Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Meminta Izin


__ADS_3

Hari telah berganti. Aleea memutuskan untuk tidak memperpanjang masalahnya dengan Nathan hanya karena kecemburuannya pada Vina.


Meskipun tidak dapat dipungkiri jika kedekatan Nathan dan Vina memang sangat mengganggunya, tetapi Aleea memilih untuk mempercayai ucapan Nathan karena bagaimanapun juga hanya Nathan satu-satunya yang ada di sampingnya saat tidak ada siapapun yang ia ingat dalam hidupnya.


Pagi itu, Aleea mengetuk pintu kamar Nathan karena tidak melihat Nathan di meja makan.


"Nathan, apa kau masih tidur?" tanya Aleea setelah beberapa kali mengetuk pintu kamar Nathan.


"Aku masih mengantuk Aleea, jangan menggangguku," jawab Nathan dari dalam kamarnya.


"Baiklah," balas Aleea dengan menghela nafasnya lalu berjalan menuruni tangga.


Aleea menikmati sarapannya seorang diri sebelum ia menghabiskan waktunya di taman, tidak hanya menyiram bunga-bunganya tapi juga memetik daun-daun yang sudah kering.


Tak lama kemudian sebuah mobil memasuki halaman rumah, membuat Aleea menghentikan kegiatannya dan membawa pandangannya ke arah mobil yang baru saja terparkir.


"Selamat pagi nyonya Nathan," sapa Evan dengan melambaikan tangannya pada Aleea.


"Pagi Evan," balas Aleea dengan tersenyum.


"Apa kau mencari Nathan?" lanjut Aleea bertanya.


"Iya, apa dia masih tidur?" balas Evan.


"Dia masih tidur, aku sudah membangunkannya tapi sepertinya dia masih malas untuk keluar kamar," jawab Aleea.


"Kalau begitu aku akan menunggunya disini," ucap Evan sambil membawa langkahnya ke arah kursi taman, namun dengan cepat Aleea meraih tangan Evan dan menariknya.


"Jangan duduk!" ucap Aleea sambil menarik tangan Evan.


Evan yang terkejut hanya diam, kedua matanya menatap tangan Aleea yang menahan tangannya saat itu.


"Aku baru saja menyiram tanaman dan tidak sengaja membuat kursinya basah," ucap Aleea sambil melepaskan tangan Nathan.


"Lebih baik kau tunggu di teras," lanjut Aleea.


"Tidak, aku akan menunggunya disini," balas Evan dengan tersenyum.


"Apa kau sangat menyukai bunga, Aleea?" lanjut Evan bertanya yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Aleea.

__ADS_1


"Tapi sepertinya ada masalah dengan bungamu yang satu ini," ucap Evan sambil mendekati salah satu bunga Aleea.


"Masalah? kenapa?" tanya Aleea tak mengerti.


"Lihatlah, daun-daunnya sangat lebat, pohonnya juga terlihat sehat, tapi perhatikan bunganya, jika dibanding dengan bunga di sekitarnya, tanaman ini seperti sulit untuk berbunga," jelas Evan.


"Aaahh iya, aku baru menyadarinya, bunga lainnya sudah kuncup bahkan mulai mekar, tapi yang satu ini bahkan belum terlihat kuncupnya, apa yang salah darinya Evan?" ucap Aleea sekaligus bertanya.


"Nutrisi tanaman ini hanya masuk pada pohon dan daunnya, jadi sebaiknya kau memangkas beberapa rantingnya dan memetik sebagain besar daunnya, itu akan membuat nutrisi yang baru menyebar dengan baik," jelas Evan.


"Apa itu akan membuat dia berbunga?" tanya Aleea.


"Tentu saja," jawab Evan penuh keyakinan.


"Waaahhh ternyata kau memiliki banyak pengetahuan tentang tanaman Evan," ucap Aleea kagum sambil memotong beberapa ranting dan mengambil daun-daunnya.


"Saat aku kecil mama memiliki toko bunga, jadi aku banyak mengetahui tentang tanaman dari mama," balas Evan.


"Lalu bagaimana sekarang? apa toko bunga itu masih ada?" tanya Aleea.


Evan menggelengkan kepalanya pelan dengan tersenyum tipis.


"Sejak mama meninggal, sudah tidak ada yang meneruskan toko bunga mama," jawab Evan yang membuat Aleea merasa bersalah karena mengungkit memori sedih Evan.


"Maaf, aku tidak tau jika....."


"Tidak apa, mama sudah berada di tempat yang lebih indah sekarang, tempat dengan banyak bunga-bunga di sekitarnya," ucap Evan dengan tersenyum, memotong ucapan Aleea.


Aleeapun menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.


"Masuklah Evan, bangunkan Nathan di kamarnya, mungkin dia akan bangun jika kau yang membangunkannya!" ucap Aleea.


"Baiklah, aku akan coba membangunkannya," balas Evan lalu berjalan meninggalkan Aleea.


Setelah cukup lama berkutat dengan tanaman di tamannya, Aleea kemudian masuk ke kamarnya.


Aleea duduk di balkon kamarnya sambil membuka internet, berusaha mencari hal baru yang bisa mengisi rasa bosannya.


Sampai akhirnya Aleea menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya. Setelah melihat Evan meninggalkan rumahnya, Aleea kemudian keluar dari kamarnya untuk menemui Nathan.

__ADS_1


Tepat saat Aleea baru saja keluar dari kamar, Aleea melihat Nathan yang berjalan ke arah ruang kerjanya.


"Nathan tunggu!" ucap Aleea yang membuat Nathan menghentikan langkahnya.


"Ada apa?" tanya Nathan pada Aleea yang berjalan ke arahnya.


"Aku ingin meminta izin padamu, aku ingin mengikuti kelas memasak," ucap Aleea.


"Kelas memasak? dimana?" tanya Nathan.


"Di daerah X, tidak terlalu jauh bukan?" balas Aleea.


"Kau tidak perlu kesana, aku akan memanggil koki yang bisa mengajarimu memasak di rumah," ucap Nathan.


"Tapi aku ingin mengikuti kelas memasak bukan hanya untuk belajar memasak Nathan, jika aku pergi ke kelas memasak itu aku akan menemukan banyak teman baru dan....."


"Tidak Aleea, aku tidak mengizinkan," ucap Nathan memotong ucapan Aleea dengan tegas lalu masuk ke dalam ruang kerjanya.


Aleeapun segera mengikuti langkah Nathan masuk ke dalam ruang kerja.


"Kenapa kau tidak mengizinkanku? kenapa kau selalu ingin aku hanya berdiam diri di rumah? kenapa Nathan? apa yang kau takutkan saat aku berada di luar rumah?" tanya Aleea yang merasa begitu kesal dengan sikap Nathan.


"Apa yang sebenarnya kau inginkan Aleea? belajar memasak atau mencari teman? jika kau memang ingin belajar memasak, aku bisa memanggil koki yang handal untuk mengajarimu di rumah, jika kau ingin mencari teman, bukankah kau sudah memiliki banyak teman?" balas Nathan yang tak kalah emosi.


Emosi Nathan bukan tanpa alasan. Nathan sengaja membatasi kegiatan Aleea di luar rumah untuk mengindari Aleea bertemu dengan orang-orang dari masa lalu Aleea, orang-orang yang memiliki kemungkinan besar untuk mengganggu rencana Nathan.


"Aku juga ingin keluar dari rumah Nathan, aku ingin berkegiatan di luar rumah seperti orang lain, aku ingin bersosialisasi dengan banyak orang baru Nathan, apa aku salah?"


"Kau salah jika kau tidak menuruti perintahku Aleea, sekarang keluarlah dan lupakan tentang kelas memasak konyol itu!" balas Nathan lalu membuka laptop yang ada di meja kerjanya.


Aleea hanya menghela nafasnya panjang lalu membawa dirinya keluar dari ruang kerja Nathan dengan membanting pintu, meninggalkan suara menggelegar yang memenuhi ruang kerja Nathan.


"Aku tidak akan membiarkan siapapun merusak rencanaku Aleea, tidak akan," ucap Nathan dengan menatap tajam pintu ruang kerjanya yang tertutup.


Nathan kemudian menyibukkan dirinya dengan mengerjakan pekerjaannya. Sedangkan Aleea hanya diam di atas ranjangnya dengan menghapus air matanya.


Ia tidak mengerti kenapa Nathan begitu marah hanya karena ia yang ingin mengikuti kelas memasak.


Ia tidak mengerti apa yang membuat Nathan sangat membatasi kegiatannya di luar rumah selama ia menjadi istri Nathan.

__ADS_1


__ADS_2