Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Ketegasan Aleea


__ADS_3

Evan mengendarai mobilnya meninggalkan ruko bersama Aleea yang duduk di sampingnya.


Sejak Aleea pingsan karena kecelakaan yang hampir saja terjadi, Evan masih terus memikirkan Aleea. Tak dapat dipungkiri, ia khawatir jika sewaktu-waktu ingatan Aleea kembali.


"Apa kau masih sering merasa pusing Aleea?" tanya Evan saat mereka sudah dalam perjalanan pulang.


"Tidak, seperti yang dokter bilang, aku tidak akan terlalu memaksakan diriku untuk mengingatnya," jawab Aleea.


"Apa ada beberapa hal yang kau ingat tentang kecelakaan itu Aleea?" tanya Evan.


"Aku hanya mengingat saat kecelakaan itu terjadi, tetapi suara dan visual dalam ingatanku semuanya samar dan buram, semakin aku berusaha memperjelas semuanya, kepalaku akan terasa sangat sakit," jelas Aleea.


"Kalau begitu biarkan saja, tidak perlu memaksakan dirimu, aku yakin suatu saat nanti kau akan bisa mengingat semuanya," ucap Evan.


"Iyaa... semoga saja, karena sampai detik ini aku masih tidak mengerti kenapa aku bisa jatuh cinta pada Nathan dan memutuskan untuk menikah dengannya," balas Aleea.


"Aku harap tidak akan ada yang berubah di antara kita bahkan setelah ingatanmu kembali seutuhnya," ucap Evan.


"Tentu saja tidak akan ada yang berubah Evan, kenapa kau berkata seperti itu!" balas Aleea.


Evan hanya menggelengkan kepalanya pelan dengan tersenyum tanpa mengatakan apapun.


Hati kecilnya berharap agar Aleea tetap menjadi Aleea yang saat itu ia kenal, bukan Aleea yang hidup dengan masa lalunya yang tidak mengenal Evan bahkan mungkin akan membenci Evan setelah semua kebohongan terungkap.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Evanpun sampai di rumah Nathan. Aleea dan Evan keluar dari mobil dan tiba-tiba Aleea mengentikan langkahnya saat Aleea melihat Nathan yang keluar dari rumah bersama Vina.


Sama halnya dengan Aleea, Evanpun menghentikan langkahnya dan hanya diam berdiri di samping Aleea.


"Jangan khawatir, aku akan menyelesaikan semuanya!" ucap Vina dengan memegang tangan Nathan.


Nathan hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.


"Apa kau tidak akan mengantarku pulang, Nathan?" tanya Vina dengan menatap kedua mata Nathan.


"Tidak, aku akan memesan taksi untukmu jika kau mau," jawab Nathan.

__ADS_1


"Hmmm.... tidak perlu, aku bisa sendiri," ucap Vina dengan menghela napasnya.


"Tapi aku perlu sesuatu yang lain!" lanjut Vina.


"Apa lagi?" tanya Nathan.


CUUUUPPPPP


Tiba-tiba Vina memberikan kecupan singkatnya di pipi Nathan, membuat Nathan begitu terkejut dan segera menarik tangannya dari Vina.


"Itu karena kau tidak mau mengantarku pulang," ucap Vina penuh senyum.


"Kau memang gila!" ucap Nathan kesal sambil mengusap pipinya.


"Aku pergi dulu, bye!" ucap Vina lalu berjalan pergi.


Saat baru saja meninggalkan teras, Vina menghentikan langkahnya saat ia melihat Aleea dan Evan.


Nathan yang melihat Vina tiba-tiba menghentikan langkahnya dan hanya diam terpaku, membuat Nathan membawa pandangannya ke arah kedua mata Vina memandang.


Vina kemudian membawa pandangannya ke arah Nathan dengan tersenyum lalu melanjutkan langkahnya dan sengaja mendekati Aleea.


"Apa kau melihatnya Aleea? maafkan aku, seharusnya aku tidak melakukannya di depanmu," ucap Vina yang sengaja ingin membuat Aleea kesal.


"Tidak perlu meminta maaf padaku, hal rendahan yang baru saja kau lakukan justru membuat dirimu sendiri semakin terlihat murahan, jadi lebih baik meminta maaflah pada dirimu sendiri yang tidak bisa menjaga harga dirimu sebagai seorang perempuan!" balas Aleea dengan tersenyum.


"Waaahh kau sudah pandai berbicara sekarang, apa Evan yang mengajarimu?" tanya Vina kesal.


"Justru aku belajar darimu Vina," jawab Aleea dengan menatap kedua mata Vina.


"Kau....."


"Pergilah Vina, apa kau tidak tahu malu? sikapmu benar-benar sudah membuat harga dirimu sendiri hancur!" ucap Evan memotong ucapan Vina.


"Lihat saja Aleea, aku pasti akan membuat Nathan meninggalkanmu," ucap Vina penuh kekesalan lalu berjalan pergi meninggalkan Aleea dan Evan.

__ADS_1


Sepeninggalan Vina, Aleea menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya pelan, berusaha menangkan dirinya agar tidak terbawa emosi oleh sikap Vina.


"Apa kau baik-baik saja Aleea?" tanya Evan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Aleea.


Aleea kemudian melanjutkan langkahnya untuk masuk ke rumah bersama Evan. Tapi sebelum itu, Aleea menghentikan langkahnya tepat di samping Nathan.


"Kau menuduhku perempuan murahan hanya karena aku menginap di apartemen Evan, tapi apa yang baru saja kau lakukan Nathan? kau tidak lebih dari laki-laki tukang selingkuh yang membawa selingkuhannya pulang ke rumah saat istrinya tidak ada di rumah!" ucap Aleea dengan penuh penekanan.


Nathan hanya diam tanpa mengatakan apapun, sedangkan Aleea segera membawa langkahnya masuk ke dalam rumah dan berlari kecil menaiki tangga untuk masuk ke kamarnya.


Di teras, Nathan masih bersama Evan. Entah kenapa Nathan hanya diam saat mendengar apa yang Aleea katakan padanya. Bukan karena ada Evan disana, tapi karena ada sesuatu dalam dirinya yang membuatnya merasa bersalah.


"Apa yang baru saja terjadi Nathan? apa itu sudah sering terjadi sebelumnya?" tanya Evan pada Nathan.


"Aku bukan laki-laki seperti itu Evan, kau tau itu!" balas Nathan.


"Aku tau kau memang tidak pernah menyukai Vina, tapi jika dia terus menerus menggodamu, aku tidak yakin sampai kapan kau akan bertahan dengan godaan itu, apa lagi saat dia semakin berani melakukan hal seperti itu padamu!" ucap Evan.


"Perempuan hanya membuat hidupku semakin rumit Evan, aku tidak pernah berpikir untuk memiliki hubungan yang serius dengan perempuan manapun kecuali dia menguntungkan bagiku!" balas Nathan.


"Perempuan seperti Vina tidak membutuhkan hubungan yang serius Nathan, dia hanya membutuhkanmu untuk bersenang-senang, aku juga yakin dia bahkan dengan senang hati memberikan dirinya untuk menjadi perempuan kedua dalam pernikahanmu!" ucap Evan.


Nathan seketika membawa pandangannya pada Evan, karena apa yang baru saja Evan katakan memang benar.


Vina memang pernah mengatakan padanya jika ia rela menjadi yang kedua dalam rumah tangganya dan Nathan tidak menyangka jika Evan mengetahui hal itu.


"Jika kau memang masih membutuhkan dia di kantor, jaga hubungan kalian tetap profesional, semakin jauh kau melibatkan Vina aku yakin semuanya akan semakin rumit," ucap Evan.


"Sudah ada Rania yang mencurigai hubunganmu dengan Vina, jangan sampai Tante Hanna dan om Aryan juga menyadari hal itu!" lanjut Evan.


Nathan hanya diam mendengarkan ucapan Evan. Dalam hatinya ia membenarkan ucapan Evan, ia harus lebih berhati-hati agar hubungannya dengan Vina tidak menimbulkan masalah.


Meskipun mereka tidak memiliki hubungan yang serius, tetapi satu kantor tau jika Nathan dan Vina memang lebih dekat dibanding dengan pegawai lain di kantor.


"Jangan lengah Nathan, kau harus tegas agar tidak kehilangan semua yang kau usahakan selama ini!" ucap Evan sambil menepuk bahu Nathan lalu berjalan pergi begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2