
Evan yang terkejut dengan keberadaan Nathan berusaha untuk menyembunyikan kegugupannya, karena ia tidak ingin Nathan salah paham dengan niat kedatangannya untuk menemui Aleea.
"Aku tidak tau jika kau pulang, bukankah seharusnya kau pulang besok?" ucap Evan sekaligus bertanya dengan membawa langkahnya pada Nathan.
"Papa yang menggantikanku, kebetulan kau disini, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Nathan lalu membawa langkahnya masuk ke dalam rumah.
Evan membawa pandangannya ke arah Aleea sekilas lalu membawa langkahnya masuk mengikuti Nathan yang berjalan ke arah ruang kerjanya.
"Apa kau kesini untuk menemui Aleea?" tanya Nathan saat ia sudah duduk di ruang kerjanya, bersama Evan yang sedang berdiri di depan rak buku yang ada disana.
"Aku hanya...."
"Itu tidak penting, ada masalah yang lebih penting sekarang," ucap Nathan memotong ucapan Evan.
"Ada masalah apa?" tanya Evan yang masih memperhatikan satu per satu buku yang ada di rak.
"Papa menangguhkan janjinya padaku," jawab Nathan.
"Janji apa?" tanya Evan santai sambil mengambil buku yang ingin ia baca.
"Janji untuk memberikan perusahaan padaku setelah aku menikah," jawab Nathan yang membuat Evan segera membawa pandangannya pada Nathan.
"Apa kau serius? apa om Aryan sendiri yang mengatakannya padamu? tidak mungkin om Aryan tidak menepati janjinya jika tidak terjadi masalah serius yang kau sebabkan!" tanya Evan terkejut yang segera mengembalikan buku yang dipegangnya lalu membawa dirinya duduk di samping Nathan.
"Aku memang sangat bodoh, aku tidak berpikir jauh sebelum aku melakukan kebodohanku," ucap Nathan sambil mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
"Kebodohan apa yang sudah kau lakukan Nathan?" tanya Evan tak mengerti.
"Sekarang katakan dulu padaku, apa papa memberi tahumu jika papa akan mendatangiku di luar pulau?" ucap Nathan sekaligus bertanya.
"Om Aryan memang menemuiku di kantor setelah om Aryan tahu jika kau pergi ke luar pulau sendirian, tapi om Aryan tidak mengatakan padaku jika om Aryan akan mendatangimu kesana," jawab Evan.
Nathan menghela napasnya panjang lalu menjatuhkan kepalanya pada sandaran sofa.
"Ada apa sebenarnya Nathan? kesalahan besar apa yang sudah kau lakukan yang membuat om Aryan menangguhkan janjinya padamu?" tanya Evan.
"Papa tau jika aku tidak datang ke lapangan kemarin dan aku belum menyelesaikan pekerjaanku, saat papa datang ke hotel, papa justru melihatku mabuk, aku bahkan tidak sadar dan lupa bagaimana papa bisa bertemu denganku malam itu," jawab Nathan.
"Waahh kau benar-benar gila Nathan!" ucap Evan terkejut mendengar penjelasan Nathan.
"Papa berpikir jika aku pergi kesana hanya untuk bersenang-senang, itu kenapa aku memintamu untuk tidak ikut bersamaku," ucap Nathan
"Memangnya apa yang sebenarnya terjadi? dari pagi sampai siang tidak ada yang bisa menghubungimu kemarin, membuat om Aryan menanyakan keberadaanmu pada pimpinan yang ada disana dan ternyata kau sama sekali tidak pergi ke lapangan, kau bahkan tidak menyelesaikan pekerjaanmu tepat waktu!"
"Aku tau kau pasti sangat marah jika aku mengatakan yang sebenarnya padamu, tapi asal kau tau Evan, aku benar-benar sangat menyesalinya!" ucap Nathan.
"Apa kau disana bersama Vina?" tanya Evan menerka yang membuat Nathan segera membawa pandangannya pada Evan.
"Sudah ku duga," ucap Evan dengan menganggukkan kepalanya pelan meskipun Nathan belum menjawab pertanyaannya.
"Aku terpaksa Evan," balas Nathan.
"Apa dan siapa yang memaksamu Nathan? apa kau sudah luluh dengan godaan Vina?" tanya Evan.
"Tidak, aku sama sekali tidak tertarik dengannya, aku menuruti kemauannya hanya agar dia merubah keputusannya untuk tidak mengundurkan diri dari perusahaan, kau tau aku membutuhkannya Evan, aku tidak mungkin membiarkan dia meninggalkan perusahaan!" jelas Nathan.
"Dan lihat apa yang terjadi sekarang, kau kehilangan kesempatan besarmu untuk mendapatkan perusahaan bahkan setelah kebohongan besarmu pada Aleea!" ucap Evan kesal.
"Aku tau dan aku sangat menyesalinya," balas Nathan dengan menundukkan kepalanya.
"Aku tidak bisa memberikan saran apapun padamu Nathan, mulailah untuk berpikir panjang sebelum kau melakukan sesuatu agar kau tidak menyesalinya!" ucap Evan lalu berjalan keluar dari ruang kerja Nathan.
Saat menuruni tangga, Evan melihat Aleea yang berada di dapur.
"Hmmm.... baunya enak sekali!" ucap Evan yang membuat Aleea segera membawa pandangannya pada Evan.
"Jika kau tidak sedang terburu-buru tunggulah sebentar, kita makan malam bersama, aku memasak lebih banyak malam ini," ucap Aleea.
"Baiklah, aku akan menunggu," balas Evan.
Aleea tersenyum lalu melanjutkan kesibukannya di dapur dengan ditemani bibi, sedangkan Evan segera membawa langkahnya ke teras rumah dan melihat matahari yang baru saja terbenam.
Tak lama kemudian Nathan datang lalu membawa langkahnya duduk di samping Evan.
"Aku pikir kau sudah pulang," ucap Nathan.
"Aleea memintaku untuk menunggu, dia mengajakku untuk ikut makan malam, kau tidak keberatan bukan jika aku ikut makan malam bersama kalian?"
"Tentu saja tidak, karena kesalahpahaman mama kemarin jangan membuatmu menjaga jarak dengan Aleea, Evan!" balas Nathan.
"Apa kau sudah berbicara dengan Tante Hanna?" tanya Evan.
__ADS_1
"Sudah, semoga saja mama benar-benar berhenti mencurigai kalian berdua," jawab Nathan.
Setelah beberapa lama mengobrol, mereka kemudian masuk ke dalam rumah setelah Aleea memberi tahu jika makan malam sudah siap.
Aleea, Nathan dan Evanpun menikmati makan malam mereka bersama.
"Apa kau sendiri yang memasak semua ini Aleea?" tanya Evan pada Aleea.
"Aku memasak semua ini dengan dibantu bibi, beberapa menu ini adalah menu yang aku pelajari di kelas memasak," jawab Aleea.
"Sepertinya kau lebih jago memasak seperti ini jika dibanding dengan membuat kue," ucap Evan.
"Benarkah? apa rasa masakan ini cocok denganmu?" tanya Aleea.
"Ini sudah seperti masakan yang ada di restoran, benar begitu bukan?" jawab Evan sambil membawa pandangannya pada Nathan dan sedikit menyenggol kaki Nathan di bawah meja.
"Iya, aku setuju," ucap Nathan.
"Tapi di kelas memasak sekarang sedang fokus dengan kue dan macam-macam makanan manis, tetapi aku jarang mempraktekkannya di rumah," ucap Aleea.
"Kau tau aku tidak menyukai makanan manis Aleea, jadi jika kau ingin membuatnya sebaiknya berikan saja pada Evan," ucap Nathan.
"Benarkah? apa kau tidak keberatan jika aku memberikan kue buatanku untuk Evan?" tanya Aleea.
"Tidak ada alasan yang membuatku keberatan Aleea, kecuali Evan menolaknya," jawab Nathan.
"Tidak, aku tidak akan menolaknya, aku akan menerima kue atau makanan manis apapun yang kau buat," sahut Evan.
"Oke baiklah, tapi kau harus berjanji untuk memberikan penilaian dengan jujur Evan, agar aku tau apa yang harus aku perbaiki!" ucap Aleea.
"Tentu saja," balas Evan dengan menganggukkan kepalanya.
Aleea menikmati makan malamnya dengan tersenyum senang karena Nathan mengizinkannya membuat kue dan memberikannya pada Evan.
Dengan begitu Aleea bisa lebih sering mempraktekkan materi baru yang ia dapat di kelas memasaknya agar ia bisa cepat memperbaiki kekurangannya.
Setelah mereka semua menyelesaikan makan malam, Evan dan Nathan meninggalkan meja makan, sedangkan Aleea membereskan meja makan bersama bibi.
"Aku tidak mengerti kenapa kemarin Aleea sangat mengkhawatirkanmu padahal sikapmu sedingin itu padanya," ucap Evan setelah memastikan jika tidak ada Aleea di dekatnya.
"Dia memang sangat berlebihan dan aku sangat tidak menyukainya," balas Nathan.
"Mungkin dia sudah benar-benar jatuh cinta padamu," ucap Evan.
"Kau memang hanya peduli pada dirimu sendiri Nathan!" ucap Evan yang hanya dibalas senyum tipis oleh Nathan
Setelah Evan pergi, Nathan kemudian masuk ke dalam rumah lalu membawa langkahnya masuk ke ruang kerjanya.
Sedangkan Aleea, ia sedang berada di kamarnya. Aleea sedang mencari resep-resep kue dan mempelajari ulang semua materi tentang dunia perkuean yang ia dapatkan dari kelas memasaknya.
Saat tengah fokus dengan materinya, Aleea tiba-tiba teringat sesuatu.
"Sepertinya tadi Evan memegang sesuatu saat menemuiku di taman, dia memasukkannya ke dalam saku saat dia melihat Nathan, apa yang dia pegang? apa dia akan memberikannya padaku atau memang dia ingin memberikannya pada Nathan?"
Aleea menggelengkan kepalanya pelan lalu tersenyum.
"Jika dipikir-pikir Evan dan Nathan sangat berbeda, Nathan sangat dingin sedangkan Evan begitu hangat, Evan selalu tau bagaimana menyenangkan perempuan," ucap Aleea dengan tersenyum.
**
Hari-hari telah berlalu. Hari itu Aleea libur dari kelas memasaknya. Pagi itu ia sedang menikmati sarapannya bersama Nathan di meja makan.
"Nathan, kita perlu pergi ke supermarket untuk berbelanja, apa kau senggang hari ini?" ucap Aleea sekaligus bertanya pada Nathan.
"Kenapa tidak meminta bibi saja yang pergi berbelanja?" balas Nathan bertanya tanpa menjawab pertanyaan Aleea.
"Sepertinya menyenangkan jika kita belanja kebutuhan bulanan kita sendiri, jadi biarkan bibi berbelanja untuk masalah dapur saja," balas Aleea.
"Kau selalu membuat hidupmu rumit Aleea!" ucap Nathan.
"Ini bukan sesuatu yang rumit Nathan, justru berbelanja di supermarket bersama pasangan adalah satu hal yang menyenangkan dan bisa membuat......"
"Pergilah bersama supir," ucap Nathan memotong ucapan Aleea.
Aleea menghela napasnya panjang lalu menaruh sendoknya dan menyeruput minumannya.
"Bukankah pak supir sudah izin padamu jika tidak bisa bekerja hari ini?" tanya Aleea.
"Aaaahhh iya aku lupa, kalau begitu pergilah bersama Evan, aku akan menghubunginya nanti," balas Nathan.
"Evan lagi? kenapa selalu meminta Evan menggantikanmu Nathan? bukankah seharusnya aku dan suamiku yang melakukannya?" tanya Aleea dengan sedikit meninggikan suaranya.
__ADS_1
"Karena aku sibuk dan hanya Evan yang aku percaya untuk menjagamu," balas Nathan dengan tersenyum lalu beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja.
"Kenapa bukan Evan saja yang menikah denganku jika Evan yang selalu ada untukku?" gerutu Aleea kesal yang tentu saja tidak didengar oleh Nathan.
Di sisi lain, Nathan masuk ke kamarnya, berganti pakaian lalu menyambar kunci mobilnya. Sebelum keluar dari rumah, Nathan menghubungi Evan.
"Pasti selalu ada pekerjaan untukku jika kau menghubungiku saat weekend seperti ini!" ucap Evan setelah ia menerima panggilan Nathan.
"Bukan pekerjaan kantor, tapi pekerjaan lain," balas Nathan.
"Pekerjaan apa?" tanya Evan dengan mengernyitkan keningnya.
"Datanglah kesini dan antar Aleea berbelanja di supermarket," jawab Nathan.
"Kenapa aku yang mengantarnya? bukankah seharusnya kau sebagai suaminya yang mengantarnya?" tanya Evan.
"Ayolah Evan, tidak ada hubungannya berbelanja dengan hubungan suami istri, entah aku ataupun kau yang mengantarnya, harga di supermarket tidak akan ada bedanya!" ucap Nathan.
"Lalu bagaimana denganmu? apa alasanmu menolak untuk menemaninya?" tanya Evan.
"Seperti biasa hehe...." jawab Nathan.
"Hmmm..... baiklah, aku akan menemui Aleea sebentar lagi," ucap Evan.
"Good job Evan, thanks!" ucap Nathan lalu mengakhiri panggilannya pada Evan.
Setelah mengakhiri panggilannya pada Evan, Nathanpun keluar dari kamarnya.
"Apa kau mau pergi?" tanya Aleea pada Nathan.
"Iya, aku sudah mengatakan padamu jika aku sedang sibuk bukan?" balas Nathan.
"Aku pikir untuk urusan pekerjaan, tetapi melihat pakaianmu yang seperti ini sepertinya kau pergi bukan untuk urusan pekerjaan," ucap Aleea memperhatikan pakaian Nathan.
"Aku..... ada keperluan lain yang penting," balas Nathan beralasan.
"Lebih penting daripada menghabiskan waktu bersamaku? istrimu?" tanya Aleea.
Nathan menghela napasnya panjang lalu berjalan mendekati Aleea dan membawa Aleea ke dalam dekapannya.
"Kau lebih penting dari segalanya Aleea, tapi bukan berarti aku harus mengabaikan hal penting lainnya bukan?"
"Apa aku boleh tau hal penting apa yang akan kau lakukan hari ini? apa kau akan pergi bersama Vina?" tanya Aleea yang masih berada dalam dekapan Nathan.
"Aku keluar untuk membahas masalah pekerjaan dengan teman lamaku dan yang pasti aku tidak bersama Vina," jawab Nathan beralasan.
"Karena ini bukan pertemuan formal, jadi aku hanya mengenakan pakaian santai seperti ini," lanjut Nathan.
"Kau tidak berbohong padaku bukan?" tanya Aleea.
"Tentu saja tidak, kau bisa bertanya pada Evan jika kau lebih mempercayai Evan dibanding aku, suamimu!" jawab Nathan.
"Tentu saja aku lebih mempercayaimu, kau suamiku," balas Aleea.
"Kalau begitu bersiaplah, Evan akan segera menjemputmu!" ucap Nathan sambil melepaskan Aleea dari dekapannya.
Aleeapun hanya menganggukkan kepalanya, membiarkan Nathan pergi meninggalkan rumah.
"Dia tidak mungkin berbohong, dia pasti akan mengatakan dengan jujur jika dia memang pergi bersama Vina," ucap Aleea dalam hati.
Aleea kemudian membawa langkahnya ke kamar untuk bersiap-siap. Tak lama kemudian bibi mengetuk pintu kamar Aleea untuk memberi tahu Aleea jika Evan sudah menunggunya di depan.
Aleea kemudian menyambar tas selempangnya lalu keluar dari kamarnya dan menghampiri Evan yang menunggunya di teras rumah.
"Selamat pagi Nyonya Nathan," sapa Evan seperti biasa saat ia melihat Aleea menghampirinya.
"Selamat pagi Evan," balas Aleea dengan tersenyum.
"Apa kita pergi sekarang?" tanya Evan yang dibalas anggukan kepala oleh Aleea.
Mereka berduapun masuk ke dalam mobil, Evan kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan rumah Aleea.
"Dimana kau biasa berbelanja Aleea?" tanya Evan pada Aleea.
"Mmmm..... sebenarnya ini yang pertama buatku, karena biasanya bibi yang selalu berbelanja semua kebutuhan rumah," jawab Aleea.
"Aaahhh begitu, lalu kenapa kau tiba-tiba ingin berbelanja sendiri?" tanya Evan.
"Sebenarnya aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama Nathan saat dia libur, tapi ternyata ada hal penting lain yang harus dia lakukan," jelas Aleea.
"Dia memang selalu sibuk dengan pekerjaannya, tapi percayalah semua itu dia lakukan tidak hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk memastikan kehidupanmu selalu terpenuhi jika bersamanya," ucap Evan.
__ADS_1
"Aku akan berusaha untuk memahaminya," balas Aleea dengan menghela napasnya panjang dan menganggukkan kepalanya.