Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Keraguan Aleea


__ADS_3

Setelah Nathan menemui bibi, ia kembali menghampiri Aleea di ruang tengah.


"Aku sudah meminta bibi menyiapkan kamar untukmu, kau bisa beristirahat setelah ini," ucap Nathan pada Aleea.


"Nathan, bolehkah aku meminta sesuatu darimu?" tanya Aleea tiba-tiba.


"Apa yang kau inginkan sayang? katakan saja," balas Nathan.


"Aku akan merasa sangat bosan jika aku hanya berdiam diri di rumah, bolehkah aku bekerja?"


"Sayang, calon suamimu ini adalah CEO dari perusahaan besar yang dikenal banyak orang, jadi bagaimana mungkin aku membiarkanmu bekerja untuk orang lain," balas Nathan tidak menyetujui ucapan Aleea.


"Kalau begitu aku akan membuat bisnis kecil yang aku jalankan dari rumah, kau bisa memberikan modal untukku dan aku akan mengembalikannya setelah bisnisku berjalan," ucap Aleea.


Nathan menggelengkan kepalanya lalu menggenggam tangan Aleea.


"Tinggal menghitung hari kita akan menikah Aleea, aku akan menjadi suamimu dan kau akan menjadi istriku, aku pastikan semua yang kau inginkan dan kau butuhkan akan terpenuhi, jadi kau tidak perlu menghabiskan waktumu untuk menjalankan bisnis atau apapun itu," ucap Nathan.


"Jadi apa aku hanya bisa berdiam diri di rumah setelah kita menikah?" tanya Aleea.


"Ini sudah menjadi kesepakatan kita sayang, kau juga sudah menyetujuinya," balas Nathan.


"Benarkah? tapi sepertinya aku bukan tipe perempuan yang suka berdiam diri di rumah, membayangkannya saja sudah membuatku sangat bosan!" ucap Aleea.


"Sebagai istriku kau harus bisa menjaga dirimu dengan baik Aleea, banyak mata yang akan tertuju padamu, jadi kau harus berhati-hati agar tidak melakukan kesalahan yang bisa mempengaruhiku dan pekerjaanku, kau mengerti maksudku bukan!"


"Maafkan aku Nathan, aku benar-benar kehilangan semua memoriku di masa lalu, aku tidak tahu bagaimana aku dulu menjalani hubungan denganmu, aku juga tidak tahu apa saja kesepakatan yang sudah aku buat denganmu," balas Aleea dengan menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku mengerti keadaanmu sayang, jangan terlalu menjadikannya sebagai beban, aku akan berusaha untuk memahamimu dan kaupun harus bisa memahamiku," ucap Nathan dengan membawa kepala Aleea untuk bersandar di bahunya.


Untuk beberapa saat mereka hanya terdiam tanpa saling berbicara satu sama lain. Aleea masih memikirkan tentang apa yang Nathan katakan padanya, tentang dirinya yang hanya bisa berdiam diri di rumah tanpa melakukan apapun.


Entah kenapa Aleea seperti menolak keras hal itu, Aleea merasa apa yang Nathan katakan bukanlah hal yang akan Aleea setujui jika mereka akan membuat kesepakatan saat itu.


Namun Aleea tidak bisa membantah apa yang Nathan katakan, karena memang dia tidak mengingat apapun tentang masa lalunya bahkan tentang dirinya sendiri.


Entah kini kepribadiannya yang sudah berubah atau ada hal lain yang tidak Aleea ketahui, tapi yang pasti ada sedikit rasa ragu dalam hati Aleea setelah ia tahu bagaimana ia akan menjalani kehidupannya yang dinilainya sangat membosankan.


Berbeda dengan Aleea, Nathan justru berpikir keras untuk membuat Aleea mempercayai semua ucapannya.


Bagaimanapun juga Nathan harus menjaga Aleea untuk tetap selalu dekat dengannya dan tidak akan membiarkan Aleea mendekati sesuatu yang berhubungan dengan masa lalunya, karena Nathan tidak ingin ingatan Aleea kembali sampai kapanpun.


"Kau akan menjadi milikku selama aku membutuhkanmu Aleea, aku tidak akan pernah melepaskanmu selama yang aku mau," ucap Nathan dalam hati sambil mempelai lembut rambut Aleea.


Nathan kemudian mengantarkan Aleea ke salah satu kamar, mereka berdua masuk ke kamar itu dan tanpa ragu Aleea merebahkan badannya di atas ranjang yang ada di kamar itu.


"Tidurlah dengan nyenyak dan jangan memikirkan apapun yang membebanimu," ucap Nathan sambil menarik selimut untuk menutup tubuh Aleea.


Nathan kemudian keluar dari kamar itu, berjalan ke arah ruang kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya.


**


Malam yang panjang telah berlalu. Aleea sudah bangun sejak pagi untuk membantu bibi memasak di dapur.


Aleea kemudian membantu bibi untuk menyiapkan makanan di meja makan dan tak lama kemudian Nathan menuruni tangga dan berjalan ke arah meja makan.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan Aleea? apa kau membantu bibi di dapur?" tanya Nathan yang dibalas anggukan kepala oleh Aleea.


"Kau tidak perlu melakukan hal itu sayang, duduk saja dan tunggu bibi menyiapkan semuanya untukmu," ucap Nathan.


"Kenapa aku tidak boleh melakukan apapun, Nathan? kenapa kau selalu melarangku melakukan apapun yang aku inginkan, bahkan hanya sekedar membantu bibi, kenapa?" tanya Aleea dengan kesal.


"Sayang, aku....."


"Kau hanya memintaku untuk berdiam diri di rumah tanpa melakukan apapun, membayangkannya saja sudah benar-benar membuatku bosan, aku tidak tahu bagaimana aku bisa membuat kesepakatan seperti itu denganmu, entah kepribadianku yang sekarang sudah berbeda dengan aku yang dulu atau memang ada hal lain yang aku tidak tahu," ucap Aleea memotong ucapan Nathan.


Mendengar apa yang Aleea katakan, Nathan segera membawa langkahnya mendekati Aleea dan membawa Aleea untuk duduk di kursi.


"Jangan berpikir terlalu jauh Aleea, tidak ada apapun yang aku sembunyikan darimu, aku hanya tidak ingin kau kelelahan karena membantu bibi, melihatmu yang kritis di rumah sakit karena kecelakaan membuatku sangat hancur saat itu, jadi aku tidak ingin hal buruk terjadi lagi padamu," ucap Natan beralasan.


"Maafkan aku jika apa yang aku lakukan membuatmu merasa tidak nyaman, aku hanya ingin menjagamu Aleea," lanjut Nathan dengan menggenggam tangan Aleea.


"Aku sama sekali tidak tahu apapun tentang kehidupanku, bahkan tentang diriku sendiri Nathan, aku hanya mempercayaimu, aku hanya mengetahui semua hal darimu, tapi mendengar kesepakatan yang kau bicarakan itu membuatku ragu, karena aku merasa seperti bukan diriku jika aku membuat kesepakatan seperti itu denganmu," ucap Aleea.


"Lalu apa yang harus aku lakukan agar kau mempercayaiku Aleea? aku juga tidak ingin kecelakaan ikut terjadi, aku juga tidak tahu jika mungkin kecelakaan itu membuat pemikiranmu berubah, membuat beberapa hal dalam dirimu berbeda dari kau yang dulu!"


Aleea menarik tangannya dari genggaman Nathan lalu beranjak dari duduknya.


"Aku ingin pulang," ucap Aleea lalu berjalan pergi begitu saja dan dengan cepat Nathan segera mengejar Aleea dan menahannya.


"Jangan meninggalkanku dengan keadaan marah seperti ini, kau tidak tahu bagaimana hancurnya aku saat aku hampir kehilanganmu, kau membuatku sangat gila Aleea, kau membuatku hampir mengakhiri hidupku karena kecelakaan itu!" ucap Nathan.


Aleea yang seketika terdiam mendengar apa yang Nathan katakan, ia tidak menyangka jika kecelakaan yang terjadi padanya ternyata sangat mempengaruhi Nathan.

__ADS_1


"Aku minta maaf jika sikapku sudah keterlaluan dalam menjagamu, aku hanya ingin kau tetap ada di sampingku Aleea, hanya itu," ucap Nathan dengan menatap kedua mata Aleea.


__ADS_2