
Evan masih berada di ruangan Nathan, ia tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya sedang Nathan rencanakan karena Nathan sama sekali tidak memberi tahunya.
"Jangan terlalu mengkhawatirkan Aleea, aku tidak akan melakukan sesuatu yang akan menyakitinya," ucap Nathan yang seolah mengerti kekhawatiran Evan.
"Baiklah, apapun rencanamu, aku harap kau tidak akan membuat masalah baru dengan apa yang kau rencanakan itu!" balas Evan.
Nathan hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.
"Bagaimana dengan Vina? apa dia benar-benar berubah pikiran?" tanya Evan.
"Entahlah, dia tidak mengatakan apapun padaku, dia sama sekali tidak menyinggung masalah surat pengunduran dirinya," jawab Nathan.
"Sepertinya kau benar, surat pengunduran diri itu hanya gertakan yang dia lakukan agar kau melakukan apa yang dia inginkan," ucap Evan.
"Aku sudah menduga hal itu, mungkin aku sempat lengah kemarin, tapi sekarang aku akan lebih tegas padanya!" ucap Nathan.
"Baguslah kalau begitu, semoga saja dia masih bisa bekerja secara profesional!" balas Evan lalu beranjak dari duduknya.
"Jangan menunda meeting dengan mendadak seperti tadi atau klien kita akan menganggapmu tidak profesional!" ucap Evan sebelum ia meninggalkan ruangan Nathan.
Nathan hanya menganggukkan kepalanya lalu kembali fokus dengan pekerjaannya.
Tak lama kemudian pintu ruangan Nathan kembali terbuka, Vina masuk ke ruangan Nathan dan duduk di hadapan Nathan.
"Ada yang ingin aku bicarakan," ucap Vina.
"Jika tentang masalah pribadi, sebaiknya kau menunggu sampai jam kantor selesai!" balas Nathan dengan kedua matanya yang masih fokus pada komputernya.
"Aku ingin minta maaf, sebagai pegawai yang bekerja di bawahmu," ucap Vina.
Nathan hanya diam, ia merasa enggan menanggapi ucapan Vina.
"Saya minta maaf karena sempat berpikir sempit kemarin," ucap Vina yang merubah kata-katanya dengan lebih sopan, namun itu sama sekali tidak menarik perhatian Nathan.
"Saya harap saya bisa menarik kembali surat pengunduran diri saya, Pak!" ucap Vina.
"Apa kau sudah berubah pikiran?" tanya Nathan.
"Iya, aku..... saya sudah memikirkannya dengan baik sejak kemarin dan saya sadar apa yang saya lakukan kemarin adalah hal yang salah jadi saya minta maaf dan berharap pak Nathan tidak akan menandatangani surat pengunduran diri saya," jelas Vina.
"Kau bekerja dengan sangat baik selama kau disini Vina, kau bekerja keras lebih dari temanmu yang lain, itu kenapa aku memberikan kepercayaanku padamu dan memberikan beberapa hal yang tidak aku berikan pada yang lainnya!" ucap Nathan.
"Tapi aku baru sadar jika hal itu rupanya membuatmu lupa tentang posisimu disini, jadi mungkin sebaiknya aku harus memperlakukanmu sama dengan yang lainnya meskipun kau bekerja lebih keras dari mereka," lanjut Nathan.
"Tapi bukankah itu tidak adil, Pak?" tanya Vina yang merasa keberatan, karena selama ini ia memang selalu menjadi pegawai yang sangat dekat dengan Nathan.
"Itu sudah menjadi keputusanku, jika kau tidak bisa menerimanya, kau bisa tetap mengundurkan diri dari perusahaan ini dan aku akan menandatangani surat pengunduran dirimu sekarang juga!" ucap Nathan sambil mengeluarkan surat pengunduran diri Vina dari dalam laci.
"Jika begitu, jangan salahkan saya jika saya tidak akan bekerja sekeras dulu!" ucap Vina.
"Itu terserah padamu, jika kau tidak menunjukkan kualitasmu yang baik, aku juga tidak akan mempercayakan projek besar perusahaan padamu dan itu sama sekali tidak menjadi masalah buatku karena ada Evan yang akan melakukannya bersama timnya!" balas Nathan.
Vina hanya diam, ia merasa Nathan benar-benar sudah berubah. Ia merasa keberadaannya disana sudah tidak penting lagi bagi Nathan.
"Aku sangat berterima kasih jika kau masih mau menjadi bagian dari perusahaan ini, tapi jika kau sudah lelah dan ingin pergi, aku tidak akan menahanmu Vina," ucap Nathan.
"Tapi jika kau memutuskan untuk tetap disini, maka kerjakan pekerjaanmu dengan baik atau aku bisa mengeluarkanmu dari sini tanpa ragu!" lanjut Nathan.
Vina menghela napasnya kesal lalu menatap Nathan dengan tatapan penuh kekesalan.
"Baiklah, saya akan tetap berada disini dan melakukan pekerjaan saya dengan baik!" ucap Vina.
Nathan hanya menganggukkan kepalanya pelan lalu mengembalikan surat pengunduran diri Vina.
Vianpun menerimanya, beranjak dari duduknya lalu berjalan keluar dari ruangan Nathan.
Bukannya kembali ke meja kerjanya, Vina justru membawa langkahnya ke arah toilet, masuk ke salah satu bilik toilet sambil meremas surat pengunduran dirinya dengan penuh emosi.
"Aku tidak tahu apa yang membuatmu seperti ini Nathan, tapi aku memilih untuk tetap berada disini bukan tanpa alasan, mungkin sekarang aku merendahkan diriku di hadapanmu, tapi untuk selanjutnya aku tidak akan pernah lagi melakukan hal ini!" ucap Vina dalam hati.
**
Di tempat lain, Aleea baru saja sampai di ruko.
"Bagaimana Aleea? apa Nathan yang akan membantu kita?" tanya Tika penasaran.
Aleea hanya menganggukkan kepalanya tak bersemangat karena menerima Nathan sebenarnya bukanlah keinginannya.
"Kenapa kau terlihat tidak bersemangat Aleea? apa kau keberatan jika Nathan membantu kita?" tanya Tika.
"Jika bukan karena terpaksa, aku tidak akan membiarkan dia terlibat dengan apapun yang aku lakukan," jawab Aleea dengan menghela napasnya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Tika.
"Karena selama ini dia tidak pernah peduli padaku, dia hanya peduli jika....."
Aleea menghentikan ucapannya, ia baru saja sadar jika ia tidak seharusnya mengatakan hal itu pada Tika.
"Maaf, sepertinya aku terlalu kesal sampai tidak bisa mengontrol ucapanku," ucap Aleea yang tidak melanjutkan ucapannya.
"Tidak masalah, kau bisa menceritakan apapun padaku Aleea, tapi aku tidak akan memaksa, berceritalah kapanpun kau mau bercerita dan tidak perlu menceritakannya jika memang kau tidak ingin menceritakannya," balas Tika.
Aleea menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. Ia membawa pandangannya pada Tika dengan tersenyum lalu menyandarkan kepalanya pada Tika.
"Kau teman yang sangat baik Tika, maaf jika aku bersikap egois padamu," ucap Aleea.
"Aku tidak pernah merasa kau bersikap egois Aleea, jika kau keberatan dengan keberadaan Nathan di acara bazar nanti, kau bisa menolaknya, apapun keputusanmu, aku akan menyetujuinya," ucap Tika.
"Tidak Tika, aku tidak akan merugikan bisnis kita hanya karena masalah pribadiku," balas Aleea.
"Apapun masalahmu, aku harap kau bisa menyelesaikannya dengan baik Aleea, dengan kepala dingin dan dengan sikap yang dewasa, jangan sampai ada penyesalan di kemudian hari!" ucap Tika.
Aleea hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun. Meksipun Tika sangat baik padanya, tapi Aleea tidak ingin Tika mengetahui hal besar yang ia dan Nathan sembunyikan dari banyak orang.
"Tidak ada penyelesaian dalam masalahku dengan Nathan, satu-satunya jalan untuk menyelesaikan masalah kita hanyalah perceraian yang aku tidak tahu kapan akan terjadi," ucap Aleea dalam hati dengan menghela napasnya panjang.
**
Waktu berlalu, Aleea baru saja memesan taksi sebelum ia keluar dari ruko bersama Tika.
Namun bukannya taksi yang datang, justru Evan yang datang menjemput Aleea.
"Alasan apa lagi kali ini?" tanya Aleea dengan tersenyum mengejek saat Evan menghampirinya.
"Aaahh aku lupa belum membuat alasan hari ini, hehe...." jawab Evan dengan terkekeh.
"Karena sudah ada Evan, sekarang aku pulang dulu!" ucap Tika.
"Okay, take care!" ucap Aleea yang dibalas senyum oleh Tika.
Tak lama kemudian sebuah taksi yang sudah Aleea pesan datang.
"Maaf Evan, tapi taksi yang aku pesan sudah datang," ucap Aleea pada Evan.
"Iya," jawab Aleea sambil menganggukkan kepalanya.
"Tunggu disini!" ucap Evan lalu berjalan menghampiri taksi itu.
Aleea tidak tahu apa yang sebenarnya Evan lakukan, tetapi Aleea melihat Evan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu dari dompetnya lalu memberikan uang itu pada supir taksi.
Aleeapun hanya mengernyitkan keningnya, terlebih saat tiba-tiba taksi itu pergi begitu saja.
"Evan, apa yang kau lakukan? kenapa taksinya pergi?" tanya Aleea yang segera menghampiri Evan.
"Aku sudah membayarnya lebih dari yang seharusnya, jadi dia pergi," jawab Evan.
"Kenapa kau melakukan hal itu Evan?" tanya Aleea yang sedikit kesal.
"Karena aku ingin mengantarmu pulang, ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Aleea!" jawab Evan.
"Kau membuatku merasa bersalah pada supir taksi itu Evan," ucap Aleea murung.
"Aku sudah memberinya lebih banyak Aleea, jadi tidak perlu merasa bersalah!" balas Evan.
"Sepertinya kau terlalu lama berteman dengan Nathan, kau jadi memikirkan semua hal dengan sudut pandang uang!" ucap Aleea.
"Apa kau marah padaku?" tanya Evan.
"Tidak, tapi jangan mengulanginya lagi," jawab Aleea.
"Baiklah, aku minta maaf," ucap Evan.
Aleea dan Evan kemudian masuk ke dalam mobil. Evanpun mengendarai mobilnya meninggalkan ruko, mengantarkan Aleea pulang ke rumahnya.
"Apa yang ingin kau bicarakan denganku Evan?" tanya Aleea.
"Aku melihatmu di kantor tadi," jawab Evan.
"Aku kesana memang untuk menemui Nathan," ucap Aleea.
"Ada apa Aleea? tidak biasanya kau datang ke kantor untuk menemui Nathan, apa ada masalah?" tanya Evan.
"Tidak ada, hanya ada beberapa hal yang harus aku selesaikan dengannya," jawab Aleea.
__ADS_1
"Apa kau tidak ingin menceritakannya padaku Aleea?" tanya Evan.
"Semuanya baik-baik saja Evan, selama aku bisa mengatasi masalahku sendiri, aku akan mengusahakannya sebelum aku meminta tolong padamu, jadi jangan khawatir," ucap Aleea.
"Tapi....."
"Evan, tidak semua hal yang terjadi harus aku ceritakan padamu bukan!" ucap Aleea memotong ucapan Evan.
Evan hanya menganggukkan kepalanya, tanpa mengatakan apapun karena Aleea yang enggan untuk bercerita padanya.
"Aku sangat berterima kasih karena kau sudah banyak membantuku Evan, kau sangat baik dan aku berhutang banyak padamu, tapi aku juga ingin berusaha menyelesaikan masalahku sendiri dan tidak selalu bergantung padamu," ucap Aleea.
"Aku mengerti, tapi kapanpun kau membutuhkan bantuan, jangan pernah ragu untuk datang padaku," ucap Evan.
Aleea menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
"Kau tidak marah bukan?" tanya Aleea, khawatir jika ucapannya menyinggung Evan.
"Tidak, aku mengerti," jawab Evan.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai.
"Apa kau ingin menemui Nathan? tanya Aleea sebelum ia keluar dari mobil Evan.
"Tidak, aku harus segera pulang, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan," jawab Evan.
"Baiklah, terima kasih sudah mengantarku pulang dan hati-hati di jalan!" ucap Aleea yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Evan.
Aleea kemudian masuk ke dalam rumah setelah mobil Evan meninggalkan halaman rumahnya.
Meksipun sebenarnya melihat Nathan yang duduk di ruang tamu, namun Aleea terus melanjutkan langkahnya yang sengaja mengabaikan Nathan.
Melihat hal itu, Nathanpun segera beranjak dan berlari kecil mengejar Aleea.
"Kenapa kau selalu pulang bersama Evan?" tanya Nathan pada Aleea.
"Dia menjemputku," jawab Aleea singkat.
"Tidak bisakah kau pulang sendiri? atau biarkan aku yang menjemputmu!"
"Aku bisa pulang sendiri, tetapi dia memaksa untuk mengantarku pulang," balas Aleea.
"Dia pasti akan berhenti menjemputmu jika kau membiarkanku menjemputmu!" ucap Nathan.
Aleea mengentikan langkahnya, membawa pandangannya pada Nathan yang ikut menghentikan langkahnya.
"Apa sebenarnya yang kau mau Nathan? dulu kau bersikap sangat hangat padaku, membuatku percaya jika kita saling mencintai, tapi setelah kita menikah sikapmu menjadi dingin dan semakin lama semakin kasar padaku lalu sekarang apa? kenapa kau tiba-tiba bersikap seperti ini?"
"Kau masih istriku Aleea, bukankah akan menjadi masalah jika kau selalu pulang malam bersama Evan?" balas Nathan mencari alasan.
"Tidak akan menjadi masalah jika kau tidak memberi tahu mama, lagi pula selama ini kau tidak pernah peduli padaku, tapi sekarang tiba-tiba mempedulikanku?"
"Aku seperti ini bukan karena aku peduli padamu Aleea, aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan untuk tetap merahasiakan masalah diantara kita!" ucap Nathan.
"Kau memang selalu bersikap semaumu sendiri Nathan, sangat egois dan kekanak-kanakan!" ucap Aleea melanjutkan langkahnya dengan berlari kecil meninggalkan Nathan.
"Terkadang sikap egois memang diperlukan, untuk apa aku menghabiskan banyak waktu dan tenaga hanya untuk hal yang sia-sia!" ucap Nathan lalu melanjutkan langkahnya dan masuk ke kamarnya.
Nathan menaruh laptopnya di atas meja, duduk diam di tepi ranjangnya, memikirkan apa yang baru saja Aleea katakan padanya.
"Aku tidak sepenuhnya egois, aku hanya sedang mengusahakan apa yang seharusnya menjadi milikku dan salah satu usahaku adalah dengan semua rencana yang sudah aku pikirkan dengan baik dan apa yang aku lakukan bukanlah hal yang salah!" ucap Nathan.
Nathan kemudian menjatuhkan dirinya di atas ranjang, menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong.
Tiba-tiba kepalanya mengulas kembali mimpi yang dialaminya saat ia berada di Paris.
"Aaarrgghh mimpi sialan itu!" ucap Nathan kesal lalu menutup wajahnya dengan bantal miliknya.
Namun bukannya melupakan mimpi itu, Nathan justru memikirkan hal lain.
"Apa sampai sekarang Aleea belum mengetahui tentang dinding kaca di kamar mandi itu?" tanya Nathan pada dirinya sendiri.
Untuk beberapa saat Nathan terdiam, degup jantungnya tiba-tiba berdetak kencang, membuat Nathan segera beranjak dari ranjangnya.
"Aaarrgghh aku pasti sudah gila!" ucap Nathan yang segera masuk ke kamar mandinya.
Nathan berdiri di depan wastafel, membasuh wajahnya dengan air mengalir dan menatap pantulan wajahnya pada cermin di hadapannya.
Namun bayangan Aleea yang ia lihat saat di Paris tiba-tiba terngiang di kepalanya, seolah bayangan itu kembali terlihat pada cermin yang ada di hadapannya.
Tanpa sadar Nathan kembali terdiam, menikmati beberapa detik imajinasi liarnya yang tidak bisa ia kendalikan.
__ADS_1