
Setelah Nathan mengantar sang Mama keluar dari rumah, Nathan segera membawa langkahnya menaiki tangga, berniat untuk menemui Aleea.
Setelah mendengar penjelasan dari dokter tentang keadaan Aleea saat itu, Nathan merasa bersalah karena sudah mengatakan sesuatu yang membuat Aleea marah.
Nathanpun berniat untuk meminta maaf pada Aleea, tetapi ia menghentikan langkahnya saat ia mendengar Aleea sedang mengobrol dan menyebut nama Evan.
Untuk beberapa saat Nathan hanya terdiam, berdiri di depan pintu kamar Aleea yang sedikit terbuka.
Nathan kemudian mengurungkan niatnya untuk menemui Aleea, ia memilih untuk masuk ke kamarnya karena ia yakin tidak lama lagi Evan akan datang ketika Evan mengetahui bagaimana keadaan Aleea saat itu.
"Apa saja yang sebenarnya mereka lakukan dari pagi sampai malam dan dari mana Aleea memakan daging rusa itu? apa Evan yang mengajaknya?" batin Nathan bertanya dalam hati.
Nathan menghela nafasnya panjang lalu mengambil laptop yang ada di meja kemudian membawanya keluar dari kamar dan masuk ke ruang kerjanya.
Nathan ingin menyibukkan dirinya dengan fokus mengerjakan beberapa pekerjaan kantor daripada memikirkan tentang seperti apa sebenarnya hubungan Aleea dan Evan.
"Aku hanya berpura-pura peduli padanya, jadi aku tidak perlu benar-benar peduli apalagi mencari tahu tentang hubungannya dengan Evan," ucap Nathan pada dirinya sendiri.
Seperti dugaan Nathan, di tempat lain Evan segera mengendarai mobilnya keluar dari apartemen setelah ia mendengar apa yang terjadi pada Aleea saat itu.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Evanpun sampai dan segera membawa dirinya masuk ke dalam rumah Nathan.
"Evan ingin menemui Aleea bi, dia ada di kamarnya bukan?" ucap Evan sekaligus bertanya pada bibi.
"Sepertinya iya," jawab bibi ragu.
"Evan permisi bi," ucap Evan lalu berlari kecil menaiki tangga.
Evan kemudian membawa langkahnya ke arah kamar Aleea, mengetuk pintu beberapa kali sebelum ia membukanya.
"Apa aku mengganggu?" tanya Evan yang masih berdiri pada celah pintu yang sedikit dibukanya.
__ADS_1
"Tidak, masuklah," jawab Aleea sambil membawa dirinya beranjak dari posisinya berbaring.
"Maafkan aku Aleea,, aku seharusnya tidak memintamu untuk memakan daging rusa itu," ucap Evan yang merasa bersalah.
"Tidak perlu meminta maaf Evan, jika kemarin aku tidak mencoba memakannya mungkin seumur hidup aku tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya daging rusa," balas Aleea.
"Tapi hal itu membuatmu sakit seperti ini, aku benar-benar sangat menyesal," ucap Evan sambil membuka tutup botol minuman yang dibawanya.
"Aku membuat sendiri minuman ini, semoga ini bisa meredakan mual yang kau rasakan saat ini," lanjut Evan lalu memberikan botol minuman itu pada Aleea.
"Terima kasih Evan," ucap Aleea lalu meminum minuman itu.
"Rasanya hangat dan sangat nyaman di perutku yang sejak tadi terasa mual," ucap Aleea.
"Baguslah kalau begitu, bagaimana dengan Nathan? dimana dia sekarang?" ucap Evan sekaligus bertanya.
Aleea hanya menggelengkan kepalanya dengan menaikkan kedua bahunya tanpa mengatakan apapun.
"Biarkan saja, aku lebih nyaman sendirian daripada harus ditemani oleh Nathan," balas Aleea.
"Tapi bagaimanapun juga dia masih bertanggung jawab padamu Aleea, selama kalian masih terikat dalam pernikahan suka atau tidak dia harus bertanggung jawab atas apapun yang terjadi padamu," ucap Evan.
"Tidak Evan, setelah dia mengatakan jika dia tidak mencintaiku saat itulah aku melepaskan diriku dari hubungan yang tidak sehat ini dan aku akan bertanggung jawab atas diriku sendiri meskipun aku masih berada dalam ikatan pernikahan ini," balas Aleea.
"Nathan pasti memiliki alasan kenapa dia tidak menceraikanku, pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan yang tidak bisa dia katakan padaku dan aku hanya perlu menunggu sampai dia tidak membutuhkanku lalu menceraikanku!" lanjut Aleea.
"Kau tidak perlu memikirkan hal itu Aleea, sekarang beristirahatlah agar keadaanmu segera membaik!" ucap Evan.
Aleea hanya menganggukkan kepalanya lalu kembali membaringkan dirinya.
Evan kemudian keluar dari kamar Aleea dan membawa langkahnya ke kamar Nathan, ia mengetuk pintu beberapa kali namun tidak ada jawaban, Evanpun membawa langkahnya ke arah ruang kerja Nathan dan mengetuknya beberapa kali sebelum akhirnya ia membukanya.
__ADS_1
Setelah melihat Nathan berada di dalam ruang kerjanya, Evanpun masuk dan membawa langkahnya duduk di hadapan Nathan.
"Kau tahu apa yang terjadi pada Aleea bukan?" tanya Evan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Nathan.
"Lalu kenapa kau ada disini? kenapa kau tidak menemaninya? apa kau tidak mengkhawatirkannya?" tanya Evan.
Nathan hanya diam dengan fokus pada laptop dan berkas yang ada di mejanya seolah tidak menghiraukan ucapan Evan.
"Dia adalah istrimu Nathan, selama kau belum menceraikannya dia adalah tanggung jawabmu, jika kau masih membutuhkannya kau harus menjaganya dengan baik, tidak bisakah kau melakukan hal itu?" ucap Evan sekaligus bertanya dengan kesal.
Nathan kemudian membawa pandangannya pada Evan, ia hanya terdiam untuk beberapa saat tanpa mengatakan apapun lalu tersenyum tipis dan kembali fokus dengan laptop di hadapannya.
"Ceraikan dia jika kau sudah tidak membutuhkannya dan perlakukan dia dengan baik jika memang kau masih membutuhkannya!" ucap Evan.
"Kau tahu aku masih membutuhkannya Evan, aku bahkan sedang berusaha untuk mendekatinya tapi dia selalu menghindar dan menjauh dariku," balas Nathan sambil menutup berkas di hadapannya dan menaruhnya di atas tumpukan berkas lainnya.
"Kau pasti ingat apa saja yang sudah kau lakukan padanya bukan? kau membuatnya percaya jika kau adalah laki-laki yang sangat mencintainya, namun dalam sekejap mata kau berubah menjadi monster yang bersikap dengan sangat buruk padanya!" ucap Evan.
"Jadi jangan salahkan dia jika dia sekarang menghindar darimu bahkan saat kau sedang berusaha untuk menunjukkan perasaanmu padanya, karena bisa jadi dia sama sekali sudah tidak mempercayaimu!" lanjut Evan.
"Selama ini aku tidak pernah berhubungan dengan perempuan manapun dan Aleea adalah satu-satunya perempuan yang aku izinkan untuk masuk dalam kehidupanku, jadi tidak mudah bagiku untuk belajar bagaimana memperlakukannya dengan baik," ucap Nathan
"Tapi bukan berarti kau harus memperlakukannya dengan buruk bukan!" balas Evan.
"Dia sangat rumit Evan, kau mungkin dekat dengannya dan kau hanya melihat kebaikannya tanpa kau tahu bagaimana sikap buruknya yang membuatmu selalu membela apapun yang dia lakukan!" ucap Nathan.
"Bagaimana sikapnya tergantung dengan bagaimana kau memperlakukannya, aku pikir itu hal dasar yang harus kau tahu!" ucap Evan.
"Sekarang semuanya terserah padamu Nathan, tapi yang pasti aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya dan jika kau masih membutuhkannya aku mohon dengan amat sangat tolong perlakukan dia dengan baik!" lanjut Evan lalu beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari ruang kerja Nathan
Nathan hanya diam di tempatnya, menatap Evan yang sudah keluar dari ruang kerjanya.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya membuatmu sangat menyukainya, Evan? apa sebenarnya yang sudah dia lakukan yang bisa membuatmu jatuh cinta padanya?" tanya Nathan pada dirinya sendiri.