Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Merawat Evan


__ADS_3

Menyadari Evan yang sedang tidak baik-baik saja, Aleeapun membantu Evan masuk setelah pintu terbuka.


Aleea kemudian mendudukkan Evan di sofa lalu mengambil gelas dan mengisinya dengan air minum lalu memberikannya pada Evan.


"Terima kasih Aleea," ucap Evan dengan suaranya yang terdengar lemah.


"Kau demam Evan, kau harus ke rumah sakit!" ucap Aleea.


"Tidak Aleea, tidak perlu," balas Evan.


"Tapi badanmu sangat panas Evan, kau...."


"Aku benci rumah sakit Aleea, aku tidak suka berada di rumah sakit," ucap Evan memotong ucapan Aleea.


"Baiklah kalau begitu, dimana kotak P3K milikmu? setidaknya kau harus meminum obat untuk menurunkan demammu!"


Evan kemudian menunjuk rak yang ada di sudut apartemennya, Aleeapun berjalan ke arah rak itu lalu mengambil kotak P3K.


"Apa kau juga merasa pusing?" tanya Aleea yang dibalas anggukan kepala oleh Evan.


"Kau pasti belum makan malam, aku akan memesan makanan sebelum kau minum obat," ucap Aleea.


"Apa yang kau bawa Aleea?" tanya Evan sambil menunjuk sebuah paper bag yang ada di meja.


"Aaaahh itu, itu kue dan roti yang hari ini aku buat bersama Tika, aku kesini karena aku ingin memberikannya padamu," jawab Aleea.


"Aku akan memakan kue itu, jadi kau tidak perlu memesan makanan lagi," ucap Evan.


"Apa kau yakin?" tanya Aleea memastikan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Evan.


Aleea kemudian mengeluarkan seluruh isi paper bag yang ia bawa lalu memberikan beberapa roti pada Evan.


"Kau yang membuatnya sendiri Aleea?" tanya Evan.


"Aku membuatnya bersama Tika, hari ini aku dan Tika melakukan promosi pertama kita di dekat ruko dengan memberikan tester kue dan roti yang kita buat sambil menyebarkan brosurnya," jelas Aleea.


"Apa semuanya berjalan dengan baik?" tanya Evan.


"Iya, walaupun sangat melelahkan tapi aku dan Tika sangat senang melakukan semua ini," jawab Aleea dengan penuh senyum.


Aleea kemudian mengambil obat penurun demam dan memberikannya pada Evan bersama segelas air putih.


"Bagaimana denganmu Evan? kau pasti sangat sibuk sampai kau sakit seperti ini," tanya Aleea.


"Aku yang bertanggung jawab untuk event besok Aleea, jadi banyak sekali yang harus aku persiapkan dan memastikan semuanya siap agar tidak ada kesalahan yang terjadi saat hari H," jelas Evan.


"Apa kau akan tetap bekerja besok?" tanya Aleea.


"Tentu saja, karena aku penanggung jawabnya," jawab Evan sambil menyadarkan kepalanya pada sandaran sofa.


"Tidak bisakah kau libur Evan? keadaanmu sedang tidak baik-baik saja sekarang," tanya Aleea.


"Tidak bisa Aleea, aku tidak bisa mempercayai siapapun untuk menggantikanku," jawab Evan.


"Tapi Nathan juga tidak akan suka jika melihatmu seperti ini, Evan!" ucap Aleea.


"Dia tidak akan tau jika kau tidak memberi tahunya," balas Evan dengan tersenyum.


"Tapi kalian akan bertemu di kantor dan aku yakin Nathan pasti tidak akan membiarkanmu bekerja besok!" ucap Aleea yakin.


"Aku dan Nathan bekerja di tempat yang berbeda besok, jadi kemungkinan besar kita tidak akan bertemu dari pagi sampai malam," balas Evan.


Aleea menghela napasnya panjang lalu duduk di sebelah Evan.


"Berbaringlah," ucap Aleea sambil menepuk bahunya.


Dengan penuh senyum Evan membaringkan kepalanya di bahu Aleea. Evan memejamkan matanya dan melupakan sejenak kerumitan pekerjaannya saat itu.


"Aku tau kau sangat bertanggung jawab dengan pekerjaanmu Evan, tapi kau juga harus menjaga kesehatanmu!" ucap Aleea.


"Aku mengerti," balas Evan dengan kedua matanya yang masih tertutup.


Menit-menit berlalu, entah karena efek obat yang baru saja diminumnya atau karena sedang kelelahan, Evan akhirnya tertidur di bahu Aleea.


"Evan, apa kau sudah tidur?" tanya Aleea pelan dan tidak mendapat jawaban apapun dari Evan.


Aleea tersenyum lalu dengan pelan menggeser posisi duduknya sambil memegang kepala Evan lalu membaringkannya di sofa.


Aleea mengangkat kedua kaki Evan dengan pelan setelah Aleea melepas sepatu Evan. Aleea kemudian masuk ke kamar Evan, mengambil selimut lalu menutup tubuh Evan dengan selimut.


"Jaga kesehatanmu Evan," ucap Aleea berbisik lalu keluar dari apartemen Evan.


Aleea kemudian memesan taksi yang mengantarnya pulang ke rumah. Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Aleeapun sampai di rumah.


Aleea berjalan masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan Nathan yang sedang duduk di ruang tamu.

__ADS_1


"Dari mana saja kau Aleea?" tanya Nathan pada Aleea yang baru saja masuk ke dalam rumah.


"Bukan urusanmu," jawab Aleea tanpa menghentikan langkahnya.


Nathanpun segera beranjak dari duduknya, berjalan cepat ke arah Aleea lalu meraih tangan Aleea.


"Jawab pertanyaanku Aleea!" ucap Nathan dengan mencengkeram tangan Aleea.


"Apa kau akan menamparku lagi jika aku tidak menjawabnya?" tanya Aleea dengan menatap kedua mata Nathan.


"Aku tidak akan ragu melakukannya jika kau membuatku kesal," jawab Nathan dengan mencengkeram tangan Aleea kuat-kuat.


"Lakukan saja, aku tidak peduli!" balas Aleea tanpa sedikitpun menundukkan pandangannya.


"Kau memang selalu berhasil membuatku marah Aleea, kau....."


"Bagaimana denganmu Nathan? apa kau pikir aku tidak marah dengan sikapmu yang seperti ini? kau memperlakukanku dengan sangat jahat setelah kau meyakinkanku tentang bagaimana hubungan kita di masa lalu, semuanya jelas berbanding terbalik dengan apa yang kau katakan dulu Nathan!" ucap Aleea memotong ucapan Nathan.


"Semuanya berubah karena kesalahanmu sendiri Aleea, semua ini tidak akan terjadi jika kau tidak mencelakakan Evan!" balas Nathan yang tanpa sadar mulai mengendurkan cengkeramannya pada Aleea.


"Apa kau tidak bisa melihat bagaimana keadaan Evan sekarang? dia baik-baik saja, dia menjalani hari-harinya dengan baik seperti biasanya, semua itu hanya alasanmu saja Nathan, kau membuatku bersalah agar kau mempunyai alasan untuk menunjukkan sifat aslimu!" ucap Aleea.


"Ingat Nathan, kau sudah tidak mencintaiku lagi sejak saat itu dan sejak saat itu juga aku meyakinkan diriku untuk melupakanmu, melupakan hubungan yang bahkan sama sekali tidak aku ingat!" lanjut Aleea sambil menarik tangannya dari Nathan dengan kencang lalu berlari menaiki tangga, meninggalkan Nathan.


Nathan hanya diam di tempatnya, menatap Aleea yang sudah berlari meninggalkannya. Di sisi lain, Aleea masuk ke kamarnya dengan memegangi pergelangan tangannya yang terasa sakit karena cengkeraman tangan Nathan.


"Tahan Aleea, setelah dia puas bermain-main denganku, dia akan lelah dan melepaskanku!" ucap Aleea dengan menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan bersama kedua matanya yang tampak berkaca-kaca.


Aleea kemudian membawa langkahnya masuk ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air dingin shower sampai beberapa lama hingga tubuhnya mulai menggigil.


Setelah puas membasahi dirinya sampai menggigil, Aleea keluar dari kamar mandi, mengenakan pakaian tidurnya lalu mulai membaringkan dirinya di atas ranjangnya.


"Apa yang sebenarnya membuatku sangat mencintai Nathan?" batin Aleea bertanya dalam hati sambil menatap langit-langit kamarnya sampai ia tertidur.


**


Hari berganti. Pagi-pagi sekali Aleea bersiap untuk keluar dari rumah, bukan untuk pergi ke ruko, melainkan untuk pergi ke apartemen Evan.


Aleea sengaja pergi ke apartemen Evan untuk melihat keadaan Evan sebelum Evan berangkat ke kantor, sekaligus membawa makanan yang sudah ia masak sejak pagi-pagi buta.


Sesampainya di apartemen Evan, Aleea segera memencet bel dengan harapan Evan belum berangkat ke kantor.


Tak lama kemudian pintu pun terbuka, terlihat Evan yang berdiri dengan mengenakan kemeja yang kancingnya belum terpasang dengan rapi dan dasi yang masih menggantung sekenanya di lehernya.


"Aleea, masuklah!" ucap Evan mempersilahkan Aleea masuk.


"Tentu saja, siapa lagi yang setia mengantarku kalau bukan supir taksi hehe...." jawab Aleea sambil meletakkan tas bekalnya di meja.


"Seharusnya kau membangunkanku Aleea, pasti sulit mendapatkan taksi di jam seperti itu," ucap Evan.


"Tidak sulit, aku hanya perlu menunggu," balas Aleea sambil mengeluarkan isi tas bekalnya dan meletakkannya berjejer di meja.


"Bagaimana keadaanmu? apa sudah lebih baik?" tanya Aleea sambil menyentuh kening Evan dengan telapak tangannya.


"Sudah, terima kasih sudah merawatku semalam," jawab Evan.


"Sekarang kau harus sarapan sebelum berangkat ke kantor," ucap Aleea sambil membantu merapikan dasi Evan saat Evan sedang merapikan kancing kemejanya.


Seketika Evan terdiam, ia dan Aleea berdiri dengan jarak yang sangat dekat saat itu, apa lagi saat Aleea merapikan bagian belakang kemeja Evan, Aleea berjinjit sampai Evan bisa merasakan hembusan nafas Aleea di lehernya.


"Hari ini kau akan sangat sibuk, jangan lupa minum vitamin!" ucap Aleea sambil mengencangkan dasi Evan.


Evan hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun, ia sedang berusaha keras untuk bisa mengendalikan kegugupannya saat itu.


"Ayo makanlah, aku memasaknya sendiri khusus untukmu!" ucap Aleea sambil membuka kotak makanan yang ada di meja.


Evan menganggukkan kepalanya lalu membawa dirinya duduk dan menikmati makanan buatan Aleea.


"Kau juga harus makan Aleea!" ucap Evan.


"Aku bisa makan nanti saja," balas Aleea.


"Apa aku harus menyuapimu?" tanya Evan yang segera dibalas gelengan kepala oleh Aleea.


Aleea kemudian berlari kecil ke dapur untuk mengambil sendok lalu ikut makan bersama Evan.


Mereka menikmati sarapan berdua sambil membicarakan beberapa hal.


"Aku dan Tika sudah menentukan tanggal untuk opening," ucap Aleea pada Evan.


"Benarkah? kapan?" tanya Evan.


"Beberapa hari lagi, kau tidak perlu datang jika kau masih sibuk dengan pekerjaanmu Evan," jawab Aleea.


"Aku pasti akan menyempatkan waktuku Aleea," ucap Evan.

__ADS_1


"Jangan terlalu memaksakan dirimu Evan, kau harus menjaga kesehatanmu!" ucap Aleea.


"Kau juga," balas Evan.


Aleea hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. Setelah menghabiskan makanan yang Aleea bawa, Evan dan Aleea kemudian mencucinya bersama.


"Kemana kau akan pergi setelah ini? pulang atau ke ruko?" tanya Evan.


"Aku harus ke ruko, Tika pasti sudah menungguku disana," jawab Aleea.


"Baiklah, aku akan mengantarmu," ucap Evan.


"Tidak perlu Evan, bukankah kau harus segera ke kantor?"


"Jalan ke arah ruko dan kantor searah Aleea, lagi pula anggap saja ini sebagai bentuk terima kasih karena sudah memasak untukku hari ini," ucap Evan.


"Oke baiklah, kau membuatku lebih berhemat kalau begitu hehe...." balas Aleea terkekeh yang membuat Evan tersenyum.


Saat tengah mengeringkan tangan, Evan baru menyadari jika pergelangan tangan Aleea terlihat memar saat itu.


"Apa lagi yang Nathan lakukan padamu Aleea?" tanya Evan menatap memar pada pergelangan tangan Aleea.


Aleea hanya menggelengkan kepalanya dengan tersenyum sambil mengenakan outer lengan panjangnya yang sempat ia lepas sebelum makan.


Sedangkan Evan menghela napasnya panjang lalu memegang kedua bahu Aleea dan membuat Aleea menghadap padanya.


"Ingat Aleea, kau harus memberi tahuku jika Nathan sudah melakukan hal yang di luar batas padamu!" ucap Evan dengan menatap kedua mata Aleea.


"Tenang saja, aku pasti bisa membela diri di hadapan Nathan," balas Aleea.


Evan hanya diam, menatap Aleea dengan penuh kesedihan.


"Jangan terlalu mengkhawatirkanku Evan, aku baik-baik saja, Nathan tidak mungkin mencelakaiku karena dia masih membutuhkanku, entah untuk apa!" ucap Aleea dengan tersenyum hambar.


"Bersabarlah Aleea, semua pasti akan baik-baik saja," ucap Evan yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Aleea.


"Cepat bersiap-siap, kita harus berangkat sebelum kau terlambat!" ucap Aleea sambil melepaskan kedua tangan Evan dari bahunya.


"Baiklah, tunggu sebentar!" balas Evan lalu masuk ke kamarnya.


Setelah selesai mempersiapkan dirinya, Evan dan Aleeapun meninggalkan apartemen. Evan mengantar Aleea pergi ke ruko sebelum ia berangkat ke kantor.


"Berjanjilah padaku Aleea, kau harus mengatakan padaku jika Nathan sudah mulai melakukan sesuatu yang menyakitimu!" ucap Evan pada Aleea saat mereka sudah dalam perjalanan ke ruko.


Aleea hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tanpa mengatakan apapun.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Evan menghentikan mobilnya di depan ruko dua lantai yang masih tampak tertutup rapat.


"Sepertinya Tika belum datang, aku akan menemanimu menunggunya disini," ucap Evan.


"Tidak perlu Evan, kau harus berangkat ke kantor, lagi pula aku membawa kunci cadangan, aku akan masuk dan bersih-bersih sembari menunggu Tika," balas Aleea.


"Apa kau yakin?" tanya Evan yang dibalas anggukan kepala oleh Aleea.


"Baiklah, aku akan berangkat ke kantor sekarang," ucap Evan.


"Terima kasih sudah mengantarku Evan, hati-hati di jalan," ucap Aleea lalu keluar dari mobil Evan.


Evan kemudian mengendarai mobilnya pergi, sedangkan Aleea segera membuka rukonya.


"Aaahhh aku lupa, tas bekalnya tertinggal di mobil Evan!" ucap Aleea dengan membawa pandangannya pada mobil Evan yang sudah keluar dari area ruko.


**


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Evanpun sampai di kantor. Saat baru saja memarkirkan mobilnya di basement, Evan melihat tas bekal milik Aleea yang tertinggal di bangku belakang.


Evan kemudian mengambilnya dan menaruhnya di kursi yang ada di sampingnya.


"Dia meninggalkan alasan agar aku bisa menemuinya," ucap Evan dengan tersenyum.


Tiba-tiba seseorang mengetuk kaca pintu mobil Evan, membuat Evan begitu terkejut.


"Rania, kenapa kau ada disini?" tanya Evan setelah ia menurunkan kaca mobilnya.


"Apa kakak tidak akan keluar?" balas Rania bertanya dengan penuh senyum.


Evan tersenyum tipis lalu kembali menutup kaca pintu mobilnya lalu keluar dari mobilnya.


"Kenapa kau disini pagi-pagi sekali Rania?" tanya Evan.


"Rania kesini untuk membantu kakak," jawab Rania.


"Membantu apa?" tanya Evan.


"Lihat saja nanti," jawab Rania dengan penuh senyum.

__ADS_1


"Aaahh iya, tas bekal kakak mana? bukannya kakak tadi membawa tas bekal?" tanya Rania yang beberapa saat lalu melihat Evan membawa tas bekal di dalam mobilnya.


Evan terdiam untuk beberapa saat, berusaha memikirkan jawaban agar tidak membuat Rania salah paham.


__ADS_2