Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Semakin Dingin


__ADS_3

Untuk beberapa saat, Aleea dan Nathan hanya diam. Mereka sama-sama memikirkan tentang bagaimana mereka menjalani hidup yang mereka pikir sudah sesuai dengan apa yang seharusnya mereka lakukan.


Aleea kemudian beranjak dari duduknya, menarik napasnya dalam-dalam lalu membawa pandangannya pada Nathan yang masih duduk.


"Aku tau kau tidak seburuk itu Nathan, kau laki-laki yang hampir sempurna bahkan mungkin sangat sempurna di mata orang lain, banyak orang yang ingin berada di posisimu saat ini," ucap Aleea dengan tersenyum.


Aleea kemudian membawa langkahnya pergi, berjalan mengikuti kaki yang membawanya ke arah deretan pepohonan yang dinominasi oleh daun-daun berwarna kuning dan merah, khas musim gugur.


Sepanjang jalan Aleea menikmati langkahnya sembari menghirup udara segar disana sambil sesekali menendang tumpukan daun yang berserakan di sepanjang jalan yang ia lewati.


Hingga tiba-tiba Aleea tidak sengaja menginjak batu yang membuatnya hampir terjatuh, namun seseorang menarik tangan Aleea dengan cepat dan seketika Aleea membawa pandangannya ke arah belakangnya untuk melihat si pemilik tangan.


"Kau selalu bersikap bodoh!" ucap Nathan lalu melepaskan tangan Aleea.


Karena belum bisa menjaga keseimbangannya dengan baik, Aleeapun terjatuh di atas tumpukan daun.


Tidak sakit memang, tapi cukup membuatnya kesal karena Nathan yang tiba-tiba melepaskan tangannya begitu saja dan pergi tanpa sedikitpun menoleh padanya.


Bukannya mengejar Nathan, pandangan Aleea justru tertuju pada seekor tupai yang tampak terjepit diantara ranting pohon.


Tanpa banyak berpikir Aleeapun membawa langkahnya mendekat, tapi sialnya ia tidak cukup tinggi untuk bisa meraih tupai ataupun ranting pohon itu.


"Sepertinya aku bisa memanjatnya!" ucap Aleea sambil mengamati pohon besar di hadapannya.


Aleea kemudian mengedarkan pandangannya ke sekitarnya, memastikan jika tidak akan ada orang yang melihat apa yang akan dia lakukan.


"Memalukan sekali jika ada yang melihatku memanjat pohon disini, mereka pasti akan berpikir aku orang gila hehe......!" ucap Aleea dengan terkekeh.


Tak ingin menunggu lama, Aleeapun mulai memegang erat batang pohon yang ada di depannya lalu mulai menaikkan satu kakinya hingga akhirnya Aleea berhasil membawa dirinya berada di batang pohon yang cukup tinggi yang berada dekat dengan tupai yang ingin ia selamatkan.


"Aku harus lebih mendekat," ucap Aleea yang semakin menggeser dirinya untuk bisa meraih ranting yang menjepit si tupai.


Tiba-tiba terdengar suara Nathan yang memanggil Aleea, membuat Aleea membawa pandangannya ke bawah pohon yang ia naiki.


"Aleea, kau dimana, Aleea?" tanya Nathan sambil membawa pandangannya ke sekitarnya.


Tiba-tiba......


PLUUUKKKK


Sebuah ranting kecil jatuh tepat di kepala Nathan, membuat Nathan seketika membawa pandangannya ke atas dan begitu terkejut saat melihat Aleea yang duduk tenang di atas batang pohon.


"Aleea, apa yang kau lakukan disana? apa kau gila?"


"Tenanglah, jangan berisik, kau bisa menarik perhatian orang disini!" balas Aleea.


"Turun sekarang Aleea, cepat!" ucap Nathan dengan tegas.


Aleea hanya menggeleng pelan lalu mulai fokus dengan apa yang menjadi tujuannya, tidak peduli pada Nathan yang masih mengomel di bawahnya.


Dengan pelan, Aleea menarik ranting yang menghimpit tupai agar tidak melukai tupai itu sampai akhirnya Aleea berhasil mengeluarkan tupai itu dari ranting yang menghimpitnya.


"Aahh tupai yang manis," ucap Aleea dengan kedua tangannya memegang tupai kecil itu.


Karena terlalu senang dengan tupai yang ia pegang, Aleea lupa jika ia sedang berada di atas pohon saat itu.


Aleea mengabaikan keseimbangan tubuhnya dan akhirnya jatuh dari atas batang pohon yang cukup tinggi.


Melihat hal itu, Nathan yang sejak tadi mengawasi Aleea berusaha untuk bisa menangkap Aleea.


Alhasil, mereka berduapun terjatuh di atas tumpukan daun dengan posisi Nathan yang berada di bawah dan Aleea yang berada tepat di atas Nathan.


Sebelum mereka sempat merubah posisi, tupai yang masih berada dalam genggaman Aleea tiba-tiba menggigit Aleea.


"AAAAAAA!!!!"


Aleeapun segera beranjak dan melepas tupai yang sejak tadi ia pegang, sedangkan Nathan hanya menatap hewan kecil yang berlari cepat menaiki pohon.


"Apa kau membahayakan dirimu hanya untuk hewan kecil itu?" tanya Nathan setelah ia beranjak dan membersihkan daun-daun yang menempel di pakaiannya.


"Tupai itu terjebak diantara ranting kecil, jadi aku menyelamatkannya," jawab Aleea.


"Kau benar-benar gila Aleea, apa kau tau apa yang akan terjadi padamu jika kau jatuh dari atas sana? kau bisa patah tulang dan....."


"Aku tau, tapi aku tidak bisa membiarkannya saat aku melihatnya kesulitan Nathan, aku tidak sejahat itu!" ucap Aleea memotong ucapan Nathan.


"Bahkan setelah dia menggigitmu?" tanya Nathan dengan membawa pandangannya menatap tangan Aleea yang terluka.


"Mungkin ini caranya berterima kasih padaku," jawab Aleea dengan penuh senyum.


Tanpa sadar Nathan tersenyum tipis mendengar jawaban Aleea.


"Kau tersenyum lagi? benar, kau tersenyum!"


"Aku tersenyum karena aku baru sadar betapa bodohnya perempuan yang kunikahi!" balas Nathan lalu meraih tangan Aleea dan membawanya berjalan cepat meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Aleeapun hanya mendengus kesal dan berjalan mengikuti Nathan yang membawanya masuk ke dalam mobil.


Nathan kemudian mengambil air mineral yang ada di dalam mobil lalu membersihkan tangan Aleea yang terluka dengan air mineral.


Nathan lalu mengambil tissue dan memberikannya pada Aleea.


"Keringkan sendiri!" ucap Nathan lalu duduk di balik kemudi untuk mencari kotak P3K yang mungkin ada disana.


"Sekarang, kemana kita akan pergi?" tanya Aleea setelah mengeringkan tangannya.


"Ke rumah sakit," jawab Nathan lalu menyalakan mesin mobilnya.


"Ke rumah sakit? kenapa?" tanya Aleea.


"Tidak ada obat apapun disini dan kau harus mengobati lukamu sebelum mengalami infeksi," jelas Nathan.


"Astaga Nathan, jangan berlebihan, ini hanya luka kecil, lagi pula ini tidak begitu sakit!" ucap Aleea.


"Tapi kau...."


"Apa kau sangat mengkhawatirkanku?" tanya Aleea yang membuat Nathan mengentikan ucapannya.


"Aku hanya tidak ingin mama mengetahui hal ini dan berpikir jika aku tidak bisa menjagamu dengan baik," jawab Nathan beralasan.


"Kalau begitu tidak perlu ke rumah sakit, kita kembali saja ke hotel!" ucap Aleea.


"Oke jika itu maumu!" balas Nathan lalu mengendarai mobilnya kembali ke hotel.


Sepanjang perjalanan, tidak banyak yang mereka bicarakan. Mereka sibuk dengan pikirkan mereka masing-masing sampai akhirnya mereka tiba di hotel.


Dengan menggandeng tangan Aleea, Nathan berjalan memasuki hotel dan masuk ke dalam lift untuk sampai di kamarnya.


Di dalam kamar, Nathan segera menjatuhkan dirinya di sofa, sedangkan Aleea membawa dirinya ke balkon untuk menikmati pemandangan dari balkon.


"Apa aku bisa pergi kesana? apa Nathan akan membawaku kesana? atau apa aku harus meminta padanya untuk pergi kesana?" batin Aleea bertanya dalam hati.


**


Waktu berlalu, matahari mulai perlahan tenggelam bersama udara yang terasa semakin dingin.


Namun hal itu tidak membuat Aleea segera masuk, ia masih duduk di balkon, menunggu matahari benar-benar menghilang dalam gelap.


"Aku tidak berniat mengkhawatirkanmu, tapi kau akan sangat merepotkan jika kau sakit karena terlalu lama berada di balkon!" ucap Nathan pada Aleea.


"Apa kau mau pergi melihat menara Eiffel dari dekat?" tanya Nathan.


"Apa kau akan membawaku kesana?" balas Aleea bertanya dengan penuh semangat.


"Jika kau mau, lagi pula kita tidak memiliki rencana apapun selama kita disini," ucap Nathan.


"Oke, aku akan bersiap-siap!" ucap Aleea lalu segera beranjak dari duduknya.


"Kau harus berganti pakaian, kita akan makan malam sebelum pergi ke menara Eiffel!" ucap Nathan.


"Makan malam dimana? aku harus menyesuaikan penampilanku dengan tempat makan malam kita!"


Nathan kemudian menyebutkan nama salah satu restoran yang terkenal disana.


Aleeapun segera mencari tahu tentang restoran itu dan begitu terkejut karena restoran itu adalah salah satu restoran terbaik yang sering didatangi oleh artis dan orang-orang berpengaruh lainnya.


Aleeapun mempersiapkan dirinya dengan baik, tak lupa ia mengenakan make up dan menata rambutnya dengan baik.


Setelah selesai mempersiapkan dirinya, Aleeapun keluar dari kamar. Nathan yang sejak tadi menunggu Aleea hanya terdiam menatap Aleea tanpa ia sadar.


Tak dapat dipungkiri, Aleea terlihat sangat cantik malam itu dan hal itu membuat Nathan seolah tidak bisa memalingkan sedikitpun pandangannya pada Aleea.


"Apa ada yang salah?" tanya Aleea membuyarkan lamunan Nathan.


"Tidak, aku hanya sedikit heran kenapa kau membawa pakaian seperti itu!" jawab Nathan beralasan dengan segera mengalihkan pandangannya dari Aleea.


"Apa ini berlebihan? apa aku harus berganti pakaian lagi?" tanya Aleea.


"Tidak perlu, kau sudah ca...... kau sudah membuatku menunggu lama!" ucap Nathan yang berusaha keras untuk bisa mengendalikan dirinya.


Akhirnya, Aleea dan Nathan meninggalkan hotel dengan mobil yang Nathan kendarai.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai di restoran.


Mereka menikmati makan malam mereka dengan tenang tanpa memperdebatkan apapun, tidak seperti biasanya.


"Apa kau tidak ingin mencari tahu tentang makanan ini?" tanya Nathan pada Aleea.


"Apa kau juga mengenal pemilik restoran ini?" balas Aleea bertanya.


"Tidak," jawab Nathan singkat.

__ADS_1


Aleea hanya memutar kedua bola matanya tanpa mengatakan apapun karena tidak ingin membuat keributan disana.


Sedangkan Nathan, ia beberapa kali mencuri pandang pada Aleea yang terlihat begitu cantik di matanya.


"Aku pasti sudah gila!" ucap Nathan dalam hati saat ia menyadari apa yang ia lakukan.


Setelah menyelesaikan makan malam, merekapun meninggalkan restoran dan pergi ke menara Eiffel.


Sesampainya disana, Aleea dan Nathan berjalan berdua dengan bergandengan tangan.


Aleea yang takjub dengan apa yang dilihatnya hanya bisa menikmati sorot lampu dari menara tinggi yang berada cukup dekat dengannya.


Aleea bahkan sudah tidak peduli pada Nathan yang terus menggenggam tangannya, entah karena ia sudah merasa nyaman atau karena ia terlalu menikmati pemandangan indah di hadapannya.


Mereka menghabiskan cukup banyak waktu disana sampai malam semakin larut dan udara semakin terasa dingin.


"Kenapa udaranya terasa lebih dingin?apa sekarang sudah musim dingin?" tanya Aleea pada Nathan.


"Musim gugur hampir selesai, jadi angin membawa udara dingin sebelum musim salju benar-benar datang," jelas Nathan.


"Aaaahhh begitu, sepertinya lebih baik kita pulang sekarang sebelum aku menggigil disini!" ucap Aleea.


"Kau sangat berlebihan sekali, ini bahkan belum musim salju, sepertinya kau akan membeku saat musim salju disini!" balas Nathan.


"Lihatlah, siapa yang sekarang sangat berlebihan!" ucap Aleea mencibir.


Akhirnya Aleea dan Nathanpun masuk ke dalam mobil. Nathan mengendarai mobilnya kembali ke hotel.


Sesampainya di hotel, mereka segera masuk ke dalam kamar dan berebutan untuk masuk ke kamar mandi karena ingin segera berganti pakaian.


Namun pada akhirnya Aleea lah yang lebih dulu masuk dan segera berganti pakaian lalu membawa dirinya duduk di sofa.


"Malam ini kau tidur di sofa!" ucap Aleea pada Nathan yang baru saja selesai berganti pakaian.


"Baiklah," balas Nathan tanpa penolakan karena memang mereka harus bergantian untuk tidur di ranjang.


Aleeapun segera beranjak dari duduknya lalu masuk ke dalam kamar. Namun sebelum menjatuhkan dirinya di atas ranjang, ia mengintip Nathan dari balik dinding kamar.


"Apa lagi?" tanya Nathan yang melihat apa yang Aleea lakukan.


"Jangan masuk ke kamar apa lagi tidur di ranjang atau aku akan benar-benar melakukan hal yang akan kau sesali nanti!" ucap Aleea memperingatkan.


"Tidak akan," balas Nathan lalu membaringkan dirinya di sofa.


Aleea kemudian membawa dirinya duduk di tepi ranjang. Dalam hatinya ada kekhawatiran karena kamar yang ia tempati tidak ada pintu yang memisahkan antara kamar dan sofa tempat Nathan tidur.


**


Hari telah berganti. Di tempat lain, Evan baru saja sampai di kantor dan segera masuk ke ruangannya.


Evan fokus dengan pekerjaannya yang lebih banyak dibanding biasanya karena banyak hal yang harus ia handle sendiri selama Nathan pergi.


Meskipun hal itu sangat menyita banyak waktunya, tetapi Evan melakukannya dengan penuh semangat tanpa sedikitpun mengeluh.


Kali ini, ia benar-benar tidak akan menggangu Nathan dengan apapun yang terkait dengan masalah kantor.


Evan akan mendiskusikan masalah kantor dengan papa Nathan jika memang ia tidak bisa menangani masalah yang ada.


Saat tengah fokus dengan pekerjaannya, seseorang mengetuk pintu ruangan Evan lalu masuk dan memberikan sebuah map pada Evan.


"Ini laporan produk baru yang pak Evan minta!"


"Kenapa kau yang memberikannya? bukankah ini tugas Vina?" tanya Evan.


"Vina melimpahkan pekerjaannya pada saya selama dia libur pak."


"Libur? apa maksudmu?" tanya Evan terkejut.


"Bukankah dia sudah mengambil cuti selama 5 hari pak? saya pikir pak Evan sudah menyetujui izin cutinya!"


"Cuti? siapa yang memberinya izin?" tanya Evan yang segera beranjak dari duduknya.


"Saya pikir pak Evan yang......"


Evan segera keluar dari ruangannya tanpa menunggu penjelasan teman Vina. Evan segera berjalan ke arah ruangan HRD, meminta jawaban atas cutinya Vina tanpa persetujuan darinya.


"Apa kau yang memberi izin pada Vina untuk cuti?" tanya Evan tanpa basa-basi pada kepala HRD.


"Tidak pak, saya memintanya menemui pak Evan untuk mendapat persetujuan pak Evan," jawab kepala HRD.


"Lalu kenapa dia bisa cuti selama 5 hari? siapa yang memberinya izin?" tanya Evan.


"Maaf pak, saya tidak mengetahui apapun tentang hal itu, saya sudah melakukan perintah pak Evan untuk tidak memberinya izin cuti dan memintanya untuk membicarakan hal itu secara langsung pada pak Evan," jelas kepala HRD.


Evan menghela napasnya panjang lalu berjalan keluar dari ruangan HRD sambil menghubungi Vina.

__ADS_1


__ADS_2