
Nathan yang mengikuti langkah Aleea segera menahan tangan Aleea dan mencengkeramnya dengan erat.
"Aku tidak suka berpura-pura di depan orang lain Aleea, jadi jangan meminta temanmu untuk datang lagi kesini!" ucap Nathan pada Aleea.
"Itu masalahmu, bukan masalahku," balas Aleea dengan membalas tatapan Nathan.
"Kau......"
"Aku tidak peduli apapun masalahmu Nathan, seperti kau yang tidak pernah peduli padaku!" ucap Aleea memotong ucapan Nathan.
"Tapi ini rumahku, aku berhak memilih siapa yang boleh datang kesini!" ucap Nathan.
Aleea tersenyum tipis dengan mengalihkan pandangannya dari Nathan.
"Sangat kekanak-kanakan," ucap Aleea pelan yang membuat Nathan seketika menarik tangan Aleea dan semakin erat mencengkeramnya.
"Dengar Aleea, kau memang masih tinggal disini dan kau masih berstatus sebagai istriku, jadi kau tidak bisa melakukan apapun semaumu tanpa izinku!" ucap Nathan dengan menatap tajam kedua mata Aleea.
"Izin? aku bukan istrimu sejak kau sudah tidak mencintaiku lagi Nathan, jadi berhenti mengatur hidupku dan tidak perlu mempedulikan apapun yang aku lakukan!" balas Aleea.
"Selama kau masih tinggal disini dan menerima uang dariku, kau harus tetap mengikuti perintahku Aleea!" ucap Nathan.
"Jika memang begitu, lebih baik aku keluar dari rumah ini!" balas Aleea.
"Apa kau akan tinggal bersama Evan lagi? atau kau akan tinggal bersama laki-laki lain dan menjual tubuhmu pada mereka yang......"
PLAAAAAAKKKKKK
Satu tamparan mendarat dengan keras di pipi Nathan setelah Aleea menjatuhkan tasnya dan melayangkan tamparannya pada Nathan.
Tak berhenti sampai disitu, Nathanpun tanpa ragu membalas tamparan Aleea dengan cukup keras.
"Kau...... perempuan tidak tau diuntung!" ucap Nathan penuh emosi.
Aleea hanya terdiam, kedua matanya berkaca-kaca menahan perih di pipinya. Sedangkan Nathan segera membawa langkahnya pergi, menaiki tangga dan masuk ke kamarnya dengan membanting pintu.
Aleea masih terdiam, memikirkan takdir hidup yang berjalan sangat jauh dari jalur bahagia yang ia harapkan.
Aleea mengusap air mata di pipinya lalu membawa langkahnya menaiki tangga dengan pelan untuk masuk ke kamarnya.
Aleea masuk ke kamarnya, menutup pintu kamarnya dan terduduk di belakang pintu kamarnya.
Bersama air mata yang membasahi pipinya, Aleea memeluk kedua lututnya dan menahan isak tangisnya.
Aleea pikir, ia sudah menjadi perempuan yang kuat dan siap menghadapi bagaimanapun sikap Nathan padanya.
Namun pada kenyataanya, ia masih merasa sakit, hatinya terasa perih mendapat perlakuan buruk dari seseorang yang dulu pernah meyakinkan dirinya untuk berani mengambil keputusan menikah.
Aleea menyesalkan keputusannya yang menikah tanpa menunggu ingatannya kembali karena kini yang dia rasakan hanya sakit, tanpa ada sedikitpun memori kebahagiaan yang pernah ia rasakan bersama Nathan.
Kini Aleea mulai meragukan semua yang pernah Nathan katakan padanya, tentang hubungan mereka di masa lalu, tentang bagaimana mereka saling mencintai dan tentang bagaimana ia dulu menjalani kehidupannya.
Memorinya mengulas kembali saat Aleea tersadar di rumah sakit dan mendapati fakta bahwa seluruh memorinya telah terhapus.
Ia sempat bersyukur karena ada Nathan yang bersamanya saat itu dan tidak ada alasan bagi Aleea untuk tidak mempercayai Nathan karena hanya Nathanlah yang ada bersamanya saat itu.
"Sejak awal bertemu dengannya, sampai kita meninggalkan Paris dan bahkan sampai di hari pernikahan kita, aku tidak pernah merasakan tatapan cinta dari matanya, aku hanya percaya ucapannya tanpa aku pernah merasakan adanya cinta darinya untukku," ucap Aleea dalam hati.
Di sisi lain, Evan baru saja sampai di rumah Nathan, berniat untuk menemui Aleea, karena sebelum Evan meninggalkan kafe, waiters menghampirinya dan memberinya sebuah ponsel yang tertinggal di meja tempat Evan, Aleea dan Tika duduk.
Karena mengetahui jika itu adalah ponsel Aleea, Evanpun membawanya dan berniat mengembalikannya pada Aleea.
Sesampainya di rumah Nathan, Evan segera keluar dari mobilnya dan berjalan ke arah pintu utama.
"Bisa tolong panggilkan Aleea bi?" tanya Evan pada bibi.
"Mmmmm.... itu..... non Aleea...... mmmm....."
Setelah apa yang baru saja terjadi antara Aleea dan Nathan, bibi tidak yakin jika Aleea akan menemui Evan, tapi bibi juga ragu untuk memberi tahu Evan tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Ada apa bi? Aleea ada di rumah bukan?" tanya Evan khawatir.
"Iya, non Aleea di rumah, tapi....."
"Tapi apa bi? tolong katakan dengan jelas, apa terjadi sesuatu padanya?" tanya Evan yang sudah tidak sabar dengan bibi yang tampak ragu menjawab pertanyaannya.
"Maaf tuan," balas bibi dengan menundukkan kepalanya, memilih untuk tidak mengatakan apapun pada Evan.
__ADS_1
Evan menghela napasnya kasar lalu membawa langkahnya masuk begitu saja. Evan menaiki tangga lalu segera mengetuk pintu kamar Aleea.
"Aleea, ini aku, apa kau baik-baik saja?" tanya Evan dari depan kamar Aleea.
Tak lama kemudian pintu terbuka dan Aleea berdiri dengan keadaan yang cukup kacau. Evanpun bisa melihat dengan jelas memar yang ada di pipi Aleea saat itu.
"Evaann...."
"Apa Nathan yang melakukan hal ini?" tanya Evan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Aleea.
"Aku harus menemuinya," ucap Evan yang akan berjalan pergi, namun Aleea segera menahan tangan Evan.
Aleea menggelengkan kepalanya, berusaha menahan Evan agar tidak menemui Nathan. Evanpun menghela napasnya panjang, meraih tangan Aleea yang menahannya lalu membawa Aleea ke dalam dekapannya.
Seketika tangis Aleea kembali pecah, ia menangis terisak dalam dekapan Evan. Ia sudah tidak peduli lagi siapa Evan baginya, ia hanya ingin menuntaskan kesedihan yang ia rasakan saat itu.
Evanpun hanya diam, membiarkan Aleea menangis dalam dekapannya. Kedua tangannya memeluk punggung Aleea dengan erat, seolah berusaha menekan semua rasa sedih yang sedang Aleea rasakan saat itu.
Setelah merasa lebih tenang, Aleeapun melepaskan dirinya dari dekapan Evan.
"Maafkan aku," ucap Aleea dengan menundukkan kepalanya.
Evan menggeleng pelan, meraih tangan Aleea lalu membawanya masuk ke dalam kamar dan mendudukkan Aleea di tepi ranjang, sedangkan Evan duduk berjongkok di depan Aleea.
Dengan pelan Evan menyibakkan rambut Aleea dan menaruhnya di belakang telinga, tangannya membelai pelan wajah Aleea dan menghapus sisa air mata di pipi Aleea.
Aleeapun sedikit meringis kesakitan saat tanpa sengaja Evan menyentuh memar di pipinya.
Evan hanya diam tanpa mengatakan apapun. Rasa bersalah kembali mengusik hatinya saat melihat apa yang terjadi pada Aleea akibat perbuatan Nathan.
Satu tangan Evan kemudian menggenggam tangan Aleea berusaha memberikan kekuatan pada Aleea agar bisa menjalani hidupnya dengan tegar.
Untuk beberapa saat Evan dan Aleea hanya terdiam tanpa saling berbicara. Raut kesedihan dan kesakitan jelas terpancar dari wajah Aleea, membuat Evan semakin terjatuh dalam rasa bersalahnya.
Evan kemudian melepaskan genggaman tangannya pada Aleea, menaruh ponsel Aleea di atas meja lalu keluar dari kamar Aleea dan menutup pintu kamar Aleea.
Evan terdiam untuk beberapa saat, menatap pintu kamar Nathan yang ada di dekat kamar Aleea. Namun Evan segera membawa langkahnya pergi, mengendarai mobilnya meninggalkan rumah Nathan.
**
Nathan dan Vina bergantian menjelaskan semua hal yang terkait dengan event, sedangkan Evan hanya diam memperhatikan.
Di kepalanya saat itu hanya ada Aleea. Sejak meninggalkan rumah Nathan sampai hari telah berganti, Aleea masih memenuhi kepala Evan. Tidak ada yang Evan pikirkan selain Aleea setelah ia melihat bagaimana keadaan Aleea semalam.
Hingga tiba-tiba seseorang menyenggol sepatu Evan, membuat Evan tersadar dari lamunannya. Evan seketika membawa pandangannya ke sekitarnya dan menyadari jika semua orang yang ada di ruangan meeting saat itu tengah memperhatikanya.
"Waktumu presentasi!" ucap Nathan pada Evan.
Evan menganggukkan kepalanya pelan lalu beranjak dari duduknya dan memulai presentasinya.
Namun beberapa kali Evan kehilangan fokusnya, tiba-tiba ia menghentikan ucapannya karena merasa bingung dengan apa yang ia jelaskan saat itu.
Dengan dibantu Vina, Evan akhirnya menyelesaikan presentasinya meskipun jelas terlihat jika ia tidak sedang fokus saat itu.
Evan kembali duduk di tempatnya dan tak lama kemudian Nathan mengakhiri meeting hari itu.
Bersama dengan yang lainnya, Evan beranjak dari duduknya lalu kembali ke ruangannya. Evan menjatuhkan dirinya di kursi kerjanya dengan menatap kosong layar komputer di hadapannya.
Tiba-tiba pintu ruangan Evan terbuka, Nathan masuk dan duduk di hadapan Evan.
"Apa yang sedang kau pikirkan Evan?" tanya Nathan membuyarkan lamunannya.
Evan menggelengkan kepalanya lalu mengambil berkas di mejanya dan membukanya.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Nathan yang kembali dibalas gelengan kepala oleh Evan.
"Aku tau kau sedang tidak fokus hari ini Evan, tidak biasanya kau seperti ini!" ucap Nathan.
"Keluarlah Nathan, aku sedang tidak ingin diganggu!" balas Evan tanpa membawa pandangannya pada Nathan sedikitpun.
"Aku tidak mengganggumu, aku hanya....."
"Tidak bisakah kau pergi? aku harus berkonsentrasi untuk mengerjakan pekerjaanku!" ucap Evan memotong ucapan Nathan.
"Baiklah," balas Nathan lalu beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan Evan.
"Kau bisa mengambil cuti setelah event selesai jika kau memang membutuhkan waktu untuk beristirahat!" ucap Nathan sebelum ia benar-benar keluar dari ruangan Evan.
__ADS_1
Evan hanya diam, tidak menghiraukan ucapan Nathan.
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 12 siang saat Evan keluar dari ruangannya. Evan berjalan ke toilet, membasuh wajahnya lalu mengeringkannya dengan tissue yang ada disana.
Isi kepalanya masih dipenuhi oleh Aleea, terlebih setelah ia beberapa kali menghubungi Aleea dan tidak tersambung.
Evan semakin mengkhawatirkan Aleea, tapi tidak ada yang bisa ia lakukan. Evan sudah menghubungi bibi untuk menanyakan keadaan Aleea dan bibi mengatakan jika Aleea baik-baik saja, namun entah kenapa Evan tidak bisa berhenti memikirkan Aleea saat itu.
Evan menghela napasnya panjang lalu membawa langkahnya keluar dari toilet dan berjalan ke arah ruangan Nathan.
Evan mengetuk pintu beberapa kali sebelum membukanya dan masuk ke ruangan Nathan.
"Everything okay?" tanya Nathan yang menyadari kedatangan Evan.
"Karena ini sudah di luar jam kerja, aku akan mengatakannya padamu," balas Evan lalu membawa dirinya duduk di hadapan Nathan.
"Ada apa?" tanya Nathan.
"Aku tau kau tidak mencintai Aleea, tapi bisakah kau tidak menyakitinya Nathan? menamparnya bukan hanya tindakan yang berlebihan tapi juga sangat keterlaluan!" jelas Evan.
"Jadi dari tadi kau tidak fokus dengan pekerjaanmu hanya karena masalah itu?" tanya Nathan.
"Dia bukan siapa-siapa Nathan, bahkan dari awal kita tidak mengenalnya, bukankah kau sangat keterlaluan jika kau menyakitinya secara fisik seperti itu?" balas Evan.
"Sepertinya kalian lebih dekat dari yang aku tau, dia bahkan menceritakan hal seperti itu padamu," ucap Nathan.
"Dia tidak mengatakan apapun padaku, semalam aku datang kesana untuk memberikan barang miliknya yang tertinggal dan aku melihat bekas tamparan di pipinya, meksipun dia tidak mengatakan apapun tapi aku tau jika itu adalah perbuatanmu!" jelas Evan.
"Aku tidak akan melakukan hal itu jika dia bisa menjaga sikapnya Evan, dia merendahkanku dengan tiba-tiba menamparku, dia....."
"Dia tidak mungkin menamparmu tanpa alasan Nathan, pasti ada ucapanmu yang menyinggungnya yang membuatnya menamparmu!" ucap Evan memotong ucapan Nathan.
"Apa kau sudah sangat mengenalnya Evan? kenapa kau selalu membelanya seolah kau tau apa yang sebenarnya terjadi!"
"Aku memang tidak tau, karena dia tidak mengatakan apapun padaku, tapi aku mengenalnya lebih dari kau mengenalnya Nathan," ucap Evan.
"Aku....."
Nathan mengentikan ucapannya saat tiba-tiba Vina masuk ke ruangannya. Melihat kedatangan Vina, Evanpun beranjak dari duduknya.
"Kau akan menyesal jika terus bersikap seperti ini Nathan!" ucap Evan sebelum ia keluar dari ruangan Nathan.
Nathan hanya diam dengan menghela napasnya panjang. Ia tidak mengerti kenapa Evan selalu membela Aleea.
"Ada apa dengannya? apa kalian bertengkar?" tanya Vina yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Nathan.
**
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 5 sore setelah Evan membereskan meja kerjanya.
Evan kemudian mencoba menghubungi Aleea dan ternyata tersambung.
"Halo Aleea, apa kau baik-baik saja?" tanya Evan tanpa basa-basi setelah Aleea menerima panggilannya.
"Aku baik-baik saja, aku sedang bersama Tika sekarang," jawab Aleea.
"Bersama Tika? dimana?"
"Di daerah X, aku sedang mencari beberapa peralatan yang harus kita beli untuk mengisi ruko," jawab Aleea.
"Datanglah kemari Evan, karena aku harus segera pergi setelah ini!" sahut Tika setengah berteriak agar didengar oleh Evan.
"Tidak perlu Evan, selesaikan saja pekerjaanmu, aku bisa melakukannya sendiri," ucap Aleea.
"Tunggu disana Aleea, aku akan segera kesana," ucap Evan lalu mengakhiri panggilannya begitu saja.
Evanpun segera mengendarai mobilnya meninggalkan kantor, menuju tempat Aleea berada.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Evanpun sampai di tempat Aleea berada. Evan terdiam untuk beberapa saat, menatap Aleea yang sedang mengobrol dan tampak bercanda bersama Tika.
Sama sekali tidak terlihat kesedihan pada raut wajah Aleea saat itu, hanya ada senyum tawa dan raut wajah yang bahagia.
"Kau hebat Aleea, kau perempuan yang kuat, aku yakin semua ini akan segera berakhir, cepat atau lambat kau akan benar-benar bisa merasakan kebahagiaan yang selama ini kau inginkan," ucap Evan dalam hati.
Evan menghela napasnya panjang, menyandarkan kepalanya dengan masih menatap Aleea dari kejauhan.
Melihat Aleea tertawa bahagia membuatnya lega, meskipun ia yakin jika sebenarnya Aleea masih menyimpan kesedihan dalam hatinya.
__ADS_1