Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Kekasih 1 Jam


__ADS_3

Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Evan dan Aleeapun sampai di supermarket, tempat Aleea akan berbelanja berbagai macam kebutuhan rumah dan kebutuhan pribadinya.


Saat Aleea akan mengambil troli, Evan menahan tangan Aleea, membuat Aleea membawa pandangannya pada Evan dan hanya mendapati Evan yang tersenyum padanya.


Aleea kemudian melepaskan troli dari tangannya, membiarkan Evan yang mendorong troli untuknya.


"Apa yang akan kita beli hari ini Aleea?" tanya Evan pada Aleea.


"Aku ingin membeli kebutuhan kamar mandi dulu, setelah itu kebutuhan pribadiku dan Nathan," jawab Aleea sambil membawa langkahnya memasuki salah satu lorong dengan berbagai macam kebutuhan personal care di kanan dan kirinya.


Aleea mengambil barang-barang kebutuhannya sambil mengobrol dengan Evan. Banyak hal yang mereka bicarakan, bahkan hal-hal kecil yang tidak penting untuk dibicarakan, namun membuat Aleea senang bahkan sesekali ia tertawa kecil mendengar lelucon Evan.


"Seharusnya ada disini," ucap Aleea sambil menyapu deretan pembalut di hadapannya.


"Apa yang sedang kau cari Aleea?" tanya Evan.


"Barang pribadiku, sepertinya disini tidak menjual merk yang biasa aku pakai," jawab Aleea.


"Merk apa yang biasa kau pakai? aku akan menanyakannya pada karyawan disini!" tanya Evan yang membuat Aleea segera membawa pandangannya pada Evan.


"Apa kau serius ingin menanyakannya?" balas Aleea bertanya.


"Tentu saja, mungkin mereka menaruhnya di tempat yang berbeda dari barang sejenisnya," jawab Evan tanpa ragu.


"Tidak Evan, kau tidak perlu menanyakannya, aku bisa memakai merk lain yang ada disini," ucap Aleea dengan tersenyum.


Aleea merasa heran dengan sikap Evan yang tanpa malu berniat untuk menanyakan barang pribadi perempuan pada orang lain, ia bahkan tidak yakin jika Nathan akan berani melakukan hal yang sama seperti Evan.


"Apa kau yakin? apa itu akan membuatmu nyaman?" tanya Evan saat Aleea memasukkan merk pembalut lain ke dalam troli.


Aleea tertawa kecil mendengar pertanyaan Evan, ia semakin dibuat terkejut dengan perhatian Evan yang begitu detail.


"Kenapa kau malah tertawa Aleea? apa sebaiknya kita pergi ke supermarket lain saja?" tanya Evan.


"Tidak perlu Evan, perhatianmu itu membuatku terkejut sekaligus sangat gemas padamu hehe...." jawab Aleea.


"Apa itu membuatmu merasa tidak nyaman?" tanya Evan.


"Tentu saja tidak, justru aku merasa seperti menjadi kekasihmu sekarang," jawab Aleea yang membuat Evan terkejut.


"Entah siapa nanti yang akan menjadi istrimu, aku yakin dia adalah perempuan paling beruntung karena bisa mendapatkanmu," ucap Aleea dengan tersenyum lalu melanjutkan langkahnya untuk mencari barang lain yang dia butuhkan.


"Kenapa kau berpikir seperti itu?" tanya Evan.


"Kau selalu bisa menyenangkan perempuan Evan, kau tau bagaimana memperlakukan perempuan dengan baik, bahkan padaku yang bukan siapa-siapa di hidupmu, apa lagi pada perempuan yang kau cintai nanti!" jawab Aleea.


"Aku tidak sebaik itu Aleea, kau hanya belum begitu mengenalku saja," ucap Evan.


"Justru aku merasa lebih mengenalmu dibanding Nathan, Evan," balas Aleea.


"Mungkin karena Nathan lebih sering memintaku untuk pergi bersamamu, jadi aku merasa lebih mengenalmu dan sedikit sulit untuk mengenal Nathan lebih jauh setelah aku kehilangan ingatanku," lanjut Aleea.


"Aaahh iya, bukankah kau ingin membuat kue? bagaimana jika kita membeli bahan-bahan untuk membuat kue?" tanya Evan berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.


"Ide bagus, aku setuju," balas Aleea bersemangat.


Evan dan Aleea kemudian mencari letak bahan-bahan kue yang ada disana. Setelah mendapatkan apa yang mereka cari, Aleeapun segera mengambil beberapa bahan yang ia butuhkan untuk membuat kue.


"Apa kau sudah mencoba menggunakan merk ini, Aleea?" tanya Evan sambil menunjuk coklat batang di dekatnya.


"Belum, apa berbeda dengan merk yang ini?" jawab Aleea sekaligus bertanya dengan menunjukkan coklat batang yang ia pilih.


"Tentu saja berbeda, meskipun sama-sama coklat batang, tetapi yang kau pilih itu mengandung beberapa persen pemanis, berbeda dengan yang ini, meskipun harganya lebih mahal tetapi ini akan memberikan rasa coklat yang semakin pekat dibanding yang kau pilih," jelas Evan.


"Baiklah, aku akan mencoba pilihanmu," balas Aleea lalu mengembalikan coklat pilihannya dan mengambil coklat pilihan Evan.


Beberapa kali Evan merekomendasikan merk dan jenis bahan-bahan kue pada Aleea, meskipun terlihat sama, namun merk yang berbeda bisa memberikan hasil yang berbeda juga.


"Memang tidak semua yang mahal akan memberikan hasil yang lebih baik, beberapa merk dengan harga yang lebih terjangkau juga memberikan hasil yang baik, tapi kebanyakan memang yang lebih mahal yang akan memberikan hasil yang lebih baik," ucap Evan pada Aleea.


"Aku tidak menyangka jika ternyata kau memiliki banyak pengalaman tentang hal ini, sepertinya lain kali aku harus mengajakmu jika ingin berbelanja bahan kue!" ucap Aleea.


"Mama dulu sering membuat kue dan aku sering menemani mama berbelanja bahan-bahan seperti ini, aku juga sering membantu mama membuatnya!" ucap Evan.


"Sepertinya kau sangat dekat dengan mamamu," ucap Aleea.


"Kau benar, aku memang sangat dekat dengan mama, tapi entah kenapa Tuhan terlalu cepat memisahkan aku dan mama," balas Evan dengan menghela napasnya panjang.


"Semua yang terjadi sudah Tuhan gariskan Evan, aku yakin ini yang terbaik, tidak hanya untukmu tapi juga untuk mamamu," ucap Aleea dengan menatap kedua mata Evan.


Evan tersenyum dengan menganggukkan kepalanya pelan.

__ADS_1


"Sekarang, anggap saja kau sedang berbelanja dengan mamamu, apa aku sudah cukup cantik untuk menjadi mamamu?" ucap Aleea sekaligus bertanya dengan senyum manisnya.


Evanpun hanya tertawa kecil dengan menganggukkan kepalanya.


"Anak manis," ucap Aleea sambil menepuk pelan kepala Evan, membuat Evan hanya terdiam dengan dadanya yang tiba-tiba berdebar.


"Ayo sayang, ikut mama!" ucap Aleea dengan penuh senyum.


"Sa.... yang?"


"Apa mamamu tidak pernah memanggilmu seperti itu?" tanya Aleea yang seketika menyadarkan Evan.


"Iya, mama memang sering memanggilku seperti itu," jawab Evan dengan tersenyum canggung.


Setelah membeli semua yang mereka perlukan, merekapun meninggalkan supermarket itu.


"Waaahhh..... ternyata kita sudah menghabiskan banyak waktu di dalam supermarket, aku tidak sadar jika sekarang sudah siang," ucap Aleea setelah ia melihat jam di ponselnya.


"Kita juga cukup lama menghabiskan waktu di jalan karena macet Aleea," balas Evan.


"Aaahh iya kau benar, karena ada truk yang terguling tadi pagi," ucap Aleea dengan menganggukkan kepalanya.


"Karena sekarang sudah siang, bagaimana jika kita makan siang sekalian?" tanya Evan.


"Mmmm.... aku akan menghubungi Nathan dulu, jika dia sudah pulang lebih baik kita makan siang bersama di rumah, tapi jika dia belum pulang kita bisa makan siang berdua sekarang," jawab Aleea.


"Oke baiklah," balas Evan.


Aleea kemudian menghubungi Nathan, namun tidak terjawab. Aleeapun berganti menghubungi nomor rumahnya untuk bertanya pada bibi.


"Halo Bi, ini Aleea, apa Nathan sudah pulang bi?"


"Belum non," jawab bibi.


"Tolong hubungi Aleea jika Nathan sudah pulang bi!" ucap Aleea


"Baik non," balas bibi.


Aleea kemudian mengakhiri panggilannya dan memberi tahu Evan jika Nathan belum pulang.


"Apa itu artinya kau mau makan siang denganku?" tanya Evan yang dibalas anggukan kepala oleh Aleea.


"Mmmm.... terserah kau saja Evan," jawab Aleea.


"Baiklah, aku akan mengajakmu ke restoran Jepang yang tidak jauh dari sini, disana kau bisa melihat langsung saat kokinya memasak di depanmu," ucap Evan.


"Sepertinya menarik," ucap Aleea.


"Tidak hanya menarik, kau juga pasti akan menyukai makanan disana," balas Evan.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai di tempat tujuan. Aleea dan Evan masuk ke dalam restoran dimana ada 2 ruangan yang berbeda disana.


Ruangan pertama diisi dengan kursi dan meja layaknya restoran pada umumnya, sedangkan di ruangan kedua terdapat meja yang mengelilingi tempat koki memasak.


Di ruangan kedua itulah mereka bisa menunggu makanan mereka sembari melihat sang koki memasak dan memperlihatkan berbagai teknik memasaknya.


Evan segera meraih tangan Aleea dan menggandengnya masuk ke ruangan kedua. Beruntung, masih ada dua kursi kosong disana.


Evan kemudian menarik satu kursi untuk Aleea lalu duduk di samping Aleea.


"Apa kokinya memang dari Jepang, Evan?" tanya Aleea berbisik pada Evan setelah dia memperhatikan wajah sang koki.


"Iya, beberapa koki disini memang berasal dari Jepang," jawab Evan.


"Aku akan menunjukkan beberapa menu rekomendasi padamu, aku yakin kau akan menyukainya," lanjut Evan.


"Sepertinya kau sering datang kesini, apa jangan-jangan kau sering kesini bersama kekasihmu?"


"Tidak Aleea, aku hanya beberapa kali kesini bersama Nathan," jawab Evan.


"Kalian hanya berdua? kesini? tempat seperti ini?" tanya Aleea tak percaya.


"Aku memang sering pergi berdua dengan Nathan, kita suka berburu kuliner apa lagi jika ada restoran baru, kita pasti akan datang, tapi aku dan Nathan duduk di ruangan depan, bukan disini," jelas Evan.


"Waaahhh kalian berdua benar-benar seperti pasangan kekasih, apa jangan-jangan di kehidupan masa lalu salah satu dari kalian adalah perempuan?"


"Hahaha... mungkin memang seperti itu," balas Evan tertawa kecil.


Tiba-tiba seorang waiters menaruh satu set appetizer di depan Aleea dan Evan.


"Maaf, tapi kami tidak memesan ini," ucap Evan pada waiters.

__ADS_1


"Ini adalah appetizer khusus untuk yang datang berpasangan dan ini free," balas si waiters.


"Tapi kami bu....."


Evan menghentikan ucapannya saat Aleea tiba-tiba menggenggam tangannya di bawah meja sambil tersenyum pada Evan.


"Terima kasih kak," ucap Aleea pada waiters.


"Selamat menikmati, saya permisi," ucap si waiters lalu pergi.


Evan yang masih terkejut dengan apa yang Aleea lakukan hanya diam dengan degup jantungnya yang tiba-tiba berdetak kencang, sedangkan Aleea segera menarik tangannya dari Evan.


"Ini gratis Evan, jadi terima saja jika kita harus menjadi pasangan untuk 1 jam ke depan, hehe...." ucap Aleea dengan tertawa kecil, menyadarkan Evan dari lamunannya.


"Cobalah, ini sangat enak," ucap Aleea sambil memberikan sendok kecil pada Evan setelah ia mencobanya.


Evanpun menerima sendok dari Aleea dengan tersenyum canggung lalu mencoba makanan di hadapannya.


"Bagaimana? enak bukan? aku yakin kau belum pernah mencoba menu ini, karena menu ini hanya untuk yang berpasangan!"


"Kau benar, aku memang belum pernah mencobanya, ini yang pertama buatku," balas Evan.


Tak lama kemudian makanan utama mereka datang. Aleea dan Evan menikmati makanan utama mereka sembari melihat sang koki yang sedang memasak dengan berbagai teknik yang dipertontonkannya.


Setelah selesai menikmati makanan mereka, merekapun keluar dari restoran itu.


"Aaahhh aku kenyang sekali, tidak hanya enak, tapi juga memberikan pengalaman yang berbeda buatku," ucap Aleea.


"Sepertinya masih ada waktu 10 menit lagi," ucap Evan sambil melihat jam di tangan kirinya.


"10 menit? untuk apa?" tanya Aleea tak mengerti.


"Untuk menjadi kekasihmu, bukankah kau bilang kita akan menjadi kekasih selama satu jam? hehe....."


"Aaahh iya, kau benar, kekasihku.... hehe...." balas Aleea dengan tertawa kecil.


"Tunggu sebentar, sepertinya aku meninggalkan ponselku di dalam," ucap Evan setelah ia merogoh semua saku pakaiannya.


"Aku akan mengambilnya, kau tunggu disini sebentar!" lanjut Evan yang akan pergi, namun ditahan oleh Aleea.


"Aku yang akan mengambilnya, aku akan menjadi kekasih yang baik di 10 menit terakhirku," ucap Aleea dengan tersenyum lalu segera berlari pergi meninggalkan Evan.


Sedangkan Evan hanya tersenyum tipis melihat Aleea yang kembali masuk ke dalam restoran.


Tak lama kemudian Aleea terlihat keluar dari restoran. Saat berjalan menghampiri Evan, tiba-tiba ada sebuah motor yang melaju kencang ke arah Aleea.


Evan yang melihat hal itu segera berlari ke arah Aleea, mendekap Aleea dan terjatuh bersama Aleea saat menghindar dari motor yang melaju tak terkendali.


Sayangnya, demi menjaga Aleea agar tidak terluka, Evan menjatuhkan dirinya di bawah Aleea, membuat kepalanya terbentur beton pembatas parkir.


Menyadari apa yang terjadi, Aleea segera beranjak dari atas Evan dan begitu terkejut saat melihat Evan yang terbaring dengan bersimbah darah di bagian kepalanya.


"Evan......"


Aleea membawa pandangannya ke arah sekitarnya sambil berteriak meminta tolong.


"Aleea....." panggil Evan dengan suaranya yang sangat pelan, namun cukup terdengar oleh Aleea.


"Iya Evan, aku disini, aku akan segera membawamu ke rumah sakit, jadi bertahanlah Evan!" ucap Aleea panik dan khawatir.


Evan tersenyum saat ia melihat jam di tangan kirinya lalu menggenggam tangan Aleea yang ada di atas dadanya.


"Aku.... masih punya waktu...... 5 menit..... untuk menjadi.... kekasihmu, Aleea....." ucap Evan terbata-bata dengan senyum di wajahnya.


"Ini bukan saatnya untuk....."


"Maafkan aku..... Aleea," ucap Evan memotong ucapan Aleea dengan satu tangannya menyentuh wajah Aleea.


Beberapa detik kemudian tangan Evan yang menyentuh wajah Aleea terjatuh bersama dengan kedua mata Evan yang mulai terpejam.


"Tidak Evan.... buka matamu..... bertahanlah Evan, aku mohon bertahanlah!" ucap Aleea histeris dengan menggenggam tangan Evan.


Tak lama kemudian ambulans datang, petugas ambulans segera memeriksa keadaan Evan lalu membawa Evan masuk ke dalam ambulans bersama Aleea.


Di dalam ambulans Aleea masih menggenggam tangan Evan dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya.


Aleea bahkan mengabaikan beberapa luka kecil yang ada di tangannya karena ia begitu mengkhawatirkan keadaan Evan.


"Bertahanlah Evan, aku mohon," ucap Aleea dengan terisak.


Saat ambulans sampai di rumah sakit, Evan segera dilarikan ke ruang UGD, sedangkan Aleea duduk di ruang UGD dengan penuh kekhawatiran.

__ADS_1


__ADS_2