
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Hanna berdering, sebuah pesan masuk dari orang suruhannya yang memberi tahunya jika ia sudah mendapatkan informasi yang Hanna minta.
"Mama harus pergi," ucap Hanna sambil beranjak dari duduknya.
"Terima kasih sudah mengantar Aleea ke rumah sakit ma," ucap Nathan yang hanya dibalas anggukan oleh Hanna.
Setelah sang mama pergi, Nathan kemudian masuk ke ruangan Aleea dan duduk di samping ranjang Aleea.
Nathan menghela nafasnya panjang, menatap Aleea yang terbaring di ranjang rumah sakit. Tak lama kemudian Aleea tampak mengerjap dan perlahan membuka matanya.
"Kau sudah bangun Aleea? bagaimana keadaanmu?" tanya Nathan.
"Hanya.... sedikit pusing," jawab Aleea dengan suaranya yang masih terdengar lemah.
Aleea mengedarkan pandangannya dan menyadari jika dirinya berada di rumah sakit.
"Apa Evan yang membawaku kesini?" tanya Aleea.
"Tidak, mama yang membawamu ke rumah sakit," jawab Nathan.
"Mama? kenapa mama?" tanya Aleea terkejut.
"Kebetulan mama datang saat Evan akan mengantarmu ke rumah sakit, jadi mama yang membawamu ke rumah sakit," jelas Nathan.
"Aaahh begitu, apa mama mengatakan sesuatu padamu Nathan? aku khawatir mama akan salah paham pada Evan."
"Tidak, mama tidak mengatakan apapun," jawab Nathan berbohong.
Aleea bisa bernapas lega jika mama mertuanya tidak mengatakan apapun pada Nathan, karena ia khawatir jika mama mertuanya akan salah paham jika melihat Evan di rumahnya.
Meskipun tidak mengatakannya secara langsung, tetapi pertanyaan mama Nathan pada Aleea beberapa saat yang lalu cukup membuat Aleea mengerti jika mama Nathan mengkhawatirkan hubungan Aleea dengan Evan.
"Tentang kejadian di kantor kemarin, aku minta maaf Aleea, aku tidak bermaksud untuk bersikap kasar padamu, aku hanya.... sedang stres karena pekerjaan kantor yang sangat banyak," ucap Nathan.
"Aku mengerti, mungkin sebaiknya aku tidak membuat kue lagi untukmu," balas Aleea.
"Aahh ya, tentang kelas memasak itu, bagaimana jika sebaiknya kau keluar saja?" tanya Nathan.
"Keluar? kenapa?" tanya Aleea.
"Aku hanya tidak ingin kau kelelahan karena kelas memasak itu dan berakhir di rumah sakit seperti ini," jawab Nathan.
"Tidak Nathan, kelas memasak itu satu-satunya kegiatanku di luar rumah, aku tidak mungkin keluar dari kelas memasak," ucap Aleea.
"Tapi jika kegiatan itu membuatmu sakit bukankah lebih baik kau mencari kegiatan lain yang bisa kau kerjakan di rumah?"
"Aku sakit bukan karena kelas memasak Nathan, jadi aku mohon jangan memaksaku untuk keluar dari kelas memasak," ucap Aleea memohon.
"Aku tidak suka melihatmu terbaring di rumah sakit seperti ini Aleea, aku mengkhawatirkanmu," ucap Nathan.
"Kau akan sangat merepotkan jika berada di rumah sakit seperti ini," batin Nathan dalam hati yang tidak mungkin ia katakan pada Aleea.
"Aku akan berusaha menjaga diri dengan baik, aku akan lebih menjaga kesehatanku sekarang, aku janji," ucap Aleea sambil meraih tangan Nathan dan menggenggamnya.
"Baiklah jika itu maumu," balas Nathan dengan menarik tangannya dari Aleea lalu membelai lembut rambut Aleea.
"Sekarang beristirahatlah, besok pagi kau baru bisa pulang," lanjut Nathan.
"Apa kau akan pulang sekarang?" tanya Aleea.
"Aku meninggalkan pekerjaanku di kantor saat mama memberi tahuku jika kau berada di rumah sakit, jadi sekarang aku harus pulang untuk menyelesaikan pekerjaanku di rumah, kau baik-baik saja bukan jika aku meninggalkanmu disini sendiri?"
Aleea hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun meskipun sebenarnya ia ingin Nathan menemaninya malam itu.
"Tekan saja tombol ini, suster akan segera datang untuk membantu apapun yang kau butuhkan," ucap Nathan sambil menunjuk tombol merah di samping ranjang Aleea.
Nathan kemudian beranjak dari duduknya, membelai pelan rambut Aleea dengan tersenyum sebelum ia keluar dari ruangan Aleea.
Sedangkan Aleea hanya menatap kepergian Nathan dengan penuh kesedihan.
"Aku tidak boleh menangis, dia pulang untuk mengerjakan pekerjaannya, tidak ada yang harus dipermasalahkan, lagi pula aku juga sudah baik-baik saja," ucap Aleea dalam hati dengan berusaha untuk tetap berpikir positif.
**
Waktu berlalu, hari telah berganti. Seperti biasa, Nathan meninggalkan rumah setelah ia menyelesaikan sarapannya.
Nathan mengendarai mobilnya ke arah kantor seperti biasa. Setelah beberapa lama dalam perjalanan, iapun sampai di kantor.
Nathan segera menyalakan komputernya dan memeriksa ulang materi meeting yang akan ia gunakan untuk meeting beberapa jam lagi.
Tak lama kemudian pintu ruangannya terbuka, Evan datang untuk mengambil berkas yang Nathan berikan padanya.
"Ada beberapa hal yang harus direvisi, sesuaikan saja dengan laporan bulan kemarin!" ucap Nathan pada Evan.
__ADS_1
"Oke," balas Evan dengan menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana keadaan Aleea? apa dia sudah pulang dari rumah sakit?" lanjut Evan bertanya yang seketika membuat Nathan segera membawa pandangannya pada Evan.
"Ada apa? kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Evan yang merasa tiba-tiba mendapat tatapan dari Nathan.
"Aku lupa menjemputnya," jawab Nathan dengan menepuk keningnya.
"Lupa menjemputnya?" tanya Evan mengulang ucapan Nathan.
"Iya, seharusnya dia sudah bisa pulang pagi ini, tapi aku lupa dan belum menjemputnya," jawab Nathan.
"Apa semalam kau tidak menemaninya di rumah sakit?" tanya Evan.
"Tidak, aku pulang karena harus menyelesaikan pekerjaanku," jawab Nathan tanpa rasa bersalah.
"Kau membiarkannya di rumah sakit sendirian dan sekarang kau lupa menjemputnya?"
"Banyak dokter dan perawat di rumah sakit Evan, untuk apa aku menemaninya disana," balas Nathan.
"Tapi kau suaminya Nathan, sekarang lebih baik jemput dia, dia pasti sudah menunggumu, pasti sangat membosankan berada di rumah sakit sendirian!"
"Aku tidak bisa, 2 jam lagi ada meeting penting, aku tidak boleh terlambat," balas Nathan.
"Tapi Aleea....."
"Bisakah kau saja yang menjemputnya? katakan padanya jika aku sedang meeting penting jadi tidak bisa menjemputnya, berkas yang kau bawa berikan saja pada Vina, biarkan Vina yang merevisinya!"
Evan menghela nafasnya kasar melihat sikap Nathan yang sama sekali tidak mempedulikan Aleea.
"Ayolah Evan, aku minta tolong," ucap Nathan memohon.
"Baiklah," balas Evan lalu berjalan keluar dari ruangan Nathan.
Evan kemudian menghampiri Vina dan memberikan berkasnya pada Vina.
"Pak Nathan memintamu untuk merevisi berkas ini sesuai dengan laporan bulan kemarin," ucap Evan pada Vina.
"Tapi ini bukan tugasku," balas Vina.
"Ada hal lain yang Pak Nathan perintahkan padaku, jadi dia memintaku untuk memberikan tugas ini padamu," ucap Evan.
"Oke baiklah," ucap Vina.
"Ingat Vina, sedekat apapun kau dan Pak Nathan, selama berada di kantor jaga sopan santunmu!" ucap Evan.
"Hahaha.... kau memang keterlaluan Vina," ucap teman Vina menertawakan Vina.
"Evan dan Nathan tidak berbeda jauh usianya denganku, lagi pula Nathan juga tidak pernah mempersalahkan hal itu, karena di depan petinggi lain aku tetap bersikap sopan padanya," balas Vina.
"Yaaa.... yaaa... yaa... terserah kau saja!"
**
Di sisi lain, Evan baru saja sampai di rumah sakit dan segera mencari keberadaan Aleea sampai akhirnya ia melihat Aleea yang hanya duduk di depan sebuah ruangan.
"Selamat pagi Nyonya Nathan," sapa Evan dengan penuh senyum.
"Evan, kenapa kau disini? jangan bilang jika Nathan yang memintamu untuk kesini!"
"Hehe.... kalau begitu aku hanya akan diam," ucap Evan dengan terkekeh.
Aleea menghela napasnya panjang lalu beranjak dari duduknya.
"Jadi benar Nathan yang memintamu untuk menjemputku?" tanya Aleea.
"Ada meeting penting pagi ini, jadi dia tidak sempat menjemputmu," balas Evan beralasan.
Setelah menyelesaikan biaya administrasi, Evan dan Aleeapun meninggalkan rumah sakit.
Di dalam mobilnya, Evan mengambil satu buket bunga yang ada di kursi belakang mobilnya lalu memberikannya pada Aleea.
"Nathan minta maaf karena tidak bisa menjemputmu," ucap Evan sambil memberikan buket bunga krisan pada Aleea.
Aleea menerima bunga itu dengan tersenyum tanpa mengatakan apapun.
"Nathan mungkin tidak pandai menunjukkan rasa cintanya padamu Aleea, dia memiliki caranya sendiri yang berbeda dengan kebanyakan laki-laki," ucap Evan.
"Dia memang terkadang tidak mempedulikanku, tapi aku berusaha untuk selalu berpikir positif karena aku tau dia mencintaiku dengan caranya sendiri yang berbeda dengan apa yang aku harapkan," balas Aleea.
"Jalani hidupmu dengan bahagia Aleea, jangan menaruh harapan yang terlalu besar pada siapapun, termasuk Nathan meskipun dia adalah suamimu, itulah yang akan menjagamu tetap bahagia tanpa rasa kecewa," ucap Evan yang dibalas anggukan dan senyum oleh Aleea.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Evanpun sampai di rumah Aleea.
"Terima kasih sudah menjemputku Evan," ucap Aleea pada Evan yang juga keluar dari mobilnya.
__ADS_1
Sebelum Evan mengatakan apapun, sebuah mobil memasuki halaman rumah dan terlihat mama Nathan yang keluar dari mobil itu.
"Kebetulan yang ketiga kali ya mama bertemu kalian sedang berdua," ucap Hanna dengan membawa langkahnya menghampiri Aleea.
"Nathan meminta Evan untuk menjemput Aleea, Tante," ucap Evan.
"Dengan membawa bunga?" tanya Hanna dengan membawa pandangannya menatap bunga yang Aleea pegang.
"Nathan yang membelinya untuk Aleea sebagai bentuk permintaan maaf karena tidak bisa menjemput Aleea," jawab Evan.
"Aaahh begitu, mama baru saja ke rumah sakit untuk melihat keadaanmu Aleea, tapi pihak rumah sakit memberi tahu mama jika kau sudah meninggalkan rumah sakit bersama laki-laki, mama pikir Nathan yang menjemputmu," ucap Hanna pada Aleea.
"Aleea juga berpikir Nathan yang akan menjemput Aleea ma, tapi ternyata ada meeting penting yang tidak bisa Nathan tinggalkan," balas Aleea.
"Kalau begitu aku pergi dulu Aleea, jangan lupa minum obatmu, Evan permisi Tante," ucap Evan berpamitan pada Aleea dan Hanna.
Setelah kepergian Evan, Aleea kemudian masuk ke dalam rumah bersama Hanna.
"Bagaimana keadaanmu Aleea? apa sudah lebih baik?" tanya Hanna.
"Aleea sudah baik-baik saja ma, terima kasih sudah mengantar Aleea ke rumah sakit kemarin," jawab Aleea.
"Siapa kau sebenarnya Aleea? kenapa tidak banyak hal tentangmu yang diketahui orang? kau seperti tiba-tiba muncul tanpa latar belakang yang jelas," batin Hanna bertanya dalam hati.
Sejak kemarin Hanna memikirkan tentang siapa sebenarnya Aleea, karena laporan dari orang suruhannya tidak memberinya banyak informasi tentang Aleea, seolah kehidupan Aleea di masa lalu memang sengaja disembunyikan.
"Karena kau sudah ada di rumah, sebaiknya kau beristirahat, mama akan pulang!" ucap Hanna.
Setelah kepergian Hanna, Aleea kemudian masuk ke kamarnya dan membaringkan badannya di dalam kamar.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang saat Nathan sedang makan siang bersama Evan.
"Aku bertemu Tante Hanna saat mengantar Aleea pulang," ucap Evan pada Nathan.
"Apa mama mengatakan sesuatu?" tanya Nathan.
"Sepertinya kau tau apa yang Tante Hanna katakan padaku, jika Tante Hanna terlalu sering melihatku bersama Aleea, Tante Hanna akan semakin salah paham padaku dan Aleea," balas Evan.
"Tidak perlu terlalu memikirkannya, aku akan membicarakannya dengan mama," ucap Nathan
"Sebenarnya aku tidak terlalu mempermasalahkan bagaimana Tante Hanna berpikir tentangku, tetapi aku khawatir jika Tante Hanna berpikiran buruk tentang Aleea dan akan mempengaruhi hubungan Aleea dan Tante Hanna," ucap Evan.
Nathan terdiam untuk beberapa saat. Apa yang Evan katakan memang benar karena iapun tahu bagaimana sang mama mencurigai hubungan Evan dan Aleea.
Namun Nathan tidak terlalu ambil pusing, karena bagaimanapun juga ia akan selalu membutuhkan Evan untuk membantunya menyelesaikan masalahnya dengan Aleea.
"Kau akan mendapat masalah besar jika Tante Hanna tidak menyukai Aleea," ucap Evan.
"Aku mengerti dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi," balas Nathan.
"Kalau begitu kau harus membagi waktumu dengan baik dan lebih memperhatikan Aleea, jangan hanya mengandalkanku!" ucap Evan.
"Tidak, aku akan terus mengandalkanmu hehe...." balas Nathan sambil beranjak dari duduknya.
Evan hanya diam di tempatnya dengan menggelengkan kepalanya pelan melihat sikap Nathan.
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 3 saat Nathan berada di ruangan meeting bersama Vina, Evan dan beberapa pegawainya yang lain.
"Ini adalah laporan akhir dari event yang kita adakan bulan kemarin, meskipun kita mendapatkan keuntungan hampir 70% tetapi ada beberapa kesalahan kecil yang harus kita benahi pada event bulan depan," ucap Vina sambil menunjukkan data pada layar besar di hadapannya.
"Untuk event bulan depan, pak Nathan menargetkan keuntungan naik setidaknya 20% dari bulan kemarin dengan cara membenahi kesalahan-kesalahan kecil yang kemarin kita lakukan, untuk penjelasan lebih lanjut tentang event bulan depan akan dijelaskan oleh pak Evan," lanjut Vina.
Evan kemudian beranjak dari duduknya, menggantikan Vina untuk menjelaskan materinya.
"Seperti yang sudah Vina jelaskan, target kita adalah menaikkan keuntungan 20% dari bulan kemarin, meskipun bukan hal yang mudah tetapi kita bisa mengusahakannya dengan merevisi beberapa hal yang menyebabkan kerugian di bulan kemarin," ucap Evan di awal penjelasannya.
30 menit berlalu dengan penjelasan lengkap yang Evan jelaskan di depan semua peserta meeting.
"Bagaimana dengan pak Nathan? apa ada hal lain yang perlu direvisi lagi?" tanya Evan pada Nathan di akhir penjelasannya.
"Sudah cukup, saya percayakan semuanya pada kalian," jawab Nathan.
Setelah mengakhiri penjelasan materinya, Evan kembali duduk di tempatnya, digantikan Vina yang menutup meeting hari itu.
"Vina, bawa berkas-berkasnya ke ruangan saya!" ucap Nathan pada Vina.
"Baik pak," balas Vina.
Semua yang ada disanapun meninggalkan ruangan meeting dan kembali ke ruangan dan meja kerjanya masing-masing sebelum mereka pulang.
Sedangkan Vina, ia membawa langkahnya ke ruangan Nathan dengan membawa beberapa berkas dan memberikannya pada Nathan.
"Aku sudah mencari tempat untuk kita berlibur!" ucap Vina dengan penuh senyum.
__ADS_1
"Aku belum mengiyakan syarat itu Vina, fokus saja untuk event bulan depan!" balas Nathan.
"Tapi aku yakin kau pasti menyetujui syaratku," ucap Vina penuh percaya diri lalu keluar dari ruangan Nathan.