
Vina masih berada di ruangan Nathan, untuk beberapa saat dia merasa menang karena berpikir jika Nathan akan melakukan apa yang ia inginkan untuk mempertahankannya di kantor.
Namun tiba-tiba......
"Harapanmu terlalu jauh Vina," ucap Nathan dengan tersenyum sambil melepaskan tangannya yang menyentuh dagu Vina dan menarik tangannya dari genggaman Vina.
Nathan kemudian membawa langkahnya mendekati pintu ruangannya dan memegang handle pintunya.
"Apa aku harus membukakan pintu untukmu?" tanya Nathan yang membuat Vina semakin terkejut.
"Apa maksudmu, Nathan?" balas Vina bertanya dengan segera beranjak dari duduknya.
"Aku akan menandatangani surat pengunduran dirimu, kau bisa meninggalkan kantor sekarang juga jika kau mau!" jawab Nathan.
"Tapi....."
"Jangan khawatir, aku pastikan kau akan mendapat gaji terakhirmu dengan layak!" ucap Nathan memotong ucapan Vina lalu membuka pintu ruangannya.
Vinapun segera mendekat dan menutup kembali pintu ruangan Nathan.
"Apa kau serius dengan apa yang kau katakan Nathan? Kau pasti bercanda bukan?" tanya Vina tak percaya.
"Aku tidak mempunyai banyak waktu untuk bercanda Vina, jika memang kau sudah lelah bekerja disini, kau bisa keluar sekarang juga, tidak akan ada yang menahanmu!" jawab Nathan tanpa ragu.
"Kau tau aku yang bertanggung jawab untuk projek baru kita bukan?"
"Iya, aku tau, kau tidak perlu memikirkannya, aku dan Evan yang akan mengambil alih semua projek yang sedang kau kerjakan," jawab Nathan.
"Apa ini artinya kau membuangku sekarang? apa kau sudah tidak membutuhkanku dan membuangku begitu saja?"
"Membuang? bukankah kau yang ingin mengundurkan diri? berhenti bersikap manipulatif Vina, sekarang aku tidak akan menahanmu lagi jika kau memang ingin meninggalkan perusahaan ini!" balas Nathan yang mulai meninggikan suaranya.
Vina terdiam, kedua matanya mulai berkaca-kaca, berharap Nathan akan melunak padanya.
"Kau sudah bekerja dengan sangat baik disini dan aku tau bagaimana kerja kerasmu selama ini, itu kenapa aku bisa dengan mudah memberimu sesuatu yang lebih dari lainnya karena kau bekerja lebih keras dari lainnya!" ucap Nathan.
"Aku memang sempat egois karena berusaha menahanmu disini, tapi sekarang aku akan melepaskanmu jika memang kau sudah tidak merasa nyaman disini, karena sedekat apapun kita, kita hanya sebatas atasan dan bawahan, kau harus ingat itu!" lanjut Nathan.
"Kenapa kau tiba-tiba seperti ini Nathan? apa karena Aleea? apa Aleea yang menyuruhmu bersikap seperti ini padaku?" tanya Vina.
"Jangan membawa Aleea di kantor, dia sama sekali tidak pernah terlibat dengan masalah kantor, apapun keputusanku tentang perusahaan tidak ada sangkut pautnya dengan Aleea," balas Nathan.
"Dia pasti cemburu bukan? dia pasti...."
"Dia istriku, wajar jika dia cemburu saat suaminya bersama perempuan lain, dia sudah cukup memahami kedekatan kita sebagai partner kerja Vina, jadi jika kau mendekatiku secara terang-terangan di luar masalah pekerjaan, tentu saja dia cemburu!"
"Apa selama ini kau tidak pernah memikirkan tentangku Nathan? apa tidak pernah ada aku dalam hatimu meskipun hanya sebentar saja?" tanya Vina dengan air mata yang menetes membasahi pipinya.
"Aku sudah berkali-kali mengatakannya padamu Vina, menjawab lagi pertanyaanmu itu hanya akan membuatmu sakit hati," ucap Nathan.
"Kau memang jahat Nathan, kau sangat egois dan jahat!" ucap Vina sambil memukul Nathan.
"Jika ini masalah personal, kita bisa menyelesaikannya di luar jam kerja Vina, sekarang aku harus fokus dengan pekerjaanku!" ucap Nathan sambil memegang kedua tangan Vina lalu membuka pintu ruangannya dan sedikit mendorong Vina agar keluar dari ruangannya.
Vina yang kesalpun meninggalkan ruangan Nathan dengan menghapus air mata di pipinya.
Di sisi lain, Evan yang akan masuk ke ruangan Nathan hanya diam saat melihat Vina yang keluar dari ruangan Nathan dengan raut wajahnya yang kesal.
"Ada apa lagi dengannya?" tanya Evan sambil membawa dirinya membuka ruangan Nathan.
Evan menghampiri Nathan lalu memberikan sebuah map pada Nathan.
"Apa Vina membuat masalah lagi?" tanya Evan pada Nathan.
Nathan hanya diam sambil menggeser surat pengunduran diri Vina yang ada di atas mejanya agar dilihat oleh Evan.
Evanpun mengambilnya dan membacanya.
"Surat pengunduran diri lagi? apa kau akan menandatanganinya?" tanya Evan.
"Tidak," jawab Nathan singkat sambil membuka map yang Evan berikan padanya.
"Apa itu artinya kau akan memohon lagi padanya dan melakukan apapun yang dia minta?" tanya Evan menerka.
"Tentu saja tidak, tidak akan ada yang bisa mengendalikanku Evan, apa lagi Vina!" jawab Nathan.
"Lalu kenapa kau tidak menandatanganinya jika kau tidak menahannya?" tanya Evan tak mengerti.
"Aku tidak akan mengulangi kesalahanku lagi Evan, jadi aku akan membiarkan dia keluar jika memang dia ingin keluar, tapi aku yakin dia akan berubah pikiran dan surat pengunduran diri ini hanya gertakan agar aku mengikuti apa yang dia inginkan!" jelas Nathan.
__ADS_1
"Tapi bagaimana jika dia benar-benar mengundurkan diri? apa kau siap dengan hal itu?" tanya Evan.
"Aku harus siap, harus ada yang aku korbankan untuk menjemput apa yang aku impikan selama ini, aku tidak peduli jika aku harus bekerja 10 kali lipat lebih keras jika memang Vina benar-benar meninggalkan perusahaan ini!" jawab Nathan.
"Kenapa kau tiba-tiba seyakin ini?" tanya Evan.
"Aku tidak ingin dia merasa di atas awan hanya karena aku membutuhkannya disini, sudah seharusnya dia yang mengikuti semua ucapanku, bukan sebaliknya!" jawab Nathan.
"Baguslah kalau kau sadar, memang sudah seharusnya kau bersikap tegas padanya sejak dulu!" ucap Evan.
"Padahal selama ini aku berusaha membuatnya nyaman disini agar dia terus berkerja dengan baik, tetapi dia justru menyalahartikan sikapku padanya," ucap Nathan.
"Siapapun akan melakukan apa yang Vina lakukan Nathan, memang tidak seharusnya kau memberikan hal-hal yang berlebihan pada Vina agar dia tidak berharap lebih padamu dan melupakan tempatnya disini!" balas Evan.
"Kau benar, sekarang aku akan lebih berhati-hati, aku tidak ingin ada kesalahan lagi!" ucap Nathan.
"Harus ada yang aku korbankan untuk mendapatkan apa yang aku inginkan dan kali ini, Vina lah yang harus aku lepaskan!" ucap Nathan dalam hati.
"Tentang Aleea, apa rencanamu sekarang ? bukan tidak mungkin jika Bryan akan kembali untuk mencari Aleea bukan?" tanya Evan pada Nathan.
"Kau benar, itu kenapa aku sudah mulai menjalankan rencanaku sekarang," jawab Nathan dengan tersenyum.
"Rencana? rencana apa? kau tidak mengatakan apapun padaku sejak kemarin!" tanya Evan.
"Aku memang belum memberi tahumu, tapi aku yakin kau akan mengetahuinya nanti," jawab Nathan.
"Tapi pastikan jika rencanamu itu tidak akan menyakiti Aleea, Nathan!" ucap Evan.
"Apa kau sangat mengkhawatirkannya?" tanya Nathan.
"Dia sudah cukup menderita dengan hidupnya dan aku ikut andil dalam penderitaan yang dia alami saat ini," jawab Evan.
"Jangan khawatir, aku tidak akan menyakitinya," ucap Nathan.
"Justru aku akan semakin mendekat padanya dan membuatnya benar-benar jatuh cinta padaku," lanjut Nathan dalam hati.
Setelah menyelesaikan urusannya dengan Nathan, Evanpun kembali ke ruangannya.
**
Di tempat lain, Aleea sedang sibuk dengan Tika untuk menyiapkan roti dan menu baru mereka.
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 9 siang, Aleea dan Tikapun pergi ke kelas memasak.
Hari itu, tidak ada kelas memasak karena mereka hanya akan membicarakan bazar yang akan dilakukan kelas memasak mereka sebagai acara terakhir sebelum mereka lulus dari kelas memasak.
Kelas memasak yang Aleea dan Tika ikuti memang cukup singkat, namun memberikan banyak hal baru bagi para anggotanya. Tidak hanya mempelajari cara memasak beberapa menu, tapi mereka juga diajarkan untuk berbisnis.
Tepat jam 12 siang, Aleea dan Tika kembali ke ruko sembari memikirkan bazar yang akan mereka ikuti sekaligus sebagai salah satu cara promosi untuk toko kue mereka.
"Bazar itu diadakan dari pagi sampai malam Aleea, jika kita ingin memaksimalkan promosi kita, kita harus melakukannya dari pagi sampai malam juga!" ucap Tika.
"Kalau memang begitu, sepertinya kita kekurangan anggota, setidaknya harus ada satu atau dua orang lagi yang membantu kita," balas Aleea.
"Kau benar, aku akan mencoba mencari bantuan pada teman-temanku," ucap Tika.
"Hubungi aku jika kau sudah mendapatkan teman, agar aku tidak khawatir!" ucap Aleea yang dibalas anggukan kepala oleh Tika.
Aleea dan Tika kemudian membuka toko kue mereka dan tidak membutuhkan waktu lama, satu per satu pelanggan datang.
Sembari melayani pelanggan, Aleea dan Tika berdiskusi tentang tema bazar mereka dan apa saja yang akan mereka jual pada bazar itu.
Tika kemudian mencatat beberapa hal yang sudah menjadi kesepakatan mereka, sedangkan Aleea mulai membuat konten untuk mempromosikan stand mereka pada bazar yang akan mereka ikuti.
Dengan begitu, pelanggan mereka yang lama akan datang ke acara bazar itu dan dengan diskon yang mereka berikan, mereka bisa menarik para pelanggan baru yang datang ke acara bazar itu.
"Aku sudah menghubungi beberapa teman-temanku, tetapi mereka semua sibuk di hari Minggu," ucap Tika dengan menghela napasnya.
"Jika mereka semua pekerja, mereka pasti sudah memiliki rencana sendiri untuk hari libur mereka," balas Aleea.
"Kau benar, beberapa dari mereka bekerja di pabrik dan perusahaan yang hanya memberikan libur di hari Minggu, jadi mereka sudah menyiapkan hari minggu mereka untuk berlibur atau sekedar beristirahat di rumah," ucap Tika.
"Apa mungkin kita bisa mengatasinya berdua, Tika?" tanya Aleea.
"Sepertinya tidak mungkin Aleea, bazar hari Minggu besok akan diadakan di tempat yang sangat besar dan pasti akan sangat banyak pengunjung yang datang, sepertinya tidak mungkin jika kita melakukannya dengan hanya berdua," jawab Tika.
"Hmmm.... kau benar," ucap Aleea dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Untuk beberapa saat mereka hanya diam, memikirkan bagaimana caranya mencari bantuan lagi.
__ADS_1
"Kita pikirkan saja besok, sekarang kita pulang dulu!" ucap Aleea lalu beranjak dari duduknya diikuti Tika.
Mereka menutup ruko mereka tepat pukul 9 malam lalu membersihkan ruko dan membereskan semuanya sebelum mereka meninggalkan ruko.
"Sepertinya ada yang sudah menjemputmu!" ucap Tika dengan menyenggol lengan tangan Aleea.
"Padahal aku sudah melarangnya untuk selalu datang," balas Aleea dengan menghela napasnya.
"Biarkan saja Aleea, selagi dia tidak melakukan hal yang berlebihan," ucap Tika.
"Kau benar," balas Aleea dengan menganggukkan kepalanya.
Tika kemudian masuk ke dalam mobilnya dan mengendarai mobilnya pergi, sedangkan Aleea segera membawa langkahnya ke arah mobil Evan yang terparkir beberapa meter dari depan tokonya.
Aleea mendekati mobil Evan, lalu mengetuk kaca pintu mobil Evan dengan tersenyum.
Evanpun segera keluar dari mobilnya dengan tersenyum pada Aleea.
"Kau ada disini rupanya, aku pikir kau sudah pulang!" ucap Evan yang berpura-pura terkejut dengan kedatangan Aleea.
"Dialog yang sangat natural," ucap Aleea dengan bertepuk tangan kecil.
"Hehe... aku tidak sengaja melewati jalan ini Aleea, jadi aku kesini untuk menjemputmu sekalian," ucap Evan beralasan.
"Baiklah, alasan diterima," balas Aleea yang membuat Evan terkekeh
"Ayo masuklah!" ucap Evan sambil membuka pintu mobilnya untuk Aleea.
"Apa kau sudah makan malam?" tanya Evan pada Aleea saat Evan sudah mengendarai mobilnya meninggalkan halaman ruko.
"Sudah," jawab Aleea dengan menganggukkan kepalanya.
"Aaahh begitu," ucap Evan yang terdengar tak bersemangat.
"Aku bisa menemanimu jika kau mau," ucap Aleea dengan menatap Evan yang duduk di sampingnya.
"Menemaniku?" tanya Evan mengulangi ucapan Aleea.
"Iya, aku bisa menemanimu makan malam, karena sepertinya kau belum makan malam, benar bukan?"
"Dari mana kau tau?" balas Evan bertanya.
"Kau terlihat seperti kucing kelaparan sekarang hehehe...." jawab Aleea dengan tertawa kecil yang membuat Evan terkekeh.
"Oke baiklah, aku akan membawamu ke suatu tempat kalau begitu!" ucap Evan lalu mengarahkan mobilnya memasuki sebuah gang.
Setelah hampir 10 menit berkendara di gang yang tidak terlalu lebar, Evan akhirnya sampai di tempat tujuannya.
Sebuah lapangan yang di dalamnya terdapat banyak penjual makanan dan jajanan malam. Meksipun sudah malam, tetapi tempat itu masih ramai pengunjung.
"Apa kau tidak keberatan jika aku membawamu kesini?" tanya Evan memastikan.
"Tentu saja tidak, justru sepertinya aku mulai lapar karena mencium bau jajanan disini," jawab Aleea dengan tersenyum.
"Baguslah kalau begitu, kita beli apapun yang kau mau disini!" ucap Evan lalu berjalan mendekati setiap stand yang ada disana bersama Aleea.
Setelah beberapa lama berkeliling, mereka kembali ke mobil dengan membawa beberapa jenis jajanan malam yang Aleea pilih sendiri.
Mereka menikmati makanan mereka di dalam mobil sambil mengobrol dan sesekali tertawa.
"Kenapa kau tiba-tiba mengajakku kesini? apa kau sudah sering datang kesini?" tanya Aleea.
"Hanya beberapa kali saat aku dan Nathan masih bersekolah," jawab Evan.
"Saat bersekolah? itu artinya mereka sudah lama berjualan disini?" tanya Aleea terkejut.
"Bisa jadi atau mungkin sudah digantikan oleh anak-anak mereka," jawab Evan sambil menikmati martabak manis bersama Aleea.
"Apa kau menyukainya?" tanya Evan sambil membersihkan coklat yang ada di bibir Aleea dengan sebuah tissue.
Aleea hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu mengambil tissue untuk membersihkan bibirnya.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Aleea berdering, sebuah pesan masuk dari Nathan.
"Kau dimana Aleea? katakan padaku, aku akan menjemputmu!"
Aleea membawa pandangannya pada Evan karena terkejut dengan pesan Nathan yang tidak seperti biasanya.
__ADS_1