
Matahari mulai terbit, memberi sedikit kehangatan di saat-saat terakhir musim gugur.
Aleea menggeliat di atas ranjangnya saat ia baru saja terbangun dari tidurnya.
Setelah seluruh nyawanya telah kembali, Aleea kemudian beranjak dari ranjang lalu berjalan masuk ke kamar mandi.
Meskipun berada di luar negeri dengan udara yang cukup dingin, Aleea tidak bisa menghilangkan kebiasaannya untuk mandi pagi.
Seperti hari-hari sebelumnya Aleea tanpa melepas seluruh pakaiannya di dalam kamar mandi lalu berdiri di bawah shower, menikmati air hangat yang menyapu seluruh tubuhnya.
Di sisi lain Nathan yang baru saja bangun dari tidurnya segera beranjak dari sofa, berniat untuk pergi ke kamar mandi.
Saat Nathan baru saja masuk ke kamar, ia begitu terkejut dengan apa yang ia lihat di dalam kamar mandi.
Nathan bisa melihat dengan jelas dari atas sampai bawah apa yang seharusnya tidak ia lihat.
Seketika Nathan terdiam membeku dengan menelan ludahnya. Sebagai seorang laki-laki normal yang baru saja bangun dari tidurnya ia menyadari sesuatu dari dirinya mulai memberontak dan bergejolak.
Setelah beberapa saat terdiam, Nathanpun sadar dengan hal gila yang baru saja terjadi. Nathan segera membawa langkahnya keluar dari kamar, duduk di sofa sambil meminum satu gelas air, berusaha menenangkan dirinya.
"Aleea benar-benar gila, kenapa dia masih tidak mengetahui tentang dinding kaca itu? apa dia berpura-pura bodoh dan sengaja melakukannya?" batin Nathan dalam hati.
Nathan mengacak-acak rambutnya kesal, tidak mudah baginya untuk melupakan apa yang baru saja ia lihat, terlebih sudah dua kali ia melihat hal yang sama dan di tempat yang sama.
Jika bagi laki-laki lain hal itu bukanlah hal yang baru, namun Nathan berbeda, apa yang dia lihat adalah sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya, bahkan memikirkannyapun tidak pernah.
Alhasil apa yang baru saja dilihatnya benar-benar membuat Nathan kesal, karena semakin ia berusaha melupakannya, semakin kejadian itu terekam dengan jelas dalam kepalanya dan membangunkan bagian lain dari dirinya.
"Ada apa denganmu? apa ada masalah?" tanya Aleea yang tiba-tiba keluar dari kamar dengan handuk di kepalanya.
Aleea yang baru saja keluar dari kamar melihat Nathan tampak sedang gelisah dan terlihat sangat kacau, itu kenapa dia berpikir jika ada sesuatu yang terjadi pada Nathan atau sesuatu yang sedang mengganggu pikiran Nathan saat itu.
Untuk beberapa saat Nathan hanya terdiam tanpa berani membawa pandangannya pada Aleea.
"Apa aku harus memberitahunya tentang dinding kaca itu? tapi jika aku memberitahunya mungkin dia akan curiga dan berpikir jika aku sudah melihatnya, sudah bisa kupastikan dia pasti akan sangat marah padaku meskipun aku menyangkal!" ucap Nathan dalam hati.
"Apa ada masalah di kantor?" tanya Aleea yang berjalan mendekat dan duduk di sofa yang ada di depan Nathan.
"Tidak ada," jawab Nathan singkat.
"Tapi kau terlihat sangat gelisah, seperti ada sesuatu yang......"
"Tidak ada masalah Aleea, aku hanya baru saja bermimpi buruk!" ucap Nathan memotong ucapan Aleea dengan sedikit meninggikan suaranya lalu beranjak dari duduknya.
"Baiklah aku akan berusaha untuk tidak peduli lagi padamu!" ucap Aleea dengan kesal.
"Dia selalu saja meninggikan suaranya di depanku, padahal aku hanya mengkhawatirkan dia yang terlihat gelisah," ucap Aleea dalam hati dengan menghela nafasnya panjang.
Di sisi lain, Nathan masuk ke kamar mandi, ia mengguyur tubuhnya di bawah shower dengan air dingin yang membuatnya menggigil.
Ia sengaja melakukan hal itu agar pikirannya jernih dan berhenti memikirkan sesuatu yang hanya membuatnya gelisah.
Setelah cukup lama menghabiskan waktunya di kamar mandi, Nathanpun berganti pakaian lalu keluar dari kamar dan mendapati banyak makanan yang sudah ada di atas meja.
"Apa kau yang memesan semua ini?" tanya Nathan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Aleea.
Nathan kemudian mengambil satu gelas minuman yang ada di atas meja dan menyeruputnya begitu saja lalu terdiam untuk beberapa saat ketika ia merasakan rasa yang tidak asing di lidahnya.
"Apa minuman ini mengandung soda?" tanya Nathan yang segera menaruh minuman itu di atas meja.
"Itu milikku Nathan, kau selalu saja meminum milikku!" ucap Aleea kesal tanpa menjawab pertanyaan Nathan setelah ia melihat Nathan menaruh gelas yang sebenarnya berisi minuman miliknya.
"Jawab Aleea, apa minuman itu mengandung soda?" tanya Nathan dengan meninggikan suaranya.
__ADS_1
Aleea hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun, ia kesal dan tidak mengerti kenapa Nathan tiba-tiba membentaknya.
Nathan kemudian mengambil satu gelas kosong dan mengisinya dengan air putih sampai penuh lalu meminumnya sampai habis. Nathan mengulangi hal itu sampai beberapa kali sampai ia merasa perutnya penuh dengan air.
"Nathan, apa yang kau lakukan?" tanya Aleea yang segera merebut gelas dari tangan Nathan.
Nathan tidak menjawab pertanyaan Aleea, ia segera berlari masuk ke dalam kamar mandi karena mual dan dalam hitungan detik semua air yang baru saja Nathan minum seketika kembali keluar.
Aleea yang khawatirpun segera mengejar Nathan dan saat itulah Aleea menyadari jika ia bisa melihat Nathan dengan jelas dari luar kamar mandi.
"Dinding kaca ini...... itu artinya selama ini........"
Aleea menghentikan ucapannya saat mendengar suara Nathan yang sedang muntah di depan wastafel yang ada di kamar mandi.
Aleeapun segera masuk ke kamar mandi dan begitu terkejut saat melihat wajah Nathan yang memerah.
"Ada apa denganmu Nathan? apa yang terjadi?" tanya Aleea panik.
Nathan hanya diam tanpa mengatakan apapun, ia sedang berusaha keras untuk tetap menjaga kesadarannya saat itu, karena setelah ia memuntahkan seluruh air yang baru saja ia minum badannya terasa lemas saat itu.
Namun beberapa detik kemudian Nathan sempat kehilangan keseimbangan tubuhnya, namun Aleea segera menahan tubuh Nathan dan membantu Nathan untuk keluar dari kamar mandi lalu membaringkan Nathan di atas ranjang.
"Nathan, apa yang terjadi padamu? katakanlah sesuatu, jangan membuatku takut!" tanya Aleea yang semakin mengkhawatirkan keadaan Natan.
Nathan hanya diam dan sedikit merintih dengan memegang bagian ulu hatinya yang terasa sakit saat itu.
Aleea kemudian keluar dari kamar, mengambil telepon dan menghubungi staff hotel, memberitahu staff hotel tentang apa yang terjadi pada Nathan.
Tak lama kemudian staff hotel datang dan membantu Aleea untuk membawa Nathan ke rumah sakit bersama ambulans.
Sesampainya di rumah sakit, dokterpun segera memeriksa keadaan Nathan lalu menjelaskan pada Aleea tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Nathan.
Untuk beberapa saat Aleea hanya terdiam setelah ia mendengar semua penjelasan dokter tentang keadaan Nathan.
Karena alergi soda yang dialami oleh Nathan, Nathan tidak bisa sedikitpun mengkonsumsi minuman yang bersoda.
Bahkan jika kadar soda yang diminumnya cukup banyak, Nathan bisa mengalami nyeri pada ulu hati, gangguan lambung dan sesak napas yang pada akhirnya bisa sangat membahayakan dirinya.
Setelah Nathan dipindahkan ke ruang rawat, Aleea hanya duduk diam di samping ranjang Nathan, menatap Nathan yang masih terpejam di atas ranjangnya dengan beberapa bercak merah di wajah dan tangannya.
"Kau tau aku kehilangan ingatanku, tetapi kau tidak memberi tahuku tentang hal ini!" ucap Aleea dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.
**
Di tempat lain, Evan memutuskan untuk menghubungi Nathan setelah ia lupa memberi tahu mama Nathan tentang kepergian Vina ke Paris.
Evan berubah pikiran dan lebih memilih untuk menghubungi Nathan, agar Nathan bisa lebih berhati-hati dalam bertindak agar tidak membuatnya menyesal seperti yang sudah pernah terjadi.
Namun beberapa kali Evan mencoba, tidak ada satupun panggilannya yang terjawab. Lagi-lagi Evan harus menghubungi Aleea untuk menanyakan keberadaan Nathan.
"Semoga saja Nathan tidak melakukan hal bodoh!" ucap Evan dalam hati sambil menunggu Aleea menerima panggilannya.
"Evan......."
Terdengar suara Aleea yang serak, seperti baru saja menangis.
"Aleea, ada apa denganmu? apa kau menangis?" tanya Evan khawatir.
"Nathan...... dia di rumah sakit sekarang," jawab Aleea yang mulai terisak.
"Di rumah sakit? apa yang terjadi padanya, Aleea? kenapa dia bisa berada di rumah sakit?" tanya Evan yang kini mengkhawatirkan Nathan.
"Dia tidak sengaja meminum minuman yang mengandung soda," jawab Aleea.
__ADS_1
"Astaga..... kenapa bisa? dia alergi soda, kenapa dia meminumnya?"
Aleea kemudian menjelaskan apa yang terjadi tadi pagi saat Nathan mengambil minuman milik Aleea yang ada di atas meja sampai akhirnya Nathan meminum banyak air putih lalu muntah dan lemas sampai pingsan.
"Bagaimana keadaannya sekarang, Aleea? apa yang dokter katakan?" tanya Evan.
"Karena kandungan soda yang diminumnya tidak begitu banyak, keadaan Nathan tidak begitu buruk saat ini, nyeri di bagian hatinya akan segera menghilang setelah beberapa jam," jelas Aleea.
"Apa dia tidak mengalami sesak napas dan gangguan lambung, Aleea?" tanya Evan.
"Tidak, dokter memang mengatakan jika hal itu mungkin saja terjadi, tapi Nathan beruntung karena kandungan soda yang diminumnya hanya sedikit," jawab Aleea.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang Evan? dia bahkan belum sadar sejak tadi," lanjut Aleea bertanya dengan kembali terisak karena mengkhawatirkan Nathan.
"Tenanglah Aleea, Nathan pasti akan segera sadar, ini bukan yang pertama kali untuknya jadi aku yakin dia pasti bisa bertarung dengan alerginya," ucap Evan berusaha menenangkan Aleea meskipun sebenarnya ia juga sangat mengkhawatirkan Nathan saat itu.
"Apa dia juga pernah seperti ini sebelumnya?" tanya Aleea.
"Dia pernah mengalami kritis selama hampir satu Minggu hanya karena meminum soda, keadaannya saat itu sangat parah sampai membuatnya kesulitan bernapas, tapi dokter bisa menyelamatkannya tepat waktu meskipun dia harus mengalami kritis," jelas Evan.
"Aku sama sekali tidak mengingat hal itu Evan, aku sangat menyesal dan kesal pada diriku sendiri yang tidak bisa mengingat apapun bahkan tentang Nathan," ucap Aleea.
"Tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri Aleea, dia sendiri yang ceroboh karena meminum minuman milikmu, sekarang kau hanya perlu menjaganya sampai dia pulih," ucap Evan.
"Iya aku akan menjaganya, tapi bagaimana dengan mama? mama pasti mengetahui keadaan Nathan saat ini bukan?" tanya Aleea.
"Aku tidak tau Aleea, jika memang Tante Hanna menyuruh seseorang untuk mengikuti kalian berdua, sudah pasti Tante Hanna akan mengetahui keadaan Nathan saat ini," jawab Evan.
"Lalu apa yang harus aku lakukan Evan? apa aku harus memberi tahu mama tentang apa yang terjadi pada Nathan?"
"Tidak perlu Aleea, pastikan saja keadaan Nathan membaik dan tidak perlu mengatakan apapun pada Tante Hanna meskipun jika sebenarnya tante Hanna sudah mengetahuinya," jawab Evan.
"Baiklah, aku tidak akan memberi tahu mama," ucap Aleea.
"Pastikan untuk selalu menjaga Nathan dan memantau keadaanya Aleea, segera hubungi aku jika terjadi sesuatu padanya!" ucap Evan.
"Iya, aku juga akan menghubungimu untuk memberi tahu keadaanya," balas Aleea.
Panggilanpun berakhir. Evan menghela napasnya panjang sambil menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kerjanya.
Ia sangat mengkhawatirkan keadaan Nathan saat itu, tetapi ia sengaja menyembunyikannya dari Aleea agar Aleea bisa tenang dan tidak khawatir.
Untuk pertama kali, Evan berusaha untuk menahan dirinya. Jika saja tidak sedang bersama Aleea, sudah pasti Evan akan segera menyusul ke Paris untuk melihat keadaan Nathan.
Tapi Evan tidak mungkin melakukan hal itu karena sudah ada Aleea yang berada disana. Ia yakin, Aleea pasti bisa menjaga Nathan dengan baik dan dalam hatinya Evan masih berharap agar ada jalan yang membuat Aleea dan Nathan semakin dekat.
"Apapun masalah diantara mereka berdua, jika dalam keadaan seperti ini, Aleea pasti akan melunak pada Nathan dan semoga saja Nathan tidak akan melakukan hal yang bodoh, entah pada Aleea ataupun pada Vina!" ucap Evan dengan menghela napasnya panjang.
**
Di tempat lain, Vina baru saja meninggalkan hotel. Ia memesan taksi yang mengantarnya pergi ke hotel tempat Nathan dan Aleea menginap.
Sesampainya di hotel itu, Vina segera bertanya pada resepsionis letak kamar Nathan dan Aleea, namun resepsionis mengatakan jika tidak ada tamu yang bernama Nathan dan Aleea yang menginap disana.
Berkali-kali Vina memastikan, namun resepsionis itu tetap menyangkal dan mengatakan jika tidak ada nama Nathan dan Aleea di dalam daftar.
Vinapun meninggalkan resepsionis dengan kesal lalu memeriksa ponselnya dan memastikan jika ia tidak berada di hotel yang salah.
"Orang kaya memang selalu seperti ini, mereka bisa melakukan apa saja dengan uang yang mereka miliki, lihat saja nanti saat aku bisa mendapatkan Nathan, setengah dari dunia ini akan berada dalam genggamanku!" ucap Vina dalam hati.
Karena jam masih cukup pagi, Vina memutuskan untuk menunggu Nathan disana dengan harapan akan bertemu dengan Nathan saat Nathan keluar dari hotel.
Ia tidak peduli jika ia harus bertemu dengan Aleea, ia bahkan akan dengan sengaja mengatakan pada Aleea jika ia berada disana karena Nathan sudah menyiapkan hotel untuk ia tinggal selama berada disana.
__ADS_1
"Jika aku tidak bisa membuat Nathan meninggalkan Aleea, maka aku akan membuat Aleea yang meninggalkan Nathan, dengan begitu tidak akan ada yang memiliki Nathan selain aku," ucap Vina dalam hati.
Menit menit berlalu dan Vina masih duduk di tempatnya. Setiap mendengar suara lift yang terbuka, Vina dengan penuh semangat membawa pandangannya ke arah lift, berharap jika seseorang yang akan keluar dari lift adalah Nathan.