
Sebagai sahabat yang sangat dekat dan saling memahami satu sama lain, Nathan sangat mengetahui banyak kebiasaan Evan.
Salah satunya adalah saat Evan sedang menahan amarahnya, dia akan berkeringat dengan tiba-tiba meskipun pada cuaca yang cukup dingin.
Evan yang menyadari apa yang terjadi pada dirinya, berusaha untuk tetap tenang agar bisa mengendalikan emosi dalam dirinya yang entah timbul dari mana.
"Apa maksudmu Nathan? aku berkeringat karena dari tadi membakar daging, sosis dan jagung!" balas Evan beralasan.
"Aaahhh iya, Rania juga sedikit berkeringat karena dari tadi berdiri disini," sahut Rania lalu mengambil tissue dan memberikannya pada Evan.
Nathanpun hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun meskipun ia meragukan apa yang Evan katakan padanya.
Waktupun berlalu, malam semakin larut bersama udara dingin yang semakin menusuk tulang, terlebih setelah api unggun mereka perlahan mulai padam karena kehabisan kayu bakar.
Nathan dan Evanpun membereskan semuanya, sedangkan Rania mengajak Aleea masuk ke dalam vila terlebih dahulu.
Setelah semuanya beres, Nathan dan Evanpun masuk ke dalam vila.
"Malam ini benar-benar malam yang sangat menyenangkan," ucap Rania penuh senyum.
"Apa ini yang kau inginkan, Rania?" tanya Evan.
"Ini adalah salah satunya, banyak hal lain yang ingin Rania lakukan kak," jawab Rania.
"Kita akan melakukan apa yang kau inginkan besok, tapi sebelum gelap, kita harus kembali!" ucap Nathan.
"Tidak bisakah kita disini lebih lama lagi kak?" tanya Rania.
"Tidak bisa Rania, aku dan Evan harus kembali bekerja hari Senin, jadi kita harus sudah ada di rumah sebelum itu," jawab Nathan.
"Aku permisi ke kamar dulu, aku sedikit merasa lelah," ucap Aleea sambil beranjak dari duduknya.
"Kenapa kakak masih disini?" tanya Rania pada Nathan yang masih duduk di tempatnya.
Nathan hanya diam dengan membawa pandangannya pada Evan, sedangkan Evan segera mengalihkan pandangannya sambil menyeruput minumannya.
"Pergilah kak, temani kak Aleea, bukankah kalian seharusnya saling menghangatkan di cuaca dingin seperti ini!" ucap Rania menggoda Nathan.
Evan yang mendengar hal itu tiba-tiba tersedak minumannya karena terkejut dengan apa yang Rania katakan pada Nathan.
"Kau benar," ucap Nathan penuh senyum sambil membawa dirinya beranjak dari duduknya.
Namun tiba-tiba Evan menahan tangan Nathan.
"Kenapa?" tanya Nathan.
"Tidak," jawab Evan sambil menggelengkan kepalanya.
Entah kenapa Evan tiba-tiba menahan tangan Nathan, seolah tidak ingin Nathan masuk ke kamar yang sama dengan Aleea, apa lagi menghabiskan malam dalam satu kamar yang sama.
Dalam hatinya Evan berharap tidak akan ada sesuatu yang terjadi antara Aleea dan Nathan, setidaknya sebelum Nathan benar-benar membuka hatinya untuk Aleea.
Nathan kemudian membawa langkahnya masuk ke dalam kamar, sedangkan Evan hanya menghela napasnya kasar lalu beranjak dari duduknya.
"Kak Evan mau kemana?" tanya Rania.
"Kita harus beristirahat agar bisa bangun pagi besok!" jawab Evan tanpa menghentikan langkahnya.
Di sisi lain, Aleea yang belum tidur begitu terkejut saat Nathan masuk ke kamarnya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Aleea yang segera beranjak dari posisi tidurnya.
"Pelankan suaramu atau Rania akan mendengarnya," ucap Nathan berbisik.
"Apa yang kau lakukan disini Nathan? kau tidak akan tidur disini bukan?" tanya Aleea mengulang pertanyaannya.
"Lalu dimana aku akan tidur? hanya ada 3 kamar besar disini, tidak mungkin aku tidur bersama bibi bukan?" balas Nathan.
"Tidak.... kau tidak mau tidur disini bersamamu!" ucap Aleea menolak.
"Kenapa? bukankah ini yang kau inginkan saat malam pertama kita setelah menikah?" tanya Nathan dengan membawa dirinya mendekat pada Aleea.
"Jaga sikapmu Nathan, aku akan berteriak jika kau berani menyentuhku!" ucap Aleea dengan menjaga jaraknya dari Nathan.
"Kita adalah suami istri yang sah Aleea, apa salahnya jika aku hanya sekedar menyentuh istriku?" tanya Nathan.
__ADS_1
"Suami istri kau bilang? setelah kau mengatakan jika kau sudah tidak mencintaiku dan tidak peduli padaku, apakah hubungan kita masih bisa dianggap sebagai suami istri?" balas Aleea.
"Tentu saja bisa, aku selalu bisa melakukan apapun yang aku inginkan Aleea, kau harus tau itu!" ucap Nathan dengan senyum yang mengerikan di mata Aleea.
Dulu, Aleea memang selalu bertanya-tanya tentang alasan Nathan yang tidak ingin berada satu kamar dengannya.
Namun setelah semua yang terjadi, Aleea sama sekali tidak ingin Nathan menyentuhnya, apa lagi melakukan hal yang lebih dari itu, meskipun ia tau jika hubungan mereka masih berada di bawah payung pernikahan yang sah.
Aleea tidak akan membiarkan dirinya ternodai oleh Nathan, laki-laki yang tidak mencintainya dan hanya mengurungnya dalam ikatan pernikahan tanpa cinta.
"Aku yang akan pergi jika kau tidak pergi dari sini!" ucap Aleea dengan membawa dirinya meninggalkan ranjang.
Namun dengan cepat Nathan menahan tangan Aleea dan mendorong Aleea sampai Aleea jatuh terbaring di atas ranjang.
Nathan hanya berdiri dengan tersenyum menatap Aleea yang terbaring di hadapannya. namun tiba-tiba....
Tooookkk tooookkk tooookkk
Suara ketukan pintu membuat Nathan dan Aleea seketika membawa pandangan mereka ke arah pintu.
Nathan kemudian segera berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Evan, ada apa?" tanya Nathan pada Evan yang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Ikut denganku!" ucap Evan lalu menarik tangan Nathan dan mengajaknya naik ke lantai dua.
Evan sengaja memaksa Nathan untuk ikut dengannya, karena Evan khawatir jika Nathan akan melakukan sesuatu yang di luar batas pada Aleea.
"Malam ini kau tidur disini!" ucap Evan sambil membuka pintu kamarnya.
"Kenapa? bukankah kau bilang aku tidak boleh membuat Rania curiga? tidur di kamar yang berbeda dengan Aleea hanya akan membuat Rania curiga, Evan!"
"Dia tidak akan curiga selama dia tidak mengetahuinya," balas Evan.
"Tapi kenapa? bukankah kau yang memintaku untuk lebih dekat dengan Aleea?" tanya Nathan.
"Tidurlah Nathan, kau terlalu banyak bertanya seperti Rania," ucap Evan tanpa menjawab pertanyaan Nathan sambil menutup pintu kamarnya setelah Nathan masuk.
"Apa kau takut aku akan melakukan sesuatu pada Aleea?" tanya Nathan pada Evan yang sudah berbaring di atas ranjang.
"Aku tau kau laki-laki normal Nathan dan kau belum pernah tidur di satu ranjang dengan perempuan, bukan tidak mungkin jika hal yang tidak diinginkan akan terjadi bukan?"
"Tidak ada yang salah jika kalian memang benar-benar suami istri yang saling mencintai," balas Evan.
"Kau terlalu mengkhawatirkannya Evan, aku sama sekali tidak berniat melakukan hal itu, lagi pula jika memang aku menginginkan hal itu, aku pasti sudah melakukannya sejak lama," ucap Nathan.
"Dan kau tidak mengetahuinya Evan, aku pernah tidur di satu ranjang dengan Vina," lanjut Nathan dalam hati.
"Jangan pernah melakukan hal yang di luar batas padanya Nathan, kau sudah memanfaatkannya jadi setidaknya jangan merusaknya," ucap Evan.
"Yaa.... yaa... yaaa.. aku mengerti," balas Nathan lalu menjatuhkan dirinya di ranjang yang sama dengan Evan.
Namun sebelum mereka berdua tertidur, tiba-tiba suara ketukan pintu membuat Nathan dan Evan seketika membawa pandangan mereka ke arah pintu.
Evan seketika menempelkan ujung jari telunjuknya di bibir sebagai kode agar Nathan tidak bersuara.
"Kau harus bersembunyi," ucap Evan berbisik dengan sangat pelan.
Nathanpun mendengus kesal lalu mengedarkan pandangannya ke sekitarnya untuk mencari tempat sembunyi.
Tooookkk tooookkk tooookkk
Suara ketukan pintu kembali terdengar, membuat Nathan dan Evan semakin panik.
"Kak, apa kak Evan sudah tidur?" tanya Rania dari depan kamar Evan.
Evan kemudian membuka lemari besar yang ada di kamarnya dan segera menarik tangan Nathan agar masuk ke dalam lemari.
"Apa kau gila?" protes Nathan namun tidak dipedulikan oleh Evan yang segera menutup pintu lemari lalu berjalan ke arah pintu kamarnya dan membukanya.
"Rania, kenapa kau belum tidur?" tanya Evan pada Rania yang berdiri di depan pintu kamarnya.
Tiba-tiba Rania memeluk Evan begitu saja. Rania menangis dalam pelukan Evan yang membuat Evan terkejut sekaligus bingung.
"Ada apa Rania? apa kau mimpi buruk?" tanya Evan sambil menepuk pelan punggung Rania, berusaha untuk menenangkan Rania meskipun ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Rania.
__ADS_1
"Kapan kak Evan akan melihat Rania sebagai perempuan dewasa kak? kenapa Rania selalu menjadi anak kecil di mata kakak?" tanya Rania dengan terisak.
"Ada denganmu Rania? kenapa kau tiba-tiba berbicara seperti ini?" tanya Evan tak mengerti yang semakin membuat Rania menangis.
Karena takut mencuri perhatian bibi, Evanpun mengajak Rania masuk ke kamarnya dan mendudukkan Rania di tepi ranjangnya.
"Katakan padaku pelan-pelan, apa yang membuatmu tiba-tiba seperti ini Rania?" tanya Evan sambil berjongkok di depan Rania.
"Rania sudah dewasa kak, Rania bukan anak kecil lagi, apa kak Evan tidak bisa melihatnya?" balas Rania dengan masih terisak.
"Bagiku kau akan selalu menjadi adik kecilku Rania, adik yang sangat aku sayangi," ucap Evan.
"Kenapa hanya adik? apa karena menurut kak Evan Rania masih seperti anak kecil?" tanya Rania.
Evan masih terdiam, ia berusaha menemukan kata-kata yang tidak akan membuat Rania tersinggung.
"Rania sudah memikirkannya baik-baik kak, Rania sudah memikirkannya sejak tadi, jadi Rania akan mengatakannya pada kak Evan sekarang," ucap Rania.
"Apa yang ingin kau katakan Rania?" tanya Evan.
"Kak Evan harus tau, Rania bukan anak kecil lagi, di kampus Rania memiliki kekasih, di luar kampus Rania selalu memakai pakaian yang terbuka dan Rania juga pernah melakukan hal yang dilakukan orang dewasa bersama kekasihnya," jelas Rania yang membuat Evan mengernyitkan keningnya.
"Rania tahu apa yang laki-laki suka dan Rania bisa memberikannya, Rania....."
"Cukup Rania, kenapa kau mengatakan semua ini padaku? apa kau pikir dengan mengatakan hal itu padaku, aku akan menganggapmu sebagai perempuan dewasa?" tanya Evan memotong ucapan Rania.
"Justru tidak Rania, apa yang kau lakukan menunjukkan jika kau masih anak-anak labil yang belum bisa berpikir panjang, anak remaja yang bahkan belum bisa memikirkan hal baik dan buruk dari apa yang dia lakukan," lanjut Evan.
"Tapi kak....."
"Kuliah di luar negeri mungkin akan banyak mempengaruhi sikap dan cara berpikirmu Rania, tapi aku harap kau tidak akan hanyut dalam budaya dan kebiasaan buruk yang tidak sesuai dengan semestinya!" ucap Evan.
"Rania tidak suka dilihat sebagai anak kecil kak, Rania sudah dewasa dan Rania ingin menunjukkan itu pada semua orang!" ucap Rania.
"Kau bisa menunjukkannya tanpa menjatuhkan harga dirimu Rania, hanya kau yang bisa menjaga harga dirimu sendiri, jadi jangan biarkan itu jatuh di hadapan laki-laki yang salah!" balas Evan.
Rania hanya terdiam, air matanya kembali menetes membasahi kedua pipinya.
"Apa kau sedang jatuh cinta Rania?" tanya Evan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Rania.
"Tidak perlu berusaha menjadi orang lain hanya untuk menunjukkan jika kau sudah dewasa Rania, mereka yang tulus mencintaimu akan tetap mencintaimu bagaimanapun dirimu," ucap Evan sambil menghapus air mata di kedua pipi Rania.
Evan kemudian memegang kedua bahu Rania agar Rania berdiri kemudian membawa Rania ke dalam dekapannya.
"Aku mengerti, mungkin saat ini adalah saat-saat dimana kau sedang berusaha mencari jati dirimu, tapi jangan biarkan hal-hal buruk di luar sana mempengaruhimu Rania, bagaimanapun dirimu, aku, Nathan dan mama papamu akan selalu menyayangimu dengan tulus," ucap Evan.
"Maafkan Rania kak, seharusnya Rania tidak menceritakan hal ini pada kakak," ucap Rania dengan terisak.
"Kau bisa menceritakan apapun padaku Rania, jika kau merasa berat untuk menceritakannya pada Nathan dan keluargamu, kau tidak perlu ragu untuk menceritakannya padaku," balas Evan.
"Terima kasih kak," ucap Rania yang semakin erat memeluk Evan.
"Sekarang kembalilah ke kamarmu, berisitirahatlah karena besok kita akan melakukan kegiatan yang kau suka!" ucap Evan sambil melepaskan Rania dari dekapannya.
Di sisi lain, Nathan hanya diam saat ia melihat dan mendengar apa yang terjadi di hadapannya. Tanpa Rania tahu, Nathan melihat apa yang Rania dan Evan lakukan sejak Evan baru saja membuka pintu kamarnya.
Dari semua yang ia lihat dan ia dengar, Nathan bisa menyimpulkan jika sang adik ternyata menyukai sahabatnya, Evan.
Setelah memastikan Rania keluar dari kamar dan Evan sudah mengunci pintu kamarnya, Nathanpun keluar dari tempat persembunyiannya.
"Sebaiknya kau menyempatkan waktumu untuk mengobrol dengan Rania, sepertinya dia sedang mengalami masa sulit," ucap Evan pada Nathan.
"Aku sudah melihat dan mendengar semuanya," balas Nathan.
"Bagaimana menurutmu? sepertinya dia ingin membuktikan pada seseorang jika dia sudah dewasa!"
"Apa kau tidak memikirkan apa yang aku pikirkan, Evan?" tanya Nathan.
"Memangnya apa yang kau pikirkan?" balas Evan bertanya.
Nathan menghela napasnya panjang lalu membaringkan badannya di ranjang.
"Lupakan saja, abaikan saja Rania, dia memang suka mencari perhatian," ucap Nathan sambil memejamkan matanya.
"Sejauh yang aku tau, dia sedang mencoba menunjukkan jika dia sudah dewasa, apa mungkin dia menyukai seseorang yang usianya lebih dewasa darinya?" ucap Evan sekaligus bertanya.
__ADS_1
"Entahlah, aku tidak tahu, dia tidak pernah mengatakan apapun padaku," balas Nathan sambil berpura-pura menguap agar Evan berhenti membicarakan hal itu.
"Apapun yang dia lakukan di luar sana, aku hanya berharap agar dia tidak salah menjatuhkan hatinya, bagaimanapun juga aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri," ucap Evan lalu membaringkan dirinya di samping Nathan.