Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Sibuk


__ADS_3

Aleea masih berada di lantai dua ruko yang baru saja disewa oleh Aleea dan Tika. Aleea yang sejak pagi berusaha menyembunyikan kesedihannya pada akhirnya harus membiarkan air matanya luruh di hadapan Evan.


Entah kenapa, ia selalu merasa lebih tenang dan nyaman saat bersama Evan, membuatnya bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus berpura-pura dan menyembunyikan kesedihannya.


"Aku tidak tau harus membalas semua kebaikanmu seperti apa Evan, tapi yang pasti aku sangat beruntung karena bisa mengenalmu," ucap Aleea dengan menepuk pelan tangan Evan yang menggenggam tangannya.


Seketika Evan melepaskan genggaman tangannya pada Aleea, entah kenapa sejak kemarin Evan merasa kesulitan menahan dirinya agar tidak melakukan hal yang berlebihan pada Aleea.


Melihat Aleea bersedih selalu membuat Evan merasa bersalah dan rasa bersalah itu semakin membuat Evan ingin membawa Aleea ke dalam dekapannya.


Tapi Evan sadar jika ia harus bisa menjaga sikapnya, karena bagaimanapun juga Aleea adalah istri sahabatnya.


"Apa kau sudah pernah memiliki kekasih Evan?" tanya Aleea dengan membawa pandangannya pada Evan.


"Aku tidak pernah memikirkan hal itu Aleea," jawab Evan.


"Kenapa? laki-laki sebaik dirimu pasti disukai banyak perempuan, benar begitu bukan?" tanya Aleea.


"Aku tidak banyak bergaul dengan perempuan Aleea, mungkin di mata mereka aku juga bukan laki-laki yang menyenangkan," jawab Evan.


"Tidak, jutsru kau laki-laki yang sangat menyenangkan, tidak hanya tampan tapi kau juga bisa memperlakukan perempuan dengan sangat baik dan perempuan manapun pasti aku akan menyukai laki-laki sepertimu Evan," ucap Aleea.


"Kau berlebihan Aleea, justru para perempuan banyak yang mendekati Nathan sejak dulu," balas Evan.


"Nathan? laki-laki dingin sepertinya? aku tidak percaya!"


"Bukankah sudah ada buktinya?" tanya Evan.


"Bukti apa?" balas Aleea bertanya.


"Kau," jawab Evan dengan tersenyum pada Aleea.


Aleea menghela napasnya lalu mengalihkan pandangannya dari Evan.


"Aku sama sekali tidak mengerti kenapa aku bisa memiliki hubungan dengannya bahkan memutuskan untuk menikah," ucap Aleea.


"Tidak ada alasan lain selain karena kau mencintainya Aleea, kalian saling mencintai dan memutuskan untuk menikah, tidak ada yang salah dengan hal itu," balas Evan.


"Jika memang kita benar-benar saling mencintai, kenapa harus ada kesepakatan konyol yang....."


Aleea menghentikan ucapannya, ia hampir saja mengatakan pada Evan tentang kesepakatan pernikahannya dengan Nathan yang seharusnya tidak diketahui orang lain.


"Kesepakatan konyol?" tanya Evan.


"Lupakan saja, sekarang aku hanya perlu fokus dengan bisnis baruku, aku tidak akan mempedulikan Nathan lagi," balas Aleea.


"Apa kau sudah menyiapkan semuanya Aleea?" tanya Evan.


"Masih dalam proses, aku dan Tika akan sangat sibuk beberapa hari ini," jawab Aleea.


"Aku dah Nathan juga akan sangat sibuk Aleea, kita harus mempersiapkan event yang akan diadakan beberapa hari lagi, jadi mungkin Nathan akan sering pulang terlambat selama beberapa hari ini," ucap Evan.


"Aku tidak peduli padanya Evan, jadi tidak perlu memberi tahuku kesibukannya," balas Aleea.


"Oke baiklah, bagaimana jika kita makan malam sebelum aku mengantarmu pulang?" tanya Evan.


"Ide bagus," jawab Aleea dengan menganggukkan kepalanya setuju.


Aleea dan Evan kemudian meninggalkan balkon lalu keluar dari ruko. Setelah mengunci rukonya, Aleea dan Evan meninggalkan ruko untuk pergi ke salah satu restoran yang berada tidak jauh dari ruko.


Sesampainya di restoran, mereka segera mencari tempat duduk lalu memesan makanan dan minuman.


Mereka mengobrol, membicarakan banyak hal sampai akhirnya makanan dan minuman pesanan mereka datang.


Saat baru saja menikmati makanan mereka, tiba-tiba seseorang datang dengan menepuk bahu Evan.


"Kak Evan!" panggil Rania dengan menepuk bahu Evan.


Tidak hanya Evan, Aleeapun terkejut dengan kedatangan Rania yang tiba-tiba.


"Rania, apa yang kau lakukan disini?" tanya Evan pada Rania.


"Tentu saja makan malam, apa Rania boleh bergabung?" balas Rania sambil membawa pandangannya pada Evan dan Aleea saat bertanya.


Sebelum Evan menjawabnya, ia membawa pandangannya pada Aleea, seolah meminta persetujuan Aleea.


"Tentu saja boleh," sahut Aleea dengan tersenyum.


Evan kemudian memanggil waiters agar Rania memesan makanan dan minumannya.


"Apa kau sendirian Rania?" tanya Aleea pada Rania.


"Iya kak, apa kak Aleea dan kak Evan hanya berdua disini?" balas Rania.


"Iya," jawab Aleea dengan menganggukkan kepalanya.


"Waaahh jika ada seseorang yang tidak mengenal kak Aleea dan kak Evan, mereka pasti akan mengira kalian adalah pasangan kekasih atau bahkan pasangan suami istri," ucap Rania.

__ADS_1


"Nathan sedang sibuk Rania, jadi dia memintaku untuk menemani Aleea," sahut Evan.


"Seperti saat kalian pulang dari acara mama dan papa?" tanya Rania yang membuat Aleea dan Evan seketika membawa pandangan mereka pada Rania.


"Rania melihat kak Aleea masuk ke mobil kak Evan, sepertinya kak Aleea menunggu kak Evan di pinggir jalan saat itu," lanjut Rania.


"Jangan salah paham Rania, aku sama sekali tidak menunggu Evan, aku berdiri di pinggir jalan karena Nathan menurunkanku disana, dia harus pergi ke tempat lain dan tidak bisa mengantarku pulang, jadi aku berdiri disana untuk menunggu taksi," ucap Aleea.


"Tapi....."


"Dan Nathan menghubungiku untuk menjemput Aleea, jadi aku datang untuk menjemputnya sesuai perintah Nathan, bukankah kau tau jika kakakmu itu selalu memberikan perintah padaku bahkan di luar masalah kantor?" sahut Evan.


"Yaaa.... yaaa.. yaaa.. Rania mengerti," ucap Rania dengan menganggukkan kepalanya.


Tak lama kemudian makanan Rania datang, mereka bertigapun menikmati makan malam mereka.


Suasana sedikit canggung setelah kedatangan Rania, terlebih setelah Rania mengatakan dan menanyakan beberapa hal yang cukup mengganggu bagi Aleea dan Evan.


"Apa kak Evan ingat boneka yang pernah kakak berikan pada Rania sebelum Rania ke luar negeri?" tanya Rania pada Evan.


"Boneka Doraemon?" balas Evan menerka.


"Iya, kakak memberikan boneka itu agar Rania bisa mendapatkan apapun yang Rania minta dari kantong ajaib Doraemon," ucap Rania.


"Iya aku mengingatnya," balas Evan.


"Kak Evan harus tau, selama ini Rania tidak pernah bisa tidur tanpa boneka itu, jadi Rania selalu membawanya tidur dan memeluknya," ucap Rania.


"Kau memang anak kecil yang sangat menyukai boneka," balas Evan dengan tersenyum.


"Rania bukan anak kecil lagi kak!" ucap Rania kesal.


"Tapi hanya anak kecil yang tidur dengan boneka, Rania," balas Evan dengan terkekeh.


"Kakaaakk......" panggil Rania manja sambil memukul pelan bahu Evan.


"Sudah sudah.... habiskan makananmu sebelum dingin, sejak dulu kau tidak pernah bisa makan dengan tenang," ucap Evan.


"Rania hanya bisa makan dengan tenang saat Rania bersama kak Evan," balas Rania dengan penuh senyum.


"Tapi...."


"Aku permisi ke toilet sebentar," ucap Aleea yang membuat Evan menghentikan ucapannya.


Setelah Aleea pergi, Rania menggeser kursinya agar semakin mendekat pada Aleea.


"Sepertinya kak Evan sangat dekat dengan kak Aleea, apa benar begitu?" tanya Rania setengah berbisik.


"Aku dan Aleea dekat karena dia adalah istri Nathan, sama seperti denganmu, aku dekat denganmu karena kau adalah adik Nathan, pada intinya, aku dekat dengan semua orang yang berhubungan dengan Nathan," lanjut Evan.


"Apa itu tidak membuat kak Nathan cemburu?" tanya Rania.


"Kau bisa menanyakannya sendiri pada Nathan, Rania," jawab Evan.


Tak lama kemudian Aleea kembali, setelah menyelesaikan makan malam, merekapun keluar dari restoran.


"Apa kak Evan bisa mengantar Rania pulang?" tanya Rania dengan menggandeng tangan Evan.


"Apa kau tidak bersama supir?" balas Evan bertanya.


"Rania bersama supir, tapi Rania ingin pulang dengan kakak," ucap Rania.


"Aku harus mengantar Aleea, kau bisa pulang dengan supirmu, Rania!" ucap Evan.


"Bagaimana jika kak Aleea pulang dengan supir Rania? apa kak Aleea keberatan?" tanya Rania pada Aleea.


"Tidak, aku bahkan bisa pulang dengan menggunakan taksi," jawab Aleea.


"Jangan kak, lebih baik kak Aleea pulang dengan supir Rania dan Rania akan pulang dengan diantar kak Evan, bagaimana? adil bukan?"


"Tapi....."


"Oke, setuju!" sahut Aleea dengan tersenyum, sebelum Evan sempat mengatakan ketidaksetujuannya.


"Baiklah kalau begitu, jaga dirimu baik-baik Aleea," ucap Evan pada Aleea.


Aleea hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya.


"Kakak tunggu disini sebentar, Rania akan memberi tahu supir Rania untuk mengantar kakak," ucap Rania yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Aleea.


"Bye kak!" ucap Rania sambil melambaikan tangannya pada Aleea sedangkan satu tangannya yang lain mendekap tangan Evan dengan erat.


Aleea hanya membalas lambaian tangan Rania dengan tersenyum tanpa mengatakan apapun.


"Mereka sangat dekat," ucap Aleea dalam hati.


Tak lama kemudian supir Rania datang, Aleeapun masuk ke dalam mobil dan segera diantar pulang oleh supir Rania.

__ADS_1


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Aleeapun sampai di rumahnya, bersamaan dengan itu, Nathan juga baru saja sampai di rumah.


"Terima kasih pak," ucap Aleea pada supir Rania lalu berjalan masuk ke dalam rumah diikuti Nathan yang berlari mengejarnya.


"Kenapa kau bersama supir Rania?" tanya Nathan pada Aleea.


"Aku bertemu Rania di restoran," jawab Aleea singkat tanpa menghentikan langkanya.


"Lalu bagaimana dengan Rania? aku tidak melihatnya tadi!" tanya Nathan yang masih mengikuti langkah Aleea.


"Dia pulang bersama Evan," jawab Aleea yang terus berjalan menaiki tangga.


"Evan? apa kalian bertiga baru saja makan malam bersama?" tanya Nathan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Aleea.


"Apa Rania mengatakan sesuatu padamu?" tanya Nathan yang dibalas gelengan kepala oleh Aleea.


"Kau tidak mengatakan apapun padanya bukan?" tanya Nathan.


"Tidak, jangan khawatir, hanya aku dan Evan yang menyimpan semua kebusukanmu!" jawab Aleea lalu masuk ke kamarnya.


"Kau....."


BRAAAAAKKKKKK


Aleea menutup pintu kamarnya dengan sangat kencang, membuat Nathan seketika menghentikan ucapannya.


Nathanpun hanya bisa menghela napasnya kesal lalu masuk ke kamarnya.


"Dia pikir sebaik apa dirinya? dia bahkan tidur di tempat laki-laki lain saat sudah memiliki suami, dasar perempuan murahan tidak tahu diri!" gerutu Nathan kesal sambil melempar tas kerjanya ke sembarang arah.


**


Hari-hari telah berganti. Aleea semakin sibuk dengan persiapan bisnis barunya bersama Tika. Begitu juga Nathan dan Evan yang sibuk dengan event yang sebentar lagi akan diadakan.


Setiap harinya Aleea meninggalkan rumah pagi-pagi sekali untuk pergi ke ruko lalu mengikuti kelas memasak dan kembali ke ruko bersama Tika.


Aleea dan Tika benar-benar berusaha untuk mempersiapkan semuanya dengan sebaik mungkin karena mereka tidak ingin melewatkan kesempatan yang sudah mereka dapatkan.


Hari itu Aleea dan Tika baru saja selesai menata lantai satu ruko mereka. Dua buah etalase panjang, cooler, beberapa kursi dan meja sudah berada di tempatnya.


Sedangkan di bagian belakang, sudah ada oven besar dengan beberapa loyang besar dan beberapa loyang kecil dengan bentuk yang berbeda.


Beberapa rak berjejer di tempatnya dengan kulkas dan meja besar yang mengisi bagian belakang lantai satu ruko itu.


Untuk di lantai dua, Aleea dan Tika menggunakan ruangan disana untuk mereka beristirahat sambil bersantai menikmati pemandangan jalan raya dari balkon.


Mereka berdua mendesain seluruh ruko itu sesuai dengan desain yang sudah mereka sepakati sebelumnya.


Mereka berusaha membuat tempat kerja mereka menjadi senyaman mungkin agar mereka bisa melakukan pekerjaan mereka dengan hati yang gembira.


Setelah beberapa hari berlalu, ruko dua lantai itupun berhasil mereka sulap menjadi tempat bekerja yang nyaman untuk mereka berdua.


Hari itu, Aleea dan Tika baru saja membeli bahan baku produksi yang mereka butuhkan lalu mulai menyimpan dan menatanya di dalam ruko.


Aleea dan Tika juga mulai mencoba membuat kue dan beberapa jenis roti yang sudah mereka pelajari di kelas memasak.


Mereka membuat kue dan roti itu menjadi sedikit berbeda, sesuai dengan kreatifitas mereka masing-masing dengan tetap menomorsatukan rasa dan kualitasnya.


Tepat pukul 7 malam Aleea dan Tika sudah menyelesaikan semuanya, termasuk membagikan kue dan roti yang mereka buat untuk tester sekaligus langkah awal promosi mereka.


"Hari ini benar-benar sangat melelahkan Aleea, tapi juga sangat menyenangkan," ucap Tika.


"Aku setuju, aku juga merasakannya, lelah sekaligus senang, aku sudah tidak sabar untuk mengadakan opening beberapa hari lagi," balas Aleea.


"Apa kau sudah memberi tahu Evan tentang tanggal openingnya?" tanya Tika.


"Belum, aku akan memberi tahunya sekaligus memberikan tester kue dan roti ini padanya," jawab Aleea.


"Baiklah kalau begitu, ayo pulang, aku akan mengantarmu!" ucap Tika sambil beranjak dari duduknya.


"Mmmm.... bisakah kau mengantarku ke apartemen Evan, Tika?" tanya Aleea ragu.


"Tentu saja, ayo!" balas Tika dengan penuh senyum.


Aleeapun berangkat ke apartemen Evan dengan diantar oleh Tika. Sesampainya disana, Tika segera mengendarai mobilnya pergi, sedangkan Aleea segera membawa langkahnya masuk dan berjalan ke arah lift yang membawanya ke unit apartemen Evan berada.


Sesampainya di depan kamar Evan, Aleea memencet bel dan mengetuk pintu beberapa kali, namun pintu tidak juga terbuka.


"Apa dia belum pulang?" tanya Aleea pada dirinya sendiri.


Tak lama kemudian Aleea melihat Evan yang baru saja keluar dari lift. Aleeapun menunggu Evan dengan penuh senyum.


Namun seketika senyumnya memudar saat melihat Evan yang tampak pucat dan lemas saat itu.


"Aleea, sejak kapan kau disini?" tanya Evan pada Aleea.


"Baru saja, apa kau baik-baik saja?" balas Aleea.

__ADS_1


Evan hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun. Namun saat sedang memencet password untuk membuka pintunya, Evan tiba-tiba kehilangan keseimbangan tubuhnya dan hampir saja terjatuh.


Namun dengan sigap Aleea menahan tubuh Evan dan saat itu juga Aleea menyadari jika Evan sedang demam.


__ADS_2