baik-baik saja," jawab Aleea sambil berusaha untuk menenangkan dirinya agar berhenti memikirkan hal itu.
"Apa sebaiknya aku mengantarmu pulang saja Aleea?" tanya Tika khawatir.
"Tidak Tika, aku hanya sedikit pusing dan itu bukan masalah besar, jangan khawatir," jawab Aleea.
"Apa kau yakin?" tanya Tika.
Aleea menganggukkan kepalanya dengan tersenyum pada Tika yang tampak mengkhawatirkannya saat itu.
**
Di sisi lain, Nathan dan Evan sedang berada di ruangan meeting. Banyak hal yang mereka bahas dalam meeting hari itu. Setelah meeting selesai, semua yang ada di ruangan itupun keluar satu per satu, meninggalkan Nathan, Evan dan Vina yang masih berada disana.
Vina kemudian beranjak dari duduknya lalu menghampiri Nathan.
"Sepertinya kau bersenang-senang saat liburanmu kemarin!" ucap Vina pada Nathan.
"Jaga sikapmu Vina, apa kau mau kejadian kemarin terulang lagi?" balas Nathan.
"Bukankah kau sudah menyelesaikannya!" ucap Vina.
"Meeting sudah selesai Vina, keluarlah!" sahut Evan yang membuat Vina mendengus kesal.
"Kau sendiri kenapa tidak keluar?" tanya Vina pada Evan.
"Apa aku harus menjelaskan alasannya padamu?" balas Evan bertanya.
__ADS_1
Vina tersenyum tipis lalu membawa pandangannya pada Nathan.
"Aku menunggu di ruanganmu!" ucap Vina dengan mengedipkan satu matanya pada Nathan lalu berjalan meninggalkan ruangan meeting.
"Gadis seperti itu yang kau samakan dengan Aleea, Nathan? bukankah sangat terlihat perbedaan mereka?" tanya Evan pada Nathan saat Vina sudah berjalan keluar.
"Tidak perlu membahasnya, ada satu hal yang sedikit menggangguku sejak kemarin!" ucap Nathan.
"Tentang apa?" tanya Evan.
"Aleea, apa menurutmu ingatannya akan kembali sepenuhnya suatu hari nanti?" balas Nathan.
"Tidak menutup kemungkinan hal itu akan terjadi Nathan, apa lagi sekarang dia mulai mengingat kejadian kecelakaan itu," jawab Evan.
"Tapi kenapa kau memikirkan hal itu? bukankah kau pernah mengatakan padaku jika kau tidak mempedulikan hal itu? bahkan jika ingatan Aleea benar-benar kembali sepenuhnya!" lanjut Evan.
"Aku tidak menduga jika itu akan terjadi secepat ini Evan, aku memang tidak peduli jika ingatannya kembali, tapi bagaimana dengan kontrak yang dia tanda tangani? bagaimana jika dia sadar bahwa itu adalah kontrak palsu yang sama sekali tidak bernilai!" balas Nathan.
"Saat itulah kau harus siap melepaskannya," ucap Evan.
"Aku bisa melepaskannya kapanpun aku mau jika aku sudah tidak membutuhkannya Evan, tapi saat ini dan dalam waktu dekat ini, aku masih membutuhkannya, jika bukan karena kesalahan di luar pulau itu, pasti aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan saat ini dan sudah pasti aku akan membuang Aleea dari hidupku!" ucap Nathan.
"Ingatan Aleea seperti bom waktu untuk kita Nathan, kita tidak pernah tau kapan ingatannya akan kembali sepenuhnya dan kapan dia akan menyadari semua kebohongan kita, jika itu sudah terjadi saat itulah bom waktu itu akan meledak dan bisa jadi akan menghancurkan kita," ucap Evan.
"Tidak..... aku tidak akan membiarkan hal itu menghancurkanku," balas Nathan.
"Jika bukan kau, maka aku yang akan hancur," ucap Evan.
"Tidak Evan, tidak akan ada yang hancur diantara kita, aku akan memikirkan apa yang harus aku lakukan sebelum sesuatu yang buruk terjadi," ucap Nathan.
"Apapun yang terjadi aku harus mendapatkan apa yang selama ini aku usahakan sebelum ingatan Aleea kembali dan menghancurkan semuanya," ucap Nathan dalam hati.
Apa yang Evan katakan memang benar, ingatan Aleea seperti bom waktu bagi Nathan. Saat ingatan Aleea telah kembali, saat itulah semua kebohongan mereka akan terungkap.
Nathan tidak peduli bagaimana reaksi Aleea nanti, yang ia pedulikan hanyalah rencananya yang akan gagal jika Aleea benar-benar pergi darinya sebelum ia mendapatkan apa yang ia inginkan.
Bagi Nathan, tidak ada yang lebih penting dari keinginannya sendiri.
__ADS_1