
Evan yang tidak mengetahui apa yang terjadi melihat dengan jelas kegelisahan pada raut wajah Aleea saat itu.
"Ada apa Aleea? apa terjadi sesuatu pada Tika?" tanya Evan.
"Tika harus pergi ke rumah orang tuanya sekarang juga, sepertinya ada sesuatu yang mendesak yang membuatnya harus pulang," jawab Evan.
"Lalu kenapa kau terlihat khawatir Aleea?" tanya Evan.
"Orang tua Tika tinggal di luar pulau Evan, Tika pernah memberi tahuku jika orang tuanya sedang sakit dan kemungkinan besar Tika harus menetap di rumah orang tuanya jika keadaan orang tuanya memburuk," jelas Aleea.
"Kau tau apa maksudnya bukan?" lanjut Aleea.
Untuk beberapa saat Evan hanya terdiam. Kini ia mengingat apa yang pernah Tika katakan padanya tentang keputusan Tika untuk mundur dari bisnis yang dikelolanya bersama Aleea.
"Apa ini saatnya? apa Tika akan benar-benar mundur dari bisnisnya sekarang juga?" batin Evan bertanya dalam hati.
"Jangan terlalu memikirkan hal-hal yang buruk Aleea, kita tunggu saja Tika kembali dan semoga tidak ada sesuatu yang buruk yang terjadi pada orang tuanya," ucap Evan pada Aleea.
"Iya, aku akan menunggu Tika kembali dan semoga saja semuanya baik-baik saja," balas Aleea.
Aleea menghela napasnya panjang, meskipun ia mengiyakan ucapan Evan, tetapi dalam hatinya ia masih memikirkan tentang kelanjutan bisnisnya bersama Tika.
Bisnis yang dimulainya dari 0 bersama Tika, tidak mungkin ia biarkan berakhir begitu saja. Namun jika Tika harus pergi dan menetap di luar pulau, Aleea tidak yakin jika bisnisnya dengan Tika akan tetap berjalan sebagaimana rencana mereka berdua.
"Bagaimana dengan konsep kafe yang sudah kau diskusikan dengan Tika? apa kalian....."
"Lebih baik jangan membahas hal ini dulu Evan," ucap Aleea memotong ucapan Evan.
"Kenapa? bukankah kau dan Tika sudah mendapatkan kesepakatan tentang hal itu?" tanya Evan.
"Tika tidak ada disini sekarang dan entah kapan dia akan kembali, aku bahkan ragu apakah bisnis kita bisa terus berjalan atau tidak," jawab Aleea.
"Kenapa kau berpikir seperti itu Aleea? apa kau akan menyerah hanya karena Tika tidak ada disini?" tanya Evan.
"Apa yang aku jalani saat itu tidak semudah yang orang lain pikirkan Evan, jika saja aku orang biasa yang bisa melakukan apapun semauku, aku pasti tidak sekhawatir ini, aku adalah istri Nathan, kau tau itu!" ucap Aleea.
"Aku harus tetap menjaga nama baik Nathan dan keluarganya dengan tidak melakukan hal-hal yang menarik perhatian publik, tanpa Tika aku tidak akan bisa menjalankan bisnis ini sendiri Evan," lanjut Aleea.
"Aku mengerti bagaimana posisimu saat ini Aleea, tapi aku harap kau tidak akan mudah menyerah, sekarang kita tunda dulu pembicaraan kita tentang rencana yang sudah kau sepakati dengan Tika, tapi tetaplah untuk berpikir positif Aleea!" ucap Evan.
Aleea hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun. Ia khawatir jika Tika tidak akan kembali dan bisnis yang mereka jalani akan benar-benar berakhir.
"Sekarang aku hanya bisa menunggu Tika kembali," ucap Aleea tak bersemangat.
"Apa kau akan menutup tokomu, Aleea?" tanya Evan.
"Tidak, aku akan tetap membukanya, aku akan membuat dan menjual sendiri produk buatan tanganku, sampai Tika kembali dan kita memulai kembali semuanya berdua," jawab Aleea.
"Baguslah kalau begitu, aku yakin Tika akan segera kembali," ucap Evan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Aleea.
"Ingat Aleea, jangan terlalu memaksakan dirimu, kesehatanmu adalah yang paling penting dan jangan ragu untuk meminta bantuanku," lanjut Evan.
"Selama Tika belum kembali, sepertinya aku akan lebih sering merepotkanmu," ucap Aleea.
"Tidak masalah, aku selalu siap kapanpun kau membutuhkanku," balas Evan yang membuat Aleea tersenyum.
"Jadi hari ini apa rencanamu Aleea?" tanya Evan.
"Mmmm.... aku tidak tahu, pertemuan kita tidak berjalan sesuai dengan rencana karena Tika yang harus pergi, jadi aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan sekarang," jawab Aleea tak bersemangat.
"Kalau begitu aku akan mengajakmu ke suatu tempat," ucap Evan
"Kemana?" tanya Aleea.
"Ke tempat yang akan memberimu banyak inspirasi tentunya, ayo!" jawab Evan sambil beranjak dari duduknya.
Aleeapun ikut beranjak dari duduknya lalu berjalan keluar dari kafe bersama Evan.
Aleea kemudian masuk ke dalam mobil Evan dan Evanpun segera mengendarai mobilnya meninggalkan kafe.
"Apa kita akan pergi ke luar kota?" tanya Aleea saat mobil Evan baru saja melewati perbatasan kota.
"Iya, apa kau keberatan jika kita pulang sedikit malam?" jawab Evan sekaligus bertanya.
"Tidak, tenang saja," jawab Aleea.
"Oke, aku yakin kau tidak akan menyesal," ucap Evan.
__ADS_1
Setelah lebih dari 2 jam dalam perjalanan, mobil Evan mulai memasuki daerah pegunungan dengan rimbun pohon di sepanjang jalan yang Evan dan Aleea lewati.
Tak berapa lama kemudian Evan mulai memperlambat laju mobilnya dan berbelok ke sebuah jalan yang tidak beraspal dengan batu-batuan kecil di sepanjang jalan.
"Waahhh.... tempat ini seperti tempat yang digunakan penculik untuk menyandera korbannya," ucap Aleea yang membuat Evan terkekeh.
"Apa kau takut?" tanya Evan.
"Jika aku bersama orang asing tentu saja aku akan takut, tapi karena aku bersamamu, aku sama sekali tidak takut," jawab Aleea.
"Bagaimana jika aku benar-benar menculikmu?" tanya Evan dengan membawa pandangannya sekilas pada Aleea.
"Aku tidak akan khawatir, memangnya hal buruk apa yang bisa seorang Evan lakukan padaku," balas Aleea.
Evan hanya tersenyum tipis lalu menunjuk sebuah pondok kayu yang berada tidak jauh dari posisinya saat itu.
"Itu rumah siapa?" tanya Aleea.
"Kau akan tau nanti," jawab Evan lalu menghentikan mobilnya tepat di depan rumah yang keselurahan dindingnya terbuat dari kayu.
Aleea dan evanpun keluar dari mobil dan membawa langkah mereka mendekat ke arah pintu rumah itu.
"Apa mereka menyembunyikan seseorang di dalam sini?" tanya Aleea berbisik.
"Sepertinya begitu," jawab Evan yang ikut berbisik dan mereka berduapun tertawa.
"Siapa disana?"
Terdengar suara yang cukup keras dan berat dari deretan pohon yang ada di dekat rumah itu, membuat Aleea dan Evan seketika membawa pandangan mereka ke arah sumber suara.
Tak lama kemudian terlihat seorang laki-laki paruh baya dengan badan besar yang berjalan keluar dari area pepohonan dengan membawa kapak besar yang berlumuran darah dan sebuah karung yang dipanggul di punggungnya.
Melihat hal itu Aleea seketika membawa langkahnya mundur, menyembunyikan dirinya di balik tubuh Evan dengan memegang erat lengan tangan Evan.
"Evan..... apa kita sebaiknya.... pergi?" tanya Aleea ketakutan.
Evan hanya tersenyum lalu menggenggam tangan Aleea yang memegang lengan tangannya.
BRUUUGGHH
Pria itu menjatuhkan karung yang dibawanya ke tanah tepat di hadapan Evan.
"Tidak bisakah kau membersihkan kapak itu sebelum pulang? lihatlah, seseorang sangat ketakutan sekarang!" ucap Evan sekaligus bertanya pada pria itu.
"Hahaha..... kebiasaan lama, ayo masuklah!" balas pria itu lalu membuka pintu rumahnya.
"Ayo Aleea!" ucap Evan, namun Aleea seolah enggan mengangkat kakinya.
"Apa kau sungguh mengenalnya Evan?" tanya Aleea berbisik.
"Tentu saja, jangan khawatir, dia bukan orang jahat!" balas Evan.
"Tapi.... apa yang dia bawa di dalam karung itu? sepertinya sangat berat dan.... kapaknya.... kapaknya bahkan berlumuran banyak darah!"
"Itu hanyalah anak kecil, jangan khawatir, aku tidak akan memakan daging orang dewasa!" sahut pria itu dari dalam rumah.
Seketika wajah Aleea semakin pucat, ia tidak menyangka jika Evan akan mengajaknya bertemu dengan pria seperti itu.
"Hahaha..... tidak Aleea, dia hanya bercanda," ucap Evan dengan tertawa.
"Aku mau pergi dari sini Evan, aku tidak mau disini!" ucap Aleea yang menarik tangan Evan agar kembali masuk ke dalam mobil.
"Kalian baru saja sampai, masuklah dulu, aku akan memasak daging anak kecil itu untuk kalian berdua!" sahut pria itu yang kembali keluar dari dalam rumah sambil mengangkat karung yang tadi dibawanya dari hutan.
"Berhentilah mengatakan hal itu, kau membuatnya semakin takut!" ucap Evan pada pria itu.
"Evaann, ayo pergi!" ucap Aleea yang semakin ketakutan.
"Hahahaha.....maafkan aku, aku hanya bercanda, kenapa kau menganggapnya serius gadis cantik!" ucap pria itu.
Aleea kemudian membawa pandangannya pada Evan, menatap dengan raut wajah yang masih ketakutan.
"Dia baru saja pulang berburu Aleea, dia mengatakan hal itu hanya untuk bercanda," ucap Evan.
"Itu bukan hal yang lucu Evan!" balas Aleea kesal.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu takut," sahut pria itu.
__ADS_1
"Jika kau tidak mempercayaiku, ikutlah denganku, aku akan membersihkan rusa ini di sungai!" lanjut pria itu lalu membawa langkahnya pergi.
Aleea yang awalnya menolak untuk ikut, pada akhirnya memutuskan untuk ikut dengan paksaan Evan.
Di tepi sungai, pria itu mengeluarkan apa yang ada di dalam karung besar yang dibawanya dan benar saja terlihat sebuah rusa yang berukuran sedang dengan darah yang cukup banyak.
"Dia memang sering berburu Aleea, karena seperti yang kau tau, jarak tempat ini dengan kota cukup jauh, jadi dia tidak ingin menghabiskan banyak waktunya untuk pergi ke kota," ucap Evan menjelaskan.
Setelah beberapa lama berada di sungai, Aleea, Evan dan pria itu akhirnya kembali ke rumah.
Di dalam rumah yang sangat sederhana itu, pria itu menyuguhkan minuman dan buah-buahan pada Aleea dan Evan.
"Namaku Leo, kau bisa memanggilku om Leo atau Leo saja seperti Evan memanggilku," ucap pria itu memperkenalkan diri.
"Kau pasti.... Aleea, istri Nathan, benar bukan?" lanjutnya bertanya.
Aleea hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.
"Kau pasti sangat terkejut tadi, aku memang tinggal disini dan aku sering berburu, maaf jika leluconku membuatmu takut," ucap Leo.
"Saya.... saya juga minta maaf karena sudah berburuk sangka," balas Aleea.
Setelah mengobrol untuk berbasa-basi beberapa lama, Evanpun menyampaikan maksud kedatangannya.
"Kalian datang ke tempat yang tepat, sekarang ikut aku!" ucap Leo yang segera beranjak dari duduknya lalu berjalan memasuki hutan dengan diikuti Aleea dan Evan.
Tak berapa lama kemudian mereka sampai di tempat yang membuat Aleea menatap terdiam dengan apa yang ada di hadapannya.
"Apa semua ini milik om Leo?" tanya Aleea tak percaya.
"Lebih tepatnya aku hanya mengelolanya dan Evanlah pemilik semua ini," jawab Leo yang membuat Aleea seketika membawa pandangannya pada Evan.
"Kenapa kau tidak pernah memberi tahuku Evan?" tanya Aleea pada Evan.
"Sekarang kau sudah mengetahuinya bukan? hehe...." balas Evan terkekeh.
Hamparan pohon dengan berbagai macam buah dan kopi, semua itu adalah bisnis yang Evan geluti sejak lama.
Selain itu, ada sebuah tempat lain yang digunakan untuk menanam anggur dan semua buah-buahan itu dikelola dengan sangat baik oleh Evan dengan bantuan Leo.
Semua buah dan biji kopi itu memiliki kualitas sangat baik berkat kemahiran Leo dalam merawatnya dan sebagian besar hasil perkebunan itu bahkan sudah di ekspor ke luar negeri karena kualitasnya yang sangat bagus.
"Waaahhhh.... kau benar-benar hebat Evan, aku pikir selama ini kau hanya berkerja untuk Nathan," ucap Aleea kagum.
"Apa kau tidak mengetahui jika mini market besar yang tersebar di seluruh negri ini adalah miliknya?" sahut Leo bertanya pada Aleea.
Seketika Aleea menggelengkan kepalanya dan membawa pandangannya pada Evan, namun Evan hanya tersenyum dengan menunjukkan deretan giginya.
Setelah melihat dan mencicipi buah dari perkebunan itu, merekapun kembali ke rumah.
"Sebenarnya aku mengajakmu kesini karena rencanamu dan Tika yang ingin mendirikan kafe, jadi kalian tidak perlu mencari supplier biji kopi dan buah untuk usaha kalian, karena aku bisa pastikan jika buah dan biji kopi terbaik ada di tempat ini," ucap Evan.
"Aku perlu mendiskusikan hal ini dengan Tika, Evan!" balas Aleea.
"Aku mengerti, di dekat sini juga ada perusahaan kecil milikku yang memproduksi berbagai macam minuman yang bersumber dari buah ataupun kopi, aku pikir kita bisa bekerja sama nantinya," ucap Evan.
"Ide yang bagus, aku setuju!" balas Aleea.
"Aku akan mengajakmu kesana bersama Tika jika Tika sudah kembali," ucap Evan yang dibalas anggukan kepala oleh Aleea.
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 3 siang. Leopun menyiapkan rusa yang baru saja dimasaknya dan menatanya di atas meja.
"Kalian harus makan sebelum kalian pergi karena aku sudah memasaknya dengan sangat lezat!" ucap Leo.
Meskipun pada awalnya ragu, tapi Aleea tetap mencoba memakan daging rusa itu untuk menghargai si pemilik rumah.
Sebelum semakin sore, Evanpun mengajak Aleea pulang. Evan mengendarai mobilnya meninggalkan hutan, mengantarkan Aleea pulang ke rumahnya.
Sialnya, dalam perjalanan mereka sempat terjebak macet sampai beberapa jam.
Setelah lama dalam perjalanan, merekapun sampai. Evan dan Aleea keluar dari mobil setelah Evan menghentikan mobilnya di halaman rumah Aleea.
"Terima kasih untuk hari ini Evan, sangat menyenangkan walaupun aku sedikit ketakutan tadi hehe...." ucap Aleea.
"Sekarang beristirahatlah, kau pasti lelah!" balas Evan.
"Kau juga harus pulang dan beristirahat!" ucap Aleea yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Evan.
__ADS_1
Setelah Evan mengendarai mobilnya pergi, Aleeapun masuk ke dalam rumah. Tanpa ia tahu, ada Nathan yang sejak tadi menunggu kepulangannya.