
Waktu berlalu, Aleea dan Nathan sudah berada di dalam pesawat yang akan membawa mereka meninggalkan Paris.
Dalam hatinya Nathan merasa lega karena sudah membawa Aleea pergi dari laki-laki yang mungkin saja mengenal Aleea.
Sebelum Nathan mendapatkan apa yang dia inginkan, dia tidak akan melepaskan Aleea dan dia tidak akan membiarkan Aleea mengingat kembali masa lalunya, terlebih jika sampai Aleea menyadari kesepakatan palsu antara mereka berdua.
"Nathan, apa yang harus aku katakan saat mama tau kita pulang lebih awal dari yang seharusnya?" tanya Aleea pada Nathan saat mereka masih berada di dalam pesawat.
"Katakan saja jika aku yang memaksa," jawab Nathan.
"Baiklah," balas Aleea.
Setelah 16 jam berlalu, Aleea dan Nathan akhirnya sampai di tujuan mereka. Mereka berjalan keluar dengan membawa koper dan tas mereka masing-masing hingga tiba-tiba Aleea mengentikan langkahnya.
"Kenapa?" tanya Nathan dengan membawa pandangannya pada Aleea yang berhenti di belakangnya.
Aleea hanya diam dengan memanyunkan bibirnya tanpa mengatakan apapun.
"Apa kepalamu sakit lagi?" tanya Nathan yang dibalas gelengan kepala oleh Aleea.
Nathan kemudian membawa langkahnya mendekat pada Aleea.
"Apa kau baik-baik saja? kau terlihat sedikit pucat," tanya Nathan khawatir.
"Aku..... lapar...." jawab Aleea tak bersemangat.
"Lapar? lalu kenapa kau tidak makan saat di pesawat tadi?" tanya Nathan.
"Aku tidak bisa makan di pesawat Nathan, aku pikir kau sudah mengetahuinya," jawab Aleea.
"Astaga Aleea, kau benar-benar sangat norak!" ucap Nathan lalu melanjutkan langkahnya.
"Cepatlah, pak Budi sudah menunggu di depan!" lanjut Nathan tanpa mempedulikan Aleea yang merasa sudah lemas saat itu.
Dengan malas, Aleeapun menarik kopernya mengikuti langkah Nathan sampai akhirnya mereka bertemu dengan pak Budi.
Pak Budi kemudian mengambil koper Aleea dan Nathan lalu memasukkannya ke dalam mobil.
Merekapun meninggalkan bandara bersama pak Budi yang memang Nathan perintahkan untuk menjemput mereka berdua.
Tiba-tiba pak Budi menghentikan mobilnya di sebuah restoran, membuat Aleea segera membawa pandangannya pada Nathan yang duduk di sampingnya.
"Apa kita akan makan disini?" tanya Aleea pada Nathan.
"Bukan kita, tapi kau," jawab Nathan lalu keluar dari mobil diikuti oleh Aleea.
Dengan penuh senyum Aleea segera masuk ke dalam restoran dan tanpa ragu memesan banyak makanan untuk dirinya sendiri.
"Apa kau yakin dengan semua yang kau pesan, Aleea?" tanya Nathan setelah mendengar Aleea menyebutkan beberapa menu.
"Tentu saja, aku sudah sangat lapar dari tadi," jawab Aleea tanpa ragu.
"Sekarang giliranmu!" lanjut Aleea sambil memberikan buku menu pada Nathan.
"Lemon tea satu," ucap Nathan.
"Hanya itu? apa kau tidak memesan makanan?" tanya Aleea.
"Tidak," jawab Nathan singkat.
"Baiklah, tapi jangan mengambil sedikitpun makanan milikku!" ucap Aleea.
Waiters kemudian meninggalkan meja Aleea dan Nathan setelah mencatat semua pesanan mereka.
"Kau terlihat sangat terburu-buru saat kita berada di rumah sakit sampai di hotel tadi, tapi kenapa kau sekarang terlihat santai?" ucap Aleea sekaligus bertanya.
"Karena semuanya sudah aman," jawab Nathan.
"Aman? apa yang aman?" tanya Aleea tak mengerti.
"Mmmm.... masalah kantor, Evan sudah menyelesaikannya dengan baik," jawab Nathan berbohong.
"Tapi bukankah kau bilang hanya kau yang bisa menyelesaikannya?" tanya Aleea.
"Aku pikir begitu, tapi ternyata Evan sudah menyelesaikannya," jawab Nathan beralasan.
"Evan memang terbaik, dia memiliki banyak hal yang mengagumkan dalam dirinya," ucap Aleea memuji Evan di depan Nathan.
"Kau berbicara seolah-olah kau sangat mengenalnya, padahal kalian belum lama saling mengenal!" ucap Nathan.
"Belum lama? benarkah? apa dulu kau merahasiakan hubungan kita dari Evan juga?" tanya Aleea yang membuat Nathan terkejut, karena ia baru sadar jika ia salah berbicara.
"Maksudku..... kau..... kau kehilangan ingatanmu bukan? apa kau masih mengingat jika kau mengenal Evan sejak dulu?" balas Nathan.
"Aaahhh.... tentu saja tidak, aku seperti baru mengenalnya setelah aku kesini bersamamu dan sejauh yang aku tau sampai saat ini, dia memang laki-laki yang menyenangkan dan mengagumkan," ucap Aleea.
"Mengagumkan?" tanya Nathan mengulang ucapan Aleea.
"Iya, sangat mengagumkan, aku bahkan sempat berpikir kenapa aku bisa jatuh cinta padamu padahal ada Evan yang jauh lebih baik daripada kau," ucap Aleea.
"Itu artinya aku yang lebih baik," ucap Nathan.
"Entahlah, tapi untuk saat ini, bagiku kau tidak ada apa-apanya dibanding Evan, aku bahkan tidak bisa menemukan satupun kekurangan darinya," balas Aleea.
__ADS_1
"Kau terlalu berlebihan Aleea!" ucap Nathan yang sedikit kesal.
"Aku hanya mengatakan apa yang aku pikirkan Nathan, dia tidak hanya tampan dan baik, dia bisa melakukan banyak hal yang disukai perempuan dan yang pasti dia tau bagaimana cara menyenangkan perempuan," ucap Aleea dengan penuh senyum.
"Kau....."
"Yeeeyyy, makanan datang!" ucap Aleea penuh semangat saat waiters mulai meletakkan makanan pesanan Aleea di atas meja, membuat Nathan seketika mengentikan ucapannya.
"Sekarang nikmati saja minumanmu, aku akan menikmati makananku dan jangan menggangguku," ucap Aleea lalu menyeruput minumannya sebelum ia mengisi perutnya dengan banyak makanan enak di hadapannya.
15 menit berlalu, Nathan hanya diam dengan sesekali menyeruput minuman miliknya.
Entah kenapa ia bisa menikmati setiap detik yang ia lewati hanya dengan menatap Aleea yang tampak sangat bahagia saat itu.
"Aku pasti sudah gila," ucap Nathan dalam hati saat ia menyadari apa yang sudah ia lakukan sejak tadi.
Baginya, menatap dan memperhatikan Aleea adalah hal gila yang tidak seharusnya ia lakukan.
Namun sejak mereka menghabiskan waktu beberapa hari di Paris, tanpa sadar Nathan mulai sering memperhatikan Aleea diam-diam.
"Apa kau mau mencobanya?" tanya Aleea sambil menunjuk salah satu makanan di hadapannya.
"Tidak, habiskan semuanya, aku tidak akan mengganggu," jawab Nathan.
"Dengan senang hati," balas Aleea lalu melanjutkan menikmati semua menu makanan yang ia pesan.
"Aaaahh ya, bagaimana keadaanmu? apa kau yakin sudah benar-benar pulih?" tanya Aleea.
"Jangan banyak berbicara Aleea, makanlah dengan tenang, bukankah kau tidak ingin aku mengganggumu?" balas Nathan tanpa menjawab pertanyaan Aleea.
"Aku tidak suka makan sendirian Nathan, tidak bisakah kita sekedar mengobrol saja?"
"Aku baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ucap Nathan yang akhirnya menjawab pertanyaan Aleea.
"Apa sebaiknya kita pergi ke rumah sakit sebelum pulang?" tanya Aleea.
"Tidak perlu, aku ingin segera sampai di rumah dan berisitirahat!" jawab Nathan.
"Oke baiklah, aku juga sangat lelah dan setelah makan semua makanan ini, pasti aku segera mengantuk," ucap Aleea.
Lebih dari 30 menit Nathan menemani Aleea menikmati makanannya disana sampai akhirnya semua makanan itu habis di tangan Aleea sendiri.
"Aaaahhh.... rasanya perutku sangat penuh," ucap Aleea sambil memukul pelan perutnya.
"Apa ada yang ingin kau makan lagi?" tanya Nathan.
"Tidak, sepertinya aku tidak akan makan sampai bulan depan," jawab Aleea yang membuat Nathan tersenyum tipis.
Sesampainya di rumah, Aleea dan Nathan segera masuk ke dalam rumah dengan membawa koper dan tas mereka masing-masing.
"Ingat Aleea, jangan mengatakan apapun pada mama tentang alasan kepulangan kita, katakan saja jika aku yang memaksa agar mama bertanya langsung padaku," ucap Nathan pada Aleea sebelum mereka masuk ke dalam rumah.
"Tapi bukankah alasan kita pulang karena ada masalah di kantor?" tanya Aleea.
"Aku dan Evan sengaja merahasiakan masalah itu dari mama dan papa, jadi ikuti saja ucapanku, oke!"
"Baiklah," balas Aleea lalu membuka kamarnya dan masuk ke dalam kamar, begitu juga Nathan.
Nathan menaruh koper dan tasnya di lantai begitu saja lalu membaringkan dirinya di ranjang.
"Aku memang tidak tahu apakah laki-laki itu benar-benar Bryan apa bukan, tapi aku tidak akan membiarkan ada sedikit saja celah yang bisa merusak rencanaku!" ucap Nathan dalam hati.
Tiba-tiba.....
"AAAAAAAAAAA!!!!!"
Karena pintu kamarnya belum tertutup sepenuhnya, Nathan mendengar suara teriakan Aleea yang sangat kencang.
Nathanpun segera beranjak dari ranjangnya dan keluar dari kamarnya.
"Ada apa Aleea? apa....."
Nathan menghentikan ucapannya saat tiba-tiba Aleea berlari ke arahnya dan menggelantungkan badannya pada Nathan, membuat Nathan dengan cepat menahan tubuh Aleea dengan kedua tangannya.
"Ada kecoa di kamarku Nathan dan dia bisa terbang," ucap Aleea sambil memeluk Nathan dengan erat dan menyembunyikan wajahnya di leher Nathan.
Dengan kedua kakinya yang menggantung di badan Nathan, Aleea semakin erat mengalungkan tangannya di leher Nathan.
Tidak ada apapun yang ia pikirkan saat itu selain ingin benar-benar menjauh dari hewan kecil yang menakutkan baginya.
Nathan yang terkejut dengan apa yang Aleea lakukan hanya diam dan tetap menjaga Aleea agar tidak terjatuh dengan kedua tangannya yang menopang tubuh Aleea yang menggantung padanya.
"Ada apa non? apa ada hantu?" tanya bibi yang baru saja menaiki tangga karena mendengar teriakan Aleea.
"Lebih menyeramkan dari hantu bi," jawab Aleea yang masih menyembunyikan wajahnya di leher Nathan.
"Hanya kecoa bi, Nathan bisa mengatasinya sendiri," ucap Nathan pada bibi.
"Baik Tuan, kalau begitu bibi permisi," balas bibi lalu kembali menuruni tangga.
"Cepat lakukan sesuatu Nathan, aku benar-benar takut!" ucap Aleea pada Nathan dengan posisi yang tidak berubah sama sekali.
"Bagaimana aku bisa mengambilnya jika kau terus seperti ini, Aleea?"
__ADS_1
"Aku tidak ingin turun Nathan, kecoa itu bisa mengejarku nanti!" ucap Aleea.
Nathan tersenyum tipis lalu membawa Aleea masuk ke kamarnya.
"Turunlah, kau aman disini!" ucap Nathan saat ia sudah berdiri di samping ranjangnya.
"Apa kau yakin?" tanya Aleea ragu.
"Tentu saja, tidak ada yang berani masuk ke kamar ini tanpa izinku," jawab Nathan.
"Tapi kecoa tidak memerlukan izin darimu untuk masuk kesini Nathan!" ucap Aleea.
"Jika kau tidak turun, aku tidak akan bisa mengambil kecoa itu dari kamarmu Aleea!" ucap Nathan.
"Oke baiklah," balas Aleea lalu menurunkan kakinya di atas ranjang Nathan.
"Dimana kau menemukan kecoa itu?" tanya Nathan.
"Di kamar mandi, di dekat wastafel," jawab Aleea.
Nathan kemudian keluar dari kamarnya, namun sebelum ia benar-benar keluar, ia membawa pandangannya pada Aleea dengan tatapan tajam.
"Ingat Aleea, jangan menyentuh barang-barang milikku!" ucap Nathan.
Aleea hanya menghela napasnya sambil menganggukkan kepalanya pelan lalu membaringkan dirinya di ranjang Nathan.
Sedangkan Nathan, ia segera masuk ke kamar Aleea untuk mencari kecoa yang ada di dalam kamar mandi Aleea.
Beberapa waktu berlalu, Nathan berusaha mencarinya dan akhirnya menemukannya lalu membuangnya.
Setelah memastikan tidak ada kecoa lain, Nathan mencuci tangannya lalu keluar dari kamar Aleea dan kembali ke kamarnya.
"Aku sudah......"
Nathan menghentikan ucapannya saat ia melihat Aleea yang tampak terpejam di atas ranjang.
Nathan kemudian membawa langkahnya mendekat dan menatap Aleea untuk beberapa saat.
"Aleea, bangunlah, aku sudah membuang kecoa di kamar mandimu!" ucap Nathan pelan sambil menyentuh tangan Aleea.
Tidak ada jawaban bahkan Aleea tidak bergerak sedikitpun, ia benar-benar sudah tertidur nyenyak saat itu.
"Dia benar-benar tidur dengan nyenyak setelah makan sangat banyak," ucap Nathan dengan tersenyum tipis.
Nathan kemudian mengambil ponselnya, mengirim pesan pada Evan untuk memberi tahunya jika ia sudah berada di rumah.
"Aku sudah ada di rumah sekarang."
Karena terlalu lelah, Nathan yang tidak berniat untuk tidur di samping Aleea akhirnya terpejam juga.
Pada akhirnya, Aleea dan Nathan tidur di satu ranjang yang sama tanpa mereka sadari.
**
Di tempat lain, Evan baru saja menyelesaikan meeting bersama kliennya.
Ia berjalan keluar dari ruangan meeting sambil mengecek ponselnya yang sempat bergetar di kantong jasnya beberapa saat yang lalu.
Terlihat sebuah pesan masuk dari Nathan yang segera dibuka oleh Evan.
"Aku sudah ada di rumah sekarang."
Evan kemudian berjalan cepat ke ruangannya, membereskan meja kerjanya lalu meninggalkan ruangannya.
Evan mengendarai mobilnya ke arah rumah Nathan, ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Nathan dan meminta kejelasan pada Nathan atas apa yang sudah terjadi.
"Pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku, dia harus menjelaskan semuanya sekarang, tentang siapa Bryan Aditya dan apa hubungannya dengan Aleea!" batin Evan dalam hati.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Evanpun sampai di rumah nathan.
"Nathan ada bi?" tanya Evan pada bibi.
"Sepertinya ada di kamar," jawab bibi.
"Terima kasih Bi," ucap Evan yang segera membawa langkahnya menaiki tangga ke arah kamar Nathan.
Tanpa ragu Evan membuka pintu kamar Nathan begitu saja dan sangat terkejut saat melihat apa yang ada di hadapannya.
"Sejak kapan mereka tidur di satu ranjang? Nathan tidak mungkin melakukan sesuatu pada Aleea bukan?" batin Evan bertanya dalam hati.
Evan kemudian membawa langkahnya masuk, berniat untuk membangunkan Aleea agar Aleea keluar dari kamar Nathan.
Namun saat mendekat dan melihat Aleea yang tampak sangat nyenyak, Evanpun mengurungkan niatnya.
"Sepertinya dia sangat lelah," ucap Evan dalam hati.
Untuk beberapa saat Evan terdiam dengan menatap Aleea yang terpejam di hadapannya.
Evan kemudian menyibakkan sedikit rambut Aleea yang ada di wajah Aleea.
"Siapa lagi yang tertidur dengan sangat cantik seperti ini?" batin Evan bertanya dalam hati dengan tersenyum.
Dengan pelan, Evan membawa langkahnya keluar dari kamar Nathan, membiarkan Aleea dan Nathan berisitirahat setelah perjalanan jauh mereka.
__ADS_1