Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Tanpa Jarak


__ADS_3

Nathan menggelengkan kepalanya dengan cepat saat ia tersadar dari lamunannya. Ia kembali membasuh wajahnya berkali-kali, berusaha menghilangkan pikiran kotor dalam kepalanya.


"Sadarlah Nathan, sadar!" ucap Nathan sambil memukul pelan kepalanya.


Setelah mengeringkan wajahnya, Nathan keluar dari kamar mandi dan membaringkan dirinya di ranjang.


Bayangan Aleea kembali terngiang di kepalanya, namun bukan tentang apa yang ia pikirkan saat berada di kamar mandi.


Nathan ingat bagaimana Aleea terlihat khawatir saat ia tidak sengaja meminum soda, saat tubuhnya terasa lemah hingga akhirnya dilarikan ke rumah sakit.


"Seburuk apapun sikapku, dia masih mengkhawatirkanku dan menemaniku di rumah sakit," ucap Nathan dalam hati.


"Gadis bodoh," ucap Nathan dengan tersenyum tipis.


Malam yang semakin larut akhirnya membawa Nathan menyelami mimpi indah hingga pagi datang.


Nathan beranjak dari tidurnya, pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya lalu mengambil laptopnya dan membawanya ke ruang kerjanya.


Meksipun hari itu adalah hari libur, tetapi masih banyak pekerjaan yang harus Nathan selesaikan dan ruang kerjanya adalah satu-satunya tempat ternyaman baginya untuk mengerjakan pekerjaannya di rumah.


Tiba-tiba.....


BUUUUUUKKKK


Terdengar suara buku yang terjatuh dari rak buku yang ada di ruang kerja Nathan.


Seketika Nathan segera membawa pandangannya ke arah beberapa rak buku yang berjajar di ruang kerjanya.


"Siapa disana?" tanya Nathan sambil beranjak dari duduknya.


Karena tidak mendapat jawaban apapun, dengan pelan Nathan membawa langkahnya mendekat ke arah sumber suara.


Nathan berusaha memfokuskan mata dan telinganya untuk memastikan apakah ada seseorang di dalam ruang kerjanya atau tidak.


Namun saat Nathan semakin mendekat, Nathan mulai mendengar gerakan-gerakan pelan dari balik rak bukunya.


"Siapapun kau, keluarlah atau aku akan memanggil polisi untuk memaksamu keluar!" ucap Nathan.


Tidak ada jawaban lagi, Nathanpun semkin mendekat dan tiba-tiba Aleea keluar dari balik rak dengan membawa sebuah buku.


"Aleea!" ucap Nathan yang terkejut dengan keberadaan Aleea di dalam ruang kerjanya.


"Sangat berlebihan sekali, dasar penakut!" ucap Aleea mencibir.


"Apa yang kau lakukan disini dan kenapa kau tidak menjawabku?" tanya Nathan kesal.


"Aku hanya ingin meminjam buku, kau bangun terlalu siang jadi aku mengambilnya sendiri sebelum aku meminta izin!" ucap Aleea membela diri.


"Tapi kau bisa menjawab saat aku bertanya Aleea!" ucap Nathan.


"Memangnya kenapa? apa kau sangat takut jika ada hantu di ruang kerjamu ini?" tanya Aleea dengan tersenyum tipis di akhir ucapannya.


"Tentu saja tidak, aku hanya..... aku..... aku khawatir jika ada orang lain yang masuk kesini dan mencari berkas rahasia perusahaan!" jawab Nathan beralasan.


"Lagi pula kenapa kau tiba-tiba membaca buku itu? apa kau ingin mempelajari tentang hukum?" lanjut Nathan bertanya saat ia melihat buku yang Aleea bawa.


"Membaca untuk menambah wawasan tidak ada salahnya bukan?" balas Aleea lalu membawa langkahnya keluar dari ruang kerja Nathan.


Sedangkan Nathan masih berada di tempatnya, menatap Aleea yang sudah keluar dari ruang kerjanya.


"Dasar gadis bodoh yang aneh," ucap Nathan lalu kembali duduk di kursinya, bersiap untuk mengerjakan pekerjaannya.


"Untuk apa dia membaca buku tentang hukum? memangnya dia akan mengerti? dia bahkan tidak menyelesaikan kuliahnya!"


Nathan menggelengkan kepalanya pelan, berusaha untuk melupakan kejadian tidak penting yang baru saja terjadi dan fokus dengan pekerjaan yang harus segera ia selesaikan.


Saat tengah mengerjakan pekerjaannya, pandangannya tertuju pada jam yang ada pada laptopnya dan ia baru menyadari jika saat itu hari masih cukup pagi.


"Ini masih pagi dan dia bilang sudah siang, memangnya jam berapa dia bangun? kenapa dia....."


Nathan menghentikan ucapannya karena sadar jika ia terlalu banyak memikirkan Aleea.


"Sadarlah Nathan, jangan terlalu memikirkannya, aku hanya perlu membuatnya jatuh cinta padaku tanpa aku harus terus memikirkannya!" ucap Nathan pada dirinya sendiri.


Di sisi lain, Aleea yang baru saja masuk ke kamarnya segera menutup pintu kamarnya rapat-rapat lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjang .


"Astaga, hampir saja!" ucap Aleea sambil memegang dadanya yang berdebar.


Tanpa sepengetahuan Nathan, Aleea memang diam-diam masuk ke ruang kerja Nathan, berniat untuk mengambil salah satu buku yang membahas tentang dunia bisnis.

__ADS_1


Saat tengah mencari buku itu, tiba-tiba Aleea mendengar pintu ruangan terbuka, membuat Aleea panik dan gugup.


Karena panik, Aleea menyembunyikan dirinya di antara rak buku yang ada disana dan tanpa sengaja menjatuhkan salah satu buku.


Aleea semakin panik saat mendengar suara langkah Nathan yang semakin mendekat dan sebelum Nathan menyadari keberadaannya disana, Aleea segera mengambil buku lain sekenanya.


Aleea tidak ingin Nathan mengetahui dirinya yang sedang berusaha mempelajari tentang dunia bisnis saat itu.


"Seharusnya aku tidak perlu bersembunyi seperti ini, aku hanya tinggal mengatakan padanya jika aku ingin meminjam buku!" ucap Aleea dalam hati saat langkah Nathan semakin mendekat.


Pada akhirnya Aleea menunjukkan dirinya di hadapan Nathan dengan berusaha keras untuk terlihat santai dan menyembunyikan kegugupannya.


"Aaargghhh aku benar-benar sangat bodoh, kenapa aku bersembunyi darinya, apa yang sedang dia pikirkan tentangku sekarang? pencuri? perempuan aneh? aaarrgghh menyebalkan!"


Aleea menghela napasnya kesal lalu beranjak dan pergi ke dapur untuk membuat jus seperti biasanya.


Aleea kemudian meminum jusnya di meja makan sembari memeriksa sosial media toko kuenya.


"Sejauh ini semuanya berjalan dengan baik, pengikut di sosial media juga sudah semakin banyak," ucap Aleea dalam hati.


"Apa kau akan pergi pagi ini?" tanya Nathan yang entah sejak kapan duduk di hadapan Aleea, membuat Aleea sedikit terkejut.


Aleea hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Nathan karena ia sedang membalas beberapa pesan yang masuk ke sosial media toko kuenya.


Beberapa kali Aleea tersenyum saat membaca komentar-komentar dari para pengikut toko kuenya.


"Kau terlihat seperti orang gila sekarang!" ucap Nathan yang membuat Aleea segera membawa pandangannya pada Nathan.


"Apa kau berbicara denganku?" tanya Aleea.


"Tidak, aku sedang berbicara dengan gelas!" jawab Nathan sambil menyeruput minumannya.


"Itu artinya kau yang gila!" ucap Aleea sambil bernajak dari duduknya.


Nathan seketika terbatuk saat mendengar apa yang Aleea katakan, Nathan bahkan belum sempat mengatakan apapun tetapi Aleea sudah pergi dari meja makan.


"Dia benar-benar berbeda dari Aleea yang pertama kali aku temui dulu!" ucap Nathan dalam hati sambil membawa pandangannya menatap Aleea yang berjalan menaiki tangga.


Sedangkan Aleea, membawa langkahnya menaiki tangga sambil menerima panggilan dari Tika.


"Aku akan segera bersiap-siap, mungkin 10 menit lagi selesai!" ucap Aleea pada Tika.


Setelah panggilan berakhir, Aleea segera merapikan pakaiannya, memasukkan beberapa barang ke dalam tasnya lalu membawanya keluar dari kamar.


"Aku akan mengantarmu!" ucap Nathan dengan menahan tangan Aleea saat Aleea baru saja menuruni tangga.


"Tidak perlu," balas Aleea sambil menarik tangannya dengan kasar.


"Kenapa kau lebih memilih Evan yang....."


"Tika yang menjemputku, bukan Evan!" ucap Aleea memotong ucapan Nathan sambil melanjutkan langkahnya.


"Aaahh ya, kau tidak perlu berusaha terlalu keras untuk menunjukkan pada semua orang bagaimana hubungan kita, aku sangat terganggu dengan hal itu!" ucap Aleea lalu berlari kecil, keluar dari rumah.


"Berusaha terlalu keras? merasa terganggu? bisa-bisanya dia mengatakan hal seperti itu padaku, apa dia lupa dia pernah hampir bunuh diri hanya karena aku sudah tidak mencintainya!" ucap Nathan kesal.


**


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 8 malam saat Nathan duduk di balkon dengan membawa satu bukunya.


Ia sengaja membaca buku di balkon karena ingin melihat apakah Aleea pulang dengan Evan atau tidak.


Namun sudah lebih dari dua jam berlalu, tetapi belum ada tanda-tanda kedatangan Aleea.


Sampai akhirnya, terlihat sebuah mobil yang berhenti di depan gerbang rumahnya.


Terlihat Aleea keluar dari mobil lalu masuk ke dalam rumah.


"Dia tidak bersama Evan, apa dia bersama temannya? atau mungkin dia bersama laki-laki lain?" tanya Nathan pada dirinya sendiri.


"Tidak akan aku biarkan Aleea satu mobil bersama laki-laki lain!" ucap Nathan yang segera beranjak dari duduknya.


Nathan segera keluar dari kamarnya sebelum Aleea masuk ke dalam kamar. Saat Nathan baru saja keluar, Nathan segera menahan tangan Aleea yang akan masuk ke dalam kamar.


"Ada apa lagi Nathan? aku sangat lelah, jadi jangan menggangguku!" tanya Aleea dengan kesal sambil menarik tangannya dari Nathan.


"Dengan siapa kau pulang?" tanya Nathan tanpa basa-basi.


"Dengan temanku, kenapa?" balas Aleea.

__ADS_1


"Teman laki-laki?" tanya Nathan.


"Tentu saja bukan, Tika yang mengantarku pulang!" jawab Aleea.


"Sejak kapan menjadi peduli padaku seperti ini, Nathan? sejak kapan kau jadi memperhatikanku diam-diam seperti ini? tetaplah bersikap acuh padaku seperti biasanya, sikapmu yang seperti ini justru membuatku sangat kesal!" lanjut Aleea.


"Aku tidak bermaksud peduli padamu, aku juga tidak memperhatikanmu diam-diam, kau selalu sibuk dengan duniamu sendiri dan aku tidak ingin apa yang kau lakukan akan membuat kesalahan yang merugikanku!" balas Nathan beralasan.


"Aku tidak sebodoh itu Nathan, jika aku mau aku sudah mengundang media dan memberi tahu media bagaimana hubungan kita yang sebenarnya!" ucap Aleea


"Kau tidak bisa melakukan hal itu Aleea, kau masih terikat kontrak denganku selama kita belum bercerai!" ucap Nathan mengingatkan.


"Aku tau Nathan.... aku tau, jadi tidak perlu mengingatkanku hal bodoh itu," balas Aleea yang semakin kesal.


"Sekarang urus saja urusanmu sendiri dan aku akan mengurus urusanku sendiri, tetap bersikap saling tidak peduli seperti biasa agar aku tidak semakin tertekan dengan hubungan yang tidak jelas ini!" lanjut Aleea lalu masuk ke kamarnya.


"Dia selalu saja meninggalkanku seperti ini!" gerutu Nathan lalu berjalan masuk ke ruangannya.


"Bagaimana aku bisa membuatnya jatuh cinta, sedangkan dia merasa terganggu dan tertekan hanya karena aku yang berusaha peduli padanya," batin Nathan dalam hati saat ia sudah berada di dalam kamarnya.


Nathan menghela napasnya panjang, merasakan betapa rumitnya memiliki hubungan dengan perempuan.


**


Hari telah berganti, Aleea bangun lebih pagi dari biasanya karena hari itu ia harus mempersiapkan banyak hal untuk mengikuti bazar.


Setelah selesai bersiap, Aleea membawa langkahnya menuruni tangga dan ia baru ingat jika Nathan harus membantunya hari itu.


"Kenapa dia belum turun? apa dia masih tidur?" tanya Aleea sambil berlari kecil menaiki tangga.


Aleea kemudian mengetuk pintu kamar Nathan beberapa kali sambil memanggilnya, namun sama sekali tidak ada jawaban dari dalam.


Aleea kemudian mencoba untuk membukanya dan berhasil, pintu kamar Nathan terbuka, terlihat Nathan yang sedang tidur dengan nyenyak di atas ranjangnya.


"Astaga, laki-laki ini!" ucap Aleea kesal lalu mengambil bantal yang ada di atas ranjang dan menaruhnya di atas wajah Nathan kemudian menekannya.


Aleea sengaja mendekap wajah Nathan dengan guling agar Nathan segera bangun dari tidurnya.


"Mmmmppphhh mmmpphh!" Nathan yang tidak bisa bernapas dan terkejut dengan apa yang terjadi hanya bisa berteriak sambil berusaha melepaskan bantal yang menutup wajahnya.


Di tengah kesadarannya yang belum sepenuhnya bangun, ia merasa benar-benar hampir mati saat itu.


Aleea kemudian menarik bantal itu dari wajah Nathan dan melihat raut wajah Nathan yang pucat dan tampak panik.


"Aleea, apa kau gila? kau hampir membunuhku Aleea!"


"Jika aku tidak akan dipenjara karena membunuh, aku pasti sudah membunuhmu Nathan!" balas Aleea dengan tersenyum tipis.


Nathan yang kesalpun segera beranjak dan memegang kedua tangan Aleea dengan mendorongnya, membuat Aleea terbaring di atas ranjang Nathan dengan kedua tangan yang dicengkeram oleh Nathan di atas kepala Aleea.


"Apa kau berniat membunuhku, Aleea?" tanya Nathan dengan menatap tajam wajah Aleea yang ada tepat di bawah wajahnya.


"Aku hanya bercanda Nathan, aku tidak segila itu!" balas Aleea gugup.


Entah kenapa Aleea merasa tiba-tiba jantungnya berdetak kencang, dadanya berdebar tanpa bisa ia kendalikan saat itu.


"Kau harus tau Aleea, aku bisa melakukan hal paling gila yang tidak akan pernah kau bayangkan, jadi jangan pernah mencoba untuk melakukan hal gila padaku!" ucap Nathan dengan tatapan tajamnya.


"Aku..... aku tidak benar-benar ingin melakukannya Nathan!" balas Aleea berusaha membela diri.


"Dia sangat cantik, gadis gila ini benar-benar sangat cantik," ucap Nathan dalam hati yang tiba-tiba fokus pada kecantikan Aleea.


Nathan kemudian menjatuhkan dirinya begitu saja, kepalanya berada tepat di atas dada Aleea dan tubuhnya menyentuh tubuh Aleea tanpa jarak kecuali pakaian yang mereka kenakan saat itu.


Aleea yang terkejut bukannya berteriak atau mendorong Nathan, ia justru hanya terdiam dengan degup jantungnya yang semakin berdetak kencang.


Aleea menyadari apa yang terjadi saat itu, tetapi bagian lain dari dirinya menginginkan waktu untuk berhenti saat itu juga.


Bahkan ada keinginan gila dirinya yang ingin memeluk Nathan dengan erat saat itu.


Di sisi lain, Nathanpun hanya terdiam. Ia bisa merasakan debaran dalam dadanya beradu dengan debaran yang juga Aleea rasakan saat itu.


Entah kenapa Nathan merasa apa yang dia lakukan saat itu membuatnya begitu nyaman.


Ia bahkan merasa jika rasa nyaman yang ia rasakan saat itu belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Ada sebuah ketenangan dalam hatinya saat dirinya dan Aleea bersentuhan tanpa jarak.


Perlahan, debaran dalam dada yang sebelumnya membuat gugup, kini mulai memberikan rasa nyaman untuk satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2